Bab 3 Dia Yang Disembunyikan

Penulis Itsme-R
06 December 2025

Seorang pemuda dengan seragam putih abu-abunya, merentangkan tangan lebar saat melihat seorang gadis yang melangkah cepat ke arahnya.

“Je!” Ara berkata sambil memeluk tubuh sang kekasih yang langsung melingkarkan lengan di tubuhnya.

“Mau makan siang sekarang?” tawar Jerriel seraya mengurai pelukan mereka.

“Aku sudah lapar sih, tapi kantin masih ramai. Gisel dan yang lain bilang mereka sempat berebut kursi,” tutur Ara.

“Kalau begitu nanti saja, 15 menit lagi mungkin sudah lebih sepi,” putus Jerriel.

Ara mengangguk, tangannya lalu menarik sang kekasih untuk duduk di salah satu kursi taman yang ada di bagian belakang gedung sekolah mereka.

“Gisel bilang kemarin dia lihat kamu di cafe. Kamu kesana sama Jenandra?” tanya Ara.

Jerriel mengangguk, “Iya, aku kesana bersama Jenandra. Tapi aku langsung pergi waktu kamu minta jemput.”

Gadis cantik disisinya itu tersenyum simpul, “Berdua saja? Tidak bersama anak-anak yang lain?”

“Ada teman-teman kelasku,” sahut Jerriel.

“Kemarin kamu kenapa? Aku tidak bertanya karena kamu jelas tak mau membicarakannya,” imbuhnya.

“Nenek berniat menjodohkanku dengan anak rekan bisnis keluarga Abimana.” Ara memberitahunya, sikapnya acuh tak acuh.

Mendengar itu membuat Jerriel sedikit melebarkan mata, “Apa? Kenapa sampai harus begitu?”

Ara mengedikkan bahunya lagi, “Entahlah, kekolotan tak masuk akal seperti biasa mungkin.”

“Lalu kamu jawab apa?” tanya Jerriel lagi.

“Kutolak tentu saja. Aku bukan boneka milik Nenek,” sahut Ara.

Jerriel menghela nafas, “Kamu tahu, mungkin lebih baik kamu menuruti keinginan Papamu untuk kembali ke Zurich secepatnya. Setidaknya kamu lebih tenang disana dibanding disini.”

“Kamu sudah siap jauh dariku?” tanya Ara, menatapnya dengan ekspresi serius kali ini.

“Mau tidak mau aku harus siap, Sayang,” jawab Jerriel.

“Kalau aku rindu?” Ara kembali bertanya.

“Aku bisa pergi kesana beberapa hari,” Jerriel menimpalinya.

Seulas senyum muncul di wajah cantik Ara sebelum gadis itu bergerak memeluk sang kekasih.

“Papa bilang kami akan kembali ke Zurich setelah aku lulus, jadi kita punya 8 bulan sebelum LDR.” Ara berkata seraya mengelus punggung Jerriel.

Jerriel mengeratkan dekapannya, “Kita pasti bisa, Sayang.”


“Sudah tanya Jerriel?”

Pertanyaan yang dilempar Gisella membuat Ara berhenti mengaduk-aduk gelas minumannya.

“Sudah,” jawabnya.

“Lalu?” Jenandra bertanya ingin tahu.

“Dia bilang kalau dia disana bersama teman-teman sekelasnya,” sahut Ara.

“Dan kamu juga disana katanya.” Ara berkata sambil menunjuk teman lelakinya itu.

Jenandra langsung mengutak atik ponsel dan menunjukkan sebuah foto yang di bagian bawahnya terdapat keterangan jam serta tanggal foto itu diambil.

“Lihat penanda waktunya, aku di Bogor di jam saat Gisel mengaku melihat Jerriel. Aku bukan amoeba yang bisa membelah diri dan bisa berada di dua tempat di waktu bersamaan."

Ara dan Gisella memperhatikan foto yang ditunjukkan Jenandra. Foto lelaki itu duduk di sebuah teras rumah dengan latar belakang kebun teh.

“Yah, mungkin dia benar keluar bersama teman-temannya saja,” simpul Ara, tak ingin memperpanjang prasangka.

“Kamu terlalu berpikir positif. Kalau ini Hito yang melakukannya, aku sudah mencecarnya habis-habisan,” sahut Gisella.

Ctik ..

“Kenapa tidak tanya pacarmu saja? Mereka kan sekelas.” Jenandra menjentikkan jari sebelum menunjuk Gisella yang mendengus.

“Lupa kalau Hito dan Jerriel sudah beberapa minggu ini tidak saling bicara entah karena apa? Aku sampai sudah menyerah menanyai Hito karena dia sama sekali tak mau menceritakan alasannya padaku,” tuturnya.

“Benar juga.” Jenandra langsung kembali menopang dagu dengan bibir manyun setelahnya.

“Minta bantuan Kak Nathan atau Kak Noah saja,” usul Gisella setelahnya.

Ara menggeleng, “Sudahlah, biarkan saja.”

Gisella dan Jenandra kompak memutar bola mata sebelum tangan mereka juga kompak terangkat tanda menyerah.

“Ansela jadi datang tidak?” tanya Jenandra, mengalihkan pembicaraan.

“Dia tidak membalas pesanku,” jawab Ara.

“Aku juga sama,” Gisella menambahkan seraya menunjukkan layar ponselnya.

“Jerriel?” Jenandra kembali bertanya.

“Sebentar lagi sampai katanya,” sahut Ara.

Benar saja, tak sampai 10 menit kemudian, lelaki yang ditunggunya itu berjalan menghampiri meja mereka bertiga, tapi yang membuat sebelah alis Ara terangkat naik adalah kehadiran Ansela yang juga berjalan di belakang kekasihnya.

“Maaf, aku sedikit terlambat, Sayang.” Jerriel menunduk menyapa seraya mengecup pipi Ara yang tersenyum menyambutnya.

“Tak apa, kami belum lama disini,” sahutnya.

“Kok kalian bisa datang bersamaan?” Gisella bertanya tanpa basa-basi, menyuarakan pertanyaan yang tak bisa dilontarkan Ara.

“Kami bertemu di depan tadi.” Ansela menjawab tanpa menatap ke arah gadis itu.

Jenandra bergeser untuk memberikan Ansela tempat duduk disisinya sementara Jerriel mengambil posisi duduk di seberang gadis itu, tepat disisi Ara.

Satu lirikan dari Ara membuat Jenandra dan Gisella kompak mengangguk kecil tanda mereka mengerti bahwa gadis itu tak ingin mereka melanjutkan pembahasan tadi. Tak butuh waktu lama sampai kelimanya terlibat pembicaraan seru lainnya.

“Loh, itu Kak Nathan dan Kak Noah, kan?”

Gisella menghentikan pembicaraan mereka seraya berujar heboh menunjuk ke arah pintu masuk cafe yang baru saja dilewati dua orang lelaki yang disebutkannya.

Keempat temannya kompak menatap ke arah yang ditunjuknya, benar saja, dua lelaki kembar itu memang ada di depan meja kasir, membayar pesanan mereka.

“Kapan si kembar Hadinatha ini pernah jelek, ya? Outfit mereka selalu on point.” Jenandra berkata seraya menatap kagum ke arah kakak beradik itu.

Ara terkekeh mendengar komentar itu, “Kalian seharusnya bentuk fans club untuk mereka.”

Kedua temannya menatapnya lalu mengangguk antusias, “Ide bagus. Kamu ketuanya, ya.”

“Lah, kenapa aku?” Ara berkata sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Kan situ satu-satunya perempuan yang boleh dekat ke si kulkas berjalan bernama Noah Hadinatha itu,” sahut Gisella.

“Sekalian tolong tanyakan Kak Nathan gimana caranya jadi playboy,” Jenandra ikut menyahutinya.

Ara memutar bola mata sementara Jerriel tertawa dan mengelus punggungnya, hanya Ansela yang sama sekali tak berkomentar atau pun bereaksi terhadap semua pembicaraan barusan.

“Ara?” suara itu membuat kelimanya menoleh.

Nathan Hadinatha berdiri di dekat meja mereka dengan segelas minuman di tangannya sementara sang kakak Noah Hadinatha, berdiri di belakangnya menatap lurus pada Jerriel yang tiba-tiba merasa gugup.

“Kalian mau bergabung?” tawar Ara.

“Tidak, kami hanya menyapa karena Nathan melihatmu tadi,” kali ini Noah yang menyahut tegas sebelum adiknya sempat menjawab.

Nathan meliriknya sebal, namun tahu bahwa kakak kembarnya itu tak ingin dibantah, “Kami hanya mampir untuk beli minuman.”

Keduanya lalu berpamitan pada mereka dan berlalu pergi, menyisakan Ara yang mengerutkan kening karena menyadari ekspresi dingin Noah tadi, jelas tertuju pada Jerriel yang kali ini sama sekali tak menyapa si kembar, padahal setahunya kekasihnya itu cukup akrab dengan mereka.

“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanyanya.

Jerriel sedikit berjengit sebelum menjawab, “Aku baik-baik saja.”


“Mau sampai kapan kita sembunyi-sembunyi begini, Je?”

Mendengarnya membuat Jerriel menghela nafas kasar, “Sabar sebentar lagi. Ara bilang dia akan kembali ke Zurich setelah lulus SMA.”

“Tapi itu juga berarti kamu akan pergi kuliah ke Jogja.” Kali ini Jerriel meraih tangan gadis yang sekarang sedang bersamanya di dalam kamar luas miliknya.

“Kamu kan juga akan ikut aku kuliah disana, Papa juga sudah setuju,” tukasnya.

Jerriel lalu menarik gadis itu dalam dekapannya, “Gisel dan Jenandra juga akan pergi keluar negeri untuk melanjutkan kuliah mereka. Kita akan bebas disini, bersabarlah sebentar lagi.”