Romansa

Bab 2 Kebohongan Kecil

Penulis Itsme-R
04 December 2025

“Perjodohan?!”

Mikayla Winata menatap tak percaya sang suami yang memberitahunya tujuan orangtuanya meminta putri mereka datang ke mansion sore tadi.

“Kenapa Mama langsung memutuskan sendiri tanpa bicara dengan kita? Kita orangtua Ara, Zayn.”

Suaminya, Zayn Abimana mengusap wajah lelah, “Aku sudah menghabiskan hampir setengah jam untuk berdebat dengan Mama tadi dan mungkin akan jauh lebih lama jika Papa tidak datang untuk menghentikannya.”

“Apalagi yang diinginkan Mama kali ini dari perjodohan itu?” desah Mikayla seraya memijit keningnya.

“Lelaki yang akan dijodohkan dengan Ara adalah putra dari salah satu rekan bisnis keluarga Abimana. Selain untuk memperkuat ikatan bisnis, tentu saja alasannya masih seperti dulu, Mika.” Zayn menjelaskan alasannya.

Mikayla memejamkan mata seraya bergumam, “Keturunan laki-laki lagi.”

Zayn mengangguk, “Mama masih tak mau menyerah untuk itu, sementara Papa sepertinya sudah menyerah, tapi tak kuasa menghentikan istrinya sendiri.”

“Sudah ada Bastian, apa dia tidak cukup?” sahut Mikayla.

“Tante Tiara tak mau menjadikan Bastian pewarisnya,” tutur Zayn.

“Lagipula kamu tahu tante Tiara masih belum memaafkan kesalahan Ryan sekalipun sekarang putranya sudah jauh lebih baik dibanding dulu. Jelas, Bastian tidak akan pernah masuk dalam pertimbangan untuk ahli waris keluarga Abimana."

Sang Istri menghela nafas kasar, “Ara tak membalas pesanku sejak sore.”

“Noah tadi memberitahuku bahwa Ara ada di taman bersamanya dan dijemput Jerriel tak lama setelahnya,” jelas Zayn.

“Baiklah. Setidaknya kalau bersama Jerriel, putri kita akan merasa aman,” cetus Mikayla.

“Aku masih tidak merestuinya bersama anak itu. Delapan bulan lagi kita kembali ke Zurich, tolong bantu aku memberi pengertian pada Ara bahwa bertahan disini lebih lama lagi hanya akan membuatnya tak tenang.” Zayn mengelus tangan sang istri yang sedari tadi berada disisinya.

Mikayla mengangguk paham, “Aku akan bicara dengan Ara lagi nanti.”


Satu jam sebelumnya,

“Mau kemana?”

Jerriel yang hendak berdiri dan pergi, terhenti saat lengannya ditahan oleh seseorang yang baru saja melempar tanya padanya.

“Menjemput Ara,” jawabnya.

“Kamu masih mengurusi anak manja itu?” cecar orang itu lagi.

“Aku masih pacarnya kalau kamu lupa,” sahut Jerriel.

Orang yang bersamanya mendengus, “Ya sudah, jangan lama-lama. Cepat kembali.”

Jerriel mengangguk dan menunduk untuk mengecup bibir orang itu, “Aku pergi.”

Setelah berpamitan, Jerriel langsung melangkah pergi seraya mengutak atik ponselnya untuk membalas pesan sang kekasih. Usai membalas pesan, Jerriel menyimpan lagi ponselnya sambil meraih kunci motor kesayangannya sebelum berlalu dengan kendaraan itu.

Dirinya sama sekali tak menyadari bahwa sejak tadi, ada seseorang yang begitu dikenalnya, melihat semua yang dilakukannya di cafe itu.

Orang itu mencari salah satu kontak di ponselnya sebelum menekan tombol hijau, “Kak, aku melihat Jerriel bersama teman-temannya di cafe dan dia juga bersama gadis itu, lagi.”

“Sejak kapan kamu jadi penguntit, Nathan?”

Nathan tertawa saat mendengar tanggapan sang kakak sebelum akhirnya menjawab, “Aku tak sengaja melihat mereka, bukan karena aku menguntit."

“Kakak tak akan memberitahu Ara soal ini?” lanjutnya.

“Ada bukti lebih dari sekedar mereka jalan bersama?” sang Kakak balik bertanya.

“Aku melihat Jerriel mencium bibirnya, Noah.” Nathan menyahut keras kepala.

Helaan nafas yang bisa didengarnya di seberang panggilan, membuat Nathan mendengus. Dia tahu apa yang ada dipikiran saudara kembarnya itu.

“Ya, aku memang tak sempat memotretnya, minta CCTV cafe bagaimana?" tanya Nathan.

"Lalu kamu mau pakai alasan apa?" Noah kembali bertanya.

"Iya juga sih." Nathan berkata seraya menggaruk pelipisnya.

“Jadi jangan katakan apapun pada Ara. Tidak sampai salah satu dari kita memiliki bukti jelas bahwa Jerriel sedang berselingkuh darinya, Nathan,” ujar tegas sang Kakak.

Giliran Nathan yang menghela nafas sekarang, “Kakak dimana?”

“Taman.” Jawaban singkat itu membuat sang Adik mengerutkan kening.

“Taman? Yang di dekat mansion orangtua kita?” tanya Nathan.

“Dimana lagi memangnya Ara akan pergi kalau dia sedang ada masalah?” Noah lagi-lagi membalikkan pertanyaannya.

“Benar juga. Ya sudah, aku pulang kalau begitu.” Nathan menyahut sebelum mengakhiri panggilan itu.

“Kak Nathan?”

Suara seorang gadis membuatnya menoleh sebelum menyahut ramah, "Gisella."

Gadis itu nampak masih ingin mengatakan sesuatu saat Nathan menyelanya, “Aku pergi dulu.”

Lelaki muda itu langsung melangkah pergi tanpa menunggu Gisella menjawabnya. Si gadis memperhatikannya masuk ke dalam sebuah mobil sport mewah sampai kendaraan itu berlalu pergi dan menghilang di keramaian jalan raya.


“Ara!”

Gadis yang dipanggil namanya itu menghentikan langkah dan mengulas senyum lebar saat melihat siapa yang memanggilnya.

“Gisel,” sapanya.

Gisella mengamit lengannya, “Kenapa baru datang? Tumben, biasanya paling pagi.”

“Sedang malas saja. Tadinya aku malah ingin membolos,” tutur Ara.

“Murid terbaik sekolah ini sampai terpikir mau membolos? Mentang-mentang kita lompat kelas dan akan lulus sebentar lagi,” sahut Gisella.

Ara terkekeh, “Bukan itu, aku cuma sedang sangat malas berangkat sekolah entah kenapa.”

Kali ini Gisella ikut tertawa, “Pura-pura sakit saja lalu di UKS sampai jam pulang.”

“Siapa yang mau pura-pura sakit?”

Kedua gadis itu sama-sama berjengit kaget ketika mendengar suara yang menyela di tengah-tengah mereka.

“Jenandra!”

Keduanya sama-sama memprotes keras teman lelaki mereka yang sekarang tertawa keras melihat reaksi itu.

“Apa sih? Kalian seperti sedang merencanakan perampokan saja,” celetuknya.

“Masih pagi dan kamu sudah menjahili mereka, Jenny.” Seorang gadis lainnya muncul dan membuat Jenandra mendelik kesal padanya.

“Berhenti memanggilku Jenny!” protesnya.

“Loh, dulu kamu suka dipanggil begitu,” sahut si gadis.

“Itu dulu! Aku sudah bertobat dan kembali ke jalan yang benar, tidak lihat otot ini, huh?” Protes Jenandra lagi, kali ini seraya sedikit menggulung lengan bajunya dan menunjuk otot di lengan atasnya.

Ketiga gadis yang bersamanya kompak tertawa sebelum Ara kembali bersuara, “Sudah, jangan menggodanya terus, Ansela.”

Yang ditegur hanya mengedikkan bahu. Keempat orang berseragam putih abu-abu itu lalu kembali melanjutkan langkah menuju kelas mereka.

“Aku kemarin bertemu Kak Nathan, dia semakin tampan,” Gisella berkata penuh semangat.

“Oh, ya?” Ara menimpalinya.

“Um-hum. Aku kemarin pergi ke cafe bersama adikku dan tak sengaja melihat kak Nathan disana,” Gisella menjawabnya.

“Kak Noah juga ada disana?” kali ini Ansela yang menyahutinya.

Gisella menggeleng, “Tidak ada, cuma Kak Nathan sendiri.”

“Oh, ya. Aku juga melihat Jerriel disana kemarin, tapi aku tak sempat menyapa karena dia sudah keburu naik ke motornya,” lanjutnya.

Mendengarnya membuat kening Ara berkerut, “Bukannya Jerriel kemarin pergi bersamamu, Jen?”

Jenandra sontak menyipitkan matanya, “Lah, kan aku sudah pamit ke kalian kalau akan pergi ke Bogor sampai semalam. Gimana ceritanya Jerriel bisa pergi denganku?”

Kali ini keempatnya saling tatap sebelum akhirnya Ansela bersuara, “Tanyakan ke Jerriel saja kalau kamu penasaran. Sekarang ayo masuk kelas.”

Ara yang lebih dulu melangkah pergi bersama Gisel dengan diikuti Ansela dan Jenandra di belakangnya. Lelaki itu sedikit mengeryit saat menyadari Ansela yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya, berkirim pesan dengan Jerriel.

"Jangan-jangan, dia yang bersama Jerriel kemarin."