Langit Jakarta menggelap ketika Aaren kembali ke kantor pusat Baron Group. Setelah dua minggu berada penuh di sisi Chiara dan Lauren, ia tak bisa lagi menunda krisis yang menggerogoti perusahaan warisan keluarganya.
“Bagaimana laporan minggu ini?” tanya Aaren tajam, berdiri di depan meja kaca panjang dalam ruang rapat utama.
Sekretaris eksekutifnya, Kevin, menatap tablet yang ada di tangannya. “Dana investasi hilang hampir dua puluh persen dan proyek jembatan di Kalimantan belum bergerak. Audit internal mengindikasikan pengalihan dana yang tak masuk akal.”
“Siapa yang bertanggung jawab?” Aaren menoleh cepat.
Nadine ragu sejenak. “Nama tertingginya, Raka Wicaksana.”
Mata Aaren menyipit. Raka, sepupunya sendiri, pria yang selama ini menjadi wajah bersih dalam dewan direksi, ternyata dalang utama penggelapan dana perusahaan.
Malam itu, Aaren tak pulang. Ia duduk di ruang arsip digital perusahaan, membuka semua data transaksi enam bulan terakhir. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari ketika ia menyadari, adanya jaringan sindikat dalam tubuh perusahaan miliknya yang menjual aset Baron Group secara diam-diam ke investor asing ilegal.
Besok paginya, Aaren mengambil keputusan besar. Ia memanggil jaksa Reinaldi Mahesa, yang sebelumnya menangani kasus Chiara.
“Aku punya bukti, tapi aku butuh perlindungan hukum agar bisa menghapus dan menata ulang direksi dalam waktu singkat,” ujar Aaren serius.
Reinaldi menatapnya tajam. “Kau tahu ini akan mengguncang nama keluargamu sendiri?”
Aaren mengangguk. “Lebih baik dihancurkan oleh kebenaran daripada ditopang oleh kebohongan.”
Dua hari kemudian, Aaren berdiri di depan media, dengan wajah tegas.
“Mulai hari ini, saya Aaren Baron, secara terbuka memecat Raka Wicaksana dan beberapa anggota direksi lainnya yang terlibat dalam penyelewengan dana. Kami akan mengembalikan seluruh proyek ke jalur yang benar dan menjamin bahwa Baron Group bukan milik keluarga semata, tapi tanggung jawab moral bangsa ini.”
Media geger. Banyak yang menganggap tindakan Aaren nekat, tapi justru itulah yang membuatnya dihormati. Saham Baron Group yang sempat jatuh, mulai merangkak naik karena kepercayaan publik.
Sementara itu, di kediaman mereka, Chiara menerima surat dari Seoul Philharmonic. “Dengan ini kami mengundang Anda, Chiara Evolet, untuk menjadi juri kehormatan dalam Festival Musik Klasik Anak Asia di Korea. Kami percaya pengalaman Anda akan membawa cahaya baru bagi generasi mendatang.”
Chiara membacanya sambil menahan tangis. Namun, sebelum ia mengabari Aaren, suara kecil memanggil dari belakang.
“Mama?” suara Lauren terdengar lembut.
Chiara menoleh. Lauren berdiri sambil membawa kotak kecil berwarna merah muda.
“Apa itu, sayang?”
Lauren membukanya. Di dalamnya, ada pita rambut milik Chiara yang dulu sering dipakainya saat tampil di Paris.
“Kalau Mama ke Korea, bawa ini, ya, supaya Mama inget Lauren dan Papa.”
Chiara tersenyum sembari memeluk putrinya erat. “Mama tak akan lupa. Kamu dua alasan Mama tetap kuat di dunia ini.”
Malam itu, Aaren menemukan sebuah amplop tua di dalam laci ayahnya yang kini semakin kritis dan dirawat intensif.
Di dalamnya, sepucuk surat bertanggal dua puluh lima tahun lalu.
"Untuk Aaren masa depan. Jika kamu membaca ini, berarti kau sudah di titik yang akan menentukan hidupmu. Ingat, kebesaran bukan diukur dari berapa banyak warisan yang kau pertahankan, tapi dari keberanianmu menata ulang arah warisan itu. Jangan takut kehilangan nama, karena nama sejati dibentuk oleh pilihanmu dan jika kau menemukan cinta sejati, jangan lepaskan dia karena beban keluarga kita. Cintamu adalah cahaya untuk luka kita."
Tanda tangan di bawahnya terdapat nama ayahnya.
Aaren menutup matanya. Air mata mengalir perlahan di pipinya. Malam itu ia berjalan pelan ke kamar tempat Chiara dan Lauren tidur. Ia menatap mereka dalam diam.
Dia tidak akan membiarkan mereka kehilangan satu sama lain hanya karena dunia terus memaksanya memilih.
Pagi berikutnya, Aaren mengantar Chiara ke bandara untuk berangkat ke Korea.
Di ruang tunggu, sebelum Chiara melangkah, Aaren menarik tangannya.
“Chiara, kalau semuanya sudah selesai, mari kita menikah. Di tempat yang pertama kali membuatmu tersenyum.”
Chiara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Di Paris?”
Aaren mengangguk. “Di Paris.”
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Chiara merasakan hatinya benar-benar damai, sekalipun badai belum benar-benar reda.
Suasana kantor pusat Baron Group berubah muram. Langit Jakarta tak lebih suram dari wajah-wajah dalam ruang rapat utama. Para petinggi keuangan, penasihat hukum dan jajaran direksi baru menatap Aaren dengan sorot mata yang penuh tekanan.
“Jika kita tidak menjual unit konstruksi energi di Kalimantan, Baron Group akan dinyatakan bangkrut dalam dua bulan,” ujar Patrick, kepala keuangan.
“Unit itu adalah aset terbesar kita!” seru Rendra, direktur teknik. “Kita bisa cari solusi lain!”
Aaren berdiri mematung di depan layar proyektor yang menampilkan grafik kerugian dan tagihan yang menumpuk.
Pikirannya kacau. Unit konstruksi energi di Kalimantan bukan sekadar aset, itu impian mendiang kakeknya, pembangunan desa terpencil menjadi pusat mandiri energi terbarukan.
Malam harinya, Aaren berdiri di balkon rumah sambil memandangi lampu-lampu kota Jakarta. Di tangannya, sebuah berkas laporan penawaran dari investor asing, penawaran menggiurkan untuk membeli unit Kalimantan dengan harga tinggi.
“Kamu percaya aku bisa menyelamatkan ini, Chiara?” bisiknya pada diri sendiri yang nyaris patah.
Keesokan harinya.
Semua mata tertuju pada Aaren yang berdiri di mimbar. Napasnya teratur. Wajahnya tenang.
“Aku sudah mendengar semua pertimbangan,” katanya. “Detelah menimbang semuanya, aku memutuskan.”
Hening.
“Unit konstruksi energi Kalimantan tidak akan dijual.”
Beberapa petinggi terbelalak.
“Saya tahu ini bukan keputusan mudah. Tapi saya akan mengambil langkah restrukturisasi internal besar-besaran. Kita potong pengeluaran, kita jual saham minor, kita minta moratorium pinjaman, tapi unit Kalimantan akan bertahan.”
“Jika itu membuat saya harus melepas saham pribadi saya untuk menyelamatkan perusahaan, saya akan lakukan.”
Ledakan tepuk tangan tak langsung terjadi. Satu per satu, beberapa direksi berdiri dan memberikan hormat singkat. Mereka tidak hanya melihat pemimpin hari itu, mereka melihat seorang pewaris sejati.
**"
Malam setelah pengumuman itu, Aaren menerima panggilan dari rumah sakit.
“Ayah Anda ingin berbicara,” kata perawat.
Aaren bergegas masuk ke ruang rawat VIP. Tubuh Leopold Baron terlihat semakin lemah, tapi tatapannya tetap tajam.
“Kau tidak menjualnya, ya?” tanya sang ayah lirih.
Aaren menunduk. “Tidak, Yah. Aku tidak tega mengubur mimpi yang pernah Ayah dan Kakek bangun.”
Senyum kecil muncul di wajah Leopold. Ia mengangkat tangannya perlahan, menggenggam jari Aaren.
“Kau sudah jadi pria yang lebih besar dari yang pernah kuharapkan.”
Air mata jatuh tanpa bisa dicegah. Di tengah semua tekanan, restu sang ayah adalah cahaya yang tak tergantikan.
Di studio musik milik Chiara, Lauren duduk memainkan biola kecilnya. Tangannya masih kaku, nadanya belum stabil, tapi Chiara tersenyum melihat putrinya memulai langkah yang suatu hari bisa menjadi sinfoni hidupnya sendiri.
Dari jauh, Aaren datang dengan mata yang lelah, tapi langkah mantap. Ia mendekat, menunduk, lalu mencium kening Lauren dan Chiara bergantian.
“Kita belum menang,” katanya, “tapi kita sudah mulai menang dengan cara yang benar.”
Dalam hati mereka, tak ada harga yang lebih berharga dari itu.