Drama

One Night One Lie - Nada Yang Tergelincir - Bab 29

Penulis Ichan
03 December 2025

Hari ini adalah kunjungan pertama Chiara sebagai duta UNESCO ke Tokyo, Jepang. Chiara disambut dengan udara musim semi yang lembut dan langit keperakan. Bunga sakura mulai bermekaran di taman-taman dan suara seruling tradisional terdengar samar dari kejauhan saat ia melangkah keluar dari gedung konser anak di Shibuya, tempat ia baru saja mengisi sesi pelatihan intensif bersama para musisi muda Jepang.

Ia mengenakan kimono modern berwarna biru pastel, rambut disanggul anggun, wajahnya berseri dengan kehangatan yang tak dibuat-buat. Di balik senyumnya, rasa letih mulai terasa, tapi Chiara tetap menunjukkan antusiasme kepada setiap anak yang memeluknya dan setiap guru yang ingin bersalaman.

Di balik lensa kamera dan kilatan lampu wartawan, sebuah rencana jahat tengah bekerja.

Luna.

Ia mengirim seseorang dari tim PRnya, seorang mantan jurnalis yang sekarang menjadi tangan kanannya dalam permainan licik ke Tokyo untuk menabur keraguan terhadap reputasi Chiara. Berita-berita palsu mulai beredar di beberapa portal berbahasa Jepang dan Inggris.

'Duta Musik UNESCO Chiara Evolet Terlibat Konflik Manajemen Studio Indonesia: Ada Dana Tak Transparan?'

'Chiara Evolet Terbang Sendirian: Aaren Baron Tidak Menyertainya, Ada Retakan Rumah Tangga?'

'Chiara Tertangkap Menginap di Hotel Mewah, Menggunakan Dana Hibah?!'


Di Kamar hotel, Tokyo.

Chiara membanting ponselnya ke atas kasur dengan napas memburu. Matanya memerah membaca headline palsu yang mendadak muncul di media daring.

“Ini tidak benar,” gumamnya pelan. “Aku bahkan belum menggunakan satu yen pun dari anggaran hibah.”

Seseorang mengetuk pintu.

“Masuk,” ujarnya yang masih dalam kekalutan.

Pintu terbuka. Seorang pria berjas hitam, berwajah tenang dan rapi, melangkah masuk. Ia adalah Alvaro, asisten pribadi baru Chiara, utusan langsung dari Aaren.

“Bu Chiara, saya telah menghubungi tim legal di Jakarta. Mereka sedang menyiapkan klarifikasi resmi dari UNESCO. Selain itu, Bapak Aaren meminta saya untuk mempercepat pengamanan digital atas semua nama Anda dan studio.”

Chiara menatapnya, matanya membulat.

“Kau tahu ini akan terjadi?” tanyanya lirih.

Alvaro mengangguk tenang. “Bapak Aaren memperkirakan ada kemungkinan manipulasi media saat Anda tampil publik tanpa beliau. Itu sebabnya, saya dan tim keamanan Jepang sudah disiapkan bahkan sebelum Anda terbang ke sini.”

Seolah sebagai konfirmasi, di layar TV hotel, muncul tayangan yang kini menjadi viral, tapi bukan berita palsu, melainkan cuplikan dari acara Chiara bersama anak-anak Jepang yang diunggah oleh seorang guru musik lokal.

"Chiara Evolet, dengan kelembutan dan musikalitasnya, telah menyentuh hati anak-anak kami. Ia mengajari kami bahwa musik bukan hanya tentang nada, tapi tentang keberanian untuk bermimpi."

Chiara menutup wajahnya, menahan tangis.

“Dunia ini terlalu cepat menilai hanya dari satu headline,” gumamnya.

Alvaro duduk perlahan di kursi seberang.

“Itu sebabnya kita tak boleh berhenti memberi mereka cerita yang benar, Bu. Bukan hanya pembelaan, tapi bukti hidup.”


Sementara itu di Paris.

Luna memandangi layar laptopnya yang menampilkan statistik media sosial. Ia menggigit kuku dengan perasaan gusar. Komentar negatif terhadap Chiara muncul, tapi dengan cepat tenggelam oleh dukungan publik terhadap konser dan edukasi anak-anak yang diliput media besar.

“Sial,” desisnya. “Berapa banyak uang lagi yang harus kukeluarkan agar dia tersingkir?”

Sasha yang kini beralih mendukung Luna secara diam-diam demi keuntungan finansialnya sendiri berdiri di sudut ruangan dengan segelas anggur.

“Kau bisa buat publik benci seseorang, tapi kalau orang itu punya kisah yang tulus, mereka akan tetap menang,” katanya sambil menyeruput.

Luna menoleh tajam. “Aku akan buat dia jatuh, bukan hanya sebagai musisi, tapi sebagai wanita Aaren Baron. Lihat saja.”


Kembali ke Tokyo.

Malam itu, setelah mengadakan sesi dialog dengan tokoh pendidikan Jepang, Chiara berdiri di balkon hotel, menatap kelap-kelip kota Tokyo.

Tak lama kemudian, video call dari Aaren masuk.

Chiara langsung mengangkat.

“Chiara.” Suara Aaren terdengar berat. “Maaf aku tak ada di sana, tapi aku janji, setiap serangan yang datang padamu aku akan selalu jadi pelindungmu.”

Chiara mengangguk perlahan. “Aku tahu dan sekarang, aku lebih kuat karena kamu mempercayaiku.”

Dari belakang layar, Lauren ikut menyapa, “Mama! Aku dapat bintang di kelas hari ini!”

Tawa Chiara mengalun, menghapus lelahnya. “Anakku luar biasa.”

Aaren tersenyum. "Kamu, Chiara. Kamu bukan sekadar duta UNESCO. Kamu duta cinta dalam hidupku.”


Langit Jakarta sore itu mendung, seperti menyatu dengan perasaan Chiara yang tak menentu. Langkah kakinya mantap melewati koridor Pengadilan Negeri. Namun, sorot matanya menyimpan beban yang hanya dia dan Tuhan tahu. Di belakangnya, Alvaro dan dua pengacara studio musiknya terus membisikkan strategi pembelaan yang telah mereka siapkan.

Gugatan dari Luna yang tiba-tiba muncul pekan lalu adalah tentang penyelewengan dana hibah internasional dan pencemaran nama baik dalam lingkungan pendidikan musik. Gugatan yang jelas-jelas tidak berdasar, tapi efek sosialnya sangat merugikan reputasi Chiara, studio musiknya dan bahkan menyebabkan beberapa sponsor mempertimbangkan ulang kerja sama mereka.

Di luar ruang sidang, para wartawan memanggil namanya.

“Bu Chiara! Apakah benar Anda menggunakan dana hibah UNESCO untuk kepentingan pribadi?”

“Bagaimana tanggapan Anda soal isu retaknya hubungan dengan Aaren Baron?”

Chiara hanya tersenyum tipis dan terus berjalan masuk. Namun, yang membuat langkahnya sempat tertahan adalah sosok pria muda berpakaian kejaksaan yang tengah berdiri tepat di depan pintu ruang sidang.

Tinggi, rapi, wajah tegas dan karismatik. Ia mengangguk padanya pelan, lalu berkata,

“Selamat siang, Bu Chiara. Saya Reinaldi Mahesa. Jaksa yang ditunjuk untuk mengawal perkara ini.”

Chiara mengangguk sopan. “Selamat siang, Pak Reinaldi.”

Chiara menatapnya dalam diam.


Dalam ruang sidang.

Sidang berlangsung tegang. Pengacara Luna, seorang wanita tajam bernama Dara Winasti, mencoba membangun narasi bahwa Chiara memanipulasi statusnya sebagai duta UNESCO untuk keuntungan pribadi. Ia menyebut adanya transaksi mencurigakan dan konflik kepentingan dalam alokasi dana pendidikan musik.

Chiara menahan diri untuk tidak menanggapi emosional. Ia tahu, segalanya akan bergantung pada bukti bukan tuduhan. Namun, yang mengejutkan, ketika tiba giliran Jaksa Reinaldi memberikan tanggapan atas gugatan tersebut, suaranya menggema kuat di dalam ruangan.

“Yang Mulia, berdasarkan hasil penyelidikan awal, tuduhan terhadap Ibu Chiara Evolet mengenai penyelewengan dana hibah tidak memiliki dasar hukum kuat. Bahkan, kami menemukan bahwa laporan awal yang diajukan pihak penggugat berasal dari email anonim yang telah terlacak sumbernya dari akun yang terdaftar di Paris, menggunakan nama samaran, Eluna_Muse.”

Ruang sidang sontak gempar.

Dara, pengacara Luna, tampak gelisah. Ia mencoba menginterupsi. Namun, Reinaldi tetap tenang.

“Bukan hanya itu,” lanjutnya. “Berdasarkan catatan lama yang berhasil kami gali, nama penggugat, saudari Luna Damian, ternyata memiliki riwayat pelanggaran kontrak profesional di dua agensi musik dan modeling di Paris, karena manipulasi data profil dan penggunaan nama alias ganda.”

Chiara sontak menoleh, matanya membelalak. Ia tidak tahu soal ini.

Reinaldi menambahkan, “Ada indikasi bahwa penggugat memiliki motif pribadi untuk menjatuhkan kredibilitas tergugat. Kami akan mengajukan permintaan agar motif tersebut diperiksa lebih lanjut sebagai bagian dari upaya pencemaran nama baik.”

Sidang selesai.

Saat Chiara melangkah keluar, Alvaro membisikkan, “Dia menyelamatkan kita hari ini.”

Chiara masih belum percaya. “Kenapa seorang jaksa seperti dia, seolah sudah tahu segalanya tentang Luna?”

Tak lama setelah itu, Reinaldi menghampirinya dengan tatapan teduh, tapi penuh pesan.

“Terima kasih, Pak Reinaldi,” ucap Chiara.

Reinaldi mengangguk. “Saya mengenal Luna lebih lama dari yang Anda kira. Dulu, saat saya kuliah di Paris, dia pernah menjebak rekan saya dalam kasus pelecehan yang dibuat-buat. Hancur kariernya. Saya hampir menjadi korban kedua.”

Chiara terpaku.

“Saya tak pernah bisa buktikan itu saat itu,” lanjut Reinaldi. “Sekarang, saya hanya menjalankan kebenaran yang tertunda.”


Sementara itu di Paris.

Luna yang sudah kembali ke Paris dia begitu kesal dengan melempar gelas anggurnya ke dinding hotel.

“Reinaldi Mahesa?! Kenapa dia?! Kenapa dia yang muncul di sana?!”

Sasha yang mendengar kabar ini dari rekannya di Jakarta hanya menggeleng perlahan.

“Kau menanam duri terlalu banyak, Luna. Sekarang mereka tumbuh jadi belati.”

Luna menarik napas kasar. “Aku tidak akan kalah. Aku masih punya satu kartu terakhir.”