Seringai pada wajah Bastien seakan memperjelas rencana yang telah diperintahkan beberapa detik lalu. Satu rencana yang hanya dirinya seorang yang tahu. Bahkan Ezra pun tidak diizinkan untuk mendengar.
Rencananya untuk mengacaukan Kael dari dalam perusahaan telah gagal. Nyatanya, Kael tak takut kerajaan Vireaux yang dibesarkan susah payah oleh Lucien akan hancur setelah diterpa isu yang membuat beberapa investor telah menarik saham. Seakan menantang, keponakannya itu hanya tersenyum saat pertemuan besar para pemegang saham berlangsung sengit.
“Semuanya sudah aku siapkan. Kalian hanya tinggal datang dan lakukan tugas kalian dengan baik.” Bastien menggoyang gelas alkoholnya perlahan sambil bersandar di pinggir meja.
Tak ada jawaban, hanya anggukan singkat sebelum mereka keluar dari ruangan kerja Bastien. Begitu pintu tertutup, pria tua itu berbalik dan meletakkan gelasnya di atas meja kerja. Langkah pelannya kembali menuntun pada singgasana, masih dengan mata tajam menyorot kebencian mendalam terhadap Kael Vireaux. Satu seringai puas terlihat samar ketika ia membayangkan keberhasilan rencana barunya ini.
“Aku tidak memiliki cara untuk mendekat!” Celeste berdecak kesal saat beberapa usahanya untuk mendekat pada Kael termentahkan begitu saja.
Sementara Ezra yang menengadahkan kepalanya di sandaran sofa masih memejam. Ocehan Celesta hanya terdengar seperti dengungan lebah, seluruh pikirannya terpusat untuk mencari cara yang mulus agar Celeste bisa masuk ke kehidupan kael lagi.
“Kau mendengarku? Roux!” Celeste melempar bantal kecil sofa pada Ezra.
Setengah jam yang lalu, Ezra datang ke apartemen Celeste atas permintaan wanita itu. Rencana telah disanggupi, tapi Celeste juga membutuhkan sesuatu yang mampu membuka celahnya. Mungkin semacam ledakan kecil atau apa pun yang bisa membantunya.
“Aku dengar.” Ezra membalas santai.
“Jadi bagaimana? Aku sudah berusaha sebaik mungkin, tapi Kael bahkan tidak sadar aku ada di sekitarnya, seolah matanya buta kecuali untuk Aurora!” Nada suaranya dilempar kasar, disertai kening mengerut dan dengusan panjang.
“Dia memang dibutakan cinta.” Ezra kembali berkomentar.
Celeste menggeram pelan. Ezra bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. “Coba pikirkan satu cara yang mampu memberiku tiket untuk kembali masuk. Sedikit ledakan, atau… apa pun itu.”
Hening kembali.
“Ezra Roux!”
“Tunggu sebentar, aku sedang berpikir.”
Celeste menarik tubuhnya keras ke sandaran sofa. Tangannya terlipat, tidak sabar menunggu Ezra memutar otak.
“Kau bilang tadi apa? Ledakan?” Ezra mulai menegakkan badannya, kini menatap lurus pada Celeste.
Wanita itu mengangguk, masih dengan wajah ditekuk. “Iya, kau punya pemicunya?”
Ezra menggeleng. “Bukan pemicu, tapi aku memiliki rencana yang mirip seperti ledakan.”
Celeste mulai tertarik. Ia mencondongkan tubuhnya, memberikan respon aktif atas ucapan Ezra. “Ok, tell me. Apa itu?”
“Tabrakan.” Ezra menyeringai.
Alis Celeste bertaut. “Apa yang kau maksud?”
Ezra menghela napasnya panjang. Ide yang terlintas di pikirannya saat ini, mungkin saja akan dianggap gila. Namun jika dipikirkan jangka panjangnya, misinya bisa terselesaikan.
“Tabrak aku.”
“Wait… what?!” Celeste nyaris berteriak. “Are you crazy??”
“No, I'm not.” Ezra mendesah. “Kupikir itu ide yang brilian! Tabrak aku, dan aku akan berpura-pura terluka parah sehingga kau bisa bebas keluar masuk ke rumah mereka untuk merawatku.”
Celeste mengerutkan kening. Ada satu hal yang tidak ia mengerti sepenuhnya. “Hold on, kau bilang dengan menabrakmu aku bisa masuk ke rumah mereka? Bagaimana bisa?”
Ezra mengeratkan rahangnya. Ia melupakan fakta bahwa Celeste tidak mengetahui misi yang diberikan Bastien. Bahkan wanita itu tidak mengetahui tentang jika dirinya mengenal Bastien Vireaux.
Apalah kali ini Ezra harus membongkarnya untuk bisa memenuhi misi memisahkan Kael dan Aurora?
“Ezra, kalau kau masih mau kita menjadi satu tim, jelaskan padaku.” Celeste menegaskan. “Aku tidak ingin menjalani hal yang bahkan tidak kumengerti latar belakangnya. Apa kau tinggal bersama mereka? Kalau iya… kenapa kau masih meminta bantuanku?”
Celeste bukan wanita bodoh, Ezra tahu pasti itu. Sejak mereka membicarakan masalah ini, ia mampu melihat saat Celeste sedang menilai dirinya. Dan jika ia masih ingin mendapat kepercayaan Celeste, maka ia harus membongkar lapisan terluar dari misinya.
“Bastien Vireaux menyuruhku untuk memisahkan mereka berdua. Dia mengirimku sebagai Ezra Vireaux, putra dari Lucien Vireaux dan Isabelle Lambert.”
Mata Celeste menyipit. “Apa hubungannya dengan Isabelle Lambert? Bukankan dia hanya pelacur simpanan Lucien Vireaux?”
Ezra menggeleng, pandangannya masih tertuju lurus pada Celeste. “Isabelle Lambert adalah ibu dari Aurora. Dan pada peran yang kumainkan, secara garis keturunan aku adalah adik dari Kael Vireaux dan Aurora Vallen.”
“No way!” desis Celeste. “Kau gila, Ezra! GILA! But, wait… kenapa Bastien menyuruhmu memisahkan mereka?”
Pundak Ezra mengedik cepat. “Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu. Tugasku hanya memisahkan mereka. Kenapa dan apa alasannya, Bastien tidak pernah memberitahuku secara jelas. Asumsiku, karena wasiat dari Lucien Vireaux.”
Celeste kini mengangguk pelan, kepalanya menunduk. “Tentang kursi CEO Vireaux Group,” gumamnya.
“Maybe,” ujar Ezra. “Kupikir jika mereka berpisah, maka pasal mengenai Kael yang harus menikah untuk menjabat sebagai CEO Vireaux Group akan gugur dan otomatis berpindah pada Bastien.”
“Menarik.” Celeste menarik tangannya, mengusap pelan ujung hidungnya dengan telunjuk. “Aku tahu Bastien penuh dengan intrik, tapi aku tidak pernah mengira dia akan melakukan semuanya untuk mendapatkan posisi itu.”
Ezra menghela napasnya dalam-dalam. “I don’t care, actually. Yang kutahu waktuku sudah hampir habis untuk memisahkan mereka. Dan karena itu, aku memohon padamu untuk membantuku agar Kael dan Aurora berpisah.”
Tawa Celeste nyaring. Ezra sampai harus menunggu beberapa saat sampai wanita itu benar-benar tenang. “Kukira kau benar-benar mencinta Aurora. Aku tidak pernah mengira itu hanya sebuah misi.” Tawanya reda ketika menatap wajah Ezra yang tetap serius. Rautnya berubah ragu. “Do you?”
“Yes, i do.” Ezra tidak membantahnya. “Aurora terlalu mudah untuk dicintai. Dia baik padaku, dan aku hanya mampu melihatnya di balik posesifnya Kael.”
Tawa Celeste kembali terdengar, kali ini lebih pelan. “Kusimpulkan, kau adalah seseorang yang terlalu mudah untuk jatuh cinta.”
“Dan terlalu sulit untuk melepaskan.” Ezra menatap dalam, sejenak membuat Celeste sedikit gugup. “karena itu… bantu aku. I beg you.”
Celeste mengedikkan sebelah alisnya sebelum berdiri. Gerakannya tetap santai ketika beralih menuju kulkas untuk mengambil sebotol air minum. Dengan cepat ia membuka botol saat kembali melangkah ke sofa, lalu menuangnya perlahan pada gelas kosong di atas meja. Dan ketika gelas telah berada di genggamannya, ia kembali menatap Ezra.
“Very well… karena tujuan kita sama, aku akan tetap menjadi partner-mu. Tapi, Ezra…” Celeste meneguk pelan air minumnya. “kuharap kau tidak terlalu percaya dengan Bastien. Dia ular yang lihai berkelit dalam setiap masalah yang telah dia perbuat.”
“I know,” ucap Ezra frustrasi, pikirannya melayang pada Elias. “Dia bajingan berdarah dingin yang tidak mudah untuk dilawan.”
Celeste mengangguk. Senyum terangkat di sebelah bibirnya saat kembali serius menatap Ezra. “Baguslah. Jadi… kapan aku bisa menabrakmu, Ezra Vireaux?”