Di balik jeruji besi yang dingin dan berbau apak, suasana ruang kunjungan tahanan terasa begitu mencekam. Marisa duduk di balik sekat kaca dengan seragam oranye yang kontras dengan kulitnya yang biasanya terawat mahal. Wajahnya tampak kusam, namun matanya masih memancarkan api kebencian yang belum padam.
Di hadapannya, Kajayanti dan Alivia duduk dengan bahu yang merosot. Kajayanti, yang biasanya tampil angkuh dan elegan, kini tampak hancur. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.
"Ibu... maafkan aku," isak Kajayanti, suaranya bergetar hebat saat tangannya menyentuh kaca pembatas. "Aku gagal menjaga bukti itu. Aku gagal mencegah Kaluna bicara. Gara-gara kecerobohanku, Ibu harus berakhir di tempat hina ini. Seharusnya aku yang ada di sana, bukan Ibu..."
Alivia hanya bisa tertunduk di samping Kajayanti.
Marisa menempelkan telapak tangannya di kaca, tepat di depan tangan Kajayanti. Anehnya, tidak ada tangis dari mata Marisa. Yang ada hanyalah ketenangan yang mematikan.
"Hapus air matamu, Kajayanti," ucap Marisa dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Jangan biarkan dunia melihat kelemahanmu. Menangis tidak akan mengubah hukuman seumur hidupku, tapi menangis akan membuatmu menjadi mangsa empuk bagi Kaluna."
Marisa mendekatkan wajahnya ke arah lubang suara, tatapannya mengunci mata Kajayanti dengan intensitas yang mengerikan.
"Dengarkan Ibu baik-baik. Ibu mungkin kalah di pengadilan, tapi Ibu belum mati. Selama kau masih bernapas, dendam ini harus tetap hidup. Jangan pernah lepaskan gadis sialan itu!" perintah Marisa dengan suara yang terdengar seperti kutukan.
Marisa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan racun.
"Biarkan Kaluna merasa dia telah menang hari ini. Biarkan dia berpesta di atas penderitaan kita. Tapi kau harus tetap berdiri di rumah itu. Jadilah duri yang terus menusuk dagingnya setiap kali dia melihat ke arah Cassavanos. Balaskan dendam Ibu. Hancurkan kebahagiaannya sedikit demi sedikit, sampai dia sendiri yang memohon untuk mati."
Kajayanti perlahan mengusap air matanya. Kata-kata ibunya seolah menyuntikkan keberanian baru yang gelap ke dalam nadinya. Kesedihan dan rasa bersalahnya kini bertransformasi menjadi amarah yang dingin.
"Aku mengerti, Ibu," ucap Kajayanti dengan suara yang kini mulai stabil dan datar. "Aku tidak akan pergi dari Cassavanos. Aku akan menjaga rumah itu, dan aku akan memastikan setiap langkah yang Kaluna ambil akan berakhir dengan duri yang aku tanam."
Marisa mengangguk puas. "Itu baru putriku. Ingat, Kajayanti... permainan ini belum berakhir sampai Kaluna kehilangan segalanya, sama seperti yang aku rasakan sekarang."
Suasana di ruang kunjungan tahanan itu semakin pekat dengan persekongkolan. Alivia, yang sejak tadi hanya terdiam ketakutan, tiba-tiba menegakkan punggungnya. Ada kilatan ambisi yang muncul di matanya saat ia menyadari posisi hukumnya yang unik dalam keluarga besarnya sendiri.
Ia menggenggam tangan Kajayanti, lalu menatap Marisa dengan sorot mata yang kini lebih berani. Melihat keteguhan dan tekad yang kuat dalam diri Kajayanti, Alivia yakinn bahwa dia telah mendapatkan sekutu yang pantas untuk mencapai keinginannya.
"Marisa kau jangan khawatir," suara Alivia terdengar tegas dan penuh tipu daya. "Mereka lupa bahwa aku bukan hanya sekedar ibu tiri, Marisa. Secara hukum, aku masih berstatus istri sah dari mendiang Ferdinan. Bagaimana pun juga, aku tetap lebih berhak dari Diana, baik status maupun pengaruhku sebagai Ibu dari Andrian sendiri.
Marisa menyipitkan mata, mulai mencerna rencana yang sedang disusun sahabatnya itu.
"Sebagai nyonya rumah yang sah dan pemegang hak tinggal di Cassavanos, aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik keberadaan Kajayanti di rumah itu. Aku akan menjadikan rumah itu sebagai perlindungan mutlak bagi Kajayanti," lanjut Alivia.
Alivia beralih menatap Kajayanti dengan senyum licik. "Kau tetaplah bersamaku. Di bawah perlindunganku, tidak akan ada yang berani menyeretmu keluar. Kita akan membuat rumah itu menjadi wilayah yang tidak bisa disentuh oleh Kaluna."
Marisa tertawa pelan, suara tawanya terdengar parau dan mengerikan di balik kaca. Ia merasa bangga karena Alivia akhirnya menggunakan senjata yang selama ini ia persiapkan, status sosial dan ikatan keluarga Cassavanos yang rumit.
Sipir penjara mengetuk meja, menandakan waktu kunjungan telah habis. Marisa berdiri dengan kepala tegak, seolah seragam penjara itu adalah jubah kebesaran. Ia berbalik pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Kajayanti dan Alivia yang kini berdiri dengan tekad yang mengerikan.
Malam itu,
Rumah Cassavanos terasa begitu luas dan sepi. Di dalam kamar utama yang diterangi cahaya lampu temaram, suasana seharusnya terasa seperti kemenangan yang damai. Namun, dinding-dinding mewah ini seolah masih menyimpan gema dari teriakan-teriakan masa lalu.
Andrian duduk di tepi ranjang, memerhatikan Kaluna yang berdiri di dekat jendela, menatap taman luas yang gelap di bawah sana. Ia berdiri, lalu melangkah pelan mendekati istrinya. Dengan lembut, ia melingkarkan lengannya di pinggang Kaluna, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.
"Ini sudah berakhir, Kaluna," bisik Andrian, suaranya terdengar seperti beludru yang menenangkan. "Marisa sudah mendapatkan tempat yang seharusnya. Mulai besok, tidak akan ada lagi ketakutan. Aku akan memastikan setiap sudut rumah ini hanya akan diisi oleh kenangan manis yang baru. Kau adalah ratu di sini, dan aku akan menjagamu seumur hidupku."
Andrian mengecup pelipis Kaluna, memberikan kehangatan yang tulus. Baginya, badai telah berlalu.
Namun, di tengah kalimat-kalimat manis Andrian, tubuh Kaluna masih terasa sedikit kaku. Meskipun ia memberikan senyum tipis sebagai balasan, tangan kanannya masih tersembunyi di dalam saku blazer hitam yang belum sempat ia lepas.
Di dalam sana, jemari Kaluna sedang menggenggam erat sebuah gelang manik-manik yang terasa sangat dingin.
“Rumah tempatku pulang... ternyata adalah rumah sama yang merenggut nyawa Ibuku,” batin Kaluna dengan kepedihan yang tak terkatakan.
Itu bukan perhiasan mahal pemberian Andrian. Kaluna mencengkeram gelang manik dingin itu hingga manik-maniknya terasa seolah akan pecah di telapak tangannya.
Kaluna ingin sekali berbalik, berteriak, dan melemparkan gelang itu ke wajah Andrian. Ia ingin bertanya mengapa Andrian ada di sana malam itu, mengapa ia memakai gelang ini, dan mengapa ia menjadi penyebab serangan jantung ibunya.
Namun, ia teringat foto anak laki-laki dengan senyum tulus yang ia temukan, Andrian adalah teman masa kecil yang ia rindukan.
Andrian merasakan napas Kaluna yang berat. Ia memutar tubuh Kaluna agar mereka saling berhadapan. "Kaluna? Kau menangis? Ada apa?"
Kaluna menatap manik mata Andrian, mata yang sama yang ia lihat di pengadilan tadi, mata yang tampak begitu melindunginya.
“Apakah mata ini yang menatap Ibuku dengan kebencian dua puluh tahun lalu?” batin Kaluna terus memprovokasinya.
"Aku hanya... merasa lelah, Tuan Sugara," ucap Kaluna, suaranya parau dan dingin, sangat kontras dengan pelukan hangat Andrian. Ia menarik diri perlahan, melepaskan tangan Andrian dari wajahnya. "Aku butuh waktu untuk mencerna semuanya sendiri."
Malam itu menjadi saksi bisu hancurnya sebuah harapan yang baru saja mekar. Di kamar yang megah itu, kebenaran menjadi pedang bermata dua yang menebas kebahagiaan Kaluna tepat di puncaknya.
Andrian tertidur dengan napas yang tenang, merasa telah memenangkan seluruh pertempuran hidupnya karena berhasil melindungi wanita yang ia cintai.
Tapi di sampingnya, Kaluna terjaga dengan mata yang sembab dan dingin. Ia menatap langit-langit kamar, tangannya masih menggenggam erat gelang manik di bawah bantal, sebuah benda kecil yang kini menjadi tembok raksasa yang memisahkan jiwa mereka.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup tenang dengan dosa-dosamu, Tuan Sugara?" batin Kaluna, matanya berkilat tajam, sekeras berlian. "Jika rumah ini adalah sarang ular, maka aku akan menjadi naga yang membakarnya dari dalam."
Kaluna menyadari bahwa rumah ini hanya memberikan kedamaian semu bagi setiap orang selama bertahun-tahun.
Kematian ibunya, misteri kecelakaan Ferdinan dua puluh tahun lalu, dan peran Alivia dalam semua kekacauan ini adalah benang merah yang harus ia tarik hingga putus. Ia tidak akan membiarkan satu pun orang di rumah Cassavanos tidur nyenyak, termasuk pria yang kini memeluknya.
Kaluna keluar dari kamar dengan langkah yang begitu anggun dan kepala yang tegak.
Di kejauhan, di lorong rumah, Kajayanti masih mengintip. Kaluna menyadarinya, tapi dia tidak berbicara, hanya menlirik Kajayanti dengan tatapan yang seolah mengatakan, "Kau hanya pemeran pembantu dalam kehancuran yang sedang aku siapkan, Kajayanti."
Kaluna berjalan menuju perpustakaan timur, tempat semua rahasia terkubur. Ia tidak lagi mencari perlindungan. Ia adalah badai itu sendiri. Rumah Cassavanos mungkin memiliki sejarah yang berdarah, tapi Kaluna akan memastikan bahwa sejarah itu berakhir dengan tangannya yang memegang kendali.
Lampu di lorong berkedip pelan, menandakan babak baru telah dimulai. Kaluna tidak akan berhenti sampai setiap nyawa yang hilang terbayar, dan setiap pendosa, termasuk suaminya itu berlutut di bawah kakinya.
TAMAT