Feels to be Yours-Pelampiasan Liar-BAB 12

Penulis Ryukaze
13 January 2026

Noa merapikan tempat tidurnya dengan gerakan tenang. Seprai sebenarnya sudah rapi, bantal tersusun sempurna, tapi dia tetap menarik sudut kain, meratakan lipatan kecil yang mungkin hanya dia sendiri yang perhatikan. Ada ketenangan dalam caranya bergerak, seolah keteraturan kecil itu mampu menahan kekacauan yang baru saja melanda apartemen ini.

Ezra berjalan mendekat, langkahnya berat namun sengaja dibuat lambat, seperti tantangan diam-diam. Matanya mengikuti setiap gerakan Noa, dari jemari yang menghaluskan seprai sampai bahunya yang naik-turun perlahan saat ia bernapas. Ada sesuatu yang mengusik di dada Ezra. Bukan amarah. Bukan hasrat yang liar. Lebih seperti dorongan yang lebih dalam.

Noa menoleh, menangkap tatapan itu.

Ia tersenyum. Lagi.

Senyum yang sama. Tidak berubah. Tidak goyah.

“Aku tak yakin,” gumam Ezra rendah, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “ini hanya akan berakhir dengan pijatan.”

Noa berkedip, sedikit centil, tapi tanpa niat menggoda. Tatapannya jernih, jujur, seolah ia memang sudah tahu arah angin sejak awal.

“Kalau memang itu yang Tuan mau,” jawabnya ringan, “saya nggak apa-apa.”

Tidak ada drama. Tidak ada syarat. Hanya penerimaan.

Ezra berhenti bicara. Ia langsung berbalik dan berbaring di atas ranjang, menelungkup, memperlihatkan punggungnya yang lebar dan berotot. Otot-otot itu tegang, bukan karena siap menyerang, melainkan karena terlalu lama menahan beban. Beban pikiran, keputusan, kendali. Noa mendekat perlahan.

Ia membuka laci kecil di sisi tempat tidur dan mengambil sebotol minyak pijat. Seakan memang sudah ada di sana sejak lama, menunggu saat seperti ini. Ia menuangkan sedikit ke telapak tangannya, menggosok kedua telapak itu hingga hangat, lalu berhenti sejenak, memberi Ezra waktu, memberi ruang.

Aroma tubuh Noa samar menempel di seprai. Bukan parfum. Lebih seperti kehangatan kulit, bersih, alami. Ezra menghirupnya tanpa sadar. Dadanya naik perlahan, lalu turun.

Sentuhan pertama Noa jatuh di punggungnya.

Ringan. Pasti.

Tangannya bergerak terampil, menemukan titik-titik yang paling menyimpan ketegangan. Jempolnya menekan lembut di sisi tulang belakang, lalu menyebar ke bahu. Ezra menggerung pelan, bukan suara marah, bukan pula erangan terbuka. Lebih seperti desah dingin yang dilepaskan dari tempat terdalam.

“Bahu Tuan keras sekali,” komentar Noa pelan. “Ini bukan capek biasa.”

Ezra tidak menjawab.

Ia membiarkan Noa bekerja.

Sentuhan itu berpindah, dari bahu ke lengan, mengikuti garis otot yang terlatih. Noa tidak terburu-buru. Setiap gerakannya penuh kesadaran, seolah ia membaca tubuh Ezra seperti peta. Di mana harus menekan, di mana harus melepas.

“Tuan selalu memaksa diri,” lanjut Noa tanpa nada menggurui.

Ezra mengembuskan napas panjang.

Ada kebenaran di sana. Dan anehnya, mendengarnya dari Noa tidak terasa seperti kritik. Lebih seperti pengamatan jujur dari seseorang yang memperhatikan.

Tangan Noa bergerak ke pinggang, lalu menurun perlahan. Tidak ada sentuhan yang berusaha menggoda. Tidak ada niat memancing. Hanya kesinambungan, seperti aliran air yang tahu ke mana harus mengalir.

Ezra bisa merasakan emosinya yang bergemuruh perlahan mereda.

Api itu tidak padam, tapi tidak lagi membakar tanpa arah.

“Di sini juga,” kata Noa lagi, jarinya menekan lembut di sisi pinggang.

Ezra menutup mata. Ia membiarkan tubuhnya benar-benar menyerah pada sentuhan orang lain. Tidak mengendalikan. Tidak mengawasi. Tidak bersiap menyerang.

Noa melanjutkan pijatan itu, punggung ke lengan, lalu kembali naik. Gerakannya konsisten, penuh ritme. Kadang ia berhenti sejenak, memberi tekanan lebih dalam, lalu kembali lembut. Tidak ada jeda yang sia-sia.

“Kalau sakit, bilang,” ucap Noa.

Ezra menggeleng pelan. “Teruskan.”

Suaranya lebih rendah sekarang. Lebih tenang.

Noa tersenyum kecil, meski Ezra tidak bisa melihatnya. Ia tahu. Selalu tahu kapan harus berhenti bertanya.

Sentuhan itu terus bekerja, bukan hanya pada tubuh, tapi pada sesuatu yang lebih dalam, tempat Ezra jarang izinkan siapa pun masuk. Tempat di mana ia lelah, bukan sebagai penguasa, bukan sebagai suami, bukan sebagai pria yang selalu harus menang.

Tiba saat Ezra diminta berbalik. Noa masih duduk di tepi ranjang. Bukan ragu, tapi menghormati. Tatapannya lembut, bibirnya melengkung tipis, bukan senyum genit, lebih seperti peneguhan.

Ezra mengangkat kepalanya sedikit, suara beratnya memotong udara. “Kenapa kamu gak naik.”

Noa memanjat ranjang, lututnya menekan kasur di sisi pinggang Ezra. Tubuhnya membungkuk, tangan hangat menyentuh dada pria itu.

“Disini juga tegang,” bisiknya. Jemarinya menekan, bergerak perlahan di atas kulit keras yang tertarik. Ezra hanya mendengus, matanya menutup separuh, membiarkan dirinya disentuh.

“Lepas,” ucapnya pendek.

Noa paham. Dengan patuh melepas kaos, menyibak rambut yng terurai ke sisi yang memikat, menyingkap tubuh yang lebih berisi daripada supermodel, tetapi padat dan nyata. Dalaman tipis tinggal menjadi pembatas terakhir, sebelum ia membungkuk lagi, dadanya menyentuh dada Ezra. Semua pemandangan itu dilihat dengan desiran seorang laki yang terpenuhi egonya.

Napas mereka bercampur. Ezra membuka mata, menatap tepat ke bola mata Noa. Satu tangan pria itu terangkat, meraih tengkuknya, lalu menariknya turun. Bibir mereka bertemu, keras dan panas, seperti dua bara yang akhirnya meledak jadi api.

Noa sempat terkejut dengan agresivitasnya, tapi ia menyerahkan diri. Bibirnya membuka, membiarkan lidah Ezra masuk, menuntut lebih, merenggut kendali. Ciuman itu panjang, terputus hanya ketika Noa terengah. Ezra tidak berhenti; bibirnya turun ke leher, mencengkeram kulit lembut dengan gigitan singkat yang meninggalkan bekas merah.

“Untuk siapa kau disini?” suaranya rendah, hampir seperti geraman.

“Untuk Tuan,” Noa berbisik di sela erangannya.

Ezra tersenyum tipis, lalu mendorong tubuh Noa hingga berbaring. Kini ia di atasnya. Pandangannya menyapu tubuh Noa, Penutup bukit alaminya sudah hampir terlepas. Satu tarikan cepat, kait belakang terbuka, dan kain itu jatuh. Dua bukit alami terbebas, dan Ezra menunduk, mencium, menggigit ringan, membuat tubuh Noa melengkung tanpa kendali.

Tangan Noa meremas sprei, suaranya lolos dalam desahan panjang. Ezra mencengkeram pinggangnya, keras, seakan menancapkan rasa memiliki. Gerakannya tidak hanya mengeksplorasi, tapi menuntut, menguji batas.

“Begini kau harus melayani,” ucap Ezra sambil kembali menyambar bibir Noa.

Noa menjawab dengan tubuhnya. Paha mulusnya mengangkat, membelit pinggang Ezra, menariknya lebih dekat. Gesekan kain tipis celana dalamnya dengan tubuh Ezra menyalakan percikan lebih jauh. Noa berani sekarang, tangannya menyusuri otot punggung pria itu, menekan lebih dalam, mendesak agar ia tidak berhenti.

Ranjang mulai berderit, ritme tubuh mereka berpadu. Ezra tak memberi Noa ruang untuk bernafas, setiap inci tubuhnya ditandai oleh bibir, lidah, dan genggaman. Noa tenggelam, antara sakit dan nikmat, tak tahu lagi membedakan. Yang ia tahu hanya satu, dia diinginkan, sepenuhnya.

Saat Ezra akhirnya menekan lebih dalam, Noa menjerit kecil, kukunya menancap di bahu pria itu. Tapi ia tidak menolak. Tubuhnya menerima, bahkan menyesuaikan, mengikuti irama liar Ezra. Setiap gerakan lebih cepat, lebih keras, lebih menuntut.

Desahan Noa semakin tak terkendali, namanya lolos berulang dari bibirnya. Ezra semakin dalam, semakin kuat, matanya tajam menatap wajah wanita di bawahnya, bukan sekadar menaklukkan, tapi seolah membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri. Dia masih memiliki kuasa.

Panas tubuh bercampur dengan keringat, irama tubuh mereka semakin beringas. Noa menggeliat, tapi bukan untuk melarikan diri, ia minta lebih, suaranya terputus-putus, “Tuan… lebih…”

Ezra menggertakkan gigi, tangannya menahan pinggang Noa, mendikte kecepatan, hingga akhirnya tubuh pria itu menegang, menarik Noa ke dalam hentakan terakhir yang membuatnya menjerit keras.

Kamar itu meledak dalam satu kepuasan penuh, liar, panas.

Mereka jatuh terengah, tubuh basah oleh keringat, sprei berantakan, udara kamar kini dipenuhi aroma campuran hasrat. Noa masih di pelukan Ezra, dadanya naik turun cepat. Ia menoleh pelan, mencari wajah pria itu.

Ezra tidak berkata apa-apa. Hanya menutup mata, menahan napas, seakan di antara pelukan Noa ia menemukan ruang kosong untuk melupakan. Noa mengerti. Ini bukan hanya tentang tubuh, ini adalah cara Ezra menyalurkan luka, kemarahan, dan egonya. Bukan Seira. ia hanyalah Noa, tapi itu yang dibutuhkan Ezra.