Drama

One Night One Lie - Lauren Yang Mulai Tumbuh Besar - Bab 25

Penulis Ichan
03 December 2025

Tahun kelima Lauren.

Musim hujan baru saja lewat di Jakarta. Pohon-pohon sekitar studio tampak lebih hijau dari biasanya dan aroma tanah yang lembab menyatu dengan suara-suara alat musik dari dalam ruang latihan.

Laurn. Kini, berusia lima tahun. Rambutnya mulai panjang dan matanya selalu berbinar setiap kali melihat tuts piano atau senar biola. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia mengelilingi studio milik ibunya sendiri bukan sebagai anak kecil biasa, tapi sebagai seorang calon musisi.

Chiara berdiri di balik kaca satu arah, memperhatikan Lauren yang menghampiri sebuah biola kecil yang digantung di dinding ruang latihan.

“Mommy, boleh aku coba yang ini?” tanyanya sambil menunjuk biola ukuran 1/4.

Chiara tersenyum, menahan haru. “Tentu saja, sayang.”

Seorang guru musik mendekat. “Biola itu pernah dimainkan oleh Chiara waktu dia seusiamu,” katanya pada Lauren.

Gadis kecil itu tersipu malu, lalu menggenggam gagang biola itu dengan hati-hati, seolah takut merusaknya. Saat ia menggesekkan bownya untuk pertama kali, terdengar nada melengking yang belum sempurna, tapi tidak salah, Lauren punya gairah itu.

Chiara menatap langit-langit studio dan berbisik pada dirinya sendiri, “Dunia ini mungkin kejam, tapi aku tak akan membiarkan anakku tumbuh tanpa musik.”


Di sisi lain kota, Aaren menghabiskan waktunya di rumah keluarga Baron yang kini lebih sepi. Ayahnya masih terbaring sakit, semakin rapuh. Sementara perusahaan Baron Group Indonesia kembali ke tangannya, sebuah tanggung jawab besar yang dulu ia tinggalkan demi mengejar hidup bersama Chiara di Eropa.

Sore itu, Aaren duduk di kursi tamu, mendengarkan laporan para direksi, tapi pikirannya terus melayang ke rumah. Ke Lauren. Ke Chiara.

Ketika pertemuan selesai, ia menghela napas dan menatap sekretarisnya. “Kirimkan instrumen hibah pada studio milik Chiara. Biola-biola terbaik. Piano grand dari Berlin. Jangan ada kekurangan.”

Sekretaris itu mengangguk. “Tentu, Pak Aaren.”


Meski hari-harinya kini lebih banyak diisi dengan mengajar dan membina generasi baru, Chiara tak bisa menyembunyikan kerinduannya pada panggung konser.

Pada suatu malam, ia duduk sendiri di atas panggung utama studio setelah semua anak pulang. Tangannya menyentuh tuts piano dan ia mulai memainkan 'Liebesträume' milik Liszt. Alunan nada itu menyatu dengan cahaya lampu panggung yang redup, menciptakan ruang nostalgia dalam kesunyian.

Aaren masuk pelan-pelan dan berdiri di balik tirai, memperhatikannya.

“Kau masih memainkannya seperti pertama kali aku jatuh cinta padamu,” ucapnya lembut.

Chiara tersenyum tanpa menoleh. “Kau masih tahu kapan harus diam dan hanya mendengar.”

Mereka tertawa kecil. Aaren menghampiri dan duduk di bangku piano bersamanya.

“Lauren ingin ikut konser anak-anak internasional tahun depan di Paris,” ujar Chiara.

“Biarkan dia. Biarkan dia menemukan dunianya, tapi kau juga harus menemukan duniamu lagi, Chiara.”

Chiara menoleh. “Apa maksudmu?”

Aaren menatapnya dalam. “Kembali ke panggung. Aku tahu itu yang kau rindukan.”


Sementara itu, di sebuah desa kecil di luar kota, seorang wanita dengan rambut panjang kemerahan berjalan melewati deretan pepohonan tua. Wajahnya tak lagi terpasang makeup tebal, tapi matanya masih menyimpan luka yang belum sembuh.

Luna Damian.

Ia tampak jauh berbeda. Dunia mengira ia telah pergi dan dalam beberapa hal, ia memang begitu. Tidak ada yang tahu keberadaannya, tidak ada jejak di media, tidak ada kabar, tapi dalam sepinya, Luna menyusun ulang semua pecahan hidupnya.

“Chiara, kau menang untuk sekarang,” gumamnya saat membaca artikel online tentang studio musik milik Chiara yang kini menjadi pusat perhatian dunia.

Saat ia menutup layar tablet kecil di tangannya, Luna menatap ke cermin dan berkata pada bayangannya,

“Tapi pertarungan belum usai. Kau akan lihat. Bahkan simfoni yang paling indah pun bisa berubah menjadi nada perpisahan.”


Sore itu, Lauren berlari di tengah taman rumah keluarga Baron, memeluk boneka kecil sambil menyanyikan lagu dari pelajaran musiknya.

Chiara duduk di bangku taman, di samping Aaren yang masih berkutat dengan beberapa dokumen.

“Kau tahu,” ucap Aaren tiba-tiba, “kalau suatu hari kau ingin kembali ke Paris atau ke Wina atau ke manapun, aku akan selalu ikut.”

Chiara menggenggam tangannya. “Untuk saat ini, aku ingin di sini. Menyembuhkan segalanya.”

Aaren mengangguk.

Di kejauhan, Lauren menyanyikan bait lagu,

"The music never ends, as long as love remains."


Retak di puncak Baron Group.

“Seluruh aset sedang diaudit ulang dan investor dari Jepang mengancam akan mencabut dana mereka dalam waktu satu minggu jika tidak ada transparansi laporan keuangan.”

Suara sekretaris keuangan Baron Group menggema di ruang rapat besar yang penuh tekanan. Aaren duduk di ujung meja, matanya merah dan rahangnya mengeras. Dokumen yang terbuka di hadapannya menunjukkan penurunan nilai saham hingga hampir tiga puluh persen dalam dua bulan terakhir.

“Siapa yang bertanggung jawab atas penggelapan ini?” tanyanya tegas.

Semua diam.

Ia menghempaskan dokumen ke meja. “Kita sedang tenggelam dan kalian semua baru bicara sekarang?”

Seseorang dari departemen keuangan mengangkat tangan dengan ragu. “Kemungkinan ada pihak internal lama yang memalsukan catatan investasi sejak tahun lalu, tapi kami belum menemukan bukti resmi.”

Aaren berdiri. “Cari bukti itu. Hari ini. Kalau perlu, bawa tim forensik independen. Aku tidak akan biarkan perusahaan ini tumbang tanpa perlawanan.”

Kenyataan tak bisa dielakkan. Dalam waktu singkat, Aaren harus mengalihkan sejumlah besar aset untuk menyelamatkan Baron Group, termasuk kemungkinan besar menjual studio milik Chiara yang selama ini menjadi warisan jiwa istrinya.


Chiara menerima kabar dari pengacara keluarga Baron saat ia baru selesai mengajar kelas musik anak-anak. Ia duduk di depan ruang piano, napasnya tercekat.

“Studio Harmonia masuk dalam daftar aset yang bisa diuangkan. Kami tahu ini keputusan berat, Bu Chiara, tapi jika tidak ada suntikan dana cepat, seluruh Baron Group bisa runtuh,” kata sang pengacara.

Chiara memejamkan mata. Ia melihat senyum Lauren saat pertama kali bermain biola, anak-anak yang tertawa saat latihan paduan suara, dan ratusan mimpi yang telah tumbuh di dalam tembok studio itu.

“Berapa waktuku untuk membuat keputusan?” suaranya bergetar.

“Kurang dari seminggu.”


Malam itu hujan turun dengan deras. Chiara duduk di ruang tengah rumah mereka di Jakarta, mengenakan sweater tebal dan memeluk biola tua peninggalan ibunya. Aaren datang, basah kuyup, jasnya setengah terlepas.

Ia menatap Chiara lama. “Aku tak ingin kau tahu soal studio, tapi kurasa aku tak bisa menyembunyikannya lebih lama.”

Chiara menoleh, tenang. Namun, penuh luka. “Aku sudah tahu dan aku juga tahu, kau sedang hancur, Aaren. Aku bisa merasakannya.”

Aaren mendekat, berlutut di hadapannya. “Aku berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan semuanya, tapi kalau harus memilih antara kau dan semuanya, aku akan pilih kau.”

Chiara menggeleng, air matanya jatuh. “Jangan. Jangan korbankan semuanya untukku. Kalau memang harus dijual, kita akan mulai lagi dari awal. Yang penting Lauren dan kita tetap bersama.”

Mereka saling berpelukan erat. Dalam sunyi, hanya suara hujan dan detak jantung mereka yang saling bersahutan.


Keesokan harinya, sebuah telepon datang dari Paris. Direktur Asosiasi Musik Klasik Internasional menghubungi Chiara.

“Kami ingin mengundang Anda kembali, Nona Chiara, untuk memimpin konser amal di Paris. Kami tahu tentang studio Anda dan konser ini bisa menjadi titik balik.”

Chiara terpaku.

Konser itu akan disiarkan internasional. Kehadirannya akan memberi kepercayaan diri investor. Jika berhasil, itu bukan hanya menyelamatkan studio, tapi juga Baron Group. Namun, semua itu akan membuat Chiara meninggalkan Indonesia dan Aaren yang kini tengah dalam badai krisis.


Dalam waktu dua hari, Chiara harus mengambil keputusan besar. Menjual studio atau pergi ke Paris dengan harapan bisa menyelamatkan segalanya melalui kekuatan musiknya.

Sementara itu, Luna yang selama ini menghilang, menyadari keguncangan Baron Group dari kejauhan. Ia tersenyum dingin saat melihat berita di laptopnya.

“Saatnya aku kembali, Aaren,” gumamnya.