Feels to be Yours-Milan-BAB 14

Penulis Ryukaze
13 January 2026

Seira tiba di hotelnya di Milan menjelang sore, ketika cahaya matahari menabrak dinding-dinding batu tua kota itu dengan warna keemasan. Dia berdiri di tengah kamar beberapa detik, koper masih tegak di samping kakinya.

Ada perasaan ganjil yang menyelinap pelan, seperti udara dingin yang masuk lewat celah jendela yang lupa ditutup. Seira menaruh tasnya di meja, lalu menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak, bukan karena lelah perjalanan, melainkan oleh satu nama yang sejak tadi berputar di kepalanya tanpa diundang.

Ezra.

Dia menatap bayangannya sendiri di cermin besar dekat jendela. Wajahnya masih sempurna, kulit terawat, mata tajam, postur yang selalu membuat orang menoleh dua kali. Namun di balik semua itu, ada ketegangan yang sulit disamarkan. Seira tahu pria itu. Terlalu tahu. Ia bisa membayangkan Ezra duduk dengan tenang, wajah dingin, menyusun sesuatu dalam diam.

Dalam hati, Seira berdoa dengan caranya sendiri. “Setidaknya ijinkan aku menyelesaikan pekerjaan ini saja.” Dia duduk di tepi ranjang, jari-jarinya saling mengunci. Setelah ini, mungkin ia akan pulang lebih cepat. Mengurangi jadwal. Menolak beberapa tawaran. Melunakkan segala hal yang selama ini membuat Ezra merasa ia terlalu jauh, terlalu bebas.

Jika perlu, ia akan memohon maaf.

Seira menelan ludah. Bayangan itu datang begitu jelas, ia berlutut di hadapan suaminya, menundukkan kepala, membiarkan harga dirinya dilipat rapi demi satu hal, ketenangan Ezra. Demi menjaga keseimbangan rapuh yang selama ini mereka sebut pernikahan.

Ia akan puas jika Ezra puas memilikinya. Beberapa bulan. Mungkin lebih. Ia bisa bertahan.

Ketukan di pintu memecah lamunannya.

“Seira?”

Itu suara Filan.

Seira bangkit, merapikan rambutnya sekilas sebelum membuka pintu. Filan berdiri di sana dengan ekspresi yang terlalu mengenalnya, ekspresi seseorang yang tahu ada badai, meski langit masih cerah.

“Kamu kelihatan tegang,” kata Filan sambil masuk. “Jet lag?”

“Sedikit,” jawab Seira singkat.

Filan tidak langsung percaya, tentu saja. Ia meletakkan map di meja, lalu menatap Seira dengan mata yang lebih tajam dari yang ia tunjukkan pada orang lain. “Ini bukan cuma jet lag.”

Seira tersenyum tipis. Senyum profesional. Senyum yang biasanya cukup untuk menghentikan pertanyaan. Tapi Filan bukan orang luar.

“Aku cuma… merasa ada yang tidak beres,” aku Seira akhirnya. “Seperti Ezra tahu.”

Filan menghela napas pelan, lalu menyilangkan tangan. “Ezra?”

Nama itu menggantung di udara. Seira tidak menjawab, tapi reaksinya sudah cukup.

“Kamu sudah sejauh ini,” lanjut Filan dengan nada lebih tegas namun tetap hangat. “Kontrak ini besar. Exposure-nya luar biasa. Jangan biarkan rasa takut mencuri momenmu sendiri.”

Seira berjalan ke jendela, memandang jalanan Milan yang ramai di bawah. Orang-orang berjalan cepat, hidup mereka bergerak tanpa tahu ada satu perempuan di lantai atas yang sedang menimbang hidupnya sendiri.

“Aku tahu,” katanya lirih. “Aku cuma… berharap dia mengerti.”

Filan mendekat beberapa langkah. “Seira, dengar aku baik-baik. Apapun yang akan terjadi dengan Ezra, hadapi setelah kamu mendapatkan pamor ini. Jangan setengah-setengah. Dunia fashion tidak menunggu orang yang ragu.”

Seira memejamkan mata sejenak.

Ia tahu Filan benar. Selalu begitu. Dunia yang ia geluti kejam dengan caranya sendiri, sekali lengah, seseorang yang lebih muda, lebih lapar, akan menggantikan posisinya tanpa ragu. Dan pamor adalah perisai satu-satunya yang bisa membuat posisinya tetap bernilai, bahkan di mata Ezra.

Ia mengangguk pelan. “Aku akan menyelesaikannya.”

“Bagus,” ujar Filan, lebih lega. “Sekarang, kamu harus fitting dulu. Desainer sudah menunggu. Mereka tidak suka menunggu, apalagi di kota ini.”

Seira menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia meraih mantel, menyampirkannya di bahu dengan gerakan yang kembali elegan. Topeng itu terpasang lagi. Seira yang publik kenal, bukan Seira yang sedang dihantui.

“Baik,” katanya. “Kita berangkat.”

Mereka berjalan keluar kamar. Lorong hotel terasa panjang, sunyi, dan dingin. Setiap langkah Seira terasa seperti latihan menenangkan diri, menyingkirkan bayangan Ezra yang terus berusaha menyusup.

Di dalam mobil, Filan sibuk mengecek ponselnya, sementara Seira menatap keluar jendela. Milan bergerak cepat di sekelilingnya, gedung-gedung tua, kafe kecil, orang-orang dengan gaya khas yang tampak seolah lahir sudah tahu cara berjalan percaya diri.

Ia mengingatkan dirinya sendiri: ini adalah panggungnya.

Rasa khawatir dan ketakutan itu harus ditekan, disimpan di sudut paling gelap dari pikirannya. Setidaknya sampai pekerjaan ini selesai. Setidaknya sampai lampu runway padam dan tepuk tangan berhenti.

Setelah itu… Ia akan menghadapi Ezra.

Mobil berhenti di depan atelier. Seira turun, punggungnya kembali tegak, dagunya terangkat. Tidak ada yang boleh melihat retakan itu. Tidak sekarang. Ia melangkah masuk, membawa serta ketakutannya seperti rahasia kecil di balik gaun mahal.

**

Ruang fitting itu luas, terang, dan dingin dengan cara yang elegan. Dindingnya putih gading, lantainya kayu halus, dan di tengah ruangan berdiri cermin-cermin tinggi yang memantulkan sosok Seira dari berbagai sudut—seolah dunia ingin memastikan tak ada satu detail pun yang terlewat.

Seira berdiri di atas platform kecil, tubuhnya dipasangi jarum pentul, kain, dan penanda. Ia lebih banyak diam. Bukan hanya karena bahasa Italia yang masih terasa asing di telinganya, tetapi karena pikirannya terus berkelana ke tempat lain. Ke penthouse. Ke wajah dingin Ezra yang ia bayangkan sudah mengetahui segalanya.

Desainer itu, seorang pria berusia matang dengan rambut perak disisir rapi, kacamata tipis bertengger di hidung—mengitari Seira perlahan, matanya tajam seperti memindai karya seni yang belum selesai. Ia berbicara cepat dalam bahasa Italia, sesekali memberi isyarat dengan tangan, menunjuk pinggang, bahu, garis leher.

Filan berdiri di samping, tenang dan sigap. Pria itu seperti ikan di air. Ia menanggapi setiap kalimat sang desainer dengan lancar, bahasa tubuhnya lembut namun tegas. Seira hanya menangkap potongan-potongan nada, pujian, koreksi, perintah kecil, tanpa benar-benar memahami isinya.

Gaun pertama yang dipasangkan padanya adalah karya utama koleksi itu. Sutra berat berwarna hitam arang dengan potongan struktural di bagian atas dan jatuh dramatis di bawah. Ada detail bordir halus di pinggang, hampir tak terlihat kecuali jika cahaya mengenainya dengan sudut tertentu. Gaun itu tidak dibuat untuk sekadar dikenakan. Ia dibuat untuk mendominasi ruang.

Asisten-asisten bergerak cepat, menyesuaikan lipatan, menarik kain, menyematkan jarum. Seira menatap bayangannya di cermin. Tubuhnya terlihat kuat, elegan, seperti yang selalu dia kenal. Namun hari ini, entah mengapa, ia merasa sedikit… berbeda. Tahu dibayangi rasa salah.

Desainer itu berhenti di depannya. Nada suaranya berubah—lebih pelan, lebih serius. Ia mencondongkan tubuh sedikit, matanya fokus ke bagian perut Seira, lalu berkata sesuatu yang cukup panjang.

Filan mengangguk beberapa kali, lalu menjawab dengan kalimat yang sama seriusnya. Seira memperhatikan ekspresi Filan yang berubah tipis, bukan panik, tapi waspada. Ada jeda singkat sebelum desainer kembali berbicara, kali ini sambil menunjuk kain di bagian depan gaun.

Filan menoleh ke Seira.

“Dia bilang,” ujar Filan dengan suara yang dibuat selembut mungkin, “bagian perutmu terlihat sedikit… penuh. Tidak sepenuhnya in shape untuk potongan ini.”

Kalimat itu terasa seperti sentuhan dingin di kulit. Seira refleks menurunkan tangannya ke perutnya, menekannya ringan, seolah baru menyadari keberadaannya. Gerakan itu spontan, hampir naluriah.

“Aku sedang menstruasi,” katanya cepat, meski suaranya tetap tenang. “Biasanya memang agak terlihat lebih berisi.”

Filan langsung menerjemahkan, nada bicaranya santai, hampir bercanda, seolah itu hal paling wajar di dunia. Sang desainer mendengarkan, lalu mengangguk pelan. Ia mengangkat bahu sedikit, ekspresinya melunak. Tangannya bergerak memberi instruksi baru pada asistennya, penyesuaian kecil, perubahan milimeter yang bagi dunia luar mungkin tak berarti, tapi bagi dunia ini segalanya.

Seira tersenyum tipis. Senyum yang sudah terlatih. Senyum yang menenangkan orang lain, meski dirinya sendiri belum tentu tenang.

Namun Filan tidak melewatkan refleks tadi. Cara Seira memegang perutnya. Cara matanya sempat kosong sepersekian detik. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang sudah cukup jelas bagi seseorang yang terlalu lama bekerja di sekitar tubuh perempuan dan perubahan-perubahannya. Tapi Filan tidak mengatakan apa-apa. Tidak sekarang.

Fitting berlanjut. Sang desainer tersenyum kecil, puas. Ia mengatakan sesuatu dengan nada ringan, bahkan terdengar seperti pujian. Filan tersenyum lebih lebar kali ini.

“Dia bilang kamu membawa gaun ini dengan sangat baik,” ujar Filan. “Seperti memang dibuat untukmu.”

Seira mengangguk. “Terima kasih.”

Fitting hari itu ditutup dengan catatan-catatan kecil, jadwal penyesuaian ulang, dan senyum profesional dari semua pihak. Saat Seira akhirnya berganti kembali ke pakaiannya sendiri, ia merasa lelah, bukan di tubuh, tapi di kepala.

Saat mereka berjalan keluar, Filan meliriknya sekilas. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya pelan, cukup untuk tidak terdengar orang lain.

Seira mengangguk. “Aku harus baik-baik saja.”