Topeng Yang Tak Mudah Dilepas
Malam itu Jakarta diguyur hujan tanpa ampun, seperti kota yang sedang mengutuk seseorang dan seolah hujan itu jatuh tepat di atas kepala Dirga.
Sudah hampir dua minggu sejak kejadian di Bali, dua minggu sejak ia melihat Alina menangis ketakutan karena hampir dibunuh Rania atau setidaknya, itu yang Alina ceritakan padanya. Dua minggu juga sejak Dirga merasa ada sesuatu yang tak beres. Terlalu banyak kebetulan. Terlalu banyak hal yang tak masuk akal dan malam itu, kecurigaan itu sudah berubah menjadi obsesi.
Dirga berdiri di ruang kerjanya, lampu temaram, kemeja basah oleh sisa hujan, matanya merah karena kurang tidur. Di meja kerjanya, bertumpuk foto, berkas dan screenshoot rekaman CCTV hotel tempat mereka menginap di Bali.
Ia menatap satu foto.
Foto Alina yang sedang tertidur pulas di ranjang hotel yang diambil dari CCTV lorong saat Rania memasuki kamar.
"Aneh," gumamnya rendah, nyaris seperti desisan ular.
Ada jeda waktu.
Setelah Rania keluar dari kamar, Alina memencet berbagai tombol di telepon kamar termasuk yang mengarah ke pihak hotel.
Waktu yang cukup lama. Terlalu lama bagi seseorang yang baru saja dicekik dan hampir terbunuh.
“Kalau dia benar-benar panik, kenapa dia sempat melihat kamera?” Dirga menggertakkan gigi.
Ada titik-titik kecil yang mulai terhubung dan titik itu membentuk garis yang mengarah pada satu hal. Alina memanipulasinya.
Namun, setiap kali Dirga mencoba menolak pikiran itu, wajah Alina selalu datang menjadilembut, rapuh, penuh luka. Wajah yang ia sayangi. Wajah yang selalu membuatnya ingin melindungi, bukan mencurigai.
Dirga memukul meja keras-keras.
“Kenapa aku bahkan meragukanmu, Lin? Kenapa?” bisiknya putus asa, tetapi insting yang sudah diasah bertahun-tahun sebagai pengusaha, pemimpin, dan lelaki yang selalu memperhitungkan segala risiko, kini berteriak dalam kepalanya. Ada yang dia sembunyikan dan Dirga tahu, sebuah kebenaran hanya bisa ditemukan kalau seseorang mau jatuh ke dalam gelap terlebih dulu.
Sementara itu. Alina sedang berada di kamarnya, duduk menyandar pada dinding sambil memainkan silet kecil yang ia sembunyikan di bawah bantal sejak kepulangannya dari Bali. Cahaya lampu malam membuat tepi silet itu memantulkan kilauan dingin.
Bibirnya tersenyum kecil, senyuman yang akan membuat siapa pun merinding.
“Aku bisa merasakannya,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Dia mulai curiga.”
Ia menyeringai.
“Bagus, semakin dia curiga, semakin mudah aku membuatnya merasa bersalah.”
Di meja samping tempat tidur, ada secarik kertas berisi laporan dari orang kepercayaannya. Laporan tentang pamannya. Lokasi-lokasi yang ia kunjungi dan orang-orang yang menjadi kaki tangannya.
Alina meremas kertas itu dan mendekatkannya ke hidungnya seperti sedang menghirup aroma manis.
“Hanya masalah waktu,” gumamnya pelan. “Kau akan merasakan semuanya, Paman.”
Ketika ia bangkit untuk merapikan rambutnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka keras.
BRAK!
Dirga berdiri di sana dengan tatapan gelap.
Alina tertegun. “Dirga? Kamu?”
“Kita perlu bicara.” Nada suaranya datar, tapi mengancam.
Alina tahu itu. Ia bisa merasakannya. Tatapan Dirga bukan lagi tatapan seorang kekasih yang penuh cinta, melainkan seorang lelaki yang sedang memburu kebenaran.
Alina menyimpan silet di balik selimut secepat kilat. Lalu ia mengusap wajahnya, seolah baru terbangun dari tidur. Ia meraih selimut dan menariknya erat-erat ke dadanya, membuat dirinya terlihat rapuh.
“Kenapa kamu masuk tiba-tiba? Kamu menakutiku.”
Dirga tak menjawab. Ia berjalan pelan ke dalam, menutup pintu, dan duduk di kursi depan ranjang.
“Aku ingin kamu jujur, Lin.”
Alina menunduk. “Tentang apa?”
“Semua.” Suara Dirga merendah, berat, dan tak bisa ditawar.
Keheningan menggantung. Alina mengangkat wajahnya, mata berkaca-kaca.
“Dirga, apa kamu menuduh aku berbohong?”
Dirga menatapnya lama sekali. Tatapan penuh rasa sakit, bukan marah.
“Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di hotel waktu itu.”
Alina tersenyum tipis. Senyuman yang bisa diartikan dua hal, keterlukaan mendalam atau sebaliknya, ironis.
“Jadi kamu tidak percaya padaku?” bisiknya.
Dirga mengusap wajahnya frustasi. “Itu bukan tentang kepercayaan, Alina. Ini, ini tentang keamananmu. Aku perlu tahu segalanya.”
“Termasuk menyelidiki latar belakangku di belakangku?” Alina menatap langsung ke matanya.
Dirga membeku.
Alina tersenyum lebih lebar, tapi kali ini senyumnya sangat tipis dan menusuk.
“Aku tahu, Dirga. Kamu memata-mataiku.”
Dirga merasakan dadanya menegang. "Bagaimana kamu tahu?"
Alina mencondongkan tubuhnya ke depan, mata hitamnya memancarkan sesuatu yang mengerikan.
“Karena aku bisa membaca gerakanmu lebih baik dari siapa pun.”
Ada sesuatu yang dingin menyusup ke dalam tulang Dirga.
Flashback singkat. Dirga menyelidiki Alina.
Beberapa hari sebelumnya, Dirga mengunjungi seorang psikiater kenalan lamanya. Ia menanyakan tentang gejala trauma, kepribadian ganda dan kecenderungan manipulasi.
Psikiater itu mengatakan satu hal yang membuat Dirga tak bisa tidur.
"Orang dengan trauma masa kecil yang ekstrem sering kali mengembangkan kemampuan manipulatif sebagai mekanisme bertahan hidup. Mereka bisa tampil sangat lembut, rapuh dan jujur, tetapi sebenarnya mereka sedang mengendalikan narasi."
Kata-kata itu menghantam batin Dirga seperti palu besi dan kini, duduk di hadapan Alina, ia mulai merasakan kebenaran itu.
Dirga menarik napas panjang.
“Alina… aku hanya ingin melindungimu, tapi ada terlalu banyak hal yang tidak kamu ceritakan. Masa lalumu, keluargamu, kejadian di Bali semuanya penuh celah.”
Alina menatapnya lekat-lekat, pupilnya mengecil, bibirnya tak bergerak.
“Aku tidak punya kewajiban membuka masa laluku pada siapa pun.” Kalimat itu keluar dengan dingin.
Dirga memukul sandaran kursi, “tapi aku kekasihmu!”
Alina tersenyum sinis.
“Kekasih? Apa kamu yakin kita seperti kekasih normal, Dirga?”
Dirga terdiam.
Alina bangkit perlahan dengan tubuh yang tampak lemah. Namun, tatapannya justru menunduk pada Dirga seperti seorang predator yang mengukur mangsanya.
“Kamu ingin tahu kenapa aku tidak panik setelah kejadian itu?” Suara Alina pelan dan seram, seperti bisikan di tengah malam.
“Karena aku sudah hidup dalam neraka sejak kecil. Dicekik seseorang bukan pertama kalinya.” Nada suaranya datar.
“Dan tidak akan jadi yang terakhir.”
Dirga menegang.
Alina duduk tepat di sampingnya, kepalanya menoleh sedikit, napasnya menyentuh leher Dirga.
“Kamu tidak siap mendengar masa laluku.”
Ia tersenyum, senyuman yang seperti retakan pada wajah boneka porselen.
“Tapi kalau kamu terus menyelidikiku, kamu akan hancur sendiri.”
Dirga mengusap wajah, gemetar. "Kenapa kamu mengatakannya seperti ancaman?”
“Karena itu bukan ancaman,” jawab Alina pelan. “Itu takdir.”
Namun, Dirga adalah lelaki yang keras kepala
Setelah Alina kembali tidur atau berpura-pura tidur. Dirga masuk ke mobilnya dan duduk di sana, menatap hujan yang deras.
Pikirannya berkecamuk. Setiap kata Alina tadi terasa seperti racun yang merayap perlahan, tetapi racun yang membuatnya justru semakin ingin tahu.
Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
“Cari semua data tentang keluarga Alina,” ucapnya tegas.
Namun, suara di seberang sana justru terdengar panik.
“Pak, saya sudah coba, tapi databasenya penuh dengan anomali. Seperti ada yang sengaja menghapus atau mengubah data.”
Dirga terdiam.
“Bahkan data sekolahnya.”
Sambungan terputus tiba-tiba.
“Hallo?” Dirga memanggil.
Tak ada jawaban. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri.
Sementara itu Arkanza berdiri di rooftop gedung apartemen Alina, menatap kota Jakarta yang basah dan kacau.
Ia memegang pisau lipat kecil, mengamati pantulan hujan di bilahnya.
“Aku memperingatkanmu, Alina,” gumamnya pelan. Suara yang dalam dan dingin.
“Dirga mulai curiga dan kecurigaan orang yang mencintai akan jauh lebih berbahaya.”
Ia memejamkan mata.
“Jika kau membuatnya terluka, aku tidak akan diam.”
Ketika Dirga sudah pergi, Alina membuka matanya pelan. Ia duduk di tepi ranjang, memegangi silet yang ia sembunyikan sebelumnya.
Sekilas wajahnya tampak sedih, sangat sedih, seperti anak kecil yang ditinggalkan. Namun, detik berikutnya, ekspresinya berubah menjadi kosong.
Kosong seperti ruangan gelap tanpa jendela.
“Dirga… dirga… dirga,” ia menggumamkan nama kekasihnya berkali-kali, seolah sedang menyusun puzzle di kepalanya.
“Kenapa kamu tidak hanya percaya padaku?”
Ia menekan silet ke pergelangan tangannya. Tidak cukup keras untuk menyayat, hanya sebatas menoreh garis merah tipis.
“Aku sudah memberimu semua yang kamu inginkan.” Nadanya sedih.
Lalu ia tertawa pelan.
“Kecuali kebenaran.” Ia menatap pantulan dirinya di jendela.
Pantulan seorang perempuan dengan mata gelap dan ekspresi yang tak bisa ditebak.
“Aku tidak bisa membiarkanmu menemukan semuanya terlalu cepat.”
Ia tersenyum tipis.
“Permainan baru dimulai dan aku tidak suka pemain yang terlalu pintar.”
Di mobilnya, Dirga meremas rambutnya.
“Apa yang kau sembunyikan, Lin? Siapa kau sebenarnya?”
Ia melihat pantulannya sendiri di kaca mobil. Matanya terlihat lelah, merah, kacau. Ia memukul setir keras.
“Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa membiarkanmu menghancurkanku.”
Ia menyalakan mesin mobil dan malam itu, untuk pertama kalinya. Dirga tidak ingin pulang pada Alina.
Dini hari tiba.
Jakarta masih hujan.
Tiga manusia dengan rahasia gelap bergerak dalam dunia mereka masing-masing.
Dirga mencurigai wanita yang ia cintai. Alina menyembunyikan masa lalu yang lebih gelap dari malam itu. Arkanza mengawasi keduanya dengan intensitas seorang pemburu dan permainan psikologis itu baru saja dimulai tanpa ada satu pun dari mereka yang benar-benar tahu siapa yang akan bertahan paling akhir.