Drama

Bab 4 Kebetulan Yang Sama

Penulis Itsme-R
07 December 2025

“Je, aku buatkan bekal. Nanti kita makan bersama, ya.” Ara berkata riang dengan senyum cukup lebar di wajahnya seraya mengangkat sebuah tas bekal di tangannya yang ditunjukkan pada Jerriel.

Lelaki itu ikut mengulas senyumnya, “Aku jadi tidak sabar ingin makan bekal itu. Kamu sudah lama tidak membawakanku bekal.”

“Maaf, aku baru sempat membuatkannya lagi,” sahut Ara.

Jerriel mengangkat sebelah tangannya yang diarahkan untuk mengelus lembut puncak kepala sang kekasih, "Tak apa. Terimakasih, Sayang."

Dirinya lalu meraih tangan Ara, menggandengnya menuju kelas gadis itu. Saat jam makan siang, kedua sahabatnya mengajaknya pergi bersama ke kantin yang langsung ditolak Ara. Gadis itu keluar dari kelasnya menuju kelas sang kekasih.

"Jerriel izin pulang satu jam yang lalu. Dia tidak pamit padamu?" Hito, kekasih Gisella sekaligus teman sekelas Jerriel, memberitahunya.

Ara sontak menggeleng dengan kening berkerut, "Dia tidak memberitahuku."

"Dia terburu-buru tadi, mungkin ada sesuatu yang darurat," ujar Hito.

Kalimat ini membuat hati Ara menjadi tak tenang. Tangannya yang memegang tas bekal, tanpa sadar mengerat.

Menyadari perubahan ekspresinya membuat Hito kembali berkata, "Coba hubungi dia, aku akan menyusul ke kantin nanti."

Ara menggangguk dan menggumamkan terimakasih seraya melangkah menjauhi ruang kelas, tangannya yang bebas meraih ponsel, menghubungi Jerriel. Tapi hingga dering kesekian, teleponnya tak kunjung diterima pemuda itu.

"Loh, Ara? Katanya mau makan siang sama Jerriel?" Gisella yang melihat sosok sahabatnya itu melangkah menuju meja kantin tempatnya makan bersama Jenandra, menegurnya.

Gadis itu duduk tepat disisi Gisella dan menjawabnya, "Jerriel izin pulang satu jam yang lalu, dia tidak memberitahuku."

Jenandra mengerutkan keningnya, "Tumben, biasanya dia selalu memberitahumu."

"Mungkin dia sedang terburu-buru sampai tak ingat apapun." Gisella mencoba menenangkan Ara dengan mengelus lengan gadis itu.

"Makan dulu saja, aku bantu hubungi Jerriel." Kali ini Jenandra ikut meraih ponsel dan menghubungi kekasih Ara itu.

Ara menghela nafas kasar dan mulai membuka tas berisi kotak bekal yang disiapkannya sejak pagi-pagi sekali. Gadis itu lalu membagi bekal buatannya dengan kedua sahabatnya yang jelas menerimanya dengan senang hati.

"Ada kabar dari Ansela?" Ara melempar tanya disela acara makan mereka.

"Katanya ibunya sakit," Gisella menjawabnya.

"Bukannya ibunya di luar kota, ya?" Ara kembali melempar tanya ingin tahu.

Kedua sahabatnya kompak mengedikkan bahu, Jenandra yang lalu menimpalinya, "Kamu tahu Ansela jarang cerita soal keluarganya."

"Kebetulan sekali dia juga izin pulang mendadak tadi," Gisella menyahutinya.

Drrt .. drrrt …

Ponselnya yang berdering dan menampilkan nama Noah disana, membuat kening Ara kembali berkerut sebelum jemarinya bergerak meraih ponsel itu dan menekan tombol hijau.

"Ya, Noah?" sapanya langsung.

"Ara? Kamu sakit?" suara Noah yang terdengar khawatir membuat Ara menyipitkan kedua mata.

"Sakit? Aku baik-baik saja," jawabnya.

Hening sesaat sebelum helaan nafas kasar Noah lah yang terdengar, "Berarti aku salah lihat tadi."

"Kamu tidak mungkin sampai menghubungiku kalau tidak yakin itu aku, Noah. Apa yang kamu lihat?" Ara langsung mencecarnya sebelum Noah sempat mengakhiri pembicaraan mereka.

"Aku hanya salah lihat, Ara. Mungkin ini karena aku agak lelah akhir-akhir ini, jadi kukira aku melihatmu tadi," Noah berujar kalem, menenangkannya.

Ara memutuskan mengalah, "Baiklah kalau begitu."

Saat panggilan itu berakhir, Jenandra sudah menatapnya dengan ekspresi tertarik, "Aku ingin menanyakan ini sejak dulu, kenapa kamu selalu memanggil si kembar Hadinatha tanpa embel-embel Kakak atau yang lain?"

"Mereka yang tak mau kusebut Kakak, sekalipun usia mereka lebih tua 3 tahun dariku," jawab Ara.

Mendengarnya membuat kedua sahabatnya itu memanyunkan bibir dan berujar kompak, "Beruntungnya."

Ara memutar bola mata. Sudah cukup terbiasa dengan tingkah kedua temannya itu jika menyangkut si kembar.

Sementara itu di tempat lain, Noah menatap sosok pemuda yang berdiri tak jauh di depannya, tepat di depan sebuah kamar rawat.

Dirinya yang mengunjungi rumah sakit milik keluarga Hadinatha untuk bertemu direkturnya atas permintaan sang ayah, tanpa sengaja melihat sosok yang begitu dikenalnya.

Melihatnya disana membuatnya langsung menghubungi Ara, mengira gadis itulah yang sedang berada dibalik pintu kamar yang tertutup.

Mata tajamnya mengawasi pemuda itu yang sekarang telah meraih handel pintu kamar rawat dan masuk ke dalamnya. Tak lama kemudian, Noah melangkahkan kakinya mendekati kamar rawat itu.

"Tuan muda Hadinatha?"

Suara seorang perawat yang mengenalinya, membuat Noah menoleh, "Boleh saya tahu pasien atas nama siapa yang dirawat disini?"

Perawat itu mengerutkan kening seraya menatap ke arah kamar yang ditunjuk Noah, "Kamar rawat VIP 1, kalau tidak salah diisi oleh pasien yang baru masuk pagi ini. Seorang wanita paruh baya."

"Boleh saya tahu siapa namanya? Sepertinya saya mengenali putranya, dia teman dari sahabat saya," tanya Noah lagi.

"Putranya? Beliau tidak memiliki putra, tapi memiliki seorang putri yang tadi mengurus semua administrasi beliau," jawab perawat itu.

Kali ini Noah memipihkan bibirnya sebelum kembali berkata, "Siapa nama putrinya?"

Jawaban yang keluar dari bibir perawat itu membuat satu tangannya terkepal, "Ansela Gunawan."


Tuk .. tuk .. tuk ..

Ara mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya, kebiasaan yang dilakukannya saat sedang kebingungan dengan pikirannya sendiri.

Sudah sejak kemarin dia berusaha menghubungi Jerriel, namun kekasihnya itu seakan hilang ditelan bumi. Ponselnya pun sudah tak aktif sejak kemarin sore sampai sekarang.

Puluhan pesan yang dikirimkannya belum terbaca sama sekali. Jerriel tak pernah seperti ini sebelumnya, itulah yang membuat Ara tak tenang.

"Ara, waktunya sarapan." Suara sang ibu diikuti ketukan di pintu kamar, membuyarkan lamunannya.

Gadis itu lalu meraih tas ransel, lalu melangkah keluar dari kamar, menuju lantai bawah untuk sarapan bersama orangtuanya.

"Jerriel menjemputmu lagi hari ini?" tanya sang ibu saat sarapan mereka hampir tandas.

"Tidak, Ma," Ara menjawab tanpa menjelaskan alasannya.

Zayn meletakkan cangkir kopi yang disesapnya saat mendengar jawaban itu, "Kalau begitu biar Noah yang antar kamu. Dia sudah dalam perjalanan kemari."

"Loh, kenapa Noah? Papa kan bisa mengantarku," Ara sontak memprotes, bukannya dia keberatan, tapi ini sangat aneh baginya.

"Noah yang minta izin Papa semalam untuk mengantarmu ke sekolah hari ini. Nanti juga dia yang akan menjemputmu saat pulang," tukas Zayn dengan nada final, tanda dia tak ingin dibantah.

Mikayla yang juga mendengar intonasi berbeda dari cara suaminya bicara, memutuskan menengahi, "Turuti Papamu, sayang. Noah dan Nathan sudah harus kembali ke Amerika minggu depan, anggap saja ini cara mereka berpamitan."

Mau tidak mau, Ara akhirnya mengangguk. Dirinya lalu berpamitan pada kedua orangtuanya bersamaan dengan salah satu pelayan mansion yang memberitahu mereka kalau Noah baru saja sampai.

"Pakai sabuk pengaman."

Suara kalem Noah yang berujar mengingatkannya tak lama setelah Ara masuk ke dalam mobil sport mewahnya dan menutup pintu, membuat gadis itu mendengus.

"Tidak akan ada polisi yang berani menghentikan mobil milik pewaris Hadinatha," sahutnya sekalipun tangannya tetap bergerak memasang sabuk pengaman.

"Kalaupun ada, aku akan meminta mereka membawa dan menahanmu. Kamu yang tak patuh aturan, bukan aku." Noah menimpalinya sambil menjalankan mobilnya setelahnya.

Bibir Ara mencebik dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada. Tak ada pembicaraan lagi diantara mereka sampai akhirnya Noah berhenti tepat di depan pagar gedung sekolah gadis itu.

"Pulang nanti kujemput. Jangan coba-coba kabur, Ara. Aku perlu membawamu ke suatu tempat." Kalimat Noah menghentikan Ara yang hendak membuka pintu mobil dan turun darinya.

"Mau kemana?" tanyanya ingin tahu.

Noah menatapnya dengan senyum kecil terulas, "Nanti, Ara. Masuklah dan jangan pikirkan apapun."