Di bawah rembulan yang sayu, kamar pengantin itu memancarkan kelembutan lavender, warna kesukaan Lyra. Aroma bunga sedap malam yang samar-samar berpadu dengan wangi lilin aromaterapi, menciptakan suasana romantis yang menenangkan. Arkan berdiri di ambang pintu, terpaku menatap Lyra yang duduk anggun di tepi ranjang. Gaun putihnya berkilauan tertimpa cahaya rembulan, rambutnya yang panjang tergerai indah, dan matanya memancarkan kebahagiaan yang tak terlukiskan.
Arkan melangkah mendekat, hatinya dipenuhi rasa syukur yang mendalam. Ia berlutut di hadapan Lyra, meraih tangannya, dan menciumnya dengan penuh cinta. Lyra menatap wajah tampan itu. Tidak pernah terlintas di benaknya kalau cinta pertamanya itu, yang ia anggap tak sekalipun terlihat pernah memandangnya, kini benar-benar berdiri di hadapannya sebagai suaminya. Sebuah keajaiban yang terasa begitu nyata, namun juga begitu rapuh.
"Sholat dulu," ucap Arkan, suaranya lembut, namun tegas.
Lyra tercengang. Kata-kata itu seperti guntur di tengah keheningan yang romantis. "Apa?" tanyanya, memastikan ia tidak salah dengar. "Sholat?"
"Ya," jawab Arkan, menatap lurus ke matanya, tanpa sedikit pun keraguan.
Lyra terdiam. Lidahnya kelu, pikirannya berputar. Sudah lebih delapan tahun ia tak pernah lagi mencari Tuhan. Semenjak ia merasa hidupnya hancur, Lyra menganggap Tuhan tak pernah ada untuknya. Dicampakkan ibu kandung ke jalanan dengan tudingan sudah menggoda suami ibunya, disusul dengan diperlakukan secara tidak manusiawi oleh Om Revan yang awalnya dikira Lyra sebagai malaikat penyelamat, telah merenggut semua keyakinannya. Ia merasa ditinggalkan, dibiarkan sendirian dalam kegelapan. Dan kini, di malam paling sakral dalam hidupnya, suaminya, cinta pertamanya, mengajaknya untuk kembali ke hadapan-Nya.
"Bang," Lyra memulai, suaranya serak. "Aku... aku tidak tahu.. Aku mungkin sudah lupa bagaimana cara sholat, sudah cukup lama aku meninggalkan Tuhan karena ku anggap tak adil dengan hidupku.."
Arkan bangkit dari berlututnya, duduk di tepi ranjang di samping Lyra. Ia meraih tangan Lyra yang gemetar dan menggenggamnya erat. "Tidak apa-apa.. Tuhan bisa memahami. Ayo, mulai lagi ya? Ambil wudhu dulu. Masih ingatkan caranya? Nanti kita sholat bersama."
Lyra menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar.
"Aku takut, Bang," bisik Lyra, suaranya bergetar. "Aku takut kalau aku tidak bisa. Aku takut kalau aku tidak pantas."
Arkan mengusap lembut pipi Lyra dengan ibu jarinya. "Siapa bilang kamu tidak pantas? Kamu pantas mendapatkan semua kebahagiaan di dunia ini, Lyra. Dan Tuhan selalu menerima hamba-Nya yang kembali kepada-Nya, tidak peduli seberapa jauh dia telah tersesat."
Arkan berdiri, menarik Lyra bersamanya. "Ayo, aku temani kamu wudhu. Jangan khawatir, aku akan mengingatkanmu langkah-langkahnya."
Dengan langkah ragu, Lyra mengikuti Arkan menuju kamar mandi. Sentuhan lembut Arkan di punggungnya memberikan kekuatan dan keyakinan. Di depan cermin, Lyra menatap wajahnya sendiri. Wajah yang tampak lelah dan penuh luka. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
Arkan membuka keran air dan membasuh tangannya. "Bismillahirrahmanirrahim," bisiknya lembut. "Ikuti aku, ya?"
Lyra mengikuti gerakan Arkan dengan cermat. Ia membasuh tangannya, berkumur, membasuh wajah, tangan hingga siku, kepala, telinga, dan kaki. Setiap gerakan terasa seperti membersihkan debu-debu yang selama ini menutupi hatinya.
"Sudah selesai?" tanya Arkan, menatap Lyra dengan senyum lembut.
Lyra mengangguk pelan. Ia merasa sedikit lebih tenang, meskipun rasa canggung masih menyelimutinya.
"Sekarang pakai mukenanya," kata Arkan, mengambil mukena putih yang sudah disiapkannya. "Biar aku bantu."
Arkan membantu Lyra mengenakan mukena. Sentuhan lembutnya membuat jantung Lyra berdebar kencang. Ia merasa seperti seorang anak kecil yang sedang dibimbing oleh ayahnya.
Setelah selesai mengenakan mukena, Arkan membimbing Lyra kembali ke kamar. Ia membentangkan sajadah di lantai, menghadap kiblat.
"Kamu ingat bacaan niatnya?" tanya Arkan, menatap Lyra dengan sabar.
Lyra menggelengkan kepalanya pelan. "Sudah lupa, Bang," bisiknya.
"Tidak apa-apa," balas Arkan. "Ikuti aku saja. Ucapkan dalam hati, 'Ushalli fardhu isya'i arba'a raka'atin mustaqbilal qiblati adaa'an lillahi ta'ala'."
Lyra mengikuti ucapan Arkan dengan terbata-bata. Ia merasa gugup dan tidak percaya diri.
"Allahu Akbar," ucap Arkan, mengangkat kedua tangannya.
Lyra mengikuti gerakan Arkan. Ia mencoba fokus pada bacaan sholat yang dulu pernah ia hafal dengan lancar. Namun, pikirannya melayang-layang, mengingat masa lalunya yang kelam.
Di tengah sholat, air mata Lyra kembali menetes. Ia tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia merasa begitu bersalah karena telah meninggalkan Tuhan begitu lama. Ia merasa begitu berdosa karena telah mengingkari nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya.
Namun, di saat yang sama, ia juga merasakan kehangatan dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa seperti kembali ke rumah, kembali ke pangkuan Tuhan yang Maha Penyayang.
Setelah selesai sholat, Arkan menoleh ke arah Lyra. Ia melihat air mata yang membasahi pipi Lyra. Ia meraih tangan Lyra dan menggenggamnya erat.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Arkan, suaranya lembut.
Lyra menarik napas dalam-dalam. "Aku... aku merasa lebih baik, Bang," jawabnya, suaranya bergetar. "Aku merasa lebih tenang. Terima kasih sudah membimbingku."
Arkan tersenyum lembut. "Sama-sama, Sayang. Aku akan selalu ada untukmu. Kita akan belajar bersama, kita akan beribadah bersama, dan kita akan meraih ridha Allah bersama."
Arkan mendekat dan mencium kening Lyra dengan penuh kasih sayang. "Sekarang, mari kita berdoa," bisiknya. "Kita panjatkan doa agar Allah selalu memberikan kita kekuatan dan petunjuk dalam menjalani kehidupan ini."
Arkan mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa. Lyra mengikuti gerakan Arkan. Ia memanjatkan doa dengan sepenuh hati, memohon ampunan atas dosa-dosanya, memohon petunjuk agar bisa menjadi istri yang sholehah, dan memohon kebahagiaan untuk rumah tangganya.
Setelah selesai berdoa, Arkan menoleh ke arah Lyra dan tersenyum. "Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita," ucapnya.
Lyra mengangguk pelan. Ia merasa begitu bersyukur memiliki Arkan di sisinya. Pria yang telah membawanya kembali kepada Tuhan, pria yang telah memberikan harapan baru dalam hidupnya.
"Aku mencintaimu, Bang," bisik Lyra, suaranya penuh dengan rasa cinta dan syukur.
Arkan membalas bisikan Lyra dengan senyuman yang tulus. "Aku juga mencintaimu, sayang.."
Meski Lyra merasa ucapan itu hanya sebatas ucapan di bibir saja.
Arkan mendekat dan memeluk Lyra dengan erat. Di dalam pelukan Arkan, Lyra merasa aman dan nyaman. Ia tahu bahwa ia tidak sendirian lagi. Ia memiliki Arkan yang akan selalu ada di sisinya, membimbingnya, melindunginya, dan mencintainya.
Malam itu, di kamar pengantin yang dihiasi dengan warna lavender, Lyra dan Arkan memulai babak baru dalam kehidupan mereka. Babak yang penuh dengan cinta, iman, dan harapan. Mereka berjanji untuk selalu saling mencintai, saling menghormati, dan saling mendukung dalam meraih ridha Allah. Mereka berjanji untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Dan di bawah rembulan yang menjadi saksi bisu, Lyra dan Arkan memulai perjalanan mereka sebagai suami istri, dengan hati yang penuh dengan cinta dan iman. Mereka yakin bahwa dengan pertolongan Allah, mereka akan mampu menghadapi segala cobaan dan rintangan yang menghadang di depan mereka.