Drama

Sosiopat - Bahaya Yang Tak Akan Berhenti Mengintai - Bab 20

Penulis Ichan
05 December 2025

Bahaya Tak Akan Berhenti Mengintai

Hujan belum berhenti sejak malam kemarin. Langit Jakarta masih kelabu, seolah ikut mengawasi setiap jejak langkah seseorang yang berjalan perlahan di balik rintik hujan itu.

Seseorang itu adalah paman Alina.

Tubuhnya kurus, rambut acak-acakan, tatapannya seperti pisau berkarat tajam dan penuh dendam. Ia berjalan di trotoar dengan tangan dimasukkan ke dalam jaket longgar yang sudah lusuh. Di balik kantong jaket itu, tersembunyi sebilah pisau kecil dengan gagang kayu yang sudah lama menunggu menggunakan darah orang yang sangat ingin ia bunuh.

Alina.

“Anak itu tidak seharusnya masih hidup,” gumamnya pelan, bibirnya terangkat miring. “Dia harusnya ikut mati bersama ibunya.”

Tatapannya mengikuti Alina dari kejauhan.

Perempuan itu turun dari mobil kantor, berjalan menuju pintu apartemen dengan langkah santai, seolah dunia tidak sedang menyimpan seorang pembunuh yang membuntutinya.

Paman Alina menyipitkan mata, mengikuti dari balik pilar beton.

“Sekarang kau bahkan hidup nyaman dan kau pikir aku tidak tahu?” bisiknya. “Kau mencuri hidup yang harusnya milik orang lain. Hidup itu akan kuambil kembali.”

Ia tersenyum. Senyum yang tidak manusiawi dan langkah kaki yang seharusnya menguntit lebih dekat, tertahan ketika seseorang berdiri tepat di belakangnya, tanpa ia sadari.

Arkanza.

Arkanza berdiri tegap, mengenakan jaket hitam, wajahnya tanpa ekspresi. Namun, matanya penuh bahaya. Tatapannya menusuk seperti laras pistol.

Suara Arkanza rendah dan datar.

“Kau sudah cukup lama mengikutinya.”

Paman Alina terdiam, lalu menoleh pelan.

“Ah,” ia terkikik kecil, “kau orang itu. Penjaga kecil yang selalu menempel pada anak itu.”

Arkanza tidak bereaksi. Ia memegang sesuatu dari balik jaketnya, pisau lipat kecil, tapi tajam.

“Kau tidak akan bisa menyentuh Alina.”

Paman Alina tertawa lebih keras.

“Tentu saja aku akan menyentuhnya. Aku akan menyayat tenggorokannya. Seperti.”

Belum selesai kalimatnya, Arkanza menendang lutut paman Alina keras-keras.

BUGHH!

Tubuh paman itu terhuyung. Namun, tidak jatuh. Ia justru menarik pisau dari sakunya dan menyerang secara tiba-tiba.

Arkanza sudah siap.

Kedua lelaki itu segera terlibat dalam pergulatan brutal, tanpa suara, tanpa belas kasihan. Pisau beradu dengan pisau. Nafas terengah, gerakan cepat dan mematikan.

Arkanza menangkis satu tebasan, lalu membalas dengan hantaman siku ke rahang paman Alina. Darah memercik. Namun, paman Alina justru tersenyum dengan gigi berdarah.

“Kau cepat,” geramnya, “tapi kau tidak tahu apa pun tentang masa lalu anak itu.

Arkanza semakin sengit.

“Aku tahu cukup untuk membuatmu tidak layak hidup.”

Paman Alina menyerang ke arah perut Arkanza, tebasan cepat. Namun, Arkanza menahan dengan lengan kiri. Pisau itu menembus kulitnya. Darah mengalir.

Arkanza menahan rasa sakit dan memukul pelipis paman Alina keras-keras.

PRANGG!

Keduanya jatuh berguling di tanah basah. Hujan semakin deras. Mereka saling menghantam, saling mencoba menusuk.

Namun, pada detik yang salah, Arkanza terpeleset sedikit. Cukup untuk membuat pisau paman Alina menancap di bahunya.

“AARGH!” Arkanza menggeram, kesakitan, tapi masih memegang tangan paman Alina.

Paman Alina tertawa liar melihat darah mengalir.

“Kau pikir kau bisa menghentikanku? Bahkan ibunya tidak bisa menghentikanku.”

Ia mendekat, suaranya seperti bisikan setan.

“Dan Alina akan mati dengan cara yang lebih lambat.”

Arkanza menatapnya dengan amarah murni. Dia menarik pisau kecil dari pinggangnya dan menghantam ke arah perut paman Alina. Bukan menusuk, tapi menahan gerakannya.

Keduanya mendorong satu sama lain.

Nafas mereka kian pendek. Hujan menutupi seluruh tubuh. Darah bercampur tanah dan air.

Hingga akhirnya, suara sirene mobil patroli terdengar dari kejauhan. Lampu merah kebiruan memantul dari genangan air.

Paman Alina tersenyum. Sebuah senyuman mengerikan.

“Sepertinya keberuntungan sedang memihakku hari ini.”

Dengan kecepatan tak terduga, paman Alina mendorong tubuh Arkanza keras-keras dan melompat ke sisi gelap gang, menghilang di balik lorong sempit.

Arkanza mencoba bangkit, tapi tubuhnya tak kuat. Ada tiga luka, satu sayatan panjang di lengan, satu tusukan di bahu dan satu hantaman di pelipis. Namun, bahkan dalam kondisi itu ia tetap berusaha mengejar.

“Kembalilah kau baj.” Tubuhnya akhirnya menyerah.

Ia jatuh bersandar pada dinding gang, tubuh gemetar karena luka dan darah yang terus keluar.


Beberapa jam kemudian.

Alina tiba di rumahnya, setelah seharian bekerja, tapi langkahnya terhenti ketika melihat pintu rumah terbuka sedikit.

Jantungnya berdetak cepat.

Ia masuk perlahan dan menemukan seseorang duduk di lantai ruang tengah.

Arkanza.

Penuh darah. Wajah lebam, bibir sobek, pakaian basah dan koyak. Luka di bahunya masih berdarah.

“Arkanza?” Alina berjalan cepat dan langsung berlutut di depannya, menahan tubuh pria itu sebelum jatuh ke samping.

“Apa yang terjadi padamu?”

Arkanza mencoba tersenyum, tapi darah mengalir dari sudut bibirnya.

“Bukan apa-apa, aku hanya kebetulan bertemu seseorang.”

“Jangan bercanda!” Alina memegang wajahnya, memaksa pria itu menatapnya. “Kau ditusuk! Kau terluka parah!”

Arkanza menutup mata sebentar. Suara napasnya berat.

“Aku menemukan pamanmu.”

Mata Alina membesar. Darahnya seperti beku.

“Di mana dia?”

“Dia berhasil kabur.”

Arkanza tersenyum getir. “Dia cukup licin.”

Alina mengusap wajahnya sekali, lalu berdiri. Ekspresinya berubah total.

Tidak lagi cemas.

Tidak lagi panik, tapi marah, sebuah amarah dingin yang seperti petir tanpa suara.

“Kau seharusnya memberitahuku,” katanya perlahan. “Orang itu adalah tugasku. Bukan tugasmu.”

Arkanza menatapnya, kabur tapi penuh keteguhan. "Aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya sendiri.”

Alina menggenggam jarinya hingga memutih.

“Kau tahu aku menunggunya. Aku menunggu saat untuk menghabisinya dengan tanganku sendiri.”

Arkanza menggeleng lemah. "Aku tidak peduli apa yang kau rencanakan, tapi bagiku, melindungimu adalah hal pertama.”

Alina menatap pria itu. Tatapannya bergetar campuran frustrasi, marah dan sesuatu yang jauh lebih gelap.

“Dia bukan sekadar musuh bagiku.” suara Alina bergetar, bukan karena sedih, tapi karena membara.

“Dia membunuh ibuku. Dia membuatku hidup seperti sampah selama bertahun-tahun. Dia membuatku menjadi seperti ini.”

Arkanza menghela napas pelan.

“Aku tahu.”

Alina menunduk, menatap luka penuh darah di tubuh Arkanza.

“Dan lihat dirimu sekarang. Luka-luka ini harusnya milikku. Bukan milikmu.”

Arkanza mencoba duduk lebih tegak.

“Kalau itu yang harus terjadi untuk membuatmu tetap hidup, aku tidak menyesal.”

Alina menatapnya dalam-dalam.

Ada banyak orang yang menyayanginya dengan sungguh-sungguh dalam hidup ini, ibunya dulu, dan kini Arkanza. Keduanya selalu terluka karena dirinya. Untuk pertama kalinya sejak lama, mata Alina berkaca-kaca.

“Kau seharusnya tidak mengambil pertarungan itu untukku.”

Arkanza tersenyum lemah. "Seseorang harus melakukannya kalau kau sendiri terlalu sibuk mengorbankan dirimu untuk masa lalu.”

Alina terdiam.

Kemudian ia bangkit, mengambil kotak P3K, kembali ke samping Arkanza dan mulai membersihkan luka pria itu dengan lembut.

Arkanza menatapnya.

“Alina… dia akan kembali.”

“Aku tahu,” jawab Alina datar.

“Dan dia tidak akan berhenti sampai salah satu dari kalian mati.”

Alina berhenti mengoles obat. Ia menunduk, senyumnya tipis, dingin dan penuh determinasi gelap.

“Itu memang tujuannya.”

Ia menatap Arkanza.

“Kali ini, aku yang akan berburu.”

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, mata Alina tidak terlihat rapuh, tapi ganas. Seperti predator yang baru saja kehilangan kesabaran.