Bab 12 - Tanah Air

Penulis Itsme-R
16 December 2025

Waktu tidak pernah menyembuhkan luka, tetapi membiarkanku belajar untuk tetap hidup bersama luka yang mungkin tak akan pernah mengering sampai aku mampu belajar untuk memaafkan. Bukan memaafkan mereka, tapi mengampuni diriku sendiri.


Jakarta - Indonesia,

"Zayn masih belum menjawab permintaan kita?" seorang wanita tua bertanya dengan tubuh yang berbaring di atas brankar rumah sakit pada sosok pria tua yang adalah kakak lelakinya.

"Belum. Dia masih belum menjawab. Sepertinya Zayn tak akan pulang, tidak dengan istriku yang masih begitu kekeh menjodohkan Ara," jawabnya.

Wanita di atas brankar itu mendengus, "Tolong kendalikan istrimu sebelum kamu kehilangan segalanya, Kak."

Giliran sang kakak yang mendengus, "Kamu masih punya Ryan, Tiara."

"Dia sudah bukan pewaris keluarga kita sejak belasan tahun lalu," Nyonya Tiara menyahut keras kepala.

"Dan kamu juga jelas tak akan setuju jika Bastian yang menjadi pewarisku," imbuhnya.

"Tentu saja aku tidak setuju," jawaban sang kakak membuat Nyonya Tiara tersenyum tipis.

"Kalau begitu yakinkan Zayn untuk pulang. Aku sudah hampir mencapai batasku."


Mikayla menatap putrinya yang termangu di depan kolam ikan yang ada di halaman belakang mansion mereka. Wanita itu baru mendengar dari sang suami bahwa Ara masih belum memberikan jawaban tentang pertanyaan apakah mereka akan kembali ke Indonesia atau tidak.

"Ara." suara lembut yang memanggilnya membuat Ara menoleh.

"Ma," sapanya balik.

Sang ibu menghampiri dan mengelus punggungnya lembut, "Kamu tak perlu memikirkan pertanyaan kami terlalu keras, Ara."

"Kalau kamu tak ingin kembali ke Indonesia, kami juga tidak akan memaksamu," lanjutnya.

Mendengarnya membuat Ara menatap lama sang ibu sebelum akhirnya menjawab, "Aku tak tahu apa aku sudah siap kembali, Ma. Semua sumber lukaku dulu, ada disana."

Mikayla mengangguk paham, "Mama tahu. Mama juga merasakannya setiap kali harus kembali ke Indonesia."

Ara tercekat. Dia tahu jelas itu. Dibanding dirinya justru sang ibu lah yang memiliki luka begitu besar di negara tempatnya dilahirkan.

"Bagaimana Mama bisa terlihat baik-baik saja?" tanyanya heran.

Senyum lembut Mikayla terulas, "Berdamai, itu saja."

"Kalau aku tidak bisa?" tanya Ara lagi.

"Bukan berdamai dengan mereka yang menyakitimu, Ara. Tapi berdamailah dengan dirimu sendiri," tukas Mikayla.

"Aku tidak tahu caranya," tutur Ara.

Tangan Mikayla kembali bergerak, kali ini mengelus belakang kepala sang putri, "Mulailah dari selalu membicarakan apa yang ada di benakmu alih-alih menyimpan semuanya sendiri."

"Dulu kamu selalu begitu cerewet dan Mama merindukan putri Mama yang itu," imbuhnya.

Ara sedikit menunduk, "Maaf, Ma."

"Jangan meminta maaf. Kamu tidak bersalah, tidak pernah." Mikayla berkata tegas seraya mengangkat dagu sang putri agar wajahnya kembali tegak.

Seulas senyum di wajah Ara membuat hati Mikayla sedikit merasa lega. Wanita muda itu lalu mengangguk kecil dan berkata, "Biarkan aku berpikir sedikit lagi untuk kepulangan kita, Ma."

Mikayla mengangguk, "Tentu saja, selama yang kamu butuhkan."


"Aku tak bisa berjanji, Papa tahu itu." suara tegas Zayn menghentikan langkah Ara yang hendak menuju dapur.

Dirinya mendapati sang ayah sedang berdiri tak jauh di depannya dengan ponsel di telinga, jelas sedang bicara dengan kakeknya di panggilan telpon.

"Tante Tiara akan baik-baik saja. Jika perlu aku bisa mengatur kepindahan Tante Tiara agar dirawat disini saja," Zayn berkata lagi, lebih tegas kali ini.

Ara memejamkan mata sejenak. Dirinya tahu jika keluarga besar mereka di Indonesia sampai mendesak mereka segera kembali, itu artinya kondisi kesehatan Nyonya Tiara, nenek yang begitu dihormati dan disayanginya, jelas memburuk. Wanita tua itu adalah satu-satunya orang di keluarga besar mereka yang dengan terang-terangan selalu berdiri bak perisai di depan Ara demi melindunginya dari cecaran keluarga, terutama nenek dari pihak ibunya.

Karena itulah, Ara begitu menyayangi Nyonya Tiara. Mendengar kondisi kesehatan wanita tua itu yang semakin menurun, jelas membuatnya merasa bersalah karena menunda-nunda memberikan jawaban atas pertanyaan sang ayah tempo hari.

"Pa."

Suara panggilan itu membuat Zayn yang baru saja mengakhiri telpon dengan sang ayah dan hendak melangkah pergi, langsung terhenti. Dirinya menoleh menatap Ara yang mendekat padanya.

"Ada apa, Ara?" tanyanya.

Ara menatap sang ayah cukup lama sebelum akhirnya berujar tanpa ragu, "Ayo pulang."

"Ayo pulang ke Indonesia."

Zayn sontak mengerutkan keningnya, "Kamu yakin?"

"Aku yakin, Pa." Ara mengangguk menimpalinya.

Sang ayah tak langsung menjawab, seakan mencari secercah keraguan di wajah putrinya sebelum akhirnya menghela nafas dan mengangguk lalu bicara, "Baiklah, Papa akan siapkan semuanya."


Florence - Italy,

Salah satu villa bergaya victorian modern nampak begitu megah di tengah hamparan lanskap hijau yang mengelilingi area sekitar bangunan. Seorang wanita duduk bersantai di area balkon kamar utama villa yang menghadap ke arah hamparan perbukitan hijau.

"Love." Suara berat yang begitu dikenalnya, membuat wanita itu menoleh dan mengulas senyum lembut seraya mengulurkan tangannya.

"Bukannya kamu bilang akan pulang telat hari ini?" tanyanya.

Pria yang ditanyai hanya tertawa kecil sebelum menempatkan dirinya disisi sang istri dan merengkuhnya untuk bersandar, "Ini sudah lebih 15 menit dari jam biasanya aku pulang, Nadaku."

"Oh, benarkah?" Nada mengerjapkan mata, sungguh dia sudah tak memperhatikan waktu sejak memutuskan menikmati sore harinya di balkon villa.

Sang suami tertawa lagi. Tangan pria itu bergerak mengusap sisi kepala sang istri dan sesekali mengecupi puncak kepalanya, sementara Nada memejamkan mata dan menikmati setiap usapan di kepalanya.

"Zayn tadi menelponku," pria itu membuka pembicaraan lagi diantara mereka setelah hening sesaat.

Nada membuka matanya dan sedikit mendongak agar bisa menatap sang suami, "Soal apa?"

"Mereka akan pulang ke Indonesia 2 minggu lagi, Ara lebih tepatnya. Zayn dan Mikayla baru akan menyusul sekitar 3 hari setelahnya," tutur sang suami.

Wanita cantik dalam pelukannya itu sedikit melebarkan mata sebelum terkekeh, "Mama Tiara berhasil membuat Ara luluh ternyata."

"Kamu tak ingin ikut pulang ke Indonesia, Sky?" tanyanya kemudian.

Sky mengangkat tangannya dan menjepit gemas hidung sang istri, "Lupa kalau kita memang akan pulang ke Indonesia 2 minggu lagi? Putramu yang nakal itu akan pulang setelah berputar-putar seperti gasing di Amerika."

"Nathan bukan berputar-putar, dia sedang mengurus ekspansi Gravity," protes Nada.

"Dan akan lebih efisien kalau sejak awal dia menerima tawaran Noah untuk menambahkan nama Skylar sebagai partnership-nya," sahut Sky.

"Aku sendiri terkadang tak mengerti dari mana asal sikap keras kepala putramu yang satu itu," cetus Nada.

Alih-alih menjawab, Sky menatap sang istri dengan sebelah alis terangkat yang membuat Nada memutar bola mata, "Iya-iya, asalnya dariku."

Kekehan Sky terdengar setelahnya, pria itu menunduk dan mengecup singkat bibir Nada sebelum kembali merengkuh sang istri dalam pelukannya.

"Noah tahu ini?" tanya Nada.

"Tentu saja aku sudah memblokir semua informasi ini dari kedua putra kita, Nadaku. Bahkan media sosial Ara, baik akun asli mau pun akun privatnya, Noah tak akan bisa mengaksesnya lagi." Sky menjawab tanpa mengurai pelukannya.

"Seperti kamu tak pernah memaksakan takdir saja," celetukan Nada membuat Sky tertawa lagi.

"Noah yang ingin membiarkan tangan takdir bekerja dengan sendirinya. Aku hanya membantu takdir melakukan pekerjaannya."


2 minggu kemudian - Bandara Internasional Soekarno-Hatta,

Seorang wanita muda melangkah melewati gerbang kedatangan dengan koper di salah satu tangannya. Matanya memindai sekeliling sebelum akhirnya kakinya melangkah ke salah satu cafe yang tersedia di area bandara.

“Tolong americano satu," Ara berujar pada petugas kasir di cafe itu setelah sesaat menatap menu yang tersedia.

Dirinya menyelesaikan transaksi sebelum bergeser untuk menunggu minuman yang dipesannya jadi. Fokusnya beralih pada ponsel di tangannya, membalas pesan orangtuanya yang menanyakan apakah dia telah sampai di Jakarta.

"Kak, silahkan pesanannya," mendengar ini Ara mengangkat wajah dan mendapati pegawai cafe itu ternyata bukan menyebutkan miliknya, melainkan pesanan seorang pria muda yang berdiri tak jauh darinya.

Pria itu mengenakan setelan formal dengan kacamata membingkai matanya. Wajahnya yang nampak tak asing membuat Ara mengerutkan keningnya.

"Siapa, ya? Aku sepertinya mengenalinya." batinnya.

Saat pria itu berbalik dan melangkah pergi, Ara mengedikkan bahu seraya bergumam, "Mungkin perasaanku saja."