Drama

Palu Keputusan

Penulis Yoonna
11 January 2026

"Tidak! Hentikan! Ayah... tolong Bawa aku pergi dari sini!" teriak Kaluna kecil merogoh hati kecil Ken Aji.

Seluruh ruang sidang seakan membeku, hanya suara desing mesin laboratorium dan rintihan Kaluna kecil dari rekaman video yang memecah keheningan. Kilatan lampu flash dari kamera para wartawan terus menyambar ke arah layar, mengabadikan setiap detik kekejaman yang selama ini terkubur rapat.

Andrian duduk dengan tubuh kaku. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Kepalan tangannya di atas paha bergetar hebat, bukan karena takut, tapi karena amarah yang nyaris meledak.

"Dasar iblis-iblis tidak punya perasaan!" gumam Andrian.

Ia menatap Marisa dengan sorot mata yang begitu mematikan, seolah jika tatapan bisa membunuh, Marisa sudah hancur menjadi debu saat itu juga. Di dalam benaknya, Andrian sudah membayangkan bagaimana ia akan menghancurkan siapa pun yang pernah menyentuh istrinya dengan cara sekeji itu.

Namun, di tengah kobaran amarahnya, perhatian Andrian teralih ke samping.

"Kaluna..." ucap Ken Aji tertahan.

Andrian dan Praka menatap Ken Aji. Ayah mertuanya itu tampak hancur. Tubuhnya bergetar hebat, tangannya mencengkeram pinggiran kursi hingga memutih. Matanya yang memerah tak lepas dari layar, memandang setiap cambukan verbal dan fisik yang diterima putrinya.

Suara tangis tertahan Ken Aji terdengar sangat menyayat hati. Ia menutup mulutnya dengan tangan, seolah berusaha meredam teriakan penyesalan yang ingin keluar dari kerongkongannya.

"Setiap detik video itu diputar adalah satu cambukan bagi jiwamu, Tuan Kinan, kenyataan bahwa kau telah membiarkan permata hatimu dibuang ke neraka oleh wanita yang kau percayai sebagai keluarga," gumam Praka di dalam hatinya.

Andrian yang tadinya ingin mengamuk, kini merasakan kesedihan yang berbeda melihat kehancuran Ken Aji. Ia menyadari bahwa penderitaan ini bukan hanya milik Kaluna, tapi juga menjadi beban seumur hidup bagi sang ayah yang terlambat menyadari kebenaran.

Kaluna, yang kini sudah benar-benar tenang, melirik sekilas ke arah ayahnya. Ia melihat air mata Ken Aji jatuh membasahi dokumen di depannya. Untuk pertama kalinya, Kaluna tidak merasa sendirian dalam rasa sakitnya.

"Sekarang kau melihatnya, Ayah! Satu hal yang tak pernah kau ketahui selama ini. Kita lihat nanti, bagaimana kau akan menudingku lagi setelah kejadian ini," batin Kaluna.

Rekaman video itu terus berputar, menampilkan adegan yang tidak disangka-sangka oleh siapa pun di ruang sidang. Sudut pandang kamera yang rendah dan sedikit bergoyang menunjukkan bahwa itu adalah rekaman dari kamera tersembunyi yang disematkan di baju seorang anak kecil.

Di layar, terlihat sosok Marisa yang bertahun-tahun lebih muda, sedang berdiri di sebuah lorong gelap bersama seorang dokter. Tiba-tiba, seorang anak laki-laki kecil dengan Kamera tersembunyi di hoodienya, menghadang mereka dengan keberanian yang luar biasa.

"Marisa! Kau bukan Ibu pengganti! Kau mencelakai adikku! Kenapa kau mengirimnya ke sana?!" teriak anak itu, suaranya melengking penuh amarah dan luka.

Marisa di layar tertawa meremehkan. "Diam kau, anak gelandangan! Kau masih hidup sampai sekarang hanya karena belas kasihan dariku!" Dengan wajah angkuh, Marisa melanjutkan, "Aku hanya menginginkan kehancuran Kaluna. Kau tidak akan bisa menyelamatkannya, dia sudah pergi!"

"Kau wanita jahat! Aku akan menghancurkanmu!" ancam anak kecil itu

Marisa, yang saat itu merasa berada di atas angin dan tidak menganggap anak kecil itu sebagai ancaman, dengan sombong melemparkan tumpukan dokumen ke lantai. "Susul dia kalau kau bisa! Paling tidak, kau hanya akan ikut menjadi kelinci percobaan juga."

Anak kecil itu dengan sigap memungut dokumen tersebut. Kamera tersembunyi di bajunya menyorot dengan jelas alamat laboratorium dan detail eksperimen yang kini menjadi bukti kunci di meja hakim.

"Tunggu aku menjadi dewasa, Marisa!" teriak Praka kecil sebelum video itu berakhir. "Akan kubuat kau merasakan semua kepedihan yang dirasakan oleh adikku!"

Hening. Ruang sidang benar-benar sunyi setelah tayangan video itu berakhir. Semua orang baru menyadari bahwa selama belasan tahun, Praka telah mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk satu tujuan, menjadi perisai bagi Kaluna dan pedang yang menghancurkan musuh-musuhnya.

Ken Aji, dengan suara yang pecah dan penuh isak, bergumam pelan, "Kelvin..." Nama asli Praka yang sudah lama hilang dari ingatannya, kini kembali sebagai pahlawan yang menyelamatkan putrinya.

Sementara itu, Andrian duduk membeku. Ia menatap punggung tegap Praka yang berdiri tak jauh darinya. Ada rasa hormat yang mendalam, namun juga sebuah sayatan kecil di hatinya.

"Praka..." batin Andrian lirih. "Sejak dulu kau yang selalu ada untuknya. Kau yang melindunginya di saat aku bahkan tidak tahu dia ada. Mungkinkah... aku hanya menjadi penghalang untuk cintamu dengan Kaluna?"

Andrian menatap Kaluna yang kini menatap Praka dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan penuh syukur dan keterikatan masa lalu yang tidak akan pernah bisa Andrian masuki. Di tengah kemenangan hukum ini, Andrian merasakan sebuah ketakutan baru, bahwa ia bukanlah orang yang paling dicintai oleh istrinya sendiri.

Atas anggukan dari Praka, Andrian bangkit dan menghampiri Kaluna.

Andrian merangkul bahu Kaluna, yang saat ini hanya menatap kosong ke depan. Meskipun kebenaran sudah terungkap, luka di hati Kaluna tetaplah nyata. Namun, dengan terungkapnya fakta bahwa dia tidak pernah gila, sebagian dari beban berat di pundak Kaluna seolah terangkat.

"Yang Mulia," suara Andrian terdengar tenang namun mematikan. "Kami menuntut hukuman maksimal untuk Marisa atas tindakannya dalam penyerangan terhadap Kaluna di malam pameran. Dan juga atas kasus , perdagangan manusia dan pemalsuan dokumen medis yang terangkum dalam bukti-bukti vital ini."

Setelah keheningan yang menyesakkan, para hakim berdiskusi sejenak dalam suasana yang sangat tegang. Suara bisikan mereka di balik meja hijau seolah menjadi hitung mundur bagi akhir kejayaan Marisa. Sementara itu, Marisa hanya bisa terduduk lemas, menyadari bahwa rekaman masa kecil Praka adalah paku terakhir di peti matinya.

Hakim Ketua kemudian menegakkan posisi duduknya, merapikan toga, dan menatap tajam ke arah kursi terdakwa.

"Berdasarkan bukti-bukti autentik yang tidak terbantahkan, berupa dokumen medis, kesaksian saksi ahli, serta rekaman video yang menunjukkan konspirasi kejahatan dan penyiksaan terhadap anak di bawah umur..." Hakim Ketua mengambil napas sejenak.

"Maka, Pengadilan menyatakan terdakwa Marisa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana perdagangan orang, penganiayaan berat berencana, dan pemalsuan dokumen negara yang menyebabkan trauma permanen pada korban."

Hakim Ketua mengangkat palu kayunya tinggi-tinggi.

"Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Marisa dengan Hukuman Penjara Seumur Hidup tanpa remisi, serta penyitaan seluruh aset yang didapat dari hasil kejahatan tersebut untuk dikembalikan kepada pihak korban, Kaluna."

"TOK! TOK! TOK!"

Suara ketukan palu itu menggema seperti guntur di ruang sidang. Marisa menjerit histeris sebelum akhirnya jatuh pingsan di lantai. Para petugas kepolisian dengan sigap segera menyeret tubuhnya keluar dari ruang sidang.

Di kursi pengunjung, Ken Aji menutup wajahnya, menangis sejadi-jadinya. Bukan hanya karena keadilan telah ditegakkan, tapi karena rasa syukurnya bahwa Praka telah menjaga putrinya lebih baik daripada dirinya sendiri.

"Ibu..." ucap Kajayanti yang berdiri dengan gemetar, tapi tak bisa mendekat ke arah ibunya.

Kaluna berdiri perlahan. Ia tidak berteriak, tidak pula tertawa. Ia hanya menatap kosong ke arah kursi terdakwa yang kini kosong. Beban yang ia panggul selama belasan tahun seolah luruh bersama debu di ruangan itu.

Andrian bermaksud ingin memeluk Kaluna, namun ia sempat ragu setelah melihat betapa besar pengorbanan Praka. Akan tetapi, Kaluna justru menoleh dan menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Andrian, seolah memberikan tanda bahwa meski Praka adalah masa lalunya yang menyelamatkannya, Andrian adalah masa depan tempat ia bersandar sekarang.

Praka hanya berdiri di kejauhan, menatap mereka berdua dengan senyum tipis yang tulus. Tugas besarnya telah selesai.