Drama

Sosiopat - Jejak Penguasa - Bab 16

Penulis Ichan
04 December 2025

JEJAK PENGUASAAN

Perubahan itu terjadi lebih cepat dari yang dibayangkan banyak orang. Dalam hitungan minggu saja, kehidupan Alina berubah seperti seseorang yang melompat dari jurang kemiskinan menuju singgasana emas. Semua bukan karena takdir, bukan keberuntungan, bukan pula cinta, melainkan manipulasi yang begitu halus dan terencana.

Dirga, yang kini semakin tenggelam dalam obsesinya pada Alina, memberikan akses tanpa batas. Awalnya hanya kartu akses ke ruang-ruang terbatas perusahaan. Lalu berkembang menjadi akses ke dokumen-dokumen privat. Hingga akhirnya, tanpa disadari banyak pihak, Alina memiliki peranan finansial yang sangat besar di dalam kehidupan Dirga.

Sebagian saham perusahaan besar milik Dirga yang nilainya tak bisa dihitung dengan jari, ia dipindah tangankan atas nama Alina. Semua dilakukan secara legal. Secara resmi dan Dirga menandatangani persetujuan itu tanpa ragu seolah bukan literal menyerahkan hidupnya.

Kini, Dirga tinggal memiliki sekitar tiga puluh persen saja dari seluruh kekayaannya. Sisanya? Atas nama gadis yang baru ia kenal beberapa bulan lalu. Gadis yang asing bagi banyak orang, termasuk bagi keluarganya sendiri.

Namun, Dirga tidak peduli. Obsesi membuat orang tuli, buta, dan mudah dimanfaatkan.


Siang itu, Alina duduk di ruang kerjanya yang kini dipenuhi dokumen-dokumen penting. Ruangan itu dulu digunakan untuk kepala divisi, namun setelah ia menjadi 'calon istri' seorang pemilik perusahaan raksasa, segalanya dipermudah untuknya.

Ia menelusuri berkas saham yang baru saja selesai diproses. Di kacamatanya yang tipis, pantulan angka-angka orang terkaya di kota itu berkilau. Angka-angka yang sebelumnya tidak pernah ada dalam hidup Alina.

Namun, wajahnya tetap tenang. Baginya, ini bukan kemewahan.

Ini alat.

Ini senjata.

Ini langkah berikutnya untuk mencari pamannya. Untuk membunuh masa lalu yang menghancurkan hidupnya.


Ketika sore menjelang, Dirga mengirim pesan pada Alina.

"Lina, malam ini kita makan di Radegrille. Aku sudah reservasi. Aku ingin merayakan keberhasilan pengalihan saham."

Alina membalas kalimat singkat. "Baik."

Dirga selalu menganggap kesederhanaan jawaban Alina sebagai sifat malu perempuan. Padahal itu adalah ketidakpedulian.


Malam tiba. Hujan rintik-rintik turun membasahi jalanan kota. Alina keluar dari rumah dengan mantel panjang hitam, tas kecil mahal yang baru ia dapatkan dari Dirga menggantung di tangannya, sementara rambutnya dikuncir rendah.

Arkanza sudah menunggu di depan rumah dengan motor Vixion miliknya. Meski Alina kini hidup dengan kemewahan, ia masih sering meminta Arkanza untuk mengantarnya. Bukan karena ia membutuhkan Arkanza, tetapi karena ia tidak ingin pria itu merasa dilepaskan.

Arkanza membutuhkan Alina dan bagi Alina, itu menguntungkannya.

Arkanza memandangnya lama ketika Alina memasang helm di kepala. Ada sesuatu di mata pria itu penuh kesedihan, kekaguman dan kekhawatiran yang terus membusuk perlahan.

“Siap?” tanya Arkanza.

Arkanza mengangguk. “Pegangan yang kuat, jalan agak licin.”

Alina meletakkan tangan di pinggang Arkanza, memegangnya sekilas. Arkanza menarik napas panjang, menikmati sedikit sentuhan yang seolah memberi harapan palsu yang terus ia pertahankan meski menyakitinya.

Motor melaju membelah jalanan malam. Alina duduk dengan elegan namun dingin. Angin malam membelai pipinya. Namun, ia tidak merasa dingin. Yang terasa hanyalah kesadaran bahwa ia sedang berada dalam permainan yang lebih besar dari kehidupan sebelumnya dan ia suka permainan itu.

Ketika tiba di depan restoran mewah berbintang lima, Dirga sudah berdiri di lobi. Ia mengenakan jas hitam mahal dan parfum kelas atas. Aura pria kaya terpancar jelas di wajahnya.

Namun, matanya berubah begitu melihat Arkanza mematikan motor. Wajah Dirga merenggang sedikit, sebuah garis cemburu muncul di tepi bibirnya.

Arkanza membantu Alina melepas helm. Tangan pria itu lembut, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh. Sementara Dirga menyaksikan adegan itu dengan tatapan yang sulit dibaca.

Alina menyadarinya.

Namun, ia tidak melakukan apa pun untuk mengurangi api itu.

“Aku pergi dulu,” ucap Arkanza pada Alina.

Hanya pada Alina. Tidak pada Dirga. Alina mengangguk.

Arkanza menatap Alina sedikit lebih lama, lalu pergi.

Dirga menunggu sampai suara motor itu menghilang sebelum membuka suara.

“Siapa dia, Lina?” tanyanya. Lembut, tapi jelas menyimpan bara.

“Rekan,” jawab Alina tanpa menoleh. “Orang yang selalu ada ketika aku membutuhkan sesuatu.”

Dirga mengerutkan kening.

“Rekan?”

“Dan orang kepercayaan,” tambah Alina pelan.

Dirga terdiam. Kata itu memukul dada pria itu lebih keras daripada yang ia biarkan Alina lihat.

Orang kepercayaan? Sementara ia, lelaki yang memberikan hampir seluruh kekayaannya, masih mencari cara untuk membuat Alina mempercayainya.

Namun, seperti biasa. Dirga memilih percaya saja.

“Baiklah,” katanya sambil tersenyum memaksa. “Kalau itu penting untukmu aku tidak keberatan.”

Senyumnya tampak tulus bagi semua orang.

Namun, tidak bagi Alina. Ia bisa melihat retakan kecil di dalam Dirga. Retakan yang berasal dari rasa cemburu paling mentah. Dan itu menguntungkan. Lelaki yang cemburu lebih mudah diarahkan.

Alina melangkah masuk ke restoran.

Dirga mengikuti.


Restoran itu dipenuhi langit-langit kristal yang memantulkan cahaya lembut. Musik piano mengalun pelan, menciptakan suasana elegan. Pelayan langsung mengenali Dirga dan membawa mereka ke meja paling eksklusif, sebuah ruangan kecil dengan tirai tipis dan lilin yang berdiri di tengah meja.

Dirga menarik kursi untuk Alina. “Silakan duduk.”

Alina duduk dengan anggun. Dirga duduk di depannya, tangannya gemetar sedikit karena gugup sekaligus bahagia.

Menu disodorkan.

Dirga memilihkan hidangan untuk Alina. Ia bahkan memesan wine paling mahal. Namun, Alina menolak minuman itu.

“Aku tidak minum alkohol,” katanya datar.

“Oh, baik. Maaf.” Dirga langsung mengganti pesanannya. “Bagaimana teh?”

“Teh saja.”

“Baik.”

Pelayan meninggalkan meja. Dirga menatap Alina, seolah memandangi sebuah keindahan yang tidak pernah gagal membuat dadanya sesak.

“Lina, terima kasih sudah datang,” ucap Dirga lembut.

Alina menyesap air putih. “Bukankah saya sudah bilang saya akan datang?”

“Saya hanya senang kamu mau meluangkan waktu untuk bertemu saya di tengah kesibukanmu.”

“Aku sibuk karena pekerjaanmu juga,” jawab Alina halus.

Dirga tersenyum.

“Kamu benar.”

Hening sejenak. Dirga tampak ingin mengatakan sesuatu yang penting. Alina menunggu, bermain dengan nada diamnya yang sering membuat orang lain gelisah.

“Aku ingin memastikan kamu nyaman,” kata Dirga, akhirnya. “Semua kekayaan yang sudah aku berikan, semuanya membuatmu bahagia?”

“Ya,” jawab Alina singkat.

Namun, ia menatap Dirga, menambahkan satu kalimat yang membuat lelaki itu meleleh seperti lilin.

“Kamu telah membantu hidupku menjadi lebih baik.”

Dirga hampir kehabisan napas. Kata-kata itu, walau diucapkan tanpa emosi adalah alasan yang membuatnya yakin Alina benar-benar “ditakdirkan” untuknya.


Makan malam berlangsung dengan suasana yang tampak tenang. Namun, ada ketegangan halus di bawah permukaan. Dirga beberapa kali mencoba menyentuh tangan Alina, tetapi Alina selalu menariknya sedikit. Tidak terlihat menolak, tidak terlihat menerima. Hanya abu-abu dan Dirga tidak pernah berani memaksanya.

“Lina,” Dirga akhirnya berkata lirih. “Aku ingin kamu tahu. Semua yang aku lakukan, bukan untuk membuatmu terlilit utang budi. Aku hanya mencintai kamu.”

Alina menatapnya, wajah tanpa ekspresi.

“Cinta itu pilihanmu,” jawab Alina lembut. “Aku tidak pernah memintanya.”

Dirga terdiam.

“Aku tahu,” katanya pelan. “Tapi aku ingin memberi kamu masa depan yang aman.”

Alina menyandarkan tubuh. “Aman bisa berasal dari banyak hal. Bukan hanya dari pernikahan.”

“Kalau aku ingin melindungi kamu selama hidupmu apakah itu salah?” Dirga berusaha tersenyum, tapi suaranya getir.

“Tidak,” jawab Alina. “Tapi jangan berharap saya membalas perasaan itu dengan cara yang sama.”

Dirga menunduk.

Namun, bukan kecewa, dia justru semakin ingin mempertahankan Alina. Karena begitulah cinta bekerja pada orang yang buta dan sosiopat bekerja pada orang yang mudah digunakan.


Ketika malam semakin larut, Alina dan Dirga keluar restoran. Dirga hendak mengantar Alina pulang dengan mobil, namun Alina menolak dengan lembut.

“Sudah ada yang menunggu,” katanya dan benar saja.

Arkanza berdiri di seberang restoran, basah oleh hujan gerimis yang turun lagi. Ia menunggu seperti penjaga setia.

Dirga melihat Arkanza. Tatapannya menajam. Api kecil yang tadinya tersimpan kini menyala sedikit lebih terang.

“Dia selalu menjemputmu?” tanya Dirga.

“Ya,” jawab Alina tenang. “Aku mempercayainya.”

Jawaban itu menusuk Dirga lebih dalam daripada pisau.

Namun, ia tersenyum, sebuah senyuman yang menutupi rasa cukup tajam untuk membuat dada sesak.

“Oh, baik kalau begitu.”

Alina menundukkan kepala pada Dirga. “Terima kasih untuk makan malamnya.”

Dirga memegang tangan Alina sebentar, sentuhan singkat, tapi penuh makna. “Aku ingin lakukan lebih banyak untukmu, Lina.”

Alina hanya menjawab, “Kita lihat saja nanti.”

Ia melangkah pergi menuju Arkanza yang menantikannya. Dirga memperhatikan punggung Alina sampai gadis itu naik ke motor.

Arkanza memberikan helm. Alina mengenakannya dan tanpa sepatah kata pun, mereka pergi meninggalkan Dirga yang berdiri dengan hati yang dipenuhi cemburu dan ketakutan yang semakin dalam.


Di atas motor, Arkanza bertanya lirih, “Dia baik sama kamu?”

“Ya.”

“Dia menyentuh kamu?”

“Kadang.”

Arkanza terdiam lama.

“Aku takut kehilangan kamu, Lina.” Alina hanya menatap lurus ke depan, bibirnya melengkung tipis.

“Tidak ada yang kehilangan apa pun,” jawabnya.

Namun, dalam hatinya, ia tahu ada sesuatu yang sebentar lagi akan pecah dan Alina sudah menyiapkan diri untuk memanfaatkannya.

Karena dalam permainan seperti ini,

cemburu adalah bahan bakar yang sangat mudah terbakar dan Alina adalah satu-satunya yang memegang korek apinya.