Drama

One Night One Lie - La Verita - Bab 19

Penulis Ichan
03 December 2025

Di tengah malam Paris yang temaram, Chiara berdiri di depan balkon apartemen tempat ia dan Aaren kini menetap bersama Lauren. Udara terasa dingin, tapi bukan karena musim, melainkan karena kenyataan bahwa masa lalunya belum benar-benar usai.

Aaren menyusul ke balkon. Ia memeluk tubuh Chiara dari belakang, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip.

“Aku merasa ini belum berakhir,” bisik Chiara.

“Belum,” jawab Aaren tenang. “Kita tidak akan lari.”

Mereka tahu, konser sukses bukanlah titik akhir. Justru sebuah babak baru terbuka yang lebih pribadi, lebih dalam dan lebih berbahaya.

Alessia Damian muncul kembali setelah hampir dua dekade telah dinyatakan meninggal dunia. Dia bukan hanya mantan istri Dario Evolet. Dia adalah dalang kecelakaan yang memisahkan Dario dari Chiara.

Kini dia berada di Paris. Tidak hanya untuk membalas dendam atas kembalinya Dario, tetapi juga untuk mengarahkan Luna agar merebut seluruh warisan musikal dan bisnis Evolet, termasuk Studio Harmoni yang kini dimiliki Chiara.

Alessia menyusun ulang kekuatan, ia menghubungi diam-diam jaringan kolega lamanya dari dunia seni dan hukum. Ia juga memanipulasi opini publik melalui media yang diam-diam dia dan Sasha kendalikan. Berita-berita mulai muncul. “Chiara Evolet, putri tak sah dari maestro Dario?”

“Studio harmoni diduga xidirikan dari dana warisan ilegal.”

“Aaren Baron, CEO yang menikahi musisi demi nama dan proyek?”


Luna mulai merasakan keretakan dalam hubungannya dengan Ia bukan perempuan yang bodoh. Ia menyadari, dirinya tidak lebih dari pion dalam permainan yang lebih besar.

Ketika dirinya mengetahui, jika ibunya ternyata masih hidup. Dia sama sekali tidak terkejut. Justru dia merasa kecewa.

Sasha yang telah melihat hubungan Luna dan Alessia memanas, mulai menyusun rencana pribadi dengan menggunakan Luna sebagai alat untuk masuk ke jaringan bisnis Aaren.


Di tengah tekanan media dan isu hukum, Aaren dan Chiara mulai merasakan retaknya stabilitas yang sempat mereka miliki. Lauren pun terkena dampak, beberapa anak di sekolah mulai bergunjing karena gosip keluarga mereka.


Di satu malam yang tenang, saat Chiara kembali dari latihan di studio, Aaren menyiapkan makan malam dengan lilin dan musik lembut.

“Kita pernah melalui badai yang lebih buruk,” ucap Aaren lembut.

“Luka yang sekarang lebih dalam, Ren. Ini tentang siapa aku dan siapa keluargaku.”

“Kau adalah wanita yang kucintai. Apa pun darah yang mengalir di tubuhmu, itu tidak akan mengubah apa pun.”

Chiara menangis. Mereka berpelukan. Malam itu, cinta menjadi satu-satunya pelindung dari kegilaan dunia di luar sana.


Chiara dan tim hukumnya mulai mengusut akta asli warisan dan hak kekayaan intelektual simfoni-simfoni maestro Dario Evolet. Ternyata, banyak dari karya Dario telah dijual secara ilegal oleh seseorang dan salah satu bukti paling mencolok mengarah pada perusahaan label musik yang dimiliki oleh Sasha.

Perseteruan kini berlapis antara hukum, musik dan darah.

Sementara itu, Dario diam-diam menyiapkan langkah hukum besar, menarik semua hak cipta karya lamanya dan memindahkannya atas nama Chiara, sebagai satu-satunya anak sah secara hukum dari pernikahan terdahulu.

Sesaat sebelum proses itu selesai, pengacara Dario ditemukan tak sadarkan diri dalam sebuah kamar hotel. Berkas asli lenyap.


Di ruangan bawah tanah studio Harmoni, Chiara menemukan sesuatu saat sedang membereskan lemari tua peninggalan Dario.

Sebuah partitur musik tangan, berjudul la verità yang berarti kebenaran.

Ketika itu ada yang membuat Chiara membeku adalah catatan kecil di pojok bawah.

“Ditulis untuk dua anakku saat dunia mencoba memisahkan kalian.

Mata Chiara berkaca-kaca.

Denting musik perlahan terngiang dalam kepalanya.

Di luar ruangan, seseorang sedang mengawasi dari balik bayangan, memotret partitur itu diam-diam mengirimkan sebuah pesan berisikan foto ke sebuah nomor asing.

“Target ditemukan. Simfoni kebenaran masih ada. Langkah selanjutnya?

Balasan singkat datang.

“Hancurkan sebelum dimainkan."


Chiara menggenggam partitur berjudul la verità dengan tangan gemetar. Partitur tua itu tertulis dalam notasi kompleks, khas ayahnya, Dario Evolet. Namun, jauh lebih personal. Ia membaca kembali catatan kecil di bagian bawah. “Untuk dua anak perempuanku, Chiara dan L.”

Chiara terdiam. Ada perasaan ganjil. Huruf L itu apakah itu merujuk pada Luna?

"Lagi-lagi pada Luna?" gumamnya nyaris tak terdengar.

Ia membawa partitur itu ke studio utama, memainkannya secara perlahan. Dentingan pertama terdengar seperti doa. Lalu, berubah menjadi alunan lirih penuh kesedihan. Seolah ada pesan rahasia dalam setiap bar. Saat ia sampai di bagian bridge, air matanya menetes tanpa ia sadari.

Musik ini adalah kisah Dario. Tentang kehilangan, pengkhianatan dan harapan tersembunyi.


Sementara itu, di sebuah ruangan eksklusif hotel bintang lima, Luna duduk bersama Sasha dan Alessia Damian, ibu kandungnya. Mereka menatap hasil foto partitur La Verità di layar tablet.

“Kita tidak bisa membiarkan Chiara memainkan itu di konser Wina,” ujar Alessia dingin.

“Publik akan mengerti siapa anak sah Dario sebenarnya.”

“Semua investasi kita ke Luna akan runtuh,” timpal Sasha sinis.

Luna terdiam, matanya penuh kebimbangan. Ia belum tahu apa isi partitur itu, tapi entah kenapa hatinya merasa genting.

“Kau tidak ingin tahu kenapa Dario menolak mengakui ibumu?” ujar Alessia tajam. “Partitur itu menyimpan jawabannya. Kau mau rakyat dunia tahu ibumu adalah wanita perampas yang menikahi pria berkabung seminggu setelah istrinya meninggal, lalu menipu semua orang dengan kematian palsuku.”

Luna menggertakkan gigi. Luka lama itu diungkit.

“Hancurkan partitur itu,” bisik Alessia. “Kau mau semua akan berakhir bukan hanya untukmu, tapi untukku juga.”


Aaren yang selalu selangkah di depan, ia telah menyewa seorang ahli keamanan digital untuk memantau komunikasi antara Sasha dan jaringan medianya.

Tak lama kemudian, ia menerima bocoran informasi bahwa Luna dan Alessia berniat menyabotase konser Chiara di Wina, terutama bagian la verità. Mereka akan membuat partitur itu lenyap dan mengganti rekaman pertunjukan dengan versi yang telah mereka manipulasi.

Aaren sempat terkejut sebentar ketika mengetahui ibu kandungnya Luna masih hidup. Namun, ia segera bertindak. Ia menggandeng konsultan hukum internasional untuk menyiapkan perlindungan hak cipta serta tim keamanan fisik untuk konser.

“Kalau mereka menyentuhmu atau la verità mereka harus lewat jenazahku dulu,” kata Aaren pada Chiara.

Chiara gelisah. Ia tahu memainkan la verità di atas panggung akan mengubah segalanya. Bukan hanya tentang dirinya, tapi tentang Luna. Tentang kebenaran yang selama ini terkubur.


Di malam sebelum konser, Chiara memanggil Luna. Kali pertama setelah mereka tahu mereka saudara tiri. Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di Wina, tanpa pengawal, tanpa agenda.

“Aku akan memainkan partitur itu,” ucap Chiara dengan suara tenang.

“Itu musik ayahku, juga ayahmu.”

Luna terpaku. Tak menyangkal, tapi juga belum menerima.

"Apa kau ingin seluruh dunia tahu siapa ibuku? Bahwa aku anak dari perempuan licik dan akan dibenci banyak orang?”

“Bukan soal siapa ibumu, Luna, tapi soal apa yang kita pilih setelah tahu kebenaran.”

Luna pergi tanpa berkata apa-apa, tapi di matanya ada badai.


Konser dimulai di Vienna Musikverein, tempat legendaris di mana hanya musisi terpilih yang boleh tampil. Chiara mengenakan gaun hitam sederhana, rambutnya disanggul rendah, hanya dihiasi bros emas pemberian Dario.

Saat bagian konser memasuki segmen la verità, lampu diredupkan. Semua mata tertuju padanya. Jantung Chiara berdegup keras.

Sebelum ia mulai bermain, seorang teknisi panik datang dari belakang panggung.

“File rekaman cadangan hilang! Partitur utama terbakar di gudang belakang!”

Aren langsung bergerak. Ia memeriksa kamera CCTV yang disediakan tim keamanannya. Di layar tampak seorang wanita mengenakan topi lebar dan mantel hitam melemparkan sesuatu ke rak penyimpanan. Api mulai menyebar.

" Itu Luna,” gumam Aaren.

Chiara tak tahu kebakaran itu. Ia hanya tahu, partitur itu sudah tertanam di benaknya. Ia menutup mata dan mulai memainkan la verità dari ingatan.

Denting demi denting, ruang konser terisi dengan nyawa baru. Tak ada satu pun suara yang menggangu. Musik itu seolah menyihir, menghentikan waktu, membuka luka dan menjahit harapan dalam satu waktu.

Saat bagian akhir dimainkan, Chiara membuka matanya dan menatap ke barisan penonton. Ia melihat Luna berdiri di tengah kerumunan, wajahnya pucat. Air mata menetes di pipinya. Ia tidak kuat. Ia lari keluar aula.

Setelah konser usai, Chiara masuk ke ruang tunggunya. Di meja rias, sebuah amplop putih dengan tulisan tangan halus tergeletak. Chiara membukanya.

“Jika kau membaca ini, berarti musikku telah disuarakan kembali oleh darah dagingku.”

“Maafkan aku, Chiara, maafkan aku, Luna.”

Chiara menoleh ke Aaren, matanya penuh tanya.

“Siapa yang menaruh surat ini di sini?”

Aaren menggeleng kepalanya.