Delapan tahun kemudian, Zurich - Swiss,
"Yakin tak mau bekerja di perusahaan milik keluarga Winata saja?" pertanyaan sang ayah yang sudah sangat sering didengarnya sejak lulus kuliah, membuat Ara memutar bola mata.
"Sekalipun papa bertanya begini setiap hari, jawabanku akan tetap sama," tukasnya.
Zayn terkekeh, "Ya siapa tahu saja kamu tiba-tiba berubah pikiran. Daripada menjadi sekretaris CEO, kamu bisa menjadi direktur di salah satu anak perusahaan Winata."
"Memikirkan bisnis bukan bakatku," sahut Ara.
"Mama menawarkanmu menjadi model pun, kamu tolak," kali ini giliran sang ibu menimpalinya.
"Aku jelas tidak memiliki bakat itu, Ma." Ara menjawab seraya meraih gelas minum dan meneguk isinya.
Kedua orangtuanya saling tatap sebelum tertawa bersama. Ketiganya lalu kembali melanjutkan acara sarapan mereka dengan tenang sampai akhirnya Ara lah yang selesai dan pamit pergi lebih dulu.
Sepeninggal Ara, Mikayla menatap sang suami yang masih menyesap kopinya, "Ibu mertua kembali menanyakan kapan kita bisa kembali ke Indonesia, Zayn."
"Kita tidak akan kembali," Zayn menjawabnya.
"Bagaimana kalau Tante Tiara yang meminta?" tanya Ara.
Kali ini Zayn meletakkan cangkir kopinya sebelum menatap sang istri, "Apa kondisi kesehatan Tante Tiara memburuk?"
Mikayla mengangguk, "Dokter sudah hampir menyerah dan Tante Tiara tak mau perusahaan keluarga Abimana diambil alih oleh Bastian. Itulah sebabnya kita diminta pulang, kamu lah yang diinginkan Tante Tiara untuk mengambil alih perusahaan."
"Masih ada Ryan disana," Zayn menimpali.
"Kamu yang jelas tahu apa jawabannya." Mikayla berkata sambil menatap sang suami yang mulai beranjak berdiri dari kursinya.
"Aku akan bicara dengan Tante Tiara nanti, tapi kalau Ara masih tak mau kembali ke Indonesia, maka kita tak akan pulang. Apa pun yang terjadi," tegas Zayn.
"Miss Sienna, CEO mencari Anda."
Wanita muda dalam balutan pakaian formal yang sedang menemani salah seorang klien penting perusahaan tempatnya bekerja sekarang, langsung menoleh dan mengangguk.
"Saya akan segera kesana," tukasnya.
Saat dirinya kembali fokus pada sang klien, rekannya justru kembali mendekatinya dan berbisik lirih, "CEO memintamu menemuinya sekarang, Sienna. Pergilah, biar aku yang lanjutkan menemani klien."
Ara mengerjapkan mata mendengarnya sebelum akhirnya mengangguk lagi dan berpamitan pada kliennya sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka. Saat berada di lift yang membawanya ke lantai CEO, Ara mencoba memikirkan kemungkinan masalah macam apa yang membuat bosnya sampai memintanya meninggalkan klien penting.
Tok .. tok ..
"Mr. Russel," Ara berujar seraya menundukkan kepala setelah mengetuk dan membuka pintu ruang kerja sang bos.
Dirinya tetap menundukkan pandang saat melangkah masuk, namun sebuah sentakan keras di lengannya, membuatnya refleks mendongak.
PLAK …
Wajah cantik Ara terpaling saat sebuah tamparan keras mengenai tepat di pipi kirinya. Denyut nyeri disisi wajahnya, sempat membuatnya terpaku sejenak sebelum bisa menguasai diri. Dengan satu tangan memegang sisi wajahnya yang baru saja terkena tamparan, Ara menatap si pelaku.
"Mrs. Russel," ujarnya.
"Beraninya jalang kecil sepertimu menggoda suamiku, hah?!" wanita paruh baya yang adalah istri sang bos, langsung menyentaknya.
Kening Ara seketika berkerut, "Menggoda? Apa maksud Anda?"
"Jangan pura-pura polos! Aku tahu yang kamu dan suamiku lakukan saat kalian pergi berdua dengan alasan perjalanan bisnis!" sentak Mrs. Russel lagi.
Kali ini tatapan Ara yang sempat goyah langsung terfokus, "Perjalanan bisnis? Saya tak pernah ikut bersama Mr. Russel untuk perjalanan bisnisnya."
"Jangan bohong! Sekretaris suamiku hanya dirimu!" Mrs. Russel masih menyentak tak terima.
Ara mengalihkan tatapannya dari wanita itu dan beralih pada sang bos yang sedari tadi hanya diam di kursinya. Pria yang selama ini begitu dihormatinya itu, tak berani membalas tatapannya. Melihat reaksi pria itu, Ara mengkaitkannya dengan rumor yang didengarnya beberapa minggu lalu tentang Mr. Russel dan salah seorang staff yang juga dikenal olehnya.
Mengingat itu membuat tatapannya menajam saat kembali fokus pada Mrs. Russel, "Anda punya buktinya?"
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!" sentak wanita itu lagi.
"Saya tidak sedang mencoba mengalihkan topik. Saya hanya menanyakan apa Anda memiliki buktinya? Karena jika tidak, saya akan menempuh jalur hukum atas bukan hanya fitnah, tapi juga penganiayaan," Ara menyahut tegas.
Mrs. Russel melotot padanya dan sudah menaikkan satu tangannya, hendak menampar Ara sekali lagi sebelum geraknya terhenti saat sang suami dengan cepat menghampiri dan menahan lengannya.
"Cukup, jangan buat keributan lebih jauh lagi."
"Sienna, tolong lupakan yang baru saja terjadi. Ini hanya kesalahpahaman. Kamu bisa pergi," Mr. Russel mencoba menengahi mereka.
"Kesalahpahaman apanya!" Mrs. Russel membentak sang suami sekaligus memukul dada pria itu.
"Tolong kendalikan istri Anda, Mr. Russel. Lalu tolong jangan libatkan saya dalam drama rumah tangga Anda berdua. Saya punya bukti jelas bahwa saya tak pernah ikut dalam perjalanan bisnis apa pun yang disebutkan oleh Mrs. Russel." Ara berkata tegas seraya menegakkan punggungnya.
"Jika saya masih terus dilibatkan dalam omong kosong ini atau jika Anda tak bisa mengendalikan istri Anda, maka mungkin lebih baik ayah saya yang mengurus semuanya," pungkasnya.
Usai mengatakannya, Ara langsung berbalik dan keluar dari ruangan milik sang bos, meninggalkan pasangan yang lalu berdebat disana setelahnya.
Zayn Abimana dengan setelan mahalnya melangkah melewati lobby perusahaan tempat putri semata wayangnya bekerja. Dirinya ada disana siang itu setelah mendapatkan kabar dari salah satu rekan bisnisnya yang kebetulan adalah klien yang ditemani Ara dua jam lalu sebelum wanita muda itu pergi atas panggilan sang CEO.
Saat mendengar putrinya tiba-tiba pergi ditengah rutinitas pekerjaan, Zayn yang begitu mengenal Ara, langsung tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan meminta bantuan asistennya untuk mencari tahu kondisi di kantor itu.
Dari sang asistenlah, dia akhirnya tahu bahwa Mrs. Russel baru saja mengkonfrontasi Ara atas dasar beberapa foto yang menunjukkan Mr. Russel masuk ke dalam kamar hotel di luar negeri bersama seorang wanita yang disangka sang istri adalah Ara. Bisa dimaklumi tentu saja karena Mr. Russel berpamitan dengan sang istri untuk pergi perjalanan bisnis bersama sekretarisnya dan satu-satunya sekretaris CEO adalah Ara.
"Pa," Ara langsung berdiri saat melihat kedatangan sang ayah di lantai CEO.
"Pulang, Ara. Tidak perlu lagi bekerja di perusahaan yang merendahkanmu." Zayn berkata tegas tanpa menghentikan langkahnya yang tertuju ke ruangan Mr. Russel.
"Papa!"
Ceklek ..
Ara berusaha mencegah sang ayah, tapi Zayn sudah lebih dulu membuka pintu ruang kerja CEO dan mendapati pasangan Russel ada di dalam sana. Tanpa melunakkan ekspresinya, Zayn menghampiri Mr. Russel yang berdiri dengan ekspresi segan menyambutnya.
"Ini yang kuterima sebagai balasan sudah membantumu mendapatkan kepercayaan investor saat memulai semua usahamu?" Zayn langsung mencecarnya.
Mr. Russel mengangkat kedua tangan mencoba menahan langkah Zayn yang mendekatinya, "Za-Zayn, aku bisa jelaskan …"
"Maka jelaskan!" sentak Zayn.
"Mr. Abimana, ini semua salah saya. Saya yang salah paham dan saya minta maaf untuk itu," giliran Mrs. Russel yang mencoba menjelaskan.
Zayn menatap pasangan itu sejenak sebelum akhirnya kembali berkata layaknya menjatuhkan vonis, "Putriku tak akan lagi bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh seseorang yang bahkan tak bisa menjaga keutuhan rumah tangganya, apalagi dengan menyalahkan putriku."
Usai mengatakannya, Zayn langsung berbalik menghampiri Ara yang berdiri di ambang pintu. Tangannya meraih lengan sang putri dan menggiringnya pergi dari kantor itu. Di sepanjang perjalanan pulang, Ara tak berani memulai pembicaraan dengan sang ayah yang jelas nampak murka.
"Rafael, aku butuh bantuanmu."
Nama yang disebut sang ayah dalam panggilan teleponnya, membuat Ara menoleh. Dia tahu jelas siapa yang sedang dihubungi Zayn sekarang. Rafael Skylar Hadinatha, ayah Noah dan Nathan sekaligus sahabat lama kedua orangtuanya.
"Soal Mr. Russel, hm? Armand baru saja memberitahuku sesuatu yang menarik tentang bos putrimu itu," Sky menyahutinya yang membuat Zayn terkekeh.
"Kalian selalu selangkah lebih dulu dibanding aku. Jadi, kurasa kamu sudah tahu apa yang ingin kuminta?" tebaknya.
"Armand akan mengurusnya, Zayn. Cukup pastikan Ara tak lagi kembali ke perusahaan itu. Berikan saja dia posisi di salah satu perusahaanmu," tukas Sky.
Zayn melirik ke arah sang putri yang sedikit memberengut karena dia jelas bisa mendengar pembicaraan yang dipasang sang ayah ke pengeras suara ponselnya, "Anak keras kepala ini tak mau menerimanya sekalipun aku sudah menawarkannya setiap hari."
Tawa terdengar di seberang panggilan itu, "Sounds like someone."
Dengusan sang ayah membuat Ara nyaris tertawa, namun berhasil ditahannya. Dirinya mengalihkan pandang ke arah jalanan dan membiarkan ayahnya menyelesaikan percakapan itu.
"Kondisi kesehatan Nenek Tiara mulai menurun," Zayn membuka topik lain setelah mengakhiri panggilannya.
Ara langsung menoleh lagi pada sang ayah, "Apa kata dokter?"
"Tak banyak yang bisa dilakukan," ujar Zayn.
Hening melingkupi mereka untuk sesaat setelahnya sebelum akhirnya Zayn kembali melanjutkan, "Kalau Nenek Tiara ingin kita kembali ke Indonesia, setidaknya untuk menemaninya. Apa kamu mau?"