Drama

Bab 10 — Mata Utara di Pasar Pedran (POV Cloris)

04 December 2025

Pasar Pedran sore itu lebih ramai dari biasanya. Angin membawa aroma rempah dan kain, tapi ada sesuatu yang berbeda di udara—ketegangan halus yang bisa dirasakan oleh siapa saja yang peka. Aku menata kain di meja, mencoba menahan napas, dan berusaha tidak menarik perhatian. Tetapi naluriku sudah memberitahuku: sesuatu besar akan terjadi.

Kereta hitam berhias lambang serigala salju berhenti di depan pasar. Aku menunduk sebentar, menahan napas ketika Seraphine Rouverian turun dengan langkah anggun, diikuti pamannya Lord Renard, dan seorang pria berseragam biru gelap, mantel bulu putih yang tebal: utusan Kerajaan Utara. Matanya tajam, sikapnya tegas, dan aura yang dipancarkannya membuat orang-orang di sekitar menunduk hormat.

Jantungku berdetak kencang, tapi aku mencoba menenangkan diri. Aku harus tetap menjadi Cloris, pedagang kain biasa. Tidak ada Anne, tidak ada pewaris kerajaan, tidak ada darah Utara. Itu semua harus tetap tersembunyi.

Seraphine melangkah lebih dekat ke lapakku, senyum tipis di wajahnya. Tatapannya menyapu setiap kain, tapi matanya juga menatapku. Aku merasakan bulu kudukku berdiri. Dia mencari sesuatu. Dia selalu tahu apa yang harus dicari.

“Kain pedagang ini… sebenarnya biasa saja,” katanya, lirih tapi cukup jelas terdengar. “Mungkin utusan kerajaan ingin melihat pedagang lain—lebih berpengalaman, tentu lebih sesuai standar.”

Renard menambahkan, suaranya seperti lonceng kecil yang memecah keramaian: “Benar. Banyak pedagang di sini lebih layak. Pedagang kecil ini… terlalu rendah.”

Aku menelan ludah. Taktik mereka jelas. Mereka ingin menjatuhkanku, membuat daganganku terlihat tidak pantas, dan membuka peluang bagi mereka untuk mengontrol utusan kerajaan. Aku tahu permainan mereka. Dan aku harus tetap tenang.

Utusan itu menatap diam, tak menanggapi komentar mereka. Napasku tertahan. Dia berjalan, menyentuh kain-kain di lapak lain yang ditunjuk Seraphine. Ia mengangkat alis beberapa kali, seakan menilai kualitas. Aku tahu Seraphine puas dengan strategi ini—bahwa utusan akan berpaling dariku.

Namun ketika mereka melewati lapakku, waktu terasa melambat.

Utusan itu berhenti. Matanya tidak lagi menilai kain, tapi menatap wajahku. Sesuatu dalam tatapannya… membuat jantungku berhenti sejenak. Ada pengakuan—diam, terselubung, tapi jelas. Ia mengenali aku. Ia mengenali Anne, gadis kecil yang hilang dari Utara bertahun-tahun lalu.

Tubuhku kaku. Napasku tercekat. Aku menata kain seolah biasa saja, menahan diri agar tidak bereaksi. Naluriku berteriak: ia tahu siapa aku. Tetapi ia tidak mengatakannya. Diamnya adalah perlindungan, bukan ancaman—dan itu membuatku sedikit lega, tapi juga menimbulkan ketakutan baru.

“Yang Mulia?” aku akhirnya berani bersuara, suaraku terdengar tenang padahal tanganku sedikit gemetar. “Apakah Anda ingin melihat kain terbaik kami?”

Ia menatap sekilas ke arah Seraphine dan Renard, lalu menoleh kembali padaku. Matanya menyapu kain yang kubawa, lalu menunduk—diam. Tanpa kata, tanpa tekanan, tapi pengakuan itu jelas.

Aku menarik napas pelan. Aku masih Cloris, pedagang kecil. Tapi darah Utara itu tidak bisa sepenuhnya kusembunyikan.

Aku mulai menata kain wol biru halus, sutra tipis, linen rapi yang telah aku siapkan. Tanganku gemetar sedikit, tapi aku berhasil menata semuanya dengan presisi. Utusan itu menyentuh kain, menariknya ke cahaya, dan menatapku lagi—diam tapi penuh arti.

Renard mencoba masuk dengan suaranya yang berat dan penuh sinis: “Yang Mulia, pedagang ini…”

Utusan itu memotong dengan suara dingin tapi tegas: “Aku membeli ini. Semua persediaan hari ini.”

Aku menatapnya, terkejut. “Semua?”

“Ya,” jawabnya, tegas. “Dan semua produksi bulan ini, jika tersedia.”

Tubuhku hampir tidak percaya. Strategi licik Seraphine dan pamannya gagal. Mereka ingin menjatuhkanku, tapi utusan ini—tanpa mengucapkan satu kata pun tentang siapa aku—justru membela daganganku dan membeli semuanya.

Seraphine mendengus, matanya tetap anggun tapi jelas kecewa. Aku tahu dia tidak menyangka utusan itu akan melihat melalui rencananya. Aku menunduk, menahan senyum tipis.

Saat mereka meninggalkan pasar, aku berdiri di lapakku, menatap kereta yang perlahan menjauh. Ada perasaan lega, tapi juga ketakutan yang tidak bisa kusembunyikan. Aku masih Cloris, pedagang kecil. Tapi dunia di sekitarku telah berubah. Utusan itu tahu. Seraphine dan pamannya mulai curiga.

Naluriku terus berbisik: aku harus lebih berhati-hati. Siapa pun yang mengenali Anne bisa menjadi ancaman atau penyelamat. Utusan itu memilih untuk melindungiku, tetapi sampai kapan ia akan tetap diam?

Aku menatap kain di tanganku. Setiap helai kain, setiap lipatan, bukan lagi sekadar dagangan. Mereka adalah simbol dari diriku—Cloris, pedagang kain yang berdiri di tengah dunia yang bisa mengenal dan menghancurkanku dalam sekejap.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Mata utusan itu terus terpatri dalam pikiranku. Diamnya bukan ketidakpedulian, melainkan pengertian yang dalam—pengakuan bahwa ia mengetahui rahasiaku, tetapi tidak akan memaksaku.

Perasaan campur aduk memenuhi diriku: takut, lega, dan juga marah. Marah karena Seraphine dan pamannya mencoba mempermainkanku, tapi lega karena ada seseorang yang tampaknya memahami batasanku.

Aku sadar satu hal: aku harus tetap Cloris, harus tetap pedagang. Tapi darah Utara yang mengalir dalam diriku—yang pernah kusembunyikan bertahun-tahun—tidak bisa dihapus. Ia mengintai di setiap gerakanku, di setiap tatapan, di setiap helai kain yang kutata.

Aku menunduk lagi, menarik napas panjang. Dalam diamku, aku membuat keputusan. Aku akan bertahan. Aku akan menjaga rahasiaku. Aku akan tetap pedagang, tetap Cloris. Tapi aku juga akan siap menghadapi dunia yang kini mulai mencium aroma darah Utara di diriku.

Perang baru telah dimulai—antara identitas yang kusembunyikan, kekuatan kerajaan Utara yang diam-diam menanti, dan ambisi Seraphine yang kini mulai menargetkanku.

Dan aku, Cloris, tidak akan mundur.