Drama

Bab 4 Nabila Menolong Rifki

26 January 2026

Nabila sedang berada di kampus, semua orang jadi heboh akibat kecelakaan yang disebabkan oleh seorang selegram kampus. Nabila tidak terkejut dengan hal ini karena memang dia tahu semuanya.

"Wah kasian banget Kak Rifki."

"Iya ih, kok bisa kecelakaan seperti ini," gumam seorang wanita yang memakai celana jeans ketat.

"Kita harus menjenguknya yuk. Siapa tahu nanti kita bisa dekat. Belum lagi dia masih jomblo," ujar mahasiswi yang lain.

Semua ikut heboh juga, Nabila berjalan melewati mereka semuanya dengan tenang. Sebelum akhirnya ada seseorang yang memanggil dirinya.

"Nabila."

Nabila menoleh kearah Tia yang rupanya memanggil namanya. Dia menaikan sebelah alisnya ketika melihat Tia yang nampak heboh menatap dirinya dan langsung menarik tangannya agar jauh dari kerumunan para orang-orang tersebut.

"Tia," gumam Nabila.

"Lo udah liat video tentang Rifki gak? Gila yah dia banting setir buat gak nabrak anak kecil," ujar Tia yang sekarang malah jadi sangat heboh.

Nabila hanya tersenyum tipis saja, dia sudah tahu dengan hal tersebut karena memang dia ada di tempat kejadian waktu itu. Tentu saja dia tahu karena sudah melihat semuanya.

"Iya kamu benar," jawab Nabila.

Sampai Tia duduk di kursi dan Nabila melihat kearah ponselnya dan melihat kembali video yang ada. Dia sedikit merasa tidak asing dengan orang yang ada di sana.

"Tunggu dulu, ini bukannya kamu?" tunjuk Tia ketika melihat sebuah video yang memang di dalamnya ada Nabila.

Kemudian Nabila mengambil foto tersebut sambil memperlihatkan sebuah video yang dia lihat. Benar dugaan dirinya kalau orang-orang pada mengabadikan momen tersebut.

"Aku menolong dirinya."

"Wah serius? Aku gak menyangka sama sekali kalau kamu bisa membantu Rifki, padahal yang aku tahu kalau kamu sangat benci dengan orang kaya dia," ujar Tia.

Nabila hanya tersenyum dengan sekilas. Lalu matanya tidak sengaja melihat sosok pria yang menjadi tipe idaman menurut dirinya. Bahkan dia tidak menyangka melihat dia di sini.

Tia yang menyadari hal tersebut pun menyenggol Nabila dengan sekilas. "Oh jadi itu cowo yang lo suka bukan? Sesuai dengan tipemu?"

"Apa sih, Tia."

Pipi Nabila bersemu merah, dia menggelengkan kepalanya ketika dia mengingat kembali kalau dirinya sudah dijodohkan dengan Rifki. Bahkan keluarga pria itu akan datang menemui dirinya.

"Gak usah menyembunyikan sesuatu dari aku kaya gitu. Btw apa kamu sudah tahu namanya?" tanya Tia yang kini malah bersemangat.

Dia jadi berpikir untuk mendekatkan Nabila dengan pria tersebut. Apalagi Tia tahu kalau Nabila tipe orang yang memaki hijab lebar dan dia sangat cocok disandingkan dengan pria yang memang pandai dalam bidang agama.

"Aku tidak tahu namanya," ujar Nabila yang memang jujur. Walaupun dia sering melihat pria itu ketika berada di mesjid kampus, tetapi dia sama sekali tidak tahu dengan hal itu.

"Nama dia Ustadz Hafiz."

Tia berbisik dan Nabila mendengar namanya. Sampai dia kembali menoleh kearah pria tersebut.

Deg

Mata mereka saling bertemu satu sama lain sebelum akhirnya orang tersebut memutuskan untuk memalingkan wajahnya.

Nabila kembali melihat kearah Tia kembali. Rasanya dia tidak asing dengan orang tersebut. Apa sebelumnya mereka pernah bertemu?

"Astaga dia melihat kearah sini tadi. Apa artinya dia tahu tentang kita?" Heboh Tia yang tampak bersemangat sekali.

Berbeda dengan Nabila yang merasa sangat malu sekarang, dia langsung menarik tangan Tia untuk pergi dari sini.


Sementara di tempat lain.

Hafiz diam-diam memperhatikan Nabila, tidak ada yang tahu kalau selama ini dia merasa kagum dengan sosok Nabila. Hafiz hanya tau namamya dan belum ada kesempatan untuk mengenal wanita itu lebih jauh.

Hanya dia yang tahu tentang perasaan tersebut. Sampai ponselnya berdering tanda ada yang menghubunginya.

"Hallo Assalamualaikum Umi."

"Waalaikumsalam, kamu sudah tahu kalau kakakmu masuk ke dalam rumah sakit karena kecelakaan?" tanya Hana kepada anaknya.

Hafiz yang mendengar hal tersebut malah terkejut. Dia sama sekali tidak tahu kalau sampai kakaknya masuk ke dalam rumah sakit.

"Innalilahi, bagaimana keadaan dia sekarang?" tanya Hafiz.

"Tadi sih terlihat sudah sadar. Untung ada calon istrinya datang menolongnya. Jadi dia bisa dibawa cepat ke rumah sakit."

"Syukurlah kalau begitu, aku nanti akan menjenguk dia ke rumah sakit," ujar Hafiz yang memang sudah yakin dengan hal ini.

"Iya sebaiknya memang kamu menjenguk dia di rumah sakit. Kalau dia tidak menyukaimu, biarkan saja. Kita sudah berusaha baik ke dia, kalau dia tetap keras kepala. Sebaiknya jangan ganggu dulu."

"Baiklah kalau begitu, aku paham."

"Yaudah kalau begitu umi tutup dulu sambungan teleponnya."

Hana akhirnya memutuskan untuk mematikan sambungan teleponnya. Hafiz diam, lalu dia kembali melirik kearah wanita itu. Tetapi ketika dia sudah sampai di sana, malah sudah tidak terlihat sama sekali.

"Ke mana dia pergi sebenarnya?" gumam dia merasa heran sendiri.

Hafiz malah kehilangan jejaknya, akhirnya dia memutuskan untuk pergi keluar dan menjenguk kakaknya. Tentu saja dia hanya ingin memastikan saja.

Walaupun kakaknya tidak menyukai dirinya. Tetapi Hafiz selalu berharap kalau kelak kakaknya akan berubah demi dirinya.

Sampai tak lama kemudian, motor yang dia kendarai sudah sampai di tempat tujuannya. Dia berjalan menuju kearah ruangan yang diberitahu oleh ibunya.

"Assalamualaikum," ucap Hafiz ketika beliau sudah sampai di tempat tujuannya.

"Waalaikumsalam."

Rifki menjawabnya dengan sekilas. Sampai matanya melihat kearah Hafiz yang rupanya datang ke sini.

"Bagaimana keadaan Kak Rifki?" tanya Hafiz.

"Gak usah sok baik, aku tahu kalau kamu senang melihat keadaanku seperti ini bukan?" sinis Rifki sambil memutar bola matanya jengah.

Hafiz menghela napas panjang ketika kakaknya itu selalu menuduhnya seperti itu. Padahal dia benar-benar berniat baik untuk melihat keadaan kakaknya.

"Astaghfirullah Kak Rifki. Aku ke sini benar-benar akan menjenguk Kakak."

"Tidak usah berakting. Kamu senang jika aku celaka seperti ini. Agar kamu bisa menikah dengan wanita yang dijodohkan denganku, bukan?" tuduh Rifki sambil mengepalkan tangannya.

Alasan dia menerima perjodohan ini juga sebenernya Rifki ingin balas dendam kepada Hafid. Terlebih dia sudah tahu wanita yang diam-diam sering diperhatikan oleh adik tirinya itu.

"Aku sama sekali tidak ada kepikiran sampai ke sana. Kenapa Kak Rifki sampai berpikir seperti itu?"

"Gak usah munafik deh jadi orang. Bahkan ibu kamu sendiri bilang kalau aku gak menerima perjodohan ini maka kamu yang akan menggantikannya," balas Rifki.

Hafiz hanya menggelengkan kepalanya karena memang ini semuanya tidak benar sama sekali. Dia bahkan tidak berpikir sampai ke sana.

"Ini hanya salah paham Kak Rifki. Lagian aku juga tidak tahu wanita yang akan dijodohkan dengan Kak Rifki."

Mendengar hal tersebut dari Hadi, membuat Rifki tersenyum dengan penuh arti. Rupanya Hafiz tidak tahu dengan orang yang dijodohkan dengan dirinya.

"Bagus deh kalau kamu tidak tahu," balas Rifki yang tersenyum dengan penuh arti. Dia akan membalas semua perbuatannya wanita itu dengan anaknya.

BERSAMBUNG