Drama

Bab 9 — Darah Utara yang Tak Bisa Disembunyikan

03 December 2025

Pasar Pedran sore itu lebih ramai dari biasanya. Angin membawa kabar—kabar tentang kedatangan tamu besar dari Utara. Negara dingin yang jauh, dimana istananya menjulang seperti es raksasa dan tempat legenda kelahiran Anne dimulai… dan dihancurkan.

Cloris tidak tahu kabar itu, setidaknya bukan sampai hiruk-pikuk pasar mulai berubah menjadi bisikan-bisikan tajam.

“Utusan kerajaan?” “Dari Utara?” “Untuk apa mereka kemari?”

Cloris mengangkat kepalanya dari kain yang sedang ia ukur. “Ayah, apa kau tahu sesuatu?”

Garren menggeleng, kecemasannya terasa. “Jika orang-orang Utara datang… itu bukan urusan rakyat kecil seperti kita.”

Namun Cloris merasakan sesuatu di dadanya bergetar—halus, namun jelas. Naluri lama yang sudah ia kubur bertahun-tahun.


Tak lama, suara terompet pendek menggema. Orang-orang menyingkir dari jalan utama pasar. Sebuah kereta hitam dengan lambang serigala salju—lambang Kerajaan Utara—berhenti tepat di depan gerbang pasar.

Dari kereta itu turun Lord Renard Voulter, paman Seraphine, bersama seorang pria berseragam biru gelap, berlapis mantel bulu putih. Matanya tajam, caranya berjalan tegap dan berwibawa.

Seorang utusan kerajaan. Utara. Rumah.

Cloris merasakan tubuhnya menegang, seolah jantungnya berhenti berdetak.

Lord Renard bertepuk tangan, memanggil perhatian seluruh pasar. “Warga Pedran! Hari ini, pasar akan diawasi secara khusus. Utusan Kerajaan Utara memerlukan sampel perdagangan lokal.”

Seraphine turun dari kereta kedua, elegan dan berwibawa, matanya langsung menyapu kerumunan—seakan mencari sesuatu. Atau seseorang.

Tatapan mereka bertemu. Cloris menahan napas. Seraphine tersenyum tipis—senyum tajam penuh kemenangan kecil.

“Ah,” katanya lantang, “kita mulai dari pedagang favoritku.”

Pedagang pasar tahu maksudnya. Mereka serempak bergeser, menyisakan jalan langsung ke lapak Garren dan Cloris.

Utusan Kerajaan Utara berdiri di depan lapak kecil mereka. Matanya yang kelam seperti malam kutub menyusuri kain, rempah, lalu akhirnya… berhenti pada Cloris.

Garren menunduk hormat. “Selamat siang, Yang Mulia Utusan.”

Pria itu tidak menjawab. Ia menatap Cloris lama sekali. Tatapannya bukan sekadar menilai—melainkan mengenali. Wajah yang pernah ia lihat bertahun-tahun lalu. Wajah seorang gadis kecil dalam istana yang dingin seperti es. Wajah Puteri Anne.

Cloris merasa tubuhnya kaku. **Ia tahu tatapan seperti itu. ** Namun sesuatu yang tak ia duga terjadi.

Utusan itu menundukkan kepala perlahan. Senyap. Tidak ada tuduhan. Tidak ada bisikan nama. Hanya penghormatan hening—penghormatan yang menyadari siapa dirinya, tapi memilih tidak mengucapkannya.

Seraphine memperhatikan itu, alisnya sedikit terangkat. Ia belum mengerti… tapi ia mencium sesuatu yang menarik.

Renard membuka pembicaraan dengan suara berat. “Ini pedagang Garren dan putrinya, Cloris. Pemasok kain yang—kadang-kadang—stabil.”

Nada itu jelas meremehkan.

Cloris menahan diri untuk tidak menatap tajam.

Utusan itu berdiri tegap. “Tunjukkan padaku kain terbaik kalian.”

Seraphine tersenyum tipis. “Hati-hati, Yang Mulia. Mereka pedagang kecil. Kualitasnya… tidak selalu sepadan dengan harga.”

Cloris hampir membalas, tetapi utusan itu lebih cepat.

“Jika bangsawan Pedran tidak dapat membedakan kualitas,” katanya datar, “maka izinkan aku menguji dengan caraku sendiri.”

Seraphine terdiam, tersinggung, namun tidak bisa membantah.

Utusan itu mengambil selembar kain wol biru gelap dari lapak Cloris, merabanya, menariknya ke cahaya, mencium serat halusnya.

Ia menatap Cloris hanya sekejap—dan dalam tatapan itu Cloris melihat sesuatu: pengakuan, kehati-hatian… dan janji untuk diam.

“Bagus,” katanya lirih. Kemudian lebih keras, lantang agar Seraphine mendengar: “Sangat bagus.”

Renard menyeringai sinis. “Bagus, tentu, tapi keluarga Rouverian memiliki standar—”

“Aku membeli semuanya.”

Semua orang terdiam.

“Semua?” ulang Seraphine, tidak percaya.

“Ya,” jawab sang utusan. “Seluruh persediaan hari ini. Dan semua produksi bulan ini.” Ia menatap Cloris sekali lagi. “Jika mereka bersedia.”

Cloris terpaku. “T-tentu saja. Dengan senang hati.”

Renard tampak tak puas. “Kerajaan Utara biasanya membeli dari pemasok bangsawan.”

“Dan mulai hari ini, kerajaan memilih kualitas dibanding gelar,” jawab sang utusan tajam.

Seraphine yang biasanya dingin tampak sedikit terusik. “Tentu, Yang Mulia. Sebuah pilihan… yang menarik.”

Garren menunduk berulang kali, lega namun bingung. “T-terima kasih… terima kasih.”

Utusan itu mengangkat tangan. “Ini bukan belas kasihan. Ini transaksi.” Namun ketika menatap Cloris, ia menambahkan pelan, hampir tak terdengar, “Dan perlindungan.”

Cloris terhenti. Ia mengangkat wajah, tetapi sang utusan sudah kembali menjaga jarak.

Seolah tak terjadi apa-apa.

Seraphine kemudian melangkah masuk dalam percakapan, mencoba mengembalikan kendali. “Jika kerajaan Utara membutuhkan pasokan dalam jumlah besar, keluarga Rouverian dapat—”

“Tidak,” potong sang utusan. “Kami sudah menemukan pedagang yang tepat.”

Untuk pertama kalinya, wajah Seraphine menegang.

Bukan hanya karena ia tersinggung. Namun karena ia merasakan bahwa pedagang kecil ini menyimpan sesuatu yang lebih besar daripada kain wol.


Ketika transaksi selesai, sang utusan memberikan tanda kepada pengawal-pengawalnya untuk mengangkut barang.

Cloris melangkah mendekat dengan lembut. “Yang Mulia… terima kasih telah—”

“Jangan berterima kasih.” Nada utusan itu berubah lembut, sangat berbeda dari ketegasannya tadi. “Aku hanya menghormati pedagang berbakat.”

Cloris tahu ia sedang dilindungi. Sengaja.

Lalu, sangat pelan, tanpa menatap langsung, sang utusan berkata:

“Aku mengerti.” Cloris menegang. “Aku mengerti apa yang ingin kau rahasiakan.”

Ia menunduk hormat sekali lagi—sikap yang tidak semestinya dilakukan seorang utusan kerajaan kepada pedagang rendah.

Cloris terdiam. Seraphine memperhatikan itu dengan tatapan yang semakin mencurigai-lalu-tertarik-lalu… berbahaya.

Sore itu, ketika kereta kerajaan melaju meninggalkan pasar Pedran, sang utusan masuk ke dalam kabinnya.

Ia duduk, membuka kotak kecil berisi gulungan kertas tipis dan pena bulu. Butir lilin menyala di sisi kanan, menerangi kabin gelap.

Dengan gerakan cepat dan terlatih, ia menulis:

Kepada Yang Mulia Duke Anthony, Aku telah menemukan sesuatu yang barangkali bukan angin kosong. Aku tidak akan menuliskan namanya—terlalu berbahaya. Namun aku yakin puteri yang hilang itu masih hidup. Dan ia berada di Pedran. Menunggu waktu yang tepat.

Sang utusan menutup surat itu, menyegelnya dengan lambang serigala salju.

Kemudian ia bersandar, menutup mata, dan berbisik pada dirinya sendiri:

“Puteri Anne… maafkan aku. Aku tidak akan menyeretmu pulang… bukan sebelum kau sendiri yang memilihnya.”

Di luar, kereta kerajaan melaju membawa pesan rahasia itu menuju Utara—ke tangan seseorang yang paling merindukan sang puteri.

Dan di Pedran, tanpa sadar, Cloris baru saja memulai peperangan yang jauh lebih besar daripada perebutan harga dagang.