Feels to be Yours-Rahasia Berbahaya-BAB 15

Penulis Ryukaze
14 January 2026

Kamar mandi hotel itu sunyi, hanya diisi dengung halus lampu dan suara air yang menetes perlahan dari keran yang belum ditutup sempurna. Cermin besar di dinding memantulkan sosok Seira apa adanya, tanpa riasan, tanpa gaun mahal, tanpa senyum profesional yang biasa ia kenakan.

Ia menatap dirinya lama.

Wajahnya terlihat sama. Terlalu sama. Kulitnya masih kencang, tulang pipinya tetap tegas, matanya masih mata seorang perempuan yang terbiasa berdiri di bawah sorot lampu. Tapi ada sesuatu yang tak bisa ia abaikan lagi. Sesuatu yang berdenyut pelan, tak kasatmata, namun nyata.

Tangan Seira turun ke perutnya.

Sentuhan itu ringan, hampir takut. Seperti menyentuh permukaan air yang dingin untuk memastikan apakah tubuhnya masih miliknya sendiri. Napasnya tersendat. Jantungnya berdetak lebih cepat, lalu lebih cepat lagi, sampai rasanya seluruh tubuhnya ikut mendingin.

Masalah gaun sudah selesai. Ia tahu itu. Ia akan tetap berjalan di runway besok. Kain akan jatuh sempurna, cahaya akan bekerja sesuai rencana, kamera akan menangkap sudut terbaiknya. Dunia tidak akan tahu apa-apa.

Masalahnya bukan hari ini.

Masalahnya adalah minggu depan. Bulan depan. Waktu yang tak bisa dihentikan hanya karena ia menolak melihatnya.

Perut itu akan membesar. Tidak drastis, tapi cukup. Tubuhnya akan berubah sedikit demi sedikit, seperti jam pasir yang terus mengalir meski dibalikkan. Seira menutup matanya sejenak, menelan rasa panik yang naik dari dadanya ke tenggorokan.

Ia tahu.

Dia sudah tahu sejak lama.

Setidaknya dua bulan telah berjalan. Mungkin lebih, ia tak pernah benar-benar menghitung dengan jujur. Bukan karena bodoh, tapi karena sibuk. Jadwal padat, penerbangan, fitting, kontrak, tuntutan untuk selalu hadir sebagai versi terbaik dari dirinya. Dan di sela semua itu, ada satu kenyataan yang terus ia dorong ke sudut pikirannya, berharap ia akan menguap sendiri.

Ia tidak berniat mempertahankannya.

Pikiran itu datang tanpa emosi, datar, seperti kesimpulan logis. Bukan karena ia kejam, bukan karena ia tidak mampu. Ia hanya… belum siap. Belum siap tubuhnya menjadi bahan pembicaraan dengan alasan yang bukan karena prestasi. Belum siap sorot kamera beralih dari gaun ke perut. Belum siap dunia berhenti melihatnya sebagai Seira—dan mulai melihatnya sebagai sesuatu yang lain.

Belum siap menyusui. Belum siap begadang. Belum siap tubuhnya berubah permanen, sementara dunia mode tak pernah menunggu siapa pun untuk kembali ke bentuk semula.

Dan yang paling jujur—belum siap mengikat dirinya lebih dalam pada Ezra.

Seira membuka mata. Tatapannya kembali ke cermin, kali ini lebih tajam. Ada bayangan Ezra di sana, meski pantulan itu hanya miliknya sendiri. Ezra dengan tatapan yang selalu menuntut. Ezra yang menganggap tubuhnya bagian dari wilayah kekuasaannya. Ezra yang matanya dan telinganya ada di mana-mana.

Itu sebabnya ia belum melakukan apa-apa.

Bukan karena ragu. Tapi karena takut.

Takut setiap langkahnya diawasi. Takut setiap janji medis, setiap pergerakan, setiap keputusan kecil akan sampai ke telinga yang salah. Ezra belum tahu. Tak ada yang tahu. Dan untuk saat ini, rahasia itu adalah satu-satunya hal yang masih sepenuhnya berada dalam kendalinya.

Seira meraih wastafel, menopang tubuhnya. Ujung jarinya memutih karena cengkeramannya menguat. Napasnya terasa dangkal.

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin.

Air itu menyentuh kulitnya, mengalir dari dahi ke pipi, ke dagu, jatuh ke wastafel seperti sisa-sisa kepanikan yang tak sempat ia sembunyikan. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menatap kembali ke cermin. Matanya sedikit merah, tapi tidak sampai terlihat menangis.

Bagus.

Ia tak boleh menangis. Tangis hanya akan membuatnya ragu.

“Aku tidak akan membicarakan ini denganmu,” gumamnya pelan, entah pada bayangannya sendiri atau pada Ezra yang selalu terasa hadir. “Lebih mudah kalau kau tidak tahu. Lebih aman.”

Ezra akan menganggapnya milik. Akan menganggap itu hak. Akan mengubahnya menjadi keputusan sepihak yang tak memberinya ruang memenangkan diri sendiri. Seira tahu betul bagaimana akhir percakapan itu akan berjalan. Ia sudah terlalu sering kalah dalam bentuk yang berbeda.

Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Milan.

Kota ini terasa seperti jeda yang tipis namun berharga. Jauh dari pengawasan langsung. Jauh dari tangan yang bisa menutup semua pintu hanya dengan satu perintah. Ia sedang di luar jangkauan Ezra, untuk sementara.

Ini saatnya. Sebelum Ezra menemukannya. Sebelum waktu benar-benar berpihak pada sesuatu yang tidak ia inginkan. Seira meraih handuk, mengeringkan wajahnya, lalu berdiri tegak. Bahunya kembali lurus. Rahangnya mengeras sedikit, bukan marah, tapi tekad.

Ia menatap dirinya untuk terakhir kali sebelum mematikan lampu kamar mandi.

Apa pun yang akan ia lakukan, ia akan melakukannya cepat. Rapi. Tanpa meninggalkan jejak. Seperti semua hal lain yang selama ini ia lakukan demi bertahan.

Seira keluar dari kamar mandi dengan langkah yang lebih pelan dari saat ia masuk. Rambutnya masih sedikit lembap, wajahnya tampak lebih pucat, tapi ekspresinya sudah kembali rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja berperang dengan pikirannya sendiri.

Filan ada di sana, berdiri dekat meja kecil, menunduk menatap layar tablet dengan beberapa dokumen terbuka. Ia tampak fokus, alisnya sedikit berkerut, jari-jarinya bergerak cepat seperti sedang mencocokkan jadwal atau detail teknis yang hanya ia pahami.

Seira berhenti beberapa langkah darinya.

Napasnya tertahan di dada, seperti ada pintu yang macet di antara paru-paru dan tenggorokan. Kata-kata itu sebenarnya sederhana, tapi mengucapkannya terasa seperti menarik pelatuk.

“Filan…” suaranya keluar lebih pelan dari yang ia kira.

Filan menoleh, refleks, dengan senyum kecil yang langsung mengendur saat melihat wajah Seira. Ada sesuatu di sana yang tidak biasa. Bukan kelelahan biasa. Bukan gugup sebelum show.

“Kamu kenapa?” tanyanya cepat, langsung siaga. “Sakit? Pusing? Kamu kelihatan—”

“Aku butuh dokter,” potong Seira.

Hening.

Filan berkedip sekali, lalu dua kali. Senyumnya benar-benar menghilang. Ia menegakkan tubuh, menatap Seira dari ujung kepala sampai kaki, mencoba membaca sesuatu yang tak diucapkan.

“Dokter… sekarang?” tanyanya hati-hati. “Kamu nggak enak badan? Atau—”

Seira menatapnya.

Tak ada kata tambahan. Tak ada penjelasan. Hanya tatapan yang sudah terlatih selama bertahun-tahun hidup di dunia yang penuh isyarat tak langsung. Tatapan yang membawa beban, ketakutan, dan permintaan yang tak bisa diucapkan keras-keras.

Filan berhenti bicara.

Matanya turun perlahan. Bukan dengan sikap kurang ajar, tapi seperti seseorang yang sedang menyusun kepingan puzzle yang tiba-tiba masuk akal dengan cara yang mengerikan. Tatapannya berhenti di perut Seira.

Satu detik. Dua detik.

“No way,” gumamnya lirih, hampir tak bersuara.

Seira mengangguk kecil.

Gerakan itu nyaris tak terlihat, tapi cukup. Cukup untuk menjatuhkan seluruh spekulasi menjadi satu kenyataan yang berat.

“Please,” katanya. Satu kata. Patah. Tapi tegas.

Filan menghembuskan napas panjang, lalu mengangguk. Wajahnya berubah, bukan panik, bukan menghakimi. Lebih seperti seseorang yang tahu ini bukan waktunya untuk bertanya, hanya bertindak.

“Oke,” katanya singkat. “Aku urus.”

Tak ada kata lagi. Tak ada drama. Hanya pemahaman yang sunyi, lalu gerak cepat Filan mengambil ponselnya, menjauh beberapa langkah untuk menelepon seseorang, berbicara dengan bahasa Italia yang lancar, nada suaranya rendah dan serius.

Seira duduk di tepi tempat tidur, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuannya. Jantungnya masih berdebar, tapi setidaknya kini ia tidak sendirian dengan rahasia itu.

Di belahan dunia lain, di sebuah ruang meeting dengan dinding kaca dan meja panjang mengilap, Ezra duduk di kursi utama seperti patung yang diberi jas mahal.

Suara-suara mengalir di sekitarnya.

Presentasi demi presentasi berjalan rapi. Grafik naik-turun di layar besar. Orang-orang berbicara dengan antusias, dengan ketegangan yang disamarkan senyum profesional. Mereka tahu siapa yang duduk di ujung meja itu. Mereka tahu satu anggukan kecil dari Ezra bisa berarti kontrak bernilai miliaran, atau kehancuran yang dibungkus kata “kami akan pertimbangkan.”

Ezra mendengar, tapi tidak mendengarkan.

Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya tidak berada di ruangan itu. Ia tahu nanti Nael akan memberikan rangkuman. Ia tahu angka-angka itu akan tetap masuk akal, apa pun keputusannya. Kehadirannya hari ini lebih mirip formalitas, sebuah simbol kekuasaan yang harus ada, meski pikirannya sedang terseret ke tempat lain.

Seira.

Nama itu berdenyut aneh di dadanya, seperti sesuatu yang bergerak tanpa izin. Tidak sakit. Tidak juga nyaman. Hanya… mengganggu.

Tak ada pesan.

Tak ada panggilan tak terjawab. Tak ada notifikasi yang menunjukkan istrinya setidaknya berpura-pura meminta izin atau menjelaskan. Kosong. Terlalu sunyi.

Ezra menggeser ponselnya sedikit di atas meja, layar menghadap ke atas. Masih kosong.

Dia jelas tidak berusaha.

Rahangnya mengeras. Otot di rahang kirinya menegang, halus tapi nyata. Ia sudah memperingatkan. Ia sudah jelas. Milan bukan sekadar perjalanan kerja baginya, itu adalah pelanggaran. Sebuah pernyataan diam-diam bahwa Seira bisa pergi sesukanya, tanpa persetujuan, tanpa tunduk.

Dan Ezra tidak dibesarkan untuk menerima itu.

Seseorang di ujung meja tertawa kecil, mungkin karena lelucon ringan dari presenter. Ezra tidak ikut tersenyum. Tangannya terlipat di dada, tubuhnya bersandar ke kursi dengan sikap tenang yang menipu.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Insting itu datang begitu saja, tajam dan tak bisa diabaikan. Ezra menurunkan pandangannya sesaat, lalu kembali menatap layar presentasi seolah tertarik. Senyum tipis, dingin, muncul di sudut bibirnya.

Biarkan saja.

Jika Seira berpikir bisa bergerak tanpa ia sadari, maka permainan ini baru saja naik tingkat. Dan Ezra tidak pernah kalah dalam permainan yang ia anggap miliknya.