Drama

One Night One Lie - Harapan Kosong Milik Luna Damian - Bab 27

Penulis Ichan
03 December 2025

Setelah konser sukses di Paris, Chiara dan Aaren memutuskan untuk tetap menetap sementara di Jakarta. Studio musik Chiara yang sederhana kini menjadi tempat favorit Lauren yang semakin mencintai biola seperti ibunya.

Ketenangan itu hanya sebentar saja. Sebab satu nama kembali muncul di media sosial dan acara-acara sosial eksklusif Jakarta. Luna Damian.

Aaren baru saja keluar dari ruang rapat ketika asisten pribadinya berkata, “Tuan, Nona Luna ada di ruang tamu utama. Dia menolak pergi sebelum bertemu langsung.”

Aaren menghela napas panjang. Sudah lima kali Luna berusaha menghubunginya sejak konser Paris. Semuanya ditolak, tapi kini, ia datang langsung.

Aaren membuka pintu ruang tamu. Luna berdiri di sana, mengenakan gaun merah menyala, rambutnya terurai sempurna.

“Aku cuma ingin bicara, bukan mengganggu,” katanya dengan senyum lelah. “Bolehkan lima menit saja?”

Aaren menatapnya dingin. “Kau sudah menghancurkan malam konser istriku. Apa lagi yang kau inginkan?”

“Kalau kau sudah benar-benar memilih Chiara, kenapa kau masih terlihat begitu lelah, begitu tegang?” Luna mendekat. “Karena aku tahu, kau masih belum bisa melupakanku, Aar.”

Aaren menegang. “Kau salah besar.”

Luna mencoba untuk menyentuh lengan jasnya perlahan. “Kau tahu, kita pernah hampir menikah dan itu bukan karena tekanan. Itu karena kau pernah mencintaiku.”

Aaren menarik dirinya. “Kau salah besar. Dari dulu aku tak pernah mencintaimu. Begitu pula sekarang, aku tetap mencintai wanita yang menanggung luka karena ulahmu. Istri yang tidak pernah memilih membalas, hanya memilih mencintai.”


Tiga hari setelah pertemuan itu, Chiara mendapatkan pesan anonim berisi foto Luna dan Aaren yang duduk bersama di ruang tamu. Dengan sudut pengambilan yang terkesan dekat dan intim, meski tak ada sentuhan fisik yang mencurigakan, tapi itu cukup untuk menimbulkan tanya.

Chiara tidak langsung marah. Ia menunjukkan fotonya pada Aaren saat malam makan malam keluarga.

“Dia tidak akan berhenti, Aar. Kau tahu itu, kan?”

Aaren menatap mata istrinya. “Aku akan lindungi kita, Chiara. Bahkan jika itu berarti aku harus menghancurkan Luna sekali lagi.”


Tak hanya itu, Luna mulai mendekati kedua orangtua Aaren. Ia muncul saat ibu Aaren terbaring karena tekanan darah tinggi.

“Aku khawatir pada Tante,” katanya manis sambil membawa bunga. “Chiara pasti sibuk. Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja.”

Ibu Aaren yang masih belum sepenuhnya menerima Chiara karena keterpaksaan Aaren dulu yang terlalu tiba-tiba, mulai goyah.

“Luna itu sopan dan perhatian. Tidak seperti Chiara yang selalu pergi konser,” katanya suatu sore.

Hal itu sampai ke telinga Chiara melalui para pelayan di rumah Aaren dan membuat luka kecil di hatinya yang diam-diam menganga lebih dalam.


Suatu malam, Chiara duduk di balkon bersama Aaren. Angin malam Jakarta mengalun lembut.

“Kalau aku menyerah, kau tidak akan salahkan aku, kan?” tanya Chiara lirih.

Aaren menatapnya penuh. “Kalau kau menyerah, aku akan mengerti, tapi aku akan tetap memperjuangkanmu.”

Chiara tersenyum kecil. “Aku tidak menyerah. Aku hanya lelah, Aar, tapi aku masih memilihmu. Hanya saja, aku ingin Luna berhenti. Bukan karena aku takut kehilangan, rapi karena aku lelah terus melihat bayangannya menyentuh hidup kita.”

Aaren memegang tangan istrinya.

“Maka biarkan aku menyelesaikan ini. Sekali dan untuk selamanya.”


Sementara itu, Luna berbicara dengan seseorang melalui telepon.

“Ya. Rekamannya sudah siap. Tinggal kita edit bagian suaranya. Lalu sebarkan saat konser Hong Kong berlangsung bulan depan.”

Orang di seberang berkata, “Kau yakin ingin menghancurkan Baron Group dan Chiara sekaligus?”

Luna tersenyum gelap. “Jika Aaren tidak bisa kembali padaku dengan cinta, maka aku akan buat dia kembali padaku karena kehilangan segalanya.”


Chiara duduk di balkon rumahnya, memandangi langit pagi Jakarta yang mulai terang. Di pangkuannya, sebuah surat undangan tampil konser tunggal di Berlin yang menggiurkan. Namun, kali ini tak menggugah jiwanya seperti dulu.

Aaren keluar dari kamar membawa dua cangkir teh. Ia duduk di sebelah Chiara, memandangi surat undangan itu.

“Berlin menunggumu,” katanya pelan.

Chiara menggeleng. “Lauren lebih membutuhkan ibunya di rumah dan aku butuh waktu untuk mengingat kenapa dulu aku mencintai musik. Bukan panggungnya, bukan sorotnya, tapi nadanya yang lahir dari keheningan hati.”

Aaren tersenyum, mencium puncak kepala istrinya. “Aku mendukung apapun keputusanmu.”


Lauren di sekolah barunya.

Hari pertama Lauren masuk sekolah dasar di sebuah sekolah musik unggulan di Jakarta menjadi momen penuh haru. Ia membawa biola mungilnya dengan bangga, mengenakan seragam biru muda dengan rambut dikuncir dua.

Chiara menggandeng tangan Lauren sampai ke gerbang.

“Aku akan main lagu kayak yang Mama mainin dulu, boleh?” tanya Lauren.

“Boleh, Sayang, tapi jangan lupa main juga lagu-lagumu sendiri, yang kamu suka,” jawab Chiara sambil tersenyum.

Di balik senyum itu, ia menahan haru. Dulu, dia mengangkat biola untuk menyuarakan luka. Kini Lauren memegangnya dengan cinta yang tumbuh dari tempat yang jauh lebih sehat.


Chiara membuka kelas musik kecil di studio lamanya. Anak-anak dari berbagai latar belakang mulai berdatangan, termasuk anak yatim dan murid dari panti asuhan yang pernah dia bantu diam-diam dulu.

“Bermain musik bukan untuk menjadi terkenal,” ucap Chiara di depan muridnya, “tapi untuk menyuarakan apa yang tidak bisa kita ucapkan dengan kata-kata.”

Aaren sering datang diam-diam, duduk di pojok studio menyaksikan Chiara mengajar dengan lembut. Kadang dia membawa Lauren sepulang sekolah dan gadis kecil itu akan duduk di depan piano dan memainkan nada-nada kecil.

Sementara Chiara menjauh dari dunia internasional, namanya tetap dibicarakan. Para kritikus mempertanyakan keputusannya menghilang dari dunia konser. Beberapa menyebutnya lari dari tekanan setelah skandal. Namun, Chiara tidak menjawab. Ia memilih diam dan terus berkarya secara lokal.

Luna, dari kejauhan, menyaksikan semua ini melalui berita. Ia menggertakkan giginya.

“Dia membuat semua orang mencintainya lagi, bahkan tanpa satu pun konser,” geramnya pada Sasha dalam sebuah pertemuan rahasia.

Sasha, yang kini mulai goyah, hanya mengangguk lelah. “Dia tidak pernah melawan kita secara langsung, tapi setiap langkah diamnya seperti peluru di dada kita.”


Malam itu, Aaren mengajak Chiara makan malam di balkon rumah mereka. Lilin kecil menyala, cahaya remang menyatu dengan gemerlap kota dari kejauhan.

“Dulu aku pikir menikah denganmu akan membuatku kehilangan banyak hal,” kata Aaren, suaranya rendah.

Chiara menatapnya. “Sekarang?”

“Sekarang aku sadar, kalau semua yang kupikir akan hilang, sebenarnya baru mulai kutemukan setelah bersamamu. Termasuk diriku sendiri.”

Chiara tersenyum, menatap wajah Aaren yang tak lagi sekeras dulu. Ia kini seorang suami, ayah dan pelindung yang belajar dengan sabar.

Malam itu mereka menari pelan di bawah cahaya bulan, tanpa iringan musik, hanya suara detak jantung yang akhirnya berdetak dalam irama yang sama.