Pagi itu, Paris diselimuti kabut tipis. Di meja makan apartemen, Chiara tengah menyuapi Lauren sambil memutar lagu klasik lembut. Aaren dengan wajah lebih murung dari biasanya, menggenggam secarik surat bersampul resmi dari Indonesia.
“Dari Jakarta?” Chiara menoleh, menyadari ekspresi serius Aaren.
Aaren mengangguk pelan, suaranya tertahan, “Ayahku jatuh sakit. Lebih dari itu, ada audit besar-besaran di perusahaan utama Baron Group. Mereka butuh aku di sana. Sekarang.”
Chiara terdiam. Lauren yang tak mengerti hanya tersenyum polos.
“Berapa lama?” Chiara bertanya pelan.
“Awalnya aku pikir seminggu, tapi dengan situasinya sekarang, bisa lebih dari sebulan.”
Chiara menarik napas dalam-dalam. Terbayang masa-masa dua tahun lalu, Aaren pernah ada untuknya disaat ia hamil Lauren dan malah meminta melenyapkan Lauren . Luka itu belum benar-benar hilang.
“Aku tak bisa ikut kali ini,” katanya lirih. “Konser di Barcelona hanya tinggal dua minggu dan Lauren.”
Aaren menatapnya penuh sesal. “Aku tahu. Itu sebabnya aku ingin kau tetap di sini. Fokus pada konser dan jaga Lauren.”
Dia meraih tangan Chiara, menggenggamnya erat.
Di balik langit Jakarta.
Sesampainya di Indonesia, Aaren langsung dihadapkan pada konflik internal di perusahaan. Ada bocoran bahwa salah satu direksi lama yang memiliki hubungan dengan Luna Damian, telah menyusupkan investasi fiktif dan menciptakan kerugian besar.
Nama Aaren dipakai sebagai tameng. Semua jejak digital mengarah padanya.
“Mereka sedang menjebakmu,” ujar Tobias, pengacara Baron Group. “Kita tahu siapa yang menjadi dalangnya.”
Aaren tak butuh tebakan. Luna. Ia tak menyangka perempuan itu akan menyerangnya dari dua benua.
Di Paris, Lauren berkali-kali mencari keberadaan ayahnya. Kadang dengan suara ceria, kadang dengan tangisan kecil sebelum tidur.
“Papa."
Chiara mengusap kepala putrinya dengan senyum penuh luka.
“Tunggu ya, Sayang!"
Luna mengetahui kepergian Aaren ke Jakarta. Ia menyusun serangan baru. Kali ini pada Lauren.
Melalui jalur hukum di Italia, Luna mencoba menyusun kasus perwalian atas Lauren dengan bukti bahwa Chiara tidak stabil emosional dan menelantarkan anak saat berkarier. Sebuah laporan palsu dari pengasuh lama Lauren tiba-tiba muncul ke publik.
Sasha yang sebelumnya berseteru dengan Luna, Ia punya rencana sendiri yang lebih gelap dan butuh waktu yang tepat untuk menusuk dari belakang.
Barcelona menyambut Chiara dengan matahari lembut dan angin Mediterania yang membelai rambutnya. Namun, tak ada waktu menikmati indahnya arsitektur Gaudi atau aroma laut dari balkon hotel bintang lima yang disediakan sponsor.
Surat gugatan dari firma hukum di Roma yang diam-diam dikendalikan oleh Luna, menuduh Chiara lalai sebagai ibu dan tidak pantas memiliki hak asuh atas Lauren. Bukti-bukti palsu disusun rapi, pernyataan dari mantan pengasuh, foto-foto lama yang dipelintir narasinya, hingga bukti transaksi keuangan yang didistorsi.
Chiara tidak bisa tidur selama dua malam berturut-turut karena hal itu.
Keesokan harinya, ia tetap datang Dengan cello di tangan, rambut disanggul seadanya dan mata bengkak yang tidak bisa ditutupi riasan.
“Biarkan musikku menjadi perlawanan,” gumamnya di depan cermin ruang ganti.
Malam itu, sebelum gladi resik, Chiara duduk sendiri di balkon atas aula, memandang langit-langit berhiaskan mosaik berkilau. Tiba-tiba langkah ringan menghampiri.
Sasha Elvani.
“Tidak kusangka, kau masih punya keberanian tampil,” katanya dengan suara tenang, tapi sinis.
“Aku tidak main untukmu, Sasha. Aku main untuk Lauren. Untuk hidupku yang bukan kau yang tentukan,” balas Chiara pelan.
Sasha tidak membalas dengan sinisme seperti biasa. Ia justru duduk di samping Chiara dan meletakkan sepucuk undangan kecil di pangkuannya.
“Luna mulai gila. Aku tidak bisa ikut hancur bersamanya. Ini bukti keterlibatannya dalam memanipulasi dokumen hukum Lauren. Gunakan jika kau ingin menang.”
Chiara tertegun. Ada sesuatu dalam mata Sasha yang berubah. Bukan simpati, tapi mungkin rasa lelah karena terlalu lama menyimpan dendam yang salah arah.
Esok paginya, gladi resik dilakukan. Chiara memainkan komposisi barunya, 'Lullaby for Lauren', sebuah lagu yang ditulisnya diam-diam sebagai doa bagi putrinya. Dentingan awalnya lembut, seperti langkah kecil anak yang belajar berjalan, tapi menjelang akhir, nadanya meledak dalam tensi penuh ketegangan seolah melawan seluruh dunia.
Penonton yang hadir untuk gladi resik, termasuk jurnalis dan panitia konser terdiam.
Air mata mereka turun sebelum tepuk tangan menggema.
Di belakang panggung, Chiara menerima panggilan dari pengacaranya di Paris. Suaranya terdengar lega.
“Kami mendapatkan bukti dari seseorang yang tidak mau disebut namanya. Cukup untuk membalikkan gugatan perwalian ini. Untuk sementara waktu, Lauren tetap bersamamu, Chiara.”
Chiara nyaris menjatuhkan ponsel. Tangisnya pecah.
Sementara itu, Luna yang mengetahui kebocoran tersebut, menghancurkan botol parfum mahalnya ke dinding hotel mewahnya di Paris.
“Sasha, kau berani mengkhianatiku.”
Langit Barcelona berselimut bintang. Palau de la Música Catalana penuh hingga ke balkon tertinggi. Lilin-lilin digital berkelip seperti kunang-kunang, menciptakan suasana magis. Para undangan penting hadir, kolektor musik klasik, kritikus dari Le Monde, duta besar Prancis, bahkan satu dua nama selebriti.
Di belakang panggung, Chiara duduk diam. Cello miliknya disandarkan di lutut. Tangan kanannya gemetar.
"Lagu ini untuk Lauren dan untuk semua ibu yang terus bertahan," bisiknya ke dirinya sendiri.
Di tempat lain, di ruang kendali pencahayaan dan tata suara, Luna berdiri dengan headset di telinga. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan bara.
“Sasha, pastikan suara micnya pecah di bagian klimaks. Biarkan dia jadi bahan tertawaan malam ini,” katanya dingin.
Sasha berdiri di belakangnya. Diam.
Luna memandang ke arahnya. “Kau dengar, kan?”
Sasha menatap Luna, lalu membuka folder di tabletnya. Ia menunjukkan satu file video pada layar, sebuah rekaman suara Luna saat memerintahkan manipulasi data hukum Lauren.
“Kau tahu, aku cukup lama percaya pada permainanmu, Luna,” ucap Sasha pelan. “Untuk menjadikan anak kecil sebagai alat? Itu terlalu jauh.”
Luna menyipitkan mata. “Jangan jadi pahlawan. Kau juga ikut terlibat.”
Sasha mendekat. “Itu sebabnya aku akan bersaksi. Di sidang dan di depan media.”
Luna membeku. Wajahnya memucat.
Sasha tersenyum datar, lalu melepas headsetnya dan berjalan pergi.
Lampu redup.
Panggung menyala hanya pada satu titik. Chiara melangkah perlahan dengan gaun biru tua berkilau dan cello di pelukannya. Tepuk tangan menyambutnya, tapi hanya satu wajah yang ia cari di tengah keramaian dan belum terlihat.
Ia duduk. Menghela napas. Menunduk pada penonton.
Nada pertama dipetik. 'Lullaby for Lauren' mengalun.
Tangisan muncul dari beberapa sudut. Dentingnya menyayat. Ketika ia memasuki bagian klimaks, terdengar desisan kecil dari speaker, tetapi tidak pecah. Tidak ada sabotase.
Justru, suara seorang pria menggema dari lorong belakang panggung.
“Permisi, izinkan saya menambahkan satu nada.”
Penonton menoleh.
Chiara menoleh. Matanya membulat.
Aaren.
Dengan setelan hitam, rambut sedikit berantakan karena perjalanan dan ekspresi penuh rindu, Aaren berdiri membawa biola tua berukir emas.
Ia melangkah ke panggung. Penonton terdiam. Kru panggung kebingungan.
Chiara berbisik, “Bagaimana kau bisa di sini?”
“Sasha memberiku salinan tiket pertunjukan dan kupikir kau butuh duet,” jawabnya lembut.
Chiara menahan air matanya, lalu mengangguk. Tanpa latihan, tanpa catatan musik, mereka memainkan duet yang hanya bisa lahir dari hati yang pernah patah dan perlahan sembuh bersama.
Nada-nada mengalun liar, membentuk simfoni spontan. Sebuah pengakuan, pertemuan dan pengampunan.
Di belakang panggung, Luna menggenggam ujung meja kontrol dengan tangan gemetar. Rasa kalah menghantam lebih keras daripada tamparan.
Usai konser itu, di backstage. Kamera pers menyorot. Wartawan berebut bertanya pada Chiara dan Aaren.
Sasha muncul. Berdiri di tengah wartawan.
“Saya, Sasha Elvani, menyatakan secara terbuka bahwa Luna Damian telah memanipulasi data hukum, mengancam anak di bawah umur dan berusaha mensabotase konser malam ini,” katanya lantang.
Wartawan membelalak.
Luna, yang berdiri tak jauh di sudut, dipelototi oleh puluhan mata kamera.
"Saya akan menjadi saksi kunci dalam proses hukumnya,” tambah Sasha, kali ini menatap Chiara.
Chiara berjalan ke arahnya dan berbisik, “Terima kasih, meski terlambat.”
Sasha menunduk.