Kael bukan tipe pria yang bisa mentolerir segalanya. Apa pun itu, ia memiliki batas sendiri untuk memutuskan apakah harus diam atau bertindak. Sama halnya ketika Bastien mengacaukan perusahaan dengan namanya yang dipertaruhkan saat dugaan tindakan gelap Vireaux Group mencuat.
Alih-alih memutuskan untuk bertindak, sang penguasa Vireaux itu justru memutuskan untuk diam. Satu serangan halus untuk Bastien yang berusaha menusuknya, dan satu contoh atas sikap tegas dalam hal toleransi.
Namun berbeda ketika urusannya menjamah pada ranah Aurora. Dua pilihan antara bertindak dan diam tak lagi ada. Hanya ada satu sikap yang akan selalu dilakukannya—menerima.
Bahkan dengan izin tak masuk akal yang baru saja diucap.
“Kau tidak lupa dengan hubunganku dan Celeste sebelumnya, kan?” Pandangan Kael tampak gusar. Gelas minum yang baru diteguknya sekali, diletakkan begitu saja di meja dapur.
“Aku membencinya, tapi aku mau dia bertanggung jawab pada Ezra.” Aurora tak memiliki pilihan lain.
“Tangan yang patah bukan berarti dia lumpuh.” Menerima, tapi bukan berarti tidak ada perdebatan.
“Kau mau membantunya 24 jam? Atau… aku saja yang membantunya? Menyuapi, membantunya mengenakan baju, atau—”
“Tidak akan kubiarkan!” sentak Kael. “Kita bisa menyuruh orang lain untuk melakukannya, asal itu bukan Celeste.”
Mata Aurora menyipit ketika Kael menyebut nama Celeste. Ada desiran tidak nyaman yang tak disukainya. Namun untuk sesaat, ia harus bersikap rasional. “Kau bisa mempercayai orang asing untuk masuk ke rumah kita?”
Pertanyaan Aurora membuat Kael terdiam. Meskipun tidak terima, tapi Kael membenarkannya. Orang asing tidak selalu aman, apalagi di tengah kemelut masalah keluarga Vireaux yang semakin memanas. Ia tak ingin membuka celah, cukup Ezra saja yang masih abu-abu di matanya.
“Atau mungkin…” lanjut Aurora. “... sebenarnya kau masih memiliki perasaan padanya… jadi kau tidak mau dia berada di dekatmu karena memicu—”
“Aku tidak pernah mencintainya.” Kael memotong asumsi Aurora dengan dingin. “Kau tahu itu, aku tidak pernah mencintai wanita selain dirimu.”
Wajah Aurora memerah, tapi berhasil mengatur napasnya agar tak larut dalam desiran memabukkan karena mendengar pengakuan Kael. Tubuhnya kini bersandar pada ujung meja dapur, berhadapan langsung dengan Kael yang berdiri kaku. “Sebenarnya… aku juga tidak ingin dia masuk ke dalam rumah kita. Tapi aku tahu Ezra pasti akan memaksanya datang sekalipun kita menolak. Aku hanya ingin kau mau mengerti situasinya.”
Kael menatap Aurora cukup lama. Ada ragu yang melintas di sorotnya, sampai akhirnya mulutnya terbuka. “Bagaimana jika seandainya Ezra bukan bagian dari keluarga Vireaux dan ternyata bukan anak dari ibumu? Masihkan kau akan bersikap baik padanya?”
Aurora mendesah panjang. Pembicaraan yang seharusnya tidak didengarnya lagi, kenapa kembali ditanyakan? “Dia adik kita, Husband. Kau harus bisa menerima itu meskipun tak ingin.”
Kael mengeratkan kepalan tangannya tanpa sadar. Andai saja ia memiliki sedikit rasa percaya itu untuk Ezra. Bahkan ketika tak ada bukti yang menunjukkan bahwa pernyataan Ezra adalah bohong, masih saja hatinya tak bisa menerima. Beberapa kali ia dan Luther berusaha untuk mengungkap apa yang disembunyikan Ezra, tapi tak ada yang mencurigakan.
Atau belum… yang jelas Kael terus mencarinya.
“Fine, aku tidak akan menanyakannya lagi. Dan kau tidak diizinkan untuk membantu bocah itu, tak peduli bagaimana keadaannya.”
“Kalau begitu biarkan Celeste membantunya.” Nada bicara Aurora terdengar serius. Begitu juga dengan niatnya.
Ia memang tak menyukai wanita itu, dan tak ingin mantan tunangan Kael ada di sekitar mereka. Namun, ada bagian dalam dirinya yang menggelitik saat menemukan ekspresi terkejut Kael begitu nama Celeste disebut. Dan mungkin… dengan membiarkan Celeste berada di sekitar mereka, akan menjawab keraguannya. Benarkah Kael telah berdamai dengan cinta lamanya? Atau ada rasa yang sengaja disembunyikan darinya.
Cukup berisiko, tapi patut untuk dicoba.
Kael yang masih memperhatikannya lekat-lekat pada akhirnya hanya mengangguk, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pandangannya kini mengarah pada rumah sebelah yang tampak dari jendela besar ruang tengah.
“Ada tetangga baru?” gumamnya.
Aurora menoleh, mengernyitkan keningnya. “I guess so, kupikir tidak ada rumah kosong di sekitar kita. Tapi dari tadi tampaknya mereka sedang berbenah.”
“Mungkin yang kemarin sering datang itu orang properti.” Kael masih memperhatikan tetangga barunya yang sedang mengangkut sofa besar dari truk pindahan. “Selama mereka tak menimbulkan masalah, aku tidak peduli.”
Aurora tertawa pelan. “Kau terlalu paranoid, Sayang. Tidak semua hal patut dicurigai. Sebaliknya, kita harus baik pada tetangga.”
Kael menyipitkan matanya ketika menoleh, menatap tegas pada Aurora. “Tidak semua orang pantas menerima kebaikan kita. Ingat itu selalu, Mrs. Vireaux.”
Tak ingin memperpanjang perdebatan, Aurora hanya mengangguk dan memeluk pinggang Kael erat. Perdebatan kecil tadi membutuhkan sedikit pelukan untuk mengusir rasa gelisah. Kael terkekeh pelan saat Aurora membenamkan wajah di dadanya.
“Kau pintar mengalihkan perhatian,” bisik Kael, sambil mengangkat tubuh Aurora dan mendudukkannya di atas meja dapur.
Aurora mengalungkan kedua tangannya pada leher Kael, sebelum menerima kecupan singkat di bibir. “Yes, I am. Aku hanya tidak ingin berada di situasi yang kaku denganmu terlalu lama.”
Kael menyeringai, kakinya maju selangkah, memangkas jarak di antara mereka. Dalam sekejap, kedua tangan pria itu telah mengunci posisi sang istri, tak ada celah untuk kabur. “Dan aku tidak akan membiarkannya,” bisiknya, disertai dengan kecupan lembut di leher Aurora.
Tak menjawab, Aurora menurunkan tangannya perlahan, menyusuri punggung lebar—penuh otot—milik Kael dan berhenti di pinggang. Gerakan itu semakin menguarkan desiran yang menggelapkan mata Kael.
Tepat dengan tarikan lengan Kael pada pinggang Aurora semakin erat, sesapan lembut pada bibir manis itu kembali dimulai—menjamah dan saling bertaut, sampai napas mereka saling tersengal di sela desahan pelan.
“Kau mau melakukannya di sini?” sengal Aurora, pundaknya naik turun.
Kael menyeringai, tangannya menyusup di balik dress Aurora, mencari titik lemahnya di bawah.
“Kael…”
Aurora menggeliat begitu tangan Kael bermain di sana. Basah.
“Hmmm…”
“K-kau… belum menjawabku…”
“Ssstt… just feel it.”
Aurora menggigit bibir bawahnya. Gerakan tangan itu… membuatnya terkunci pada fantasi. Begitu lihai Kael membuatnya terkulai. Sentuhannya meremangkan tubuh. Gelitik jarinya meloloskan desah. Tak lama… Aurora mengerang lega. Napasnya pendek-pendek, seperti baru saja marathon—padahal hanya duduk melebarkan kaki di hadapan Kael.
Belum selesai Aurora merasakan sensasi di tubuhnya, Kael telah merengkuhnya dan membawanya ke dalam kamar. Pria itu menurunkannya perlahan di atas kasur, dan dengan cepat tangan Aurora membuka celana Kael.
“Baby…”
Kael menggeram ketika melesakkan miliknya, membuat Aurora meracau dalam desahan panjangnya. Sialnya, kini Aurora mulai bertanya-tanya, apakah Kael pernah melakukannya dengan Celeste? Bagaimana mereka melakukannya? Apakah Kael akan terus menghujani Celeste dengan kecupan lembut di seluruh tubuhnya seperti saat ini?
“Are you okay?” Kael berbisik.
Aurora tersentak. Ritme Kael yang semakin cepat menyusahkannya untuk menjawab. Hanya rintihan dan erangan yang lolos dari mulutnya. Jawaban yang seharusnya ia katakan dengan ‘tidak baik-baik saja’, pada akhirnya hanya digantikan dengan anggukan.
Tangan Aurora yang tadi hanya menyentuh pinggang Kael tanpa tekanan, kini mulai bergerak lebih dalam dan menarik tubuh Kael sampai menindihnya tanpa jarak. Kael menyeringai, semakin menghentak dalam… dan keduanya mengerang kencang bersamaan.
Kini… hanya deru napas yang terdengar. Kael telah berpindah ke sisi Aurora, memeluk istrinya itu dengan satu tangan.
“Tell me, Rora. Apa yang kau pikirkan sekarang?”
Apakah Aurora harus menanyakan itu? Apakah pertanyaannya nanti justru akan menimbulkan masalah?
Ah, sial.
“Aku…” Aurora menghela napasnya sekali. “Kau… sejauh apa kau berhubungan dengan Celeste pada waktu itu?”
Alis Kael segera bertaut begitu mendengar pertanyaan Aurora. Jantungnya berdebar lebih kencang. Tangannya semakin merengkuh erat tubuh polos sang istri. Ia tahu kemana arah pertanyaan Aurora, tapi ia tak akan pernah mengatakan hal itu secara gamblang. “Tidak pernah lebih dalam dibandingkan denganmu.”
Jawaban itu… sangat ambigu. Namun Aurora tak berani bertanya lebih jauh lagi. Ia hanya semakin membenamkan tubuhnya pada dekapan Kael. Kecupan lembut di kening membuatnya mengerjap pelan.
“Hanya kau satu-satunya untukku, Rora. Jangan takut.”