32. Melampiaskan dengan Bernyanyi

09 January 2026

Mobil mewah hitam itu melaju perlahan keluar dari area gedung resepsi, tapi tatapan para tamu tetap mengikuti hingga kendaraan itu benar-benar hilang dari pandangan. Banyak yang berbisik, banyak yang mencoba menebak-nebak, dan sebagian hanya tertegun, masih tidak percaya bahwa Sienna dan suaminya muncul dalam kemegahan seperti itu.

Sienna langsung menyandarkan punggungnya pada jok, menghela napas panjang seolah baru terlepas dari tekanan yang menyesakkan dada.

“Pesta itu benar-benar … menyesakkan,” gumamnya lirih. “Bagaimana bisa Ayah tetap bersikap jahat pada kita? Seolah kita ini orang asing.”

Arden yang duduk di sampingnya hanya menaikkan alis sedikit, tenang seperti biasa. “Ayah mertua pasti terlalu terkejut,” katanya sambil melirik ke luar jendela. “Sampai dia nggak banyak bicara. Itu bukan karena dia membencimu. Dia hanya kaget.”

Sienna memutar kepalanya, menatap suaminya dengan ragu. “Lalu … kalau ayahmu tahu tentang ini? Tentang semua orang melihat kita seperti tadi? Tentang kehadiran kita yang tiba-tiba?”

Arden mendengus kecil, seolah itu hal paling kecil yang perlu dikhawatirkan. “Sudah pasti dia akan tahu. Semua orang akan membicarakannya. Berita itu akan menyebar lebih cepat daripada yang kau sangka.”

Sienna merasa cemas yang masih tertinggal lebih kepada reaksi orang-orang terhadap Arden yang duduk di kursi roda, dan ekspresi dingin keluarga mereka saat tadi. Namun, sebelum kecemasannya tumbuh, Arden menoleh dan menyentuh tangan Sienna dengan ringan.

“Jangan khawatirkan aku,” katanya lembut, tetapi ada nada tegas di sana. “Justru kita harus merayakan kemenangan kita malam ini.”

Sienna memiringkan kepala, bingung. “Kemenangan apa?”

Arden tersenyum kecil. “Sienna, bukankah kamu sadar? Kamu jadi pusat perhatian malam ini. Bukan Henna. Bukan pengantinnya. Semua mata hanya tertuju padamu.”

Sienna terdiam sejenak, mengingat tatapan para tamu, bisikan-bisikan yang mengikuti langkahnya, bahkan ekspresi kaget Henna yang tidak bisa disembunyikan. Ia akhirnya mengangguk pelan.

“Memang … rasanya begitu,” jawabnya jujur. “Mereka bahkan seperti lupa untuk siapa pesta itu.”

Arden menepuk punggung tangannya, sebuah sentuhan kecil yang terasa akrab. “Itu sebabnya malam ini kita merayakan kemenangan. Kamu sudah menunjukkan siapa yang sebenarnya memiliki kelas. Siapa yang seharusnya dihormati.”

Sienna menelan ludah, entah harus tersenyum atau menghela napas lagi.

“Kalau begitu … kita merayakan di mana? Kamu mau makan malam? Pergi ke lounge hotel? Atau—”

Arden memotong dengan nada santai, tetapi penuh misteri. “Aku tahu tempat yang sangat bagus.”

Kata-katanya membuat Sienna menoleh penuh rasa penasaran. “Tempat apa? Jauh?”

Arden hanya menyandarkan kepala pada sandaran kursi, tatapannya lurus ke depan sambil membiarkan lampu kota memantul di jendela.

“Nggak terlalu jauh. Tapi kamu akan menyukainya.”

Lucas yang mengemudi hanya tersenyum tipis lewat pantulan kaca spion, seolah ia tahu persis ke mana mereka akan pergi dan bahwa Sienna memang akan menyukainya.

Mobil terus melaju, meninggalkan pesta, meninggalkan drama keluarga, dan memasuki malam yang mulai dipenuhi lampu jalan berwarna keemasan. Di dalam kabin yang hangat, Sienna menoleh pada Arden lagi, merasakan debar yang berbeda. Rasa lega bercampur rasa penasaran.

“Kamu benar-benar nggak mau kasih petunjuk?” tanyanya sambil tersenyum kecil.

Arden menggeleng pelan. “Nggak. Ini kejutan.”

Sienna menghela napas, tetapi kali ini lebih ringan, lebih ceria. “Baiklah. Aku ikut saja.”


Mobil berhenti di depan sebuah gedung karaoke bintang lima. Dari luar saja sudah terlihat megah, tetapi ketika Lucas membuka pintu dan Sienna turun, ia hampir kehilangan kata-kata.

“Ini … karaoke?” tanyanya, tercengang melihat lobi mewah berlapis marmer dan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya terang.

Arden hanya mengangguk kecil, bibirnya terangkat membentuk senyum samar. “Karaoke paling besar dan paling mewah di kota ini. Khusus VIP. Nggak sembarang orang bisa masuk.”

Sienna memandangnya seolah tak percaya. “Kau … menyewa tempat ini?”

“Bukan hanya tempat,” jawab Arden sambil mengisyaratkan Lucas mendorong kursi rodanya menuju pintu kaca otomatis. “Satu lantai penuh.”

Sienna belum sempat terkejut karena dia harus ikut berjalan di samping Arden, masih dengan gaun elegan yang ia pakai sejak pesta. Begitu pintu VIP terbesar dibuka oleh staf, Sienna menutup mulutnya, terpana.

Ruangan itu luas seperti aula mini. Sofa kulit besar melingkar, lantai memantulkan cahaya LED, dan dua layar raksasa menempel di dinding. Namun, yang paling membuat matanya membesar adalah meja panjang di tengah ruangan penuh dengan makanan dan minuman.

Ada minuman bersoda, mocktail warna-warni, hingga jus segar. Makanan berat seperti steak kecil, chicken wings, pasta, dan nasi goreng tersaji hangat. Di sisi lain ada makanan ringan, popcorn karamel, kentang goreng, roti lapis mini, sampai camilan premium.

Di sudut meja, sebuah kue tart mini berlapis krim putih berdiri cantik, lengkap dengan hiasan bunga kecil. Dan mata Sienna langsung berbinar karena ada freezer es krim dengan penutup kaca, penuh berbagai rasa: strawberry, vanilla bean, matcha, cookies & cream, dan rasa kesukaannya salted caramel crunch.

“Kamu bercanda?” bisik Sienna, benar-benar tidak percaya.

Arden menoleh, senyumnya semakin lebar. “Nggak. Aku bilang kita merayakan kemenangan malam ini. Dan bagiku, perayaan dimulai dari tempat di mana kau bisa bebas berteriak sepuasnya.”

Sienna tertawa kecil, rasa sesak dari pesta tadi langsung menguap. “Kamu benar-benar memanjakan aku.”

“Merayakan bersama,” koreksi Arden lembut. “Kita menang bersama.”

Dengan jas hitam mewah yang masih melekat di tubuhnya, Arden menggerakkan kursi roda mendekati remote besar. Ia menekan beberapa tombol dan layar raksasa langsung menampilkan daftar lagu. Musik intro memenuhi ruangan.

“Bernyanyi?” tanya Sienna.

“Berteriak,” jawab Arden sambil menyerahkan satu mic. “Kamu butuh melampiaskan apa pun yang kamu tahan.”

Sienna tertawa, menerima mic itu. Arden mengambil mic lainnya, dan musik dimulai. Lagu upbeat pertama membuat ruangan bergetar. Sienna langsung bernyanyi dengan suara lantang tidak peduli nadanya pas atau tidak. Rambutnya tergerai, gaunnya berkilau terkena lampu LED, tetapi ia bernyanyi seperti remaja yang baru pertama kali merasakan kebebasan.

Arden, meski duduk, ikut bernyanyi sambil mengangkat satu tangan, kadang mengarahkannya pada Sienna seolah mereka berada di panggung konser. Suaranya tidak sempurna, tetapi penuh tenaga, penuh tawa, penuh kepuasan.

Mereka berteriak di bagian chorus, tertawa ketika salah nada, dan kadang menatap satu sama lain dengan tatapan yang berkata: ‘Ayo, semangat!’

Beberapa lagu kemudian, keringat mulai muncul di pelipis Sienna. Ia mengambil es krim rasa favoritnya, memakannya sambil bernyanyi pelan mengikuti lagu mellow yang berganti.

Arden menatapnya sambil tersenyum, senyum penuh kepuasan. “Rasanya lebih lega, kan?” tanyanya.

Sienna mengangguk, menatap ke layar sambil memegang mic. “Lebih dari lega. Rasanya seperti … membuang semua beban dalam satu malam.”

“Bagus,” jawab Arden. “Karena ini baru awal.”

Tanpa menunggu jawaban, ia memilih lagu duet. Sienna tertawa saat lagu itu mulai, lagu cinta lama yang melodius.

Dengan gaun mahal dan jas rapi, di ruangan karaoke yang dipenuhi makanan dan lampu warna-warni, mereka bernyanyi bersama … membiarkan setiap emosi yang menumpuk pecah menjadi tawa, suara keras, dan kebebasan yang hanya bisa dirasakan ketika dunia luar tidak lagi berarti.