Drama

One Night One Lie - Tekanan Ibu Mertua - Bab 26

Penulis Ichan
03 December 2025

Hujan tipis menyapu pelataran rumah keluarga Baron di kawasan elit Jakarta. Aroma tanah basah seolah menyambut kedatangan Luna Damian yang turun dari mobil hitam elegannya. Berbalut mantel panjang dan syal Prancis, wanita itu melangkah percaya diri menuju pintu utama rumah orangtua Aaren.

Luna mengetuk dengan senyuman manis yang tak benar-benar tulus.

Pintu terbuka. Ibu Aaren, Ny. Helena Baron, tertegun. Matanya membesar saat melihat wajah dari masa lalu itu.

“Luna?” bisiknya.

“Ya, Tante, aku dengar Om sakit. Aku merasa berdosa jika tidak menjenguk beliau. Apalagi, dulu keluarga ini pernah begitu berarti untukku.”

Kata-katanya menusuk. Ny. Helena mengangguk pelan, membuka pintu lebih lebar.

Masuklah Luna ke dalam rumah dan bersama langkahnya, masuk pula gelombang konflik yang tak diundang.

Di rumah yang sama, Aaren tengah berbicara serius dengan ayahnya soal audit keuangan perusahaan. Saat ia menuruni tangga, langkahnya terhenti.

Di ruang tamu, ia melihat Luna sedang menyuapi sup ke mulut ayahnya. Sekilas seperti pemandangan penuh kasih, tapi Aaren tahu betul. Luna tak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan.

Luna menoleh, menatap Aaren. Bibirnya menyungging senyum penuh nostalgia.

“Aaren,” panggilnya lembut, “Senang melihatmu masih tampan seperti dulu.”

Aaren menahan napas. Ia menghampiri tanpa senyum.

“Kenapa kau di sini, Luna?”

“Aku hanya menjenguk orangtuamu. Jangan terlalu defensif. Lagipula, kita pernah sangat dekat. Kau lupa?”

“Yang kukenal dulu adalah perempuan yang rela menghancurkan orang lain demi ambisinya. Aku tak lupa dan aku tak bodoh.”

Luna tersenyum datar. “Sayangnya, tidak semua orang sependapat denganmu.”


Sore harinya, saat Chiara datang menjenguk ayah Aaren, ia disambut pandangan aneh dari Ny. Helena. Bukan senyum hangat seperti biasa, tapi tatapan ragu yang menyiratkan ketidaksukaan.

Chiara tahu, itu pasti karena Luna.

“Bu, ada yang salah?” tanya Chiara sopan.

“Tidak, hanya saja kamu bukannya sedang sibuk dengan urusan studio dan konser. Apakah tidak memberatkan Aaren jika kamu terlalu sering meninggalkannya sendiri?”

Chiara tercekat. “Maaf, Bu?”

“Luna tadi datang. Dia bilang, kamu terlalu fokus pada kariermu. Aaren seharusnya punya istri yang bisa mendampingi saat sulit, bukan hanya saat senang.”

Ucapan itu seperti peluru.


Malamnya, Chiara berdiri di hadapan Luna di halaman belakang rumah Baron.

“Berhenti mencoba merusak apa yang kubangun dengan Aaren,” tegas Chiara.

Luna tertawa kecil. “Sayang sekali, Chiara. Aku tidak merusak. Aku hanya menunjukkan siapa yang sebenarnya lebih pantas.”

“Pantas?” Chiara menahan emosi. “Kau pikir mencuri perhatian orangtua Aaren akan membuatmu menang?”

“Cinta bukan soal menang atau kalah, tapi soal siapa yang lebih dikenal hati seseorang sejak awal dan kau tahu siapa itu, bukan?”

Chiara menatap Luna dengan sorot mata tajam.

“Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan keluarga kecilku. Bahkan jika aku harus kehilangan studio, konser dan segalanya. Aku akan melindungi Aaren dan Lauren.”

Malam itu, Aaren berdiri di balkon rumahnya. Melihat dua wanita yang sama-sama ia kenal terlalu dalam. Yang satu adalah masa lalu yang penuh manipulasi. Yang satu lagi adalah masa kini yang penuh perjuangan.

Chiara datang menghampiri, memeluknya dari belakang.

“Kalau aku pergi ke Paris untuk konser amal itu, apakah kau percaya aku akan kembali padamu, Aaren?”

Aaren menggenggam tangannya erat. “Aku tak percaya pada jarak. Aku percaya padamu.”


Gedung konser Salle Pleyel, Paris, dipenuhi undangan eksklusif dari dunia musik klasik, filantropi dan media internasional. Spanduk besar bertuliskan. 'Harmoni Dunia. Sebuah Konser Amal oleh Chiara Evolet'.

Di belakang panggung, Chiara memeriksa nada terakhir pada biolanya. Gaun satin biru langit membalut tubuhnya, menonjolkan keanggunan sekaligus keteguhan. Konser ini bukan hanya soal seni, tapi juga harapannya membangun sekolah musik untuk anak-anak di Asia Tenggara. Namun, tiba-tiba di layar ponselnya, notifikasi meledak sebuah hastag bertuliskan, 'ChiaraSkandal', 'NikahSettingan' dan 'KonserPalsu'.

Jantung Chiara berdegup. Ia membuka tautan. Di dalamnya, sebuah video berisi potongan rekaman pribadi antara dirinya dan Aaren disuatu malam. Ucapan Aaren yang berkata, “Kita akan menikah sementara, hanya demi Lauren,” disisipkan ke publikasi video, seolah-olah pernikahan mereka hanyalah skenario palsu demi kepentingan tertentu.

Sumber? Luna Damian, melalui akun manajemen medianya yang lama dan kini aktif kembali.

Di ruang VIP, para sponsor dan jurnalis elite bergemuruh. Bisik-bisik merembet, mereka mengatakan banyak hal.

“Apa Chiara hanya gunakan konser ini untuk menutupi skandal?”

“Kalau pernikahannya palsu, bagaimana bisa ia dijadikan ikon pendidikan dan seni?”

“Apakah ini hanya drama untuk dana donasi?”

Chiara masuk ke ruang tersebut, wajahnya gelap. Matanya langsung menatap layar besar yang menampilkan breaking news tentang rekaman tersebut.

Direktur sponsor utama mendekatinya.

“Bu Chiara, kami mempertimbangkan untuk menarik dukungan dana jika ini tak segera diklarifikasi.”

Chiara mengepalkan tangan. “Berikan aku waktu satu jam. Aku akan selesaikan ini. Aku akan menghubungi suamiku dulu.”

Usia bertelepon dengan Aaren, Chiara duduk sendiri di ruang rias, wajahnya pucat. Air mata menggenang, bukan karena malu, tapi karena lelah. Ia telah berdiri di ribuan panggung, tapi malam ini panggung itu bisa menghancurkannya.

Pintu terbuka. Asistennya datang dan masuk dengan langkah cepat.

“Bu Chiara,” katanya pelan.

“Ini Luna, bukan? Hanya Luna yang bisa melakukan ini,” suaranya parau. “Dia ingin duniaku hancur sepenuhnya.”

Asistennya menggeleng. “Tuan Aaren mengatakan, dia akan segera tiba pada penerbangan besok pagi hari dan mungkin tiba keesokan malamnya. Chiara fokus sama pada penampilan hari ini. Beliau akan membereskan semuanya.”

Chiara hanya menganggukkan kepalanya seraya menyeka air genangan air matanya.


Lampu panggung menyala. Chiara melangkah ke tengah panggung. Tepuk tangan terdengar pelan, sebagian terdorong oleh rasa penasaran, sebagian lainnya menyimpan keraguan.

Ia berdiri, lalu memegang mikrofon. Tak seperti biasanya, ia berbicara sebelum memainkan musik.

“Ada yang ingin saya bagikan, sebelum konser dimulai,” katanya dengan tenang, tapi jelas. “Ya, saya dan suami saya Aaren Baron, memang sempat terpaksa bersama karena Lauren, tapi tak ada yang palsu dalam cinta kami. Tidak ada yang palsu dalam anak kami, Lauren dan tidak ada yang palsu dalam setiap nada musik yang saya mainkan malam ini.”

Ia menarik napas dalam. “Saya tidak bermain untuk kesempurnaan citra. Saya bermain untuk mereka yang ingin mendengar dan merasakan.”

Kemudian, dia mulai memainkan lagu ciptaannya, 'Truth in D Minor', sebuah komposisi dramatis yang menggambarkan luka, penyesalan, cinta dan harapan.

Di antara penonton, Chiara membayangkan kalau Aaren berdiri dan perlahan mendekati panggung, disorot kamera. Tatapan mereka bertemu. Seperti layaknya untuk pertama kalinya, cinta mereka bukan skandal, tapi sebuah cinta yang bertahan di tengah badai.


Sementara itu, Luna menyaksikan siaran langsung konser dari apartemen mahalnya di Montmartre. Wajahnya tak lagi puas, melainkan mulai panik.

Sasha yang kini mulai menjauh darinya berkata tajam, “Kau pikir merusak pernikahan mereka akan mengangkatmu kembali? Dunia sudah berpihak pada kebenaran, Luna.”

Luna mengepal tinju.

“Kalau kebenaran tidak memihakku, maka aku akan ciptakan kebenaranku sendiri.”