Langkah-langkah sepatu hak tinggi bergema di sepanjang koridor marmer rumah besar keluarga Rouverian. Setiap dentingnya terukur, anggun, dan mengandung sifat pemiliknya: Lady Seraphine Rouverian, pewaris tunggal keluarga bangsawan paling berpengaruh di Pedran.
Namun pagi itu, langkahnya memiliki irama berbeda—lebih cepat, lebih keras. Ada bara yang menyala di balik dingin wajahnya.
Ia masih mengingat dengan jelas wajah perempuan pedagang itu. Cloris.
Nama yang sederhana, terlalu sederhana untuk sikap setegas dan tatapan seterang bilah pedang.
Seraphine memasuki ruang kerjanya dengan gerakan tajam. Jubah biru lautnya berkilau diterpa cahaya matahari pagi yang memantul dari jendela kaca besar. Seorang pelayan segera menutup pintu di belakangnya.
Di atas meja kerjanya, laporan tentang perdagangan kain di wilayah timur Pedran tersusun rapi. Seraphine tidak duduk. Ia hanya berdiri, jari-jarinya mengetuk permukaan kayu halus itu.
“Aku tidak suka orang rendahan menatapku seakan aku sejajar dengannya,” gumamnya.
Bukan berarti Cloris berani menghina; namun keberanian perempuan itu untuk menolak, menantang, dan bahkan membalas kata-kata Seraphine—itu adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.
Seraphine menarik napas pendek yang terdengar seperti helaan kesal. Ia memandang bayangannya sendiri di kaca jendela: wajah halus, mata biru yang tajam, rambut pirang keemasan yang tersisir sempurna. Seorang bangsawan sempurna.
Keluarga Rouverian selalu dihormati. Selalu ditakuti. Tidak pernah—tidak pernah—ditolak oleh pedagang kecil.
Mengingat kejadian itu saja membuat darah Seraphine mendidih.
Ketika ia akhirnya duduk, ia mengambil pena dan membuka buku catatan tebal yang berisi data pedagang kain di Pedran.
“Garren, pedagang kelas rendah. Jujur, tekun, kualitas stabil,” gumam Seraphine, membaca catatan. “Tidak pernah bermasalah… sampai putrinya mulai campur tangan.”
Ia menatap nama yang ditulis rapi: Cloris. Hanya itu. Tidak ada nama belakang. Tidak ada catatan keluarga.
Seolah perempuan itu muncul begitu saja di pasar Pedran.
Seraphine mengetuk pena di dagunya. “Itu… menarik.”
Ia melihat perilaku Cloris seperti pedagang yang terlampau terlatih. Terlalu tajam untuk seorang rakyat biasa biasa. Terlalu berani menatap bangsawan tanpa gentar. Terlalu pintar membaca celah di dalam permainan harga.
“Dia bukan pedagang biasa,” kata Seraphine pada dirinya sendiri.
Seorang pelayan mengetuk pintu.
“Lady Seraphine, laporan dari pengawas pasar telah tiba.”
“Masuk.”
Pelayan itu menyerahkan gulungan laporan. Seraphine membuka dan membacanya cepat.
Tidak ditemukan pelanggaran. Barang berkualitas sesuai standar.
Seraphine mengerutkan kening.
Jadi Cloris menang lagi.
“Dia mengantisipasi pemeriksaan,” katanya pelan. “Seolah dia tahu aku akan mengirim mereka.”
Untuk sesaat, Seraphine tersenyum kecil—senyum tipis berbahaya seperti kaca yang baru saja retak. Ia menyukai kecerdasan. Bahkan pada musuhnya. Namun kecerdasan tanpa posisi adalah ancaman yang harus segera dipatahkan.
Seraphine berdiri dan berjalan menuju rak buku besar. Ia mengambil satu map hitam dari rak paling atas, sesuatu yang hanya dipergunakan keluarga Rouverian saat ingin menyingkirkan hambatan.
Di sampulnya tertulis: PEDAGANG YANG PERLU DIAWASI.
Ia membuka dan menyelipkan catatan baru: Nama: Cloris Asal: Tidak jelas Sikap: Tidak tunduk pada bangsawan Potensi ancaman: Menengah–Tinggi
Seraphine menutup map itu dengan bunyi keras.
“Aku ingin tahu… siapa sebenarnya kau, Cloris?”
Siangnya, Seraphine menghadiri pertemuan keluarga dengan beberapa bangsawan lain. Ruangan itu besar, berhiaskan karpet biru tua, dinding bergambar peta besar kerajaan, dan meja panjang tempat para bangsawan berkumpul membahas jalur dagang musim ini.
Paman Seraphine, Lord Renard Voulter, membuka pertemuan. “Distribusi kain dari wilayah utara melambat karena badai. Kita harus memastikan pasokan tetap stabil untuk musim dingin.”
Seraphine mengangkat tangan. “Keluarga Rouverian siap menambah pasokan dari pemasok alternatif.”
“Pemasok mana?” Tanya Renard.
Seraphine tersenyum halus. “Salah satu pedagang kecil di Pedran. Mereka memiliki kualitas bagus meski statusnya rendah.”
Beberapa bangsawan lain mendecak.
“Pedagang rendahan?” “Kau menaruh kepercayaan pada rakyat kecil?” “Bagaimana jika mereka menaikkan harga seenaknya?”
Seraphine menjawab tenang, “Tidak akan. Aku sudah mengamati mereka. Mereka punya bakat. Namun mereka perlu diarahkan.” Nada kata diarahkan terdengar seperti dikendalikan.
Renard menyipitkan mata. “Siapa namanya?”
“Garren. Dan putrinya… Cloris.”
Renard menggeleng. “Ah, aku tahu pedagang itu. Orang baik, tapi terlalu jujur untuk dunia dagang.”
“Bagian yang jujur tidak masalah,” kata Seraphine, tatapannya dingin. “Bagian yang keras kepala… itulah masalahnya.”
Renard tersenyum samar—senyum seseorang yang mengerti nada ancaman. “Apa kau memerlukan bantuan, Seraphine?”
Ia menatap pamannya dengan anggun, namun suaranya menggigit seperti racun.
“Belum. Tapi mungkin sebentar lagi.”
Ketika pertemuan selesai, Seraphine berjalan keluar menuju halaman depan rumah besar. Dua kereta kuda menunggu, tetapi ia memilih berjalan sebentar menikmati udara sore Pedran.
Ia menuruni tangga batu dan memperhatikan keramaian pasar dari kejauhan. Dari tempat ini, pasar terlihat seperti lautan titik-titik warna, suara, dan kehidupan rakyat biasa. Dunia yang seharusnya jauh di bawah level bangsawan.
Namun hari itu, hanya satu titik yang memenuhi pikirannya.
Cloris.
Tatapan perempuan itu masih melekat di ingatannya—tatapan yang menolak tunduk. Tatapan yang membuat Seraphine merasa… tertantang.
Ia berhenti di tepian balkon batu yang menghadap pasar.
“Jika kau ingin perang harga, aku akan memberimu perang,” bisiknya. “Jika kau ingin adu kecerdasan, aku akan meladeninya.”
Angin bertiup, mengibarkan ujung jubah birunya.
“Tapi ingat satu hal, Cloris.”
Mata Seraphine menyipit, penuh determinasi seorang bangsawan yang tidak pernah kalah.
“Di Pedran… tidak ada yang menang melawan keluarga Rouverian.”
Namun di kedalaman hatinya, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Seraphine merasakan sesuatu yang bukan amarah.
Rasa penasaran. Rasa tertarik.
Dan itu membuat semuanya jauh lebih berbahaya.