Drama

Sosiopat - Alina Tertangkap Pamannya - Bab 18

Penulis Ichan
04 December 2025

Alina Tertangkap Pamannya

Hujan turun tipis saat mobil yang dikendarai Alina berhenti di sebuah jalan kecil di pinggiran Jakarta. Lampu-lampu jalan redup, sebagian mati, membuat suasana tampak seperti kawasan yang sudah lama dilupakan kota. Alina mematikan mesin mobil, menatap gedung tua dua lantai yang tampak sepi, catnya mengelupas, jendelanya pecah.

“Di sini,” bisiknya pelan.

Ia menatap pesan yang baru saja ia terima dari salah satu orang bayaran yang ia tugaskan untuk mencari keberadaan pamannya. Foto yang dikirimkan menunjukkan pria paruh baya dengan mata tajam dan ekspresi licik, wajah yang sudah membayanginya sejak kecil. Wajah pria yang menusukkan pisau ke dada ibunya. Wajah yang membuat mimpi Alina selalu basah oleh amarah.

“Paman,” gumamnya. “Kali ini aku menemukanmu.”

Namun, ada sesuatu yang tak beres. Sejak beberapa hari terakhir, nalurinya selalu berbisik agar ia lebih hati-hati. Ia merasa seperti sedang diawasi, seperti langkahnya terus diikuti bayangan.

Namun, Alina tetap melangkah keluar dari mobil. Baginya, rasa takut hanya emosi kecil yang tak pernah berhasil menghentikannya.


Bangunan itu tampak kosong dari luar. Sunyi.

Terlalu sunyi.

Alina melangkah masuk lewat pintu samping. Bau lembap menyengat hidungnya. Lantai berdebu. Namun, ada beberapa jejak kaki yang masih terlihat baru. Ia mengikuti jejak itu sambil mengeluarkan pisau lipat kecil yang biasa ia simpan di balik tas kerjanya.

Lorong sempit mengarahkan ke sebuah ruangan besar. Lampu neon menggantung redup, berkedip beberapa kali. Alina mendekat. Namun, sebelum ia sempat melakukan apa pun, pintu di belakangnya tiba-tiba ditutup keras.

BRUAK!

Alina refleks menoleh, tapi terlambat.

Tiga pria bertopeng keluar dari balik bayangan.

“Selamat datang, Alina,” suara berat seorang pria terdengar.

Lalu dari dalam ruangan, seseorang muncul tidak mengenakan topeng.

Paman.

Wajah itu. Senyum itu. Tatapan gelap itu.

“Kau tumbuh besar,” katanya sambil mendekat. “Dan ternyata lebih bodoh dari ibumu.”

Alina tidak bereaksi, tidak gentar. Matanya hanya menatap lurus seperti biasa, dingin, berbahaya.

“Kau pikir bisa menyentuhku?” tanya Alina dengan tenang. “Kau pikir aku tidak tahu siapa kau sebenarnya?”

Paman hanya tertawa pendek.

“Sayangnya, kau datang sendirian.”

Alina baru sempat melangkah mundur satu langkah ketika salah satu anak buah pamannya menyerangnya dari samping.

Brakk!

Pukulan keras menghantam pelipis Alina. Dunia berputar. Ia jatuh berlutut. Darah mengalir dari sisi kepalanya, menetes ke lantai.

Pria lain memegang kedua lengannya dari belakang. Lalu paman mendekat, mencengkeram rambut Alina, memaksa wajahnya menatapnya.

“Kau seperti ibumu,” katanya dingin. “Menyebalkan dan harus dibungkam.”

Alina tersenyum, senyuman yang membuat siapa pun merasa sedang menatap seseorang yang tidak normal.

“Kau pengecut,” bisik Alina. “Dulu, sekarang dan selamanya.”

Paman berdecak dan menampar wajah Alina keras. Darah muncrat dari bibirnya, tapi mata Alina tetap sama, tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun.

“Kubunuh kau, anak sialan,” dengus pamannya.

Ia mengeluarkan pisau dari balik bajunya. Pisau yang sama. Pisau yang ia gunakan membunuh ibu Alina bertahun-tahun lalu.

Alina melihatnya dan amarahnya menyala, meski tubuhnya mulai lunglai.

Hampir bersamaan, di luar gedung. Arkanza turun dari motor tanpa suara, matanya tajam mengamati bangunan tua. Ia sudah mengikuti Alina sejak ia keluar kantor sore tadi. Ada sesuatu yang berbeda, wajah Alina tampak terlalu tenang, itu tanda bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.

Ketika melihat mobil Alina berhenti di depan bangunan asing, insting Arkanza langsung menyuruhnya mengikutinya.

Ia tidak menelepon Alina. Ia tidak memanggil polisi. Ia hanya menarik napas panjang lalu masuk ke gedung itu. Hatinya berdegup tidak karuan.

Suara pria berbicara keras di lantai dua mengetuk kegelisahan instingnya. Kemudian ia mendengar suara benda berat jatuh, diikuti suara benturan.

Itu cukup.

Arkanza berlari menaiki tangga.

Di dalam ruangan. Paman Alina mengangkat pisau, siap menusuk.

“Ini untuk ibumu,” katanya sinis. “Dan ini untuk memastikan kau tidak mengacau lagi.”

Ketika pisau melayang turun, Alina menunduk sedikit, berusaha menendang lutut pamannya. Namun, pria besar di belakangnya menahan lengannya begitu kuat hingga ia tidak bisa bergerak.

Paman itu tersenyum puas. Namun, sebelum pisau itu menyentuh kulit Alina.

BRUAKKK!!

Pintu ruangan jebol. Arkanza menerjang masuk seperti badai.

“LEPASKAN DIA!” Suara Arkanza menggelegar dan tajam.

Semua orang menoleh.

Paman Alina menyipitkan mata. “Siapa ini? Anak ingusan?”

Arkanza tidak menjawab. Ia langsung menendang pria pertama, melumpuhkannya seketika. Pria kedua mencoba menyerangnya dari belakang, namun Arkanza memutar tubuh dan menghantam rahangnya.

Dua orang tumbang. Arkanza menyerbu pria ketiga yang memegang Alina.

Dengan satu hentakan keras, Arkanza menarik Alina dari cengkeraman pria itu lalu memukulnya hingga pria itu terkapar.

Napas Arkanza terengah, dadanya naik turun. Ia segera meraih wajah Alina yang penuh darah.

“Alina, kau baik-baik saja?” suaranya bergetar.

Alina tidak menjawab.

Ia hanya menatap Arkanza dengan mata gelap itu, mata yang penuh adrenalin dan nyaris tanpa rasa.

“Aku bilang jangan ikut campur,” katanya lirih.

Arkanza hampir marah karena respon itu, tetapi ia menahan diri.

“Kau hampir dibunuh,” balas Arkanza dingin. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Paman Alina, yang sempat mundur beberapa langkah, kini tertawa keras.

“Ternyata kau tidak sendirian, Keponakanku,” katanya seraya meludah ke lantai. “Ingat ini. Aku tidak selesai denganmu.”

Kemudian dengan sigap, ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya, sebuah ranat asap kecil dan melemparkannya ke lantai.

Asap hitam mengepul.

Arkanza refleks menutup tubuh Alina, memeluknya erat, menahan napas.

Ketika asap menghilang, paman Alina sudah hilang.


Beberapa menit kemudian, Arkanza membawa Alina keluar dari gedung, melewati hujan tipis, menuju motornya. Wajahnya tegang, matanya penuh kecemasan.

Alina masih berjalan sendiri, tidak limbung, tidak menunjukkan sakit meski darah masih menetes dari sudut bibir dan pelipisnya.

Sesampainya di luar, Arkanza memeluk Alina kuat-kuat.

“Aku hampir kehilanganmu,” ucapnya lirih. “Tolong jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi tanpa memberitahuku.”

Alina tidak memeluk balik. Ia hanya berdiri diam.

Lalu ia menatap Arkanza dengan tatapan paling datar, tatapan yang mampu membuat orang lain merinding.

“Aku tidak butuh dilindungi,” katanya.

Arkanza menegang. “Alina.”

“Tadi,” lanjut Alina dingin, “aku hampir mendapatkannya.”

Arkanza menahan amarahnya yang naik.

“Kau hampir mati,” katanya penuh tekanan. “Dan kau masih memikirkan balas dendam?”

Alina mendongak, menatap mata Arkanza.

“Balas dendam adalah satu-satunya alasan aku hidup.”

Kalimat itu seketika menampar hati Arkanza.

Ia ingin marah. Ia ingin meneriaki Alina. Namun, ia justru kembali memeluknya, meski Alina tidak membalas sedikit pun.


Beberapa jam kemudian, di rumah Alina. Arkanza membersihkan luka di pelipis Alina dengan perlahan. Tangan besarnya gemetar saat melihat memar ungu di lengan dan bahu Alina.

“Ini semua karena kau terlalu keras kepala,” katanya lirih.

Alina hanya duduk diam di sofa, kaki disilangkan, tanpa menunjukkan rasa sakit sedikit pun meski alkohol menyentuh lukanya.

Arkanza akhirnya duduk di sampingnya, menatapnya lama.

“Kau membuatku takut, Lin,” ucapnya pelan. “Aku tidak peduli kau manipulatif, dingin atau apa pun, tapi aku tidak akan sanggup kalau kau mati.”

Alina melirik sedikit, ekspresi tak terbaca.

“Kenapa?” tanya Alina datar.

Arkanza menatapnya lama, lalu menjawab. “Karena aku mencintaimu.”

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, Alina berhenti. Gerakannya membeku. Namun, hanya dua detik.

Kemudian ia berdiri, meninggalkan Arkanza tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Arkanza menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia tahu satu hal dengan jelas. Dirinya sudah terlalu jauh tenggelam ke dalam kegelapan Alina dan ia tidak lagi tahu bagaimana cara keluar.


Sementara itu, di kamar mandi, Alina menatap pantulan dirinya di kaca.

Darah mengering di pelipis, sudut bibir pecah sedikit. Wajah cantiknya terlihat buas, seolah baru keluar dari dunia lain.

Dia menarik napas. Lalu tersenyum tipis.

“Paman,” bisiknya dingin.

“Kau kabur lagi.” Tatapannya berubah menjadi sangat dingin, sangat gelap.

“Kali ini aku akan datang bukan hanya untuk membunuhmu.”

Ia menyentuh luka di bibirnya dan tersenyum lebih lebar.

“Aku akan menghancurkan seluruh hidupmu, seperti kau menghancurkan hidupku.”