Jam masih menunjukkan pukul 04.30 WIB ketika Arkan terbangun dari tidurnya. Dipandanginya wajah Lyra yang masih berbaring di sisinya. Perempuan itu masih tertidur dengan pulas. Arkan mengelus puncak kepala Lyra, teringat percakapan mereka tadi malam.
"Ini apa?" Arkan menyentuh sebuah inisial huruf 'R' di dada Lyra.
"Itu... tanda dari Om Revan," ucap Lyra nyaris tak terdengar. "Dia meletakkan besi panas dengan inisial namanya setelah menarikku pulang saat abang mau mengantarku ke klinik waktu itu. Dia bilang, itu sebagai tanda kalau selamanya aku adalah miliknya. Dan... malam itu dia juga memperkosaku... Abang lihat punggungku? Dia juga memukulku dengan ikat pinggang setiap kali aku membantah ucapannya... 5 tahun aku bertahan dalam sangkar emasnya. Hingga akhirnya aku tak tahan lagi. Aku melarikan diri darinya. Dibantu Bu Ami, asisten rumah tangganya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Bu Ami. Aku hanya bisa berharap Bu Ami baik-baik saja setelah mengkhianati Om Revan..."
Cerita yang meluncur dari mulut Lyra tadi malam benar-benar membuat Arkan tak percaya. Di balik keceriaan yang ia tunjukkan, Lyra ternyata menyimpan luka yang sangat dalam. Arkan meraih Lyra ke dalam pelukannya, membuat istrinya terbangun. Lyra menatap wajah Arkan.
"Abang sudah bangun?" tanya Lyra dengan suara serak khas bangun tidur.
Arkan mengangguk, mengeratkan pelukannya. "Maaf, sudah membangunkan kamu."
Lyra menggelengkan kepalanya pelan, menyusupkan wajahnya ke dada Arkan. "Tidak apa-apa. Pelukannya kena erat sekali?"
Arkan terdiam sejenak, mencari kata yang tepat. "Tidak boleh?"
Lyra tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku justru senang. Berarti ini bukan mimpi.."
Arkan mencium kening Lyra dengan lembut. "Sekarang, kita sholat subuh dulu, ya?"
"Iya.."
"Abang wudhu dulu," Arkan berdiri.
Lyra tersenyum memandangi punggung Arkan yang berjalan ke kamar mandi.
"Terimakasih, Bang.. Kau orang bak."
Seminggu kemudian, Lyra sedang berbincang dengan rekannya di kampus ketika seorang gadis usia 19 tahun menghampiri.
"Ibu, ditunggu Bapak di parkiran," ucap gadis itu dengan sopan.
Lyra mengerutkan keningnya, sedikit bingung. "Bapak siapa?"
Gadis itu tersenyum malu-malu. "Bapak ganteng yang polisi itu, Bu.."
Lyra tertawa kecil, menyadari siapa yang dimaksud gadis itu. "O iya, terimakasih ya? Bu Ayu, saya duluan ya? Sudah ditungguin suami," pamit Lyra pada rekannya.
"Ya, Bu Lyra.." jawab Bu Ayu, tersenyum menggoda.
Lyra bergegas menuju parkiran, dimana Arkan sudah menunggu di dalam mobilnya. Ia membuka pintu mobil dan masuk, disambut senyuman hangat dari suaminya.
"Selamat siang, cintakuuu.." Lyra mencium pipi Arkan dengan mesra. "Terimakasih ya, hari ini mau meluangkan waktu untuk makan siang bersama istri di tengah kesibukan mengurus laporan tindak pidana."
"Sama-sama, Sayang," balas Arkan, mengusap pipi Lyra dengan lembut.
"Kita makan di mana, Bang?" tanya Lyra, penasaran.
"Terserah kamu," jawab Arkan, menyalakan mesin mobil.
"Eh, Sandra telepon, Bang," kata Lyra, memberitahu.
"Angkatlah, bilang kita mau makan siang," jawab Arkan, santai.
Lyra menggeser tombol hijau di layar ponselnya. "Halo, Sandra? Iya. Eh, ini lagi mau makan siang sama bang Arkan. Kamu lagi di mana?"
Lyra mendengarkan jawaban Sandra di seberang sana, lalu menatap Arkan dengan tatapan bertanya.
"Boleh ajak dia?" tanya Lyra.
Arkan berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Ya, tapi ingat tidak ada acara pelukan ya? Sekarang kamu sudah istri orang," canda Arkan, tersenyum.
Lyra tertawa kecil mendengar ucapan Arkan. "Lho, emangnya kenapa?" goda Lyra balik.
Arkan mendekat dan berbisik, "Sayang.. Sandra itu sahabat kamu dari SMA, aku tahu kamu sudah anggap dia seperti saudara sendiri. Tapi, kamu kan tahu sendiri penampilannya memang wanita, tapi aslinya dia itu pria. Sekalipun sudah operasi di sana sini, aku cuma nggak mau aja kamu jadi bahan omongan orang."
Lyra mengangguk mengerti. "Iya, aku tahu kok, Bang. Tenang aja," balas Lyra, mencubit pipi Arkan gemas.
Lyra kembali berbicara dengan Sandra di telepon, memberitahukan lokasi restoran tempat mereka akan makan siang. Setelah selesai berbicara, Lyra mematikan sambungan telepon.
"Jadi, Sandra mau ikut?" tanya Arkan, memastikan.
"Iya, dia lagi otw ke sana," jawab Lyra, mengangguk.
Arkan melajukan mobilnya meninggalkan area kampus, menuju restoran seafood yang menjadi tempat favorit mereka
Sesampainya di restoran, Arkan dan Lyra langsung menuju meja yang sudah dipesan. Tidak lama kemudian, Sandra datang menghampiri mereka. Sandra adalah seorang wanita cantik dengan rambut panjang dan tubuh yang langsing. Ia mengenakan gaun mini berwarna merah yang membuatnya terlihat semakin menawan.
"Hai, Lyra! Hai, Bang Arkan!" sapa Sandra, tersenyum ramah.
"Hai, Sandra! Senang banget kamu bisa datang," balas Lyra, memeluk Sandra erat.
"Ehem.." Arkan mendehem.
"Sama-sama, Lyra! Aku juga seneng bisa ketemu kalian," jawab Sandra, membalas pelukan Lyra.
Lyra tersenyum mengedipkan mata pada Arkan.
"Sekali ini ya?" bisiknya
Arkan hanya tersenyum melihat interaksi kedua sahabat itu. Mereka bertiga memesan berbagai macam hidangan laut, mulai dari ikan bakar, udang saus padang, hingga kepiting asam manis. Sambil menunggu pesanan datang, mereka bercerita tentang kegiatan masing-masing.
"Eh, Sandra, kamu lagi sibuk apa sekarang?" tanya Lyra, membuka percakapan.
"Lagi sibuk ngurusin butik baru nih. Lumayan banyak orderan," jawab Sandra, bangga. "Kamu ke sana dong say.."
"Wah, keren! Butik kamu makin sukses aja ya," puji Lyra, kagum.
"Iya dong. Berkat doa kalian juga," sahut Sandra, tersenyum. "Eh, Lyra, kamu gimana? Enak jadi istri reserse?" tanya Sandra, menggoda.
Lyra tertawa kecil mendengar pertanyaan Sandra. "Enak sih enak, tapi ya gitu deh, sering ditinggal dinas," jawab Lyra, sedikit mengeluh.
"Ya, namanya juga polisi. Harus siap siaga 24 jam," timpal Arkan, membela diri.
"Iya, aku ngerti kok. Yang penting Bang Arkan selalu sayang sama kamu," kata Sandra, menenangkan Lyra.
"Pasti," sahut Arkan, menggenggam tangan Lyra dengan mesra.
Sandra tersenyum melihat kemesraan pasangan suami istri itu. Ia merasa senang melihat Lyra bahagia dengan Arkan.
"Eh, ngomong-ngomong, kalian udah ada rencana buat punya momongan belum?" tanya Sandra, penasaran.
Lyra dan Arkan saling bertukar pandang, lalu tersenyum.
"Doain aja ya, secepatnya," jawab Lyra, malu-malu.
"Amin! Aku doain semoga kalian cepet dapet momongan yang lucu dan sehat," kata Sandra, mendoakan.
Mereka bertiga melanjutkan makan siang mereka dengan penuh canda tawa. Mereka saling berbagi cerita dan pengalaman, saling memberikan dukungan dan semangat. Lyra merasa beruntung memiliki sahabat seperti Sandra. Meskipun berbeda, mereka tetap bisa saling menghargai dan menyayangi.
Setelah selesai makan siang, Arkan mengantar Lyra kembali ke rumah. Sebelum berpisah, Arkan mencium kening Lyra dengan lembut.
"Kamu hati-hati ya di rumah. Kalau ada apa-apa, langsung kabarin aku," pesan Arkan.
"Iya, Bang. Kamu juga hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut," balas Lyra.
Arkan tersenyum, mengangguk. "Siap, Bu Dosen!"
Lyra tertawa kecil, lalu keluar dari mobil. Ia melambaikan tangannya pada Arkan, lalu berjalan masuk ke dalam kampus. Arkan memandangi Lyra hingga menghilang dari pandangannya, lalu melajukan mobilnya menuju kantor.