Namanya Memang Eropa, Lokasinya Tetap di Jawa
Bangunan dengan dinding tebal dan jendela melengkung yang jembar itu masih berdiri di sisi kiri jalan menuju Perkebunan Glenmore. Tinggi daun jendelanya kira-kira 1,5 meter. Lokasinya sekira 50 meter di utara palang pintu kereta api. Bangunan bergaya art deco itu bukan rumah biasa. Rumah yang tampak kurang terawat itu adalah rumah dinas kepala Stasiun Glenmore sejak masa pendudukan Belanda. Rumah dinas ini dibangun sezaman dengan pembangunan Stasiun Glenmore pada awal abad ke-20. Sampai awal tahun 2000-an, setiap kepala Stasiun Glenmore pasti menempati rumah ini.
Rumah dinas ini hanya satu dari sekian bangunan bersejarah yang masih tersisa di Glenmore. Sekitar satu kilometer dari rumah dinas ini ke arah selatan ada bangunan besar yang berfungsi dengan baik. Ia adalah Kantor Pos Glenmore. Layaknya bangunan pada masa Belanda, gedung ini memiliki halaman yang cukup luas. Bangunannya paling megah di antara bangunan lain pada masanya. Gedung bergaya art deco juga dapat kita temukan di SD Negeri Sepanjang I. Awalnya, sekolah ini adalah Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau sekolah Belanda untuk bumiputera yang berdiri akhir tahun 1930-an. Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, sekolah ini berganti rupa menjadi Sekolah Rakjat (SR) Glenmore 2 sampai awal 1970-an.
Gedung-gedung bersejarah itu adalah bangunan yang dibuat pemerintah Belanda sebagaimana bangunan lain seperti jembatan Kali Takir, Kantor Administrasi dan Pengepul Komoditas yang sekarang menjadi rumah H. Hancu, dan sejumlah pabrik di perkebunan yang didirikan oleh para pengusaha Belanda seperti Perkebunan Kali Sepanjang, Perkebunan Kali Kempit, Perkebunan Kendeng Lembu, dan Perkebunan Kali Telepak. Selain bangunan buatan pemerintah Belanda, Glenmore masih menyimpan tempat bersejarah yang didirikan oleh pengusaha Eropa. Salah satu yang masih berfungsi adalah Sarengan di Perkebunan Glenmore dan rumah keluarga besar Gerardus van Prenh yang sekarang menjadi Hotel Minak Jinggo.
Gedung yang dibuat pemerintah Belanda harus diserahkan kepada Indonesia setelah Belanda menyerahkan kedaulatan sepenuhnya kepada Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949. Selain penyerahan kekuasaan, Belanda harus menyerahkan seluruh aset yang berada di Indonesia yang dikenal sebagai program nasionalisasi di awal tahun 1950-an. Nasionalisasi berlaku untuk aset yang dimiliki Belanda dan pengusaha Belanda. Tapi, pada akhirnya beberapa perkebunan yang dimiliki pengusaha Belanda melebur untuk berada dalam satu wadah di bawah bendera PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII.
Beberapa perkebunan milik pengusaha Belanda yang kemudian melebur menjadi PTPN XII antara lain Perkebunan Kendeng Lembu, Perkebunan Kalirejo, Perkebunan Kali Telapak, dan Perkebunan Kali Kempit. Dalam program nasionalisasi ini, perkebunan milik pengusaha non-Belanda tidak diserahterimakan kepada pemerintah Indonesia seperti Perkebunan Glenmore, Perkebunan Trebasala, Perkebunan Glen Falloch, Perkebunan Glen Nevis, dan lain-lain. Aset ini tetap dimiliki oleh pengusaha dari Skotlandia dan Inggris. Namun, lambat laun ada di antara perkebunan swasta milik pengusaha non-Belanda ini yang juga melebur di PTPN XII.
Sejarawan Bondan Kanumoyoso dalam penelitian untuk disertasi yang kemudian menjadi buku Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia (2001) menyebutkan beberapa perusahaan yang langsung diserahkan Belanda kepada Indonesia antara lain Perusahaan Listrik Negara, Djawatan Kereta Api, Djawatan Pos Telegram dan Telekomunikasi, Djawatan Pegadaian, Djawatan Angkutan Motor, dan sejumlah perkebunan. Meski penyerahan aset telah dilakukan, tidak serta merta pengelolaan perusahaan itu ditangani sepenuhnya oleh Indonesia. Sebagian perusahaan masih mempertahankan tenaga kerja dari Belanda, terutama tenaga ahli, seperti di NV Garuda Indonesia Airwayas yang tetap dipimpin oleh TH. J. De Brujin.
Selain beralihnya kepemilikan perusahaan, nasionalisasi aset perusahaan Belanda ini memiliki dampak lain terhadap kehidupan sosial. Pekerja asal Belanda yang selama ini menjadi warga kelas satu akhirnya hengkang meninggalkan Indonesia. Masalahnya, ada di antara mereka yang menikah dengan warga Indonesia dan memiliki keturunan. Sebagian mereka memilih kembali ke Belanda bersama keluarga barunya. Tapi, tidak sedikit yang pulang sendiri dan meninggalkan istri dan anak-anaknya di Indonesia. Di antara kisah kembalinya warga Belanda ini, ternyata ada warga Belanda yang memilih menetap di Indonesia karena tidak mau berpisah dengan keluarga yang sudah dibangunnya.
Dampak sosial lain dari program nasionalisasi antara lain pembaruan warga keturunan Belanda dan masyarakat lokal. Salah satu yang cukup dikenal luas oleh warga Glenmore adalah Tuan Porten. Dia salah satu pejabat penting di Perkebunan Glenmore. Warga sekitar mengenalnya sebagai mandor besar. Dia menikah dengan perempuan dari Muncar, Banyuwangi yang dikenal sebagai Nyai Muncar. Rumah Tuan Porten dengan arsitektur art deco berdiri sekitar 400 meter dari rumah dinas Kepala Stasiun Glenmore. Sayang, rumah ini tampak kurang terawat. Padahal, rumah ini punya jejak bersejarah dan salah satu bukti masa kejayaan Glenmore sebagai kota di masa kolonial Belanda.
Hengkangnya Belanda, perubahan kepemilikan sejumlah perkebunan, dan kondisi politik yang belum stabil menyebabkan roda perekonomian di Glenmore berada di dalam ketidakpastian. Hasil perkebunan seperti karet, kakao, cengkeh, dan kopi yang selama ini diandalkan sebagai komoditas ekspor tidak mampu lagi menyamai pencapaian sebelumnya. Selain produksi yang menurun, serapan pasar untuk juga menurun drastis jika tidak disebutkan terhenti sama sekali. Situasinya semakin tidak kondusif setelah meletus malapetaka politik 30 September 1965 yang berdampak pada munculnya sengketa lahan antara pemilik perkebunan dan masyarakat.
Perubahan besar ini membuat Glenmore tidak seperti dulu lagi. Jika sebelumnya pembangunan infrastruktur selalu merujuk pada standard dan gaya Eropa, sekarang kondisinya telah berganti dengan nuansa lokal yang lebih kental. Konsep tata ruang Glenmore yang dirancang Belanda sebagai kota dengan sentuhan Eropa memang masih tersisa. Tapi, kondisinya sudah tidak sama lagi karena bangunan yang berdiri kemudian tidak lagi mengusung bergaya art deco. Begitu pun dengan pemanfaatan sarana transportasi kereta api dan jalan darat. Tidak heran kalau lambat laun wajah Glenmore berubah menjadi daerah berkembang layaknya daerah lain di Indonesia.
Perubahan Glenmore yang bernuansa Eropa menjadi Glenmore yang lebih Indonesia tidak bisa dibendung karena daerah ini tempat bertemunya beragam suku. Kehadiran warga dari berbagai daerah mengikuti jejak kerabatnya yang lebih dulu mendiami Glenmore semakin memperkuat nuansa Indonesia. Masing-masing membawa budaya dan tradisinya. Karena itu, tidak heran jika logat bicara warga Glenmore sangat beragam. Gaya bicara warga Mediunan atau Megelanan berbeda dibandingkan warga Sepanjang Kulon meski sama-sama menggunakan bahasa Jawa.
Begitu juga warga di sekitar Pasar Glenmore, punya aksen berbeda dibandingkan masyarakat di sekitar Perkebunan Glenmore meski sama-sama berbicara dengan bahasa Madura. Belum lagi warga dari suku lainnya seperti Osing, Bugis, Melayu, Bali, Minahasa hingga Tionghoa. Meski jumlah mereka tidak dominan seperti Jawa dan Madura, tetap saja budaya mereka memberi pengaruh pada lahirnya budaya Pandhalungan yakni, kebudayaan hasil percampuran beragam etnis dan budaya. Salah satu turunan dari budaya baru ini adalah lahirnya kuliner modifikasi seperti lontong campur. Atau pecel Glenmore yang mengadopsi pecel ala Madiun dan Blitar.
Secara umum masyarakat Glenmore yang beretnis Madura mendiami Desa Sepanjang (wilayah pasar), Tulungrejo, Tegalharjo, Karangharjo dan Margomulyo. Sedangkan masyarakat Jawa banyak menghuni Dusun Megelenan dan Mediunan (Desa Sepanjang), Desa Sumbergondo, Desa Bumiharjo, Desa Karangharjo (Krajan). Adapun masyarakat keturunan Arab dan Tionghoa banyak terkonsentrasi di sekitar Pasar Glenmore dan Desa Karangharjo. Bahasa Jawa maupun Madura yang berkembang di sentra perdagangan ini pun bahasa Jawa dan Madura yang sudah tersisipi istilah dan kosakata Arab maupun Tionghoa.
Perubahan-perubahan yang terjadi sejak Belanda pergi ini juga mengubah posisi serta status Glenmore sebagai bagian dari Indonesia. Kalau awalnya nama Glenmore digunakan untuk nama perkebunan, lambat laun nama ini melekat dengan nama daerah. Sampai akhirnya, Glenmore secara administratif menjadi desa di bawah Kecamatan Kalibaru sampai akhirnya berkembang statusnya menjadi sebuah kecamatan pada awal 1970-an. Secara administratif maupun sosial, Glenmore menjadi bagian dari Kabupaten Banyuwangi. Meski suasana dan nuansa Indonesia semakin kuat, Glenmore tetaplah nama yang tidak bisa lepas dari nuansa Eropa.