Usapan di punggungnya membangunkan Jerriel, pemuda itu lalu menatap ke samping dan mendapati seorang gadis tersenyum padanya.
"Ansela," lirihnya.
"Om memintaku membangunkanmu," ujar Ansela tanpa melunturkan senyum di wajahnya.
Jerriel mengangguk, dirinya menegakkan tubuh dan mengedarkan pandang sampai matanya menangkap pemandangan ayahnya yang duduk disisi ranjang rumah sakit dengan tangan menggenggam seorang wanita yang terbaring disana.
"Tante Arin sudah sadar rupanya," gumamnya.
Ansela mengangguk, "Mama baru saja sadar."
Mendengarnya membuat Jerriel mengangkat tangan untuk mengelus punggung Ansela, senyum keduanya merekah sebelum beranjak mendekati kedua orang dewasa yang sudah mengalihkan atensinya pada mereka.
"Kalian pulang saja, biar Papa yang disini," kalimat tegas Ayahnya menyambut Jerriel.
"Kalau begitu Jerriel pulang, Pa," Jerriel tanpa ragu mengiyakan permintaan sang Ayah.
"Nanti siang kalau kalian mau datang lagi, langsung saja kemari," pesan sang Ayah yang disambut anggukan Jerriel.
Keduanya lalu beranjak keluar dari kamar rawat itu. Lengan Jerriel langsung melingkar di tubuh Ansela, menggiringnya menuju area parkir rumah sakit.
Saat akhirnya mereka sampai di rumah, Jerriel langsung menuju kamarnya, memasang charger ponselnya yang mati sejak kemarin sebelum melangkah menuju kamar mandi.
Ketika dia akhirnya selesai, tangannya langsung menyalakan ponsel dan mendapati banyaknya pesan serta panggilan tak terjawab dari Ara disana. Jerriel mengusap kasar wajahnya, dirinya baru menyadari bahwa sejak kemarin, dia mengabaikan kekasihnya itu.
Tok .. tok .. tok ..
Jarinya sudah akan membalas pesan sang kekasih ketika pintu kamarnya diketuk dan membuatnya langsung meletakkan lagi ponselnya sebelum melangkah menuju pintu. Kedua matanya melebar saat mendapati Ansela dengan pakaian cukup minim, berdiri dibalik pintu kamarnya.
"Aku baru selesai masak, ayo makan dulu." Ajak gadis itu yang langsung meraih tangannya dan menariknya menuju ruang makan.
"Masak dengan pakaian begini, Ansela?" Jerriel berujar sambil mengusap kasar wajahnya.
Tawa kecil Ansela terdengar, "Memangnya biasanya aku pakai pakaian apa? Lagipula hanya kita berdua disini."
Jerriel menggeleng gemas. Lengannya lalu menghentikan langkah gadis itu dengan menarik pinggang rampingnya hingga tubuh mereka tak lagi berjarak.
"Katakan saja kamu sengaja menggodaku. Bukankah sudah sering kuingatkan untuk tak menggodaku di pagi hari?" ujarnya.
Senyum menggoda muncul di wajah Ansela, "Aku memang ingin menggodamu."
"Gadis nakal." Jerriel berkata seraya mencubit pipi Ansela sebelum menunduk dan menyatukan bibir mereka.
Jerriel lalu mengangkat tubuh Ansela dalam gendongannya tanpa melepas tautan bibir mereka, membawanya menuju kamarnya lagi sebelum menutup pintu kamar itu dengan kakinya.
Drrt .. drrt ..
Suara dering ponsel sempat membuat atensinya teralih hingga melepaskan ciumannya di bibir gadis yang sekarang telah berada di bawah tubuhnya setelah dirinya menurunkan Ansela ke ranjang.
"Lihat aku, Je."
Suara Ansela dan jari gadis itu yang mengusap dagunya, membuatnya kembali menoleh sekali pun matanya sempat membaca siapa yang menelponnya barusan.
"Itu Ara," ujar Jerriel.
"Biarkan saja," pinta Ansela, tangannya tak tinggal diam dengan mulai meraba tubuh Jerriel sampai ke pusat tubuh pemuda itu.
"Dia akan curiga nanti." Jerriel menahan tangan Ansela saat gadis itu sudah hendak menyusupkan tangannya ke balik celananya.
Dirinya sudah akan beranjak dari atas tubuh Ansela saat gadis itu menariknya dan membalik posisi mereka, "Kamu sudah mengabaikannya sejak kemarin, menunda beberapa jam lagi bukan masalah besar."
Ansela lalu menyatukan bibir mereka lagi, kali ini dengan tangannya yang kembali meraba tubuh Jerriel, membuat pemuda itu mulai kehilangan kendali dirinya dan akhirnya menyerah pada hasrat yang berhasil dibangunkan.
"Kamu harus membantuku meyakinkan Ara setelah ini," ujar Jerriel disela cumbuan mereka.
Gadis yang sedang dicumbunya itu tak langsung menjawab. Bibirnya terbuka dengan suara desah yang keluar setiap kali milik Jerriel terus menekan pusat tubuhnya.
"Oh!"
"Ya ... Disana-Ah!"
"Aku belum mendengar jawabanmu, Ansela." Jerriel berujar dengan geraman tertahan, dirinya sengaja memperlambat tempo gerakannya demi membuat gadis itu menjawab keinginannya.
Ansela mengangguk dengan wajah memerah menahan hasrat, dia sudah hampir sampai saat Jerriel memutuskan menahannya, "Aku akan mengurusnya nanti."
"Kenapa kita ke rumah sakit? Siapa yang sakit?"
Ara bertanya tak mengerti karena Noah yang menepati janji untuk menjemputnya sepulang sekolah, justru membawanya ke salah satu rumah sakit milik keluarga Hadinatha.
Tak ada jawaban dari Noah. Pemuda itu melepas sabuk pengamannya sebelum bergerak melepaskan sabuk pengaman Ara dan membuka pintu mobilnya.
"Ayo turun." Nada suaranya yang tegas membuat Ara mengatupkan bibirnya, tak jadi melemparkan protes dan tanya.
Noah menggiringnya memasuki area lobby rumah sakit menuju sebuah lift. Namun, langkah Ara langsung terhenti saat pemuda itu menahan lengannya.
"Ada apa?" Ara bertanya tak mengerti seraya menatapnya heran.
Tatapannya lalu mengikuti arah pandang Noah yang kemudian membuat matanya sedikit melebar. Tak jauh di depan mereka, dirinya mendapati Jerriel berdiri menunggu lift dengan lengan melingkari tubuh seorang gadis yang sangat dikenalinya.
"Ansela," bisiknya.
Interaksi keduanya yang nampak mesra, membuat tatapan Ara goyah. Noah yang menyadari itu, menggandeng tangannya dan menggiringnya menuju sisi lain area itu agar mereka tetap tak terlihat.
"Ini yang kamu lihat kemarin?" tebak Ara, pikirannya langsung menyatukan semua pertanyaan yang menunggu jawaban sejak kemarin.
"Aku melihat Jerriel berdiri di depan kamar rawat dimana ibu Ansela berada," tutur Noah.
"Tapi itu tak membuktikan mereka berselingkuh," tanggap Ara.
"Benar, kan?" tanyanya dengan suara lirih, jelas tak yakin dengan pernyataannya barusan.
"Aku tak mengatakan bahwa mereka berselingkuh di belakangmu, Ara. Kamu yang menyimpulkannya sendiri," tukas Noah.
Ara menatapnya, "Kamu tak mungkin membawaku kemari tanpa alasan."
Noah tersenyum, "Ibu dari salah satu sahabatmu sedang sakit. Aku membawamu kemari untuk menjenguknya."
Mendengarnya membuat Ara mengerjapkan matanya, "Entah kamu tak berperasaan atau apa."
Senyum penuh pengertian muncul di wajah tampan Noah, "Simpan semua emosimu untuk nanti. Seperti yang kamu bilang, pemandangan tadi tak bisa membuktikan apa pun."
Suasana canggung jelas terasa menyelimuti kamar rawat VIP yang sekarang berisi enam orang di dalamnya. Lebih tepatnya kecanggungan itu hanya menyelimuti tiga orang diantaranya.
"Kamu pacar Jerriel, kan?" Ayah pemuda itu yang mengenali Ara, melempar tanya.
Ara mengangguk dan menjawab dengan mata melirik ke arah Jerriel, "Iya, Om."
"Lalu ini?" Ayah Jerriel menunjuk Noah yang berdiri disisi Ara.
"Saya Noah." Pemuda itu menjawab seraya mengulurkan jabatan tangannya tanpa niat untuk menjelaskan siapa dirinya lebih lanjut.
"Kami datang untuk menjenguk karena mendengar ibu Ansela jatuh sakit. Kebetulan rumah sakit ini milik keluarga saya dan Ara meminta saya mencari tahu apa Ibu dari sahabatnya dirawat disini," lanjutnya dengan sengaja menekankan kata sahabat, matanya sempat melirik ke arah Jerriel yang sedikit memucat.
Ayah Jerriel yang sama sekali tak memahami situasi canggung diantara putranya dan kekasihnya, mengangguk paham. "Terimakasih sudah mau menjenguk Istri saya," ujarnya.
Kalimat itu tentu saja membuat Ara mengerjapkan mata, "Istri?"
"Oh, apa Jerriel belum menceritakannya padamu?" Pria itu kembali menatap Ara.
"Pa, Jerriel belum cerita pada siapa-siapa termasuk Ara," Jerriel menyahutinya.
Mendengar itu membuat sang ayah kembali mengangguk, "Kalau begitu sekalian saja diumumkan, toh ini kabar baik."
"Kabar baik apa, Om?" Tanya Ara, senyumnya kembali terulas seakan semua kecanggungan sebelumnya sudah tak lagi berarti.
Senyum lebar di wajah pria paruh baya itu membuat hatinya tegang penuh antisipasi. Ketika akhirnya jawaban itu didapatnya, tangan Ara refleks menarik ujung kemeja Noah, seakan mencari pegangan.
"Saya dan ibunya Ansela baru saja menikah sebulan yang lalu."