His Contract Bride - Kau Penyelamatku - Bab 33

Penulis Rei_Moira
10 September 2025

Celeste menggenggam setir mobil kencang. Jantungnya berdegup kencang, nyaris membuatnya sesak. Matanya menyipit, merasa bahwa ini bukan tindakan yang benar. Bagaimana jika ia tidak mampu mengontrol kecepatannya? Bagaimana jika ini bukan sekadar ‘menabrak’, melainkan sebuah pembunuhan berencana yang tidak disengaja?

“Sial!” umpatnya.

Tidak ada yang melihat. Pinggiran kota Vallmont di dekat hutan ini jarang dilewati oleh penduduk. Sesekali hanya ketika ada kawanan pemburu yang menargetkan rusa liar. Namun tetap saja, situasi ini membuatnya kesal sendiri.

“Hitungan ketiga, ok?” seru Ezra dari luar, pria itu telah berdiri sekitar dua meter dari mobil Celeste.

“Ezra, kau yakin??” Celeste melongok sebentar melalui jendela mobil, meminta konfirmasi ulang.

Jempol Ezra terangkat. “Do it!”

Ezra menghitung menggunakan jarinya. Satu… dua… tiga…

Celeste semakin mencengkeram kemudi, sementara kakinya telah menginjak pedal gas. Rahangnya mengetat, tak ingat lagi untuk mengontrol kecepatan. Dan ketika posisi Ezra semakin dekat, Celeste justru memejamkan matanya erat.

“Celeste!”

BRAK!


Aurora berjalan cepat, menyusuri lorong rumah sakit. Kabar Ezra kecelakaan membuatnya terkejut, sampai memutuskan untuk datang sendiri tanpa menunggu Kael. Lebih tepatnya, ia bahkan belum sempat memberi kabar pada Kael tentang kondisi Ezra.

“Ezra Vireaux, di mana dia dirawat?” tanya Aurora, pada resepsionis ruang rawat.

Perawat membuka cepat daftar pasien, mengetik nama yang disebutkan dan mendongak sambil tersenyum ramah. “Tuan Vireaux ada di kamar VIP II lantai tiga.

“Baik, terima kasih.” Aurora berterima kasih dengan nada bergegas.

Langkahnya semakin cepat ketika melihat pintu lift terbuka. Seorang pengunjung menahan pintu logam itu untuknya. Aurora bergegas mengangguk pelan untuk menandakan rasa terima kasihnya pada pria tua yang telah menahan pintu untuknya.

Aurora tak pernah mengira responnya bisa sepanik ini ketika mendengar Ezra kecelakaan. Mungkin karena ia merasa hanya Ezra satu-satunya keluarga yang dimiliki. Jika ia kehilangan adik laki-lakinya itu, maka tak ada yang tersisa dari garis keluarganya.

Sementara itu di dalam ruangan VIP II, Celeste mengernyit. Pandangannya tertuju pada lengan Ezra yang dibebat gips. Sorot tajam Ezra masih menyalahkannya.

“Kupikir kau tidak akan datang setelah mencoba untuk membunuhku.” Suara Ezra dingin, nyaris membekukan detak jantung Celeste yang meronta.

“Sudah kubilang itu ide yang buruk.” Meskipun tahu salah, tapi Celeste tidak mau mengakuinya. “Kau dan ide gilamu itu memang berbahaya dari awal!”

“Tidak menjadi buruk jika kau membuka matamu di detik terakhir.” Ezra benar.

Celeste meneguk ludahnya susah payah. Tangannya menggenggam erat, menahan gelisah dan rasa bersalahnya dan diuraikan melalui helaan napas panjang. Sedikit membetulkan posisinya di atas kursi, ia kembali memberanikan diri untuk bicara.

“Aku takut. Aku—” Tak melanjutkan ucapannya, Celeste memilih untuk menunduk. “Maafkan aku.”

Ezra menyipit, menikmati rasa bersalah Celeste selama beberapa detik. Dan saat ia mengeluarkan tawa kecil sampai membuat pundaknya berguncang pelan—membuatnya mengaduh kesakitan, Celeste mendongakkan kepala.

“Kau gila? Otakmu bermasalah setelah kutabrak tadi?” Bola mata Celeste bergerak gelisah. Tangannya hendak meraih kepala Ezra, tapi berakhir menggantung tanpa diteruskan. “Kupanggilkan dokter.”

“Hold on,” ucap Ezra santai, dengan tangannya yang telah menahan lengan Celeste yang telah berdiri. “Duduk, aku tidak perlu dokter saat ini.”

Kening Celeste mengerut.

“Aku tidak gila, Celeste.” Ezra menatap sejenak balutan tangannya yang kaku. “Di luar kau berusaha untuk membunuhku, kupikir ini akan berhasil membuatmu bisa masuk ke kehidupan Kael lagi.”

Celeste masih diam, arah matanya terfokus pada tangan itu—kembali merasakan rasa bersalah..

“Mulai sekarang kau harus menjadi pelayanku—”

“What?! Never!” sentak Celeste.

Ezra mencoba mengangkat tangannya, tapi justru membuatnya merintih pelan. Celeste dengan cepat membantunya agar tidak banyak bergerak.

“Ulah siapa sampai tulang lenganku benar-benar patah?” Tatapan Ezra tajam. “Aku menyuruhmu untuk sedikit menabrakku, bukan justru menghantamku sampai terpental dua meter!”

Celeste kembali terdiam. Itu memang salahnya. Seharusnya ia bisa mengatur kecepatan mobil, tapi gugup berkata lain. “Ok, fine. Hanya sampai tanganmu sembuh, right?”

“Sampai hubungan Kael dan Aurora retak.” Ezra membenarkan.

Detik berikutnya, pintu terbuka cepat. Aurora berdiri di sana, dengan mata menyipit ketika melihat Celeste yang sedang membelalak. Sementara Ezra berjingkat pelan, bertanya-tanya apakah Aurora mendengarkan ucapan terakhirnya.

“Kenapa kau di sini?” tanya Aurora, berjalan mendekat perlahan.

Celeste berdecak pelan, masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Aurora di Mirador Height. “Aku yang menabraknya,” ucapnya, sambil menunjuk santai pada Ezra.

“Apa??” Aurora memandang Celeste dan Ezra bergantian. “Bagaimana bisa?”

“Dia melompat begitu saja di depan mobilku, kurasa dia memang mau mengakhiri hidupnya—” Celeste melirik sejenak pada Ezra yang terlihat tegang. “dan ya… aku di sini, bertanggung jawab. Siapa sangka dia adalah salah satu dari Vireaux.”

Aurora berjalan melewati Celeste. Tanpa high heels, ternyata selisih tinggi mereka tidak begitu jauh—Aurora lebih mungil beberapa senti dari Celeste.

“Kau sudah mengenalnya? Kau tahu dia juga bagian dari Vireaux?”

Celeste melirik Ezra sebelum menjawab, “baru tahu setelah hampir membunuhnya.”

Aurora menoleh cepat, menatap tajam pada Celeste dengan kening mengerut.

“Well… i mean… aku tidak sengaja menabraknya dan itu hampir membunuhnya.” Celeste menambahkan.

Aurora tidak mengatakan apa-apa, ia hanya berbalik ke arah Ezra yang masih terbaring di ranjang. Ada memar di pelipisnya, dan senyum samar yang disunggingkan paksa.

“I’m fine, Rora. No need to worry,” ujarnya.

Kata yang menenangkan itu jelas tidak cukup membuat Aurora tenang. Wajahnya memerah. Namun pada akhirnya, helaan lega lolos dari dirinya. “Baguslah, aku pikir bakal kehilangan keluarga lagi.”

Celeste mengedikkan alis. Respon tulus Aurora jelas kontras dengan misi licik yang tengah dijalankan Ezra. Meskipun tak ingin mengakui, ada sedikit rasa kasihan dari caranya menatap Aurora.

“Kau terlalu lama bergaul dengan Kael, nada sinismu mulai mirip.” Ezra mencibir, tidak menyukai respon pasif dari Aurora.

“Yang penting kau selamat,” kata Aurora. “Aku akan mengabari Kael dulu.” Atau Kael akan murka ketika mendengar dirinya menghilang dari rumah tanpa pamit.

Aurora berbalik, sekejap menatap Celeste yang masih memasang wajah angkuh tiap melihatnya. Namun, tatapan itu tak lagi menjadi hal yang mengganggu. Aurora sedang di atas angin karena telah mendapatkan cinta Kael.

“Aku akan merawatnya sampai dia sembuh.” Celeste berkata cepat sebelum Aurora pergi.

Tak jadi membuka pintu, Aurora berbalik ke arah Celeste sambil mengangguk. “Baguslah, memang harus itu yang kau lakukan setelah membuatnya terluka.”

“Aku akan terus berada di sisinya selama bertanggung jawab. 24 jam, for sure…” Celeste melanjutkan.

Kini Aurora semakin mengerutkan keningnya. Jika 24 jam Celeste bersama Ezra, bukankah itu artinya wanita itu akan berada satu rumah dengannya? “Kurasa kau harus meminta izin Kael untuk itu.”

“Tentu saja,” ucap Celeste, berusaha tersenyum ramah. “Aku harus meminta izin padanya, berbicara berdua—”

Berbicara berdua? Oh… jangan harap.

“Tak perlu! Aku yang akan bicara dengannya,” potong Aurora dengan nada ketus. “Pastikan saja kau merawat Ezra dengan baik.”

Senyum kemenangan muncul terlalu dini di wajah Celeste. Namun ia tak peduli, kali ini memang dirinya sudah merasa berada di garis kemenangan. “Tentu saja, Mrs. Vireaux. Aku akan merawat Mr. Vireux dengan benar.”

Aurora ingin menyela, tapi sudah pasti Ezra Vireaux yang dimaksud oleh Celeste, benar? Bahkan jika wanita itu berusaha bermain dengannya, silakan. Ia akan meladeninya dengan berani. Kael adalah miliknya, dan selamanya akan menjadi miliknya.

Kecuali… Kael yang tak lagi menginginkannya.