Drama

Sang Motivator

Penulis Yoonna
11 January 2026

Kemenangan itu terasa hambar di lidah Kaluna, namun sangat lega di dadanya. Bau ruang sidang yang apek dan dingin kini tergantikan oleh aroma kebebasan yang belum pernah ia hirup sebelumnya. Saat petugas menyeret Marisa yang lunglai keluar, Kaluna menarik napas panjang, seolah paru-parunya baru saja terbuka setelah belasan tahun terhimpit.

Andrian merasakan sandaran kepala Kaluna di bahunya. Meski ada kecamuk rasa tidak aman di hatinya karena peran besar Praka, sentuhan lembut Kaluna menjadi jawaban yang ia butuhkan. Kaluna memilihnya untuk menjadi tempat pulang.

Di tengah hiruk-pikuk wartawan yang mulai merangsek masuk, sebuah tangan gemetar menyentuh lengan Kaluna. Itu adalah Ken Aji. Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam hitungan jam.

"Kaluna..." suara Ken Aji serak, nyaris hilang. "Ayah... Ayah tidak tahu harus berkata apa. Maafkan Ayah, Nak. Ayah telah menjadi buta dan tuli."

Kaluna menegakkan tubuhnya, melepaskan sandarannya dari bahu Andrian, lalu menatap pria yang memberinya kehidupan namun gagal memberinya perlindungan itu. Matanya masih dingin, namun tidak lagi setajam sebelumnya.

"Minta maaflah pada gadis kecil itu. Dia yang paling membutuhkanmu, tapi kau tidak ada. Bagiku, kau hanyalah orang asing yang kebetulan memiliki nama belakang yang sama denganku," ucap Kaluna datar seraya melangkah meninggalkan raga usang itu.

Ken Aji terisak, namun ia menerima kata-kata itu sebagai hukuman yang pantas. Ia menoleh ke arah Praka, yang masih berdiri seperti patung penjaga di sudut ruangan.

Praka melangkah mendekat. Ia juga mengabaikan Ken Aji. Matanya hanya tertuju pada Kaluna. Pria itu melepaskan pin kecil yang selama ini selalu ia kenakan di kerahnya, ebuah simbol dari organisasi keamanan yang ia bentuk sendiri.

Praka meraih tangan Kaluna dan mnenyerahkan pin berbentuk bintang dan perisai itu.

"Misi selesai, adikku," ucap Praka singkat.

Suara Praka lembut dan penuh penyelesaian. "Kau tidak lagi membutuhkan perisai. Kau sudah menjadi pedangmu sendiri."

Andrian maju selangkah, menatap Praka dengan tatapan yang kini lebih jernih. "Praka, aku berhutang nyawa istriku padamu. Apa pun yang kau butuhkan, apa pun..."

Praka menggeleng pelan, memotong ucapan Andrian. "Jaga dia, Tuan Sugara. Itu saja harganya. Jika kau membuatnya menangis karena alasan yang salah, aku tidak akan ragu untuk mengambilnya kembali."

Andrian mengangguk mantap dan tersenyum kecil. "Kau tidak akan punya kesempatan itu, Tuan Praka."

Saat mereka berjalan keluar gedung kejaksaan, sinar matahari menyilaukan mata Kaluna. Wartawan langsung memberondong dengan pertanyaan.

"Nona Kaluna, bagaimana rasanya disetrum?"

"Nona Kaluna, bagaimana kau bisa bertahan di tempat seperti itu?"

Pertanyaan-pertanyaan itu seolah ingin membuka kembali tabir masa lalu yang seharusnya sudah mati, tapi Kaluna memilih diam dan tidak menanggapi.

Belum mendapatkan jawaban yang mereka inginkan, pertanyaan-pertanyaan kembali seperti teror. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak lagi terdengar seperti pencarian informasi, melainkan berubah menjadi interogasi massa yang menyesakkan.

Suara para wartawan saling tumpang tindih, menciptakan dengungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga Kaluna, menyerangnya dari segala arah tanpa celah untuk bernapas.

"Nona Kaluna, bagaimana rasanya disutik mati lalu dipaksa untuk hidup lagi?"

"Bagaimana kau bisa bertahan tanpa menjadi gila?"

"Apakah bekas suntikan itu masih ada, bisa kau tunjukkan pada kami?"

"Apakah kau sempat merasa kehilangan akal sehat saat itu?"

Setiap kata setrum, jeritan, suntikan, dan gila, menghujam tepat ke ulu hati Kaluna seperti peluru perak yang panas. Ruang terbuka di tangga pengadilan itu tiba-tiba menyempit, dinding-dinding imajiner laboratorium seolah muncul kembali dari aspal, mengurungnya dalam ruang hampa udara yang mencekam.

Kaluna merasa oksigen di sekitarnya habis. Kilatan lampu flash yang membabi buta terasa seperti kilatan listrik dari mesin laboratorium yang pernah menyiksa tubuhnya. Ia menutup telinganya dengan kedua tangan, tubuhnya merosot gemetar, berusaha menghilang dan berlindung di balik punggung Andrian yang kokoh.

"Mundur!" raung Andrian.

Suaranya bukan lagi sekadar peringatan, melainkan gertakan predator yang siap menerkam demi melindungi pasangannya.

Ia merangkul pinggang Kaluna dengan satu tangan untuk menopang tubuhnya yang nyaris ambruk, sementara tangan lainnya menunjuk ke arah kerumunan jurnalis dengan telunjuk yang gemetar karena amarah yang memuncak.

"Kalian menyebut diri kalian wartawan? Kalian tidak lebih dari burung bangkai yang berpesta di atas luka orang lain!" Andrian menatap mereka dengan mata yang memerah.

"Setiap pertanyaan kalian adalah penganiayaan baru bagi istri saya. Jika ada satu saja dari narasi keji ini naik ke media, saya bersumpah akan menggunakan seluruh kekuatan Sugara untuk memastikan perusahaan kalian rata dengan tanah sebelum matahari terbenam!"

Di sisi lain, Praka dan Leon bergerak dengan ketenangan yang mematikan. Tanpa suara, mereka dan tim keamanannya merangsek maju, menciptakan dinding manusia yang tak tertembus.

"Siapa pun yang berani mengambil foto lagi, kamera kalian akan berakhir di lantai," ancam Praka dengan nada rendah yang membuat para wartawan seketika menurunkan lensa mereka.

Di tengah perlindungan ketat dari para pria tangguh di depan Kaluna, suasana yang mencekam itu mendadak berubah.

Kaluna, yang tadinya meringkuk di balik pundak suaminya, perlahan melepaskan cengkeramannya. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya pelan, lalu melangkah maju melampaui punggung kokoh Andrian.

Andrian sempat menahan lengannya dengan cemas, "Kaluna, jangan. Kita bisa pergi sekarang."

Namun, Kaluna tidak menanggapi Andrian, dia berbalik menghadap kerumunan wartawan yang masih menodongkan mikrofon dan kamera. Wajahnya yang semula pucat kini tampak bercahaya oleh keberanian yang baru saja ia temukan di titik terendahnya.

Suasana mendadak hening saat Kaluna membuka suara. Suaranya tidak lagi bergetar; ia berbicara dengan otoritas seorang penyintas yang telah berdamai dengan masa lalunya.

"Kalian bertanya bagaimana rasanya disetrum? Bagaimana rasanya disuntik dan dikhianati hingga dianggap gila?" Kaluna menatap tajam ke arah lensa kamera, seolah ia sedang berbicara langsung kepada jutaan orang di luar sana.

"Rasanya memang sakit. Rasanya seperti dunia runtuh dan tidak ada satu pun tangan yang bisa menggapaimu. Tapi, jika kalian bertanya bagaimana aku bisa bertahan, jawabannya bukan karena aku kuat, tapi karena aku menolak untuk menyerah pada kegelapan."

Kaluna melangkah satu langkah lebih dekat ke kerumunan, membuat para wartawan terpaku. Dia mengangkat salah satu kamera di tangan wartawan dan menyorot tepat di wajahnya.

"Setruman itu mungkin menyakiti tubuhku, tapi tidak bisa menyentuh jiwaku. Pengkhianatan itu mungkin menghancurkan kepercayaanku, tapi justru membangkitkan kekuatanku untuk berdiri di atas kaki sendiri. Kepada siapa pun yang menonton ini, kalian yang sedang berada di dalam laboratorium penyiksaan kalian sendiri, entah itu karena kegagalan, trauma, atau tekanan orang lain, dengarkan saya. luka-luka ini bukanlah tanda kekalahan, melainkan peta jalan menuju kemenangan."

Kaluna mengangkat dagunya, memancarkan aura yang membuat semua orang di sana merasa kecil.

"Hari ini, pengadilan memutuskan Marisa bersalah. Tapi kemenangan sejati bukan saat palu hakim diketuk. Kemenangan sejati adalah saat kita mampu menatap orang yang menghancurkan kita dan berkata, kau gagal, karena aku masih berdiri di sini hari ini! Jangan biarkan siapa pun mendefinisikan siapa kalian. Jika mereka menyebut kalian gila hanya karena kalian berjuang, maka jadilah gila dengan cara yang paling luar biasa."

Seorang wartawan yang tadinya bertanya dengan sinis, kini tampak menunduk malu, sementara beberapa jurnalis lain mulai mencatat kata-kata Kaluna dengan tangan yang bergetar kagum.

Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Kaluna berbalik dengan anggun. Ia tidak lagi mencari perlindungan di balik pundak Andrian. Dia berjalan di sampingnya, sejajar, dengan kepala tegak.

Kehadiran Diana yang tiba-tiba memecah barikade wartawan membawa kehangatan yang instan di tengah dinginnya suasana pengadilan. Wanita itu muncul dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa, langsung merengkuh Kaluna ke dalam pelukannya yang erat dan protektif.

"Kau luar biasa, Kaluna," bisik Diana dengan suara yang bergetar karena rasa bangga yang luar biasa.