Ezra keluar dari kamar mandi lebih dulu.
Tubuh bagian atasnya terbuka, kulitnya masih lembap oleh sisa air hangat. Rambutnya basah, beberapa helai jatuh ke keningnya. Wajahnya tetap dingin, namun ada ketenangan palsu yang menggantung, seperti laut sebelum badai. Dia berjalan ke meja tanpa suara berlebihan, hanya langkah berat yang tertahan rapi.
Tangannya meraih handphone.
Satu notifikasi masuk. Tautan ke gambar.
Ezra membukanya tanpa ekspresi, seperti seseorang yang sudah terbiasa menerima kabar buruk. Di layar, sebuah foto buram dari jarak jauh, seorang perempuan berjalan cepat di area bandara. Topi ditarik rendah, masker menutupi wajah, jaket panjang menutup tubuhnya rapat-rapat. Pakaian yang sengaja dipilih untuk menghilangkan identitas.
Ezra tahu.
Dia selalu tahu.
Bagi dunia, perempuan itu bisa siapa saja. Bagi Ezra, lekuk bahu, cara melangkah, bahkan kemiringan kepalanya, itu Seira. Istrinya. Tidak ada keraguan.
Pesan berikutnya masuk. [Jam 23.00 tadi malam. Terbang ke Abu Dhabi.]
Ezra mengalihkan pandangan ke jam di dinding. Rahangnya mengeras. Hitungannya cepat, presisi. Itu berarti tepat setelah Seira meninggalkan penthouse semalam. Setelah semua yang terjadi. Setelah kata-kata kosong. Setelah janji yang tidak pernah dia ucapkan.
Satu pesan lagi masuk.
Dan yang ini menghantam.
Tujuan akhir: Malpensa.
Napasan Ezra berhenti sesaat.
Milan.
Tangannya mengencang di sekitar handphone. Otot rahangnya menonjol tajam. Tanpa peringatan, dia membanting ponsel itu ke meja kaca. BRAK.
Kaca pecah seketika. Retaknya menjalar liar, serpihannya meloncat dan berjatuhan. Suara itu memantul di ruangan, keras, memekakkan. Noa yang sedang mengenakan bajunya terkejut. Ia membeku di tempat. Tangannya berhenti di kancing terakhir. Matanya melebar, tapi dia tidak bersuara. Tidak bergerak.
Ezra berbalik.
Dan badai itu akhirnya pecah.
“Berani sekali kau.”
Suaranya rendah, serak, tapi penuh racun. Ia menyapu meja dengan lengannya, menjatuhkan buku, gelas, apapun yang ada di atasnya. Suara benda-benda jatuh bertabrakan memenuhi apartemen yang sebelumnya tenang.
“Pergi. Tanpa izin. Ke Milan.”
Ia menendang kursi hingga terbalik, menghantam dinding. Napasnya memburu, matanya gelap oleh amarah yang tidak lagi punya rem. Ezra berjalan mondar-mandir seperti binatang buas di kandang sempit, tangannya mengepal, lalu kembali meraih apapun yang bisa ia hancurkan.
Noa berdiri di sudut ruangan. Ia melihat semuanya. Setiap gerakan kasar, setiap teriakan yang menggema. Tapi ia tidak menyela. Tidak berusaha menenangkan. Ia tahu, saat seperti ini, Ezra bukan pria yang bisa disentuh oleh kata-kata.
“Lancang,” gumam Ezra, nyaris seperti mantra yang diulang-ulang. “Selalu lancang.”
Ia mengusap wajahnya kasar, lalu tertawa pendek, terasa dingin. Tawa seseorang yang merasa dipermainkan.
“Milan,” katanya lagi, lebih pelan, lebih berbahaya. “Tentu saja Milan.”
Ezra berhenti di tengah ruangan. Dadanya naik turun cepat. Dia menatap pecahan kaca di meja, bayangan dirinya terpantul terdistorsi di sana. Mata itu penuh kemarahan, juga sesuatu yang lebih dalam, rasa dikhianati yang menampar harga dirinya sebagai pria yang tak pernah ditinggalkan.
“Dia pergi tanpa izinku,” ucapnya, kali ini seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Lagi.”
Noa menelan ludah. Tangannya menggenggam ujung bajunya, tapi ia tetap diam. Tatapannya waspada, namun lembut. Ia tidak membela Seira.
Tidak pula menyetujui Ezra. Ia hanya menjadi saksi.
Ezra mengusap tengkuknya, lalu menatap ke arah jendela. Kota terbentang di luar, berkilau, tak peduli pada kekacauan di dalam ruangan ini. Sesuatu di dadanya bergetar, amarah bercampur luka, ego bercampur ketakutan akan kehilangan kendali.
“Apa kali ini aku harus benar-benar menghancurkan karirmu,” gumamnya.
Nada itu bukan ancaman kosong. Itu pernyataan dingin dari seseorang yang tahu betul kekuatan apa yang ia miliki. Jaringan. Uang. Nama. Dunia yang bisa ia jungkirbalikkan hanya dengan satu panggilan.
Ezra berbalik lagi, menendang vas kecil di dekat sofa hingga pecah menghantam lantai. Suara pecahannya tajam, menyayat keheningan.
Noa mengerjap, tapi tetap tidak bergerak. Ia tahu, kemarahan Ezra bukan untuknya. Namun ia juga tahu, berada di dekat pria seperti ini berarti menerima semua sisi, termasuk yang paling gelap.
Ezra akhirnya berhenti.
Ia berdiri terengah, bahunya naik turun. Tangannya gemetar sedikit, lalu perlahan mengendur. Amarahnya belum hilang, tapi telah berubah bentuk, lebih terfokus, lebih berbahaya.
“Milan,” ulangnya sekali lagi, dengan nada yang kini tenang, hampir dingin sempurna. Noa menatap punggung Ezra. Ada rasa ngeri, meski akhirnya Noa melangkah pelan dari arah kamar.
Kaosnya kebesaran, jatuh menutupi sebagian pahanya, sementara celana pendek ketat menegaskan garis kakinya yang ramping. Rambutnya masih sedikit lembap, ujungnya menempel di leher. Ia berhenti sejenak di ambang ruang tamu, matanya menyapu apartemen yang kini berantakan, buku berserakan, pecahan kaca berkilau di lantai, kursi terbalik, meja retak.
Tidak ada protes. Tidak ada keluhan. Tatapan Noa justru tertuju pada tangan Ezra.
Tetesan darah masih mengalir tipis dari sela jemarinya, merah kontras dengan kulitnya yang pucat. Ezra berdiri kaku, rahangnya mengeras, seolah rasa perih itu tidak layak mendapat perhatian. Namun Noa melihatnya. Selalu begitu. Ia melihat hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain.
Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Ezra.
“Tuan,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.
Ezra menoleh sedikit. Matanya yang gelap menatap Noa tanpa benar-benar fokus. Kepalanya masih penuh gema kemarahan, pikirannya kusut oleh bayangan Milan, Seira, dan kendali yang kembali terlepas dari genggamannya.
Noa tidak menunggu jawaban.
Ia berbalik, mengambil kotak P3K dari laci bawah meja, gerakannya ringan, seolah sudah hafal letaknya. Ia kembali, lalu berlutut di depan Ezra tanpa ragu, tanpa canggung. Sebuah gestur yang penuh kepatuhan, namun bukan kehinaan. Lebih seperti kesediaan.
“Biar saya bersihkan,” katanya lembut.
Ezra tidak menjawab. Ia juga tidak menolak.
Noa mengambil tangan Ezra dengan hati-hati. Sentuhannya ringan, hangat. Jari-jarinya bergerak perlahan, membersihkan darah dengan kasa steril. Ezra sedikit mengernyit saat cairan antiseptik menyentuh luka terbuka. Ada perih yang tajam, tapi ia hanya mengembuskan napas pendek, menahannya.
Tidak ada keluhan. Tidak ada makian.
Noa memperhatikan setiap reaksi kecil itu. Ia bekerja dengan telaten, membungkus luka dengan perban rapi. Tangannya cekatan, seolah memang terbiasa melakukan ini. Di ruangan yang masih menyimpan sisa amukan,.
Tidak ada suara selain napas mereka.
Ezra menatap ke arah jendela, lalu ke lantai, lalu entah ke mana. Kebuasannya belum hilang, hanya tertahan, seperti api yang ditutup abu tipis. Namun sesuatu di dadanya perlahan mereda, meski ia tidak mau mengakuinya.
Noa selesai membebat luka itu. Ia tidak langsung bangkit. Tangannya tetap berada di paha Ezra, ringan, tidak menekan. Ia mendongak, menatap wajah Ezra dari posisi itu. Ada senyum kecil di bibirnya, senyum yang sama yang selalu muncul, tulus, tanpa takut.
“Ada lagi yang bisa saya lakukan?” tanyanya.
Nada suaranya bukan memaksa. Bukan merayu. Lebih seperti tawaran sederhana, penuh kepatuhan, seolah apa pun jawabannya akan ia terima.
Ezra menatapnya. Untuk sesaat, kepalanya benar-benar berisik. Bayangan Seira, Milan, foto-foto itu, rasa dikhianati, semuanya bercampur. Dia tidak tahu apa yang ia butuhkan. Ia hanya tahu dadanya sesak, bahunya tegang, dan pikirannya tidak berhenti berputar.
Noa bergerak lebih dekat.
Tangannya perlahan naik, mengalung lembut di leher Ezra. Sentuhan itu tidak mendesak, tidak menuntut. Hanya ada di sana. Hangat. Nyata. Jari-jarinya menyentuh kulit Ezra yang masih lembap, membuat napas Ezra sedikit berubah.
Noa tersenyum lagi, kali ini lebih ceria.
“Tuan tahu tidak?” katanya dengan nada ringan, hampir seperti bercanda. “Aku bisa mijat, loh.”
Ezra mengerutkan kening, menatapnya dengan sorot yang sulit ditebak. “Maksudmu?”
Noa mengangkat jemarinya, memperagakan gerakan kecil yang lucu. “Aku bersertifikat.”
Ada kebanggaan kecil di suaranya. Bukan kesombongan—lebih seperti anak kecil yang menunjukkan sesuatu yang ia kuasai dengan baik.
Tangannya kembali mengalung di leher Ezra. Wajahnya tetap tenang, tidak menunjukkan rasa takut, tidak gentar oleh aura dominasi yang masih melekat kuat pada pria di hadapannya.
“Tuan pasti lelah,” lanjut Noa lembut. “Aku bisa meredakannya sedikit.”
Ezra menatapnya lama.
Ada banyak hal yang bisa ia katakan. Ada banyak hal yang bisa ia lakukan. Tapi untuk kali ini, pikirannya sedikit melambat. Amarahnya masih ada, namun tidak lagi liar. Ada sesuatu tentang Noa, tentang kepatuhannya yang tulus, tentang caranya hadir tanpa menuntut, yang mengganggu sekaligus menenangkan.
Ezra mencondongkan tubuhnya sedikit. Wajahnya mendekat ke Noa, cukup dekat hingga napas mereka bertemu. Suaranya rendah saat ia berbisik di dekat bibir Noa.
“Kita lihat,” katanya pelan, berbahaya namun terkendali, “apa sertifikatmu tervalidasi.”
Noa terkekeh kecil.
Bukan tawa gugup. Bukan tawa takut. Hanya tawa ringan, percaya diri, seolah ia tahu persis bagaimana menghadapi badai Ezra