“Nona Muda, anda bisa turun. Tuan dan Nyonya Besar sudah menunggu Anda.”
Suara supir keluarga Abimana yang menegurnya setelah sang nona muda yang diantarnya, justru bertahan di dalam kendaraan walau mereka telah tiba sejak 10 menit yang lalu, membuyarkan lamunan gadis muda yang sejak tadi memandang ke luar jendela kendaraan itu.
“Ah, ya.”
Tangannya bergerak membuka pintu mobil dan kakinya melangkah turun. Gadis muda itu menarik nafas sambil menatap pintu utama mansion di depannya.
Sudah cukup lama dia tak pernah berkunjung ke mansion tempat sang ayah tumbuh besar. Bangunan megah yang seharusnya bisa disebutnya rumahnya.
Sudah sekitar sepuluh tahun lebih sejak orangtuanya memboyongnya Kembali ke Zurich dan baru 3 tahun yang lalu mereka kembali ke Indonesia karena permintaan dari keluarga besar Abimana agar ayahnya membantu bisnis yang sedang goyah.
“Nona Ara.”
Suara seseorang yang memanggilnya, kembali membuatnya mengerjapkan mata sebelum seulas senyum muncul di wajahnya.
“Pak Aryo.”
Pak Aryo mengangguk sopan, “Mari ikut saya, Nona.”
Ara balas mengangguk dan mengikuti Langkah pria paruh baya itu yang membawanya memasuki mansion hingga netranya menangkap sosok kakek dan neneknya yang sedang berbincang di sofa panjang ruang keluarga.
Ara melambatkan langkah, memasang ekspresi ramah untuk menggantikan ekspresi datarnya.
“Kakek, Nenek,” Ara menunduk sopan.
Namun, keduanya sama sekali tak menyambut sapaannya. Jangankan balik menyapa, mereka sama sekali tak menoleh dan terus berbincang satu sama lain. Sekejap ekspresi ramah Ara kembali berubah datar. Senyum di wajahnya lenyap.
Gadis muda itu tetap berdiri dengan kepala tegak, matanya menatap lurus sepasang orangtua yang begitu dihormati sang ayah sekalipun mereka tak pernah bisa menyelesaikan perselisihan yang telah bertahan lebih dari usia Ara sekarang.
Dirinya menunggu hingga 15 menit lamanya sebelum akhirnya memutuskan sudah saatnya menghentikan kekonyolan ini.
“Jika Kakek dan Nenek memanggilku kemari hanya untuk mendengarkan kalian berbicara tanpa sedikitpun niat untuk menyambutku, maka lebih baik aku pergi. Permisi,” ujarnya.
Ara berbalik dan bersiap melangkah pergi sebelum suara sang nenek menghentikannya.
“Duduk.”
Gadis muda itu menghela nafas dan kembali berbalik ke arah sofa panjang tempat kakek dan neneknya berada. Dirinya mengambil tempat tepat disisi sofa yang kosong, tanpa senyum di wajahnya.
Punggungnya yang tegak tanpa bersandar, membuat sang kakek menyunggingkan senyum miring saat melihatnya.
“Kamu sungguh seangkuh Papamu.”
“Maka Papa berhasil mendidikku dengan baik.” Ara menjawab tanpa ragu.
Kali ini sang kakek tertawa kecil. Pria tua itu lalu beranjak berdiri dan melangkah pergi tanpa mengatakan apa pun lagi, membuat Ara menatapnya heran.
“Kami memanggilmu kemari karena kamu harus datang ke tempat ini,” suara sang Nenek kembali membuatnya mengalihkan atensi.
Ara mengikuti arah pandang wanita tua didepannya dan mendapati sebuah kertas yang dilipat menjadi dua, telah berada di tengah-tengah meja, jelas baru saja disodorkan sang nenek padanya.
“Dalam rangka apa hingga aku harus mendatangi tempat yang Nenek minta?” Ara bertanya tanpa niat mengambil kertas itu.
Sang Nenek menatapnya dengan senyum sinis, “Setidaknya kamu harus berguna untuk keluarga ini. Kami sudah mengatur perjodohan untukmu, pergi kesana temui dia lalu kami akan mengatur pertunanganmu dengannya.”
“Lalu apa? Menikah dan menghasilkan keturunan laki-laki?” Ara menyela, tak lagi memperdulikan tentang kesopanan yang selalu ditekankan sang Ibu untuk dijunjungnya kala bicara dengan Kakek dan Neneknya.
“Zaman sudah modern dan Nenek masih terus mengagungkan keturunan laki-laki padahal Nenek adalah mantan dokter. Orang yang bahkan tak bisa melawan takdir ketika berhubungan dengan hidup dan mati seorang pasien, sekarang dengan keras kepala berusaha melawan takdir dari karunia Tuhan."
“Sienna Amara Winata!” sang Nenek menyentaknya keras.
“Ya! Aku seorang Winata, bukan Abimana! Nenek tak bisa mengatur hidupku seenaknya seperti Nenek berusaha mengatur hidup Papa!” Ara ikut meninggikan suaranya.
Baginya sang nenek sudah sangat keterlaluan hingga dia tak mau repot mengontrol emosinya. Usai mengatakan itu, Ara langsung berdiri dan melangkah melewati meja di depannya tanpa mau repot mengucapkan salam untuk berpamitan pada sang nenek.
“Berhenti disana Sienna!”
Sentakan tegas sang nenek membuat Ara menghentikan lagi langkahnya. Wanita tua itu tersenyum puas melihat cucunya tak lagi melangkah pergi, namun belum sempat dirinya melanjutkan kata, suara Ara sudah lebih dulu menghentikannya.
“Saya rasa sudah tak ada lagi yang harus kita bicarakan, Nyonya.” Mendengarnya membuat wajah sang nenek sontak memerah menahan amarah.
“Berani kamu melangkah pergi, kamu bukan lagi cucuku!” bentaknya.
Kali ini Ara menggemakan tawa sinisnya. Kepalanya menoleh sedikit ke arah sang nenek dengan tatapan remeh.
“Bukankah selama ini Anda memang tak pernah menganggap saya cucu karena saya adalah perempuan, bukan laki-laki?”
“Tak perlu repot mengancam, lebih baik jaga kesehatan saja daripada anda terkena serangan jantung sejak dini.” Ara langsung melangkah pergi meninggalkan sang Nenek yang mengepalkan tangan saat mendengarnya.
“Kenapa aku selalu menemukanmu sendirian di tempat seperti ini?”
Ara menoleh ketika mendengar suara yang begitu dikenalnya, “Noah.”
Lelaki muda yang disapanya itu mengangguk kecil sebelum ikut menempatkan dirinya di sebuah ayunan lain yang kosong disisi Ara.
“Kamu selalu kemari saat Nenek atau Kakekmu berulah,” ujar Noah.
“Kakekku tak pernah berulah!” Ara menyahut protes.
“Tapi tak melakukan apapun untuk membantumu, itu berulah namanya,” Noah menimpalinya dengan keras kepala.
Dengusan kesal Ara membuat lelaki itu tersenyum tipis sekali. Tatapannya beralih lurus ke depan, menatap langit senja yang sejak tadi ditatap gadis disisinya itu.
Hening menyelimuti mereka selama beberapa menit setelahnya. Ara yang sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Noah yang memberinya ruang untuk berpikir tanpa menginterupsinya lagi.
“Aku mungkin akan menuruti keinginan Papa untuk kembali ke Zurich lebih cepat,” ujar Ara memecah keheningan.
Noah mengangguk, “Kalau kamu sudah yakin, lakukan. Sekolahmu juga akan selesai 8 bulan lagi.”
“Tadinya aku ingin kuliah di Jogja,” sahut Ara.
“Kalau yang kamu butuhkan adalah ketenangan jauh dari keluarga Abimana, itu jelas ide buruk,” tukas Noah.
Ara terkekeh, “Kamu benar, tapi aku masih ingin disini.”
“Alasanmu masih ingin disini bukan hanya karena ingin kuliah di Jogja,” Noah menimpalinya.
“Masih belum yakin kamu bisa LDR dari pacarmu itu?”
Gadis disisinya itu mendengus lagi, “Kamu harus coba pacaran, Noah. Jadi kamu tahu rasanya berjauhan dari orang yang kamu sayang itu, sangat tidak menyenangkan.”
Noah hanya menanggapinya dengan seulas senyum di wajah tampannya yang membuat Ara mengedikkan bahu seraya meraih ponselnya yang berdering di dalam saku jaketnya.
“Aku harus pergi, Jerriel sudah menjemputku.” Ara berkata sambil berdiri dari posisinya.
“Bilang Jerriel jangan mengebut,” pesan Noah sebelum gadis itu mengangguk dan melangkah pergi meninggalkannya.
Lelaki itu memperhatikan punggung Ara yang menjauh sebelum atensinya kembali diarahkan pada langit. Batinnya menyuarakan kalimat yang tak pernah bisa diungkapkannya pada Ara, tidak sekarang.
"Masalahnya gadis yang aku inginkan tak pernah melihatku dengan benar."