CINTA TAK PERNAH BERSEMI DI BALI
Perjalanan menuju Bali terasa seperti panggung baru bagi Alina, panggung di mana ia harus memainkan peran kekasih yang penuh cinta kepada Dirga. Setiap sentuhan, setiap genggaman tangan, setiap senyum lembut, semuanya harus tampil meyakinkan. Dirga tak tahu bahwa ia sedang memeluk seseorang yang tidak pernah benar-benar memeluknya kembali.
Pesawat mendarat dengan mulus dan Dirga langsung menggenggam tangan Alina sambil tersenyum seperti pria paling beruntung di dunia. Alina membalas senyum itu, cukup hangat untuk menenangkan Dirga. Namun, matanya tetap dingin.
Mereka menginap di sebuah resort mewah. Pemandangan laut biru membentang, angin asin berhembus lembut dan aroma kelapa panggang menyelimuti udara. Semua terlihat romantis, setidaknya bagi orang normal.
Bagi Alina?
Ini hanya lokasi berikutnya untuk memanipulasi.
Siang harinya, Dirga mengajak Alina ke pantai pribadi. Dirga terlihat begitu antusias, seperti remaja jatuh cinta pertama kali. Sesekali ia menarik tangan Alina, mengajak berlari kecil, lalu tertawa.
Di salah satu momen, ketika matahari mulai turun, Dirga memegang kedua pipi Alina, menatapnya seolah dunia berhenti. Ia kemudian mencium bibir Alina perlahan, lembut, penuh perasaan.
Alina merespons dengan tepat. Tidak berlebihan. Tidak dingin. Cukup hangat. Cukup meyakinkan.
Saat bibir Dirga menyentuhnya, otaknya justru sibuk menghitung.
Mengatur.
Merencanakan.
Ciumannya bagus, ini akan mempermudah proses menjeratnya lebih jauh, pikir Alina dalam hati. Bahkan ketika tangan Dirga memeluk pinggangnya, Alina hanya memikirkan berapa persen aset terakhir yang mungkin bisa dia ambil nanti setelah pernikahan.
Ketika Dirga menjauh, ia tersenyum seperti pria paling bahagia di muka bumi.
“Kamu selalu berhasil membuatku merasa sempurna,” ujarnya pelan.
Alina membalas dengan suara lembut, “Karena kamu memang pria yang baik, Dirga.”
Kalimat sederhana, tapi tepat. Dirga hampir tidak bisa menahan binar bahagianya.
Menjelang makan siang, mereka pergi ke sebuah restoran tepi pantai yang terkenal dengan makanan lautnya. Dekorasinya indah, atap jerami modern, furnitur kayu mahoni dan suara ombak sebagai musik latar.
Ketika mereka memasuki restoran, Alina merasakan sesuatu. Seseorang memperhatikannya. Tatapannya tajam, penuh kebencian dan tidak asing.
Rania.
Wanita itu sedang duduk sendirian sambil memainkan sedotan minumannya. Bibirnya langsung melengkung miring ketika melihat Alina berjalan masuk bersama Dirga yang menempel padanya seperti pasangan baru jatuh cinta.
Tatapan Rania berubah menjadi sinis. Mata itu menyipit, penuh rasa tidak percaya bahwa Alina bisa berada di tempat mahal seperti ini.
Dirga kemudian berkata, “Sayang, kamu duduk dulu ya. Aku ke toilet sebentar.”
Alina mengangguk, menunggu. Begitu Dirga melangkah pergi, Rania bergerak cepat menghampirinya.
“Wah, lihat siapa yang nongol,” cibir Rania sambil menyilangkan tangan. “Alina si pemburu dompet.”
Alina duduk tenang. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun.
“Kamu sendirian, Ran?” tanya Alina pelan, seolah benar-benar peduli.
“Oh, jangan sok manis!” Rania mendesis. “Aku tahu kamu, Alina. Kamu pasti lagi nyari mangsa baru, kan? Cowok kaya tolol yang bisa kamu peras.”
Alina tersenyum tipis. “Begitu ya, pendapatmu?”
Rania semakin menjadi. “Muka polosmu itu cuma kamuflase. Dasar miskin ambisius. Jangan kira aku lupa apa yang pernah kamu lakukan.”
Alina memiringkan kepala.
“Kamu masih sakit hati setelah semuanya?”
“Jelas!” Rania mencondongkan tubuh. “Terus terang, aku jijik melihat kamu duduk di sini. Restoran kayak gini bukan tempat orang kaya-kayaan mendadak yang cuma numpang foto.”
Alina hanya menatapnya. Tenang. Membiarkan Rania meluapkan emosi.
Rania melanjutkan, “Lihat penampilanmu! Baju bagus, tas mahal, jam tangan itu, pasti hasil nguras cowok. Dasar perempuan licik!”
“Siapa perempuan licik?!”
Rania terdiam.
Dirga muncul dari belakangnya. Wajahnya datar… tapi tajam.
Sangat tajam.
Rania perlahan berbalik dan nyaris jatuh saking terkejutnya.
“Ka-kamu?” suaranya bergetar.
Dirga merangkul bahu Alina dengan lembut. “Kamu barusan bilang apa ke tunanganku?”
Rania memucat.
“Tu, tunangan?”
Dirga tersenyum dingin. “Iya. Alina calon istriku.”
Rania menelan ludah keras-keras, wajahnya berubah merah lalu putih dalam sekejap. “A-aku, aku tidak tahu.”
“Jelas kamu tidak tahu,” jawab Dirga tajam. “Karena kalau kamu tahu, kamu pasti akan diam dan mulai menghargai orang.”
Rania seperti orang yang ditampar keras. Napasnya tersengal.
Alina mengamati semuanya tanpa emosi. Tanpa rasa puas berlebihan. Namun, di dalam pikirannya, satu kalimat kecil mengalir. Bagus. Hina diriku lagi, Ran. Semakin kamu membebaniku, semakin kuat alasan bagiku untuk menghancurkan hidupmu.
Dirga kemudian menggenggam tangan Alina. “Ayo sayang, kita duduk. Jangan pedulikan orang yang tidak punya sopan santun.”
Alina mengangguk. Rania hanya bisa berdiri terpaku, wajahnya hancur oleh rasa malu.
Ketika mereka sudah duduk di meja, Dirga memandang Alina penuh iba.
“Aku minta maaf, ya. Kamu nggak layak dapat perlakuan kayak tadi.”
Alina menunduk pelan. “Tidak apa-apa. Aku sudah biasa.”
Dirga menggenggam tangannya lebih erat. “Tidak. Tidak boleh terbiasa diperlakukan buruk. Kamu calon istriku dan aku janji, siapa pun yang menyakitimu, akan aku singkirkan.”
Alina menatap Dirga. Ekspresi lembut. Hening. Penuh kepura-puraan.
Dalam kepalanya. Kalau kau semudah ini tersulut emosi, prosesku akan berjalan jauh lebih cepat dari dugaan.
Setelah makan, Alina meminta diri untuk pergi ke toilet. Dirga mengangguk, memanggil pelayan untuk memesan dessert.
Namun, ketika Alina kembali melewati area lorong, seseorang menarik lengannya ke sisi tembok.
Rania.
“Kita belum selesai,” desisnya.
Alina menatapnya tanpa kaget. “Kamu butuh sesuatu?”
Rania mencengkeram bahunya. “Kamu pikir kamu bisa mempermalukan aku?”
“Bukan aku yang melakukannya,” ujar Alina datar. “Kamu mempermalukan dirimu sendiri.”
Rania menggertakkan gigi. “Aku tahu kamu nggak cinta sama Dirga. Aku tahu kamu cuma ngincer hartanya.”
Alina berjalan pelan melewati Rania, berhenti tepat di sampingnya. Dengan suara tenang, nyaris seperti bisikan, ia berkata, "kamu tahu banyak, tapi tidak cukup untuk melindungimu.”
Rania merinding. “A-alina, apa maksudmu?”
“Tetaplah hidup tenang, Rania,” ucap Alina sambil melangkah. “Itu pesan terbaikku.”
Nada itu bukan ancaman. Bukan kemarahan. Justru lebih mengerikan karena terdengar seperti kepastian.
Rania terpaku. Jantungnya berdetak cepat. Tubuhnya dingin. Ketika Alina kembali ke meja, Dirga berdiri dan menarik kursinya dengan hangat.
“Aku pesan kue cokelat favoritmu,” katanya.
Alina hanya tersenyum kecil. “Terima kasih.”
Namun, di dalam pikirannya, satu pintu kembali terbuka, pintu yang pernah ia tutup sejak kecil.
Pintu dendam.
Pintu kehancuran.
Pintu menuju permainan berikutnya.
Malam itu, di balkon kamar resort mewah, Dirga memeluk Alina dari belakang.
“Semua ini, aku lakukan karena aku mencintaimu,” ucap Dirga.
Alina mengangguk pelan. “Terima kasih.”
“Kalau kamu butuh apa pun, apa pun, katakan saja. Aku akan memberikannya.”
Alina membalik tubuh, menatap mata Dirga. Ia mengusap pipi pria itu lembut.
“Dan kalau aku minta seseorang untuk hilang dari hidupku?”
Dirga menelan ludah. “Seseorang?”
Alina menatapnya lebih dalam. Tenang, gelap, penuh makna tersembunyi.
“Seseorang yang membenciku. Menghinaku. Mengancamku.”
Dirga mengepalkan tangan. “Siapa?”
Alina tersenyum samar. Hanya itu. Tidak ada nama, tapi Dirga mengerti.
“Kalau orang itu mengusik hidupmu,” Dirga berbisik, “maka aku akan mengusik hidupnya juga.”
Alina tersenyum manis.
Laki-laki semacam ini, benar-benar mudah diarahkan.
Keesokan harinya mereka berjalan menyusuri daerah Seminyak. Namun, selama perjalanan, Alina beberapa kali menoleh ke belakang, memastikan Rania tidak mengikuti. Bukan karena takut.
Karena ia ingin melihat seberapa jauh trauma dan kepanikan Rania berkembang.
Ia tahu betul, bagaimana Rania sekarang hidup dalam ketakutan baru. Ketakutan yang Alina ciptakan hanya dengan satu kalimat samar dan permainan ini baru saja dimulai.
Sore hari, ketika mereka duduk di tepi pantai sambil menikmati sunset, Dirga menatap Alina dengan intens.
“Kalau kita sudah menikah nanti, kamu mau tinggal di Jakarta atau mau pindah ke luar negeri?”
Alina pura-pura terdiam. “Kita lihat nanti, ya.”
Dirga mengangguk. “Yang penting kamu bahagia.”
Alina tersenyum kecil. “Kamu terlalu baik.”
“Karena aku ingin menjadi pria terbaik untukmu.”
Alina menatap laut dan pria terbaik adalah pria yang bisa aku manfaatkan sampai titik darah penghabisan lalu aku tinggalkan.
Pada malam terakhir liburan, ketika Dirga tertidur, Alina duduk di balkon sendirian. Angin bertiup pelan. Ombak berdebur lembut. Namun di dalam kepalanya?
Gelap.
Penuh rencana.
Penuh cabang-cabang strategi.
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka beberapa catatan rahasia yang berisi. Aset Dirga yang belum ia kuasai. Daftar properti Dirga. Akun bisnis yang bisa ia akses. Nama-nama orang yang dekat dengan Dirga. Serta beberapa catatan kecil tentang Rania.
Alina tersenyum tipis.
“Semua akan selesai pada waktunya.”
Dan di kejauhan, seolah semesta mendengar, angin berembus lebih kencang.
Malam itu, permainan Alina semakin bergerak ke tahap berikutnya, tahap yang jauh lebih berbahaya, jauh lebih licin, dan jauh lebih mematikan.
Dengan Dirga di sampingnya. Dengan Arkanza yang perlahan tenggelam dalam cinta obsesifnya. Dengan Rania yang mulai runtuh.
Alina berdiri di atas panggung yang dia bangun sendiri.
Bukan sebagai korban. Bukan sebagai gadis yang hilang arah, tetapi sebagai sutradara kegelapan. Yang mengendalikan semuanya dan yang tidak akan berhenti sampai semua yang pernah mencederai masa lalunya lunas.