Drama #Drama

Mengungkap masa Lalu

Penulis sanzfy
02 October 2025

"Ayolah bu Rinda.. Ibu ikut aku yuk tinggal di butik.." rengek Sandra. "Aku sepi, dulu kalau bosan aku bisa ngajak Lyra keluar, sekarang.. Mana bisa. Iya kalau suaminya belum pulang kerja dan dia tidak di kampus. Kalau suaminya di rumah? Bisa digantung bang Arkan nanti aku.." Sandra terkekeh, namun ada nada rindu dalam suaranya.

Rinda tersenyum mendengar nama Lyra disebut.

"Nama suaminya Arkan?" tanya Rinda, mencoba menyembunyikan rasa penasarannya.

"Iya, Bu. Aku ceritain, ya," Sandra menarik kursi mendekat, siap bercerita tentang sahabatnya. "Lyra itu sudah lama naksir Bang Arkan. Sejak masih SMA. Padahal jumpa di gerbang sekolah itu kebetulan. Tapi dia langsung suka."

"Arkan satu SMA?" Rinda bertanya.

"Nggak, Bu. Dia adiknya salah satu guru di sekolah. Waktu itu Bang Arkan lagi libur dari Akademi Kepolisian. Tapi kisah cintanya tidak berlanjut, karena waktu itu Lyra pikir Bang Arkan itu pacarnya Bu Arika, guru kami. Lalu Lyra pindah ikut Om Revan ke Australia."

Mendengar nama Revan, ingatan Rinda melayang pada hari-hari kelam dalam hidupnya. Hari dimana ia dan suaminya, Angga, disekap oleh lelaki kejam itu. Revan, dengan tatapan dingin dan senyum sinis, mengaku akan menjadi pelindung Lyra. Rinda masih ingat bagaimana ia menangis, memohon agar Revan mengembalikan Lyra yang masih berusia 17 tahun kepadanya. Namun, Revan malah memerintahkan orang kepercayaannya untuk membuang Rinda.

Mereka membuang Rinda di jalan yang sepi, tanpa uang, tanpa identitas. Beruntung, Rinda yang saat itu masih menggunakan nama Almira, bertemu Anita. Pemilik salon kecantikan itu menolongnya, memberinya tempat tinggal dan pekerjaan di salon miliknya. Anita adalah malaikat penolong dalam hidupnya.

"Revan?" Rinda bergumam pelan, suaranya bergetar.

Sandra menatap Rinda dengan bingung. "Iya, Bu. Ibu kenal Om Revan?"

Rinda tersadar dari lamunannya. Ia menggeleng pelan, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Tidak, Ibu tidak kenal. Hanya saja, nama itu terdengar familiar."

"Apa Lyra masih bersama Revan?" tanya Rinda, hatinya mencelos khawatir.

"Katanya Om Revan menetap di Australia. Lyra kembali ke Indonesia. Siapa sangka takdir mempertemukannya kembali dengan Bang Arkan yang waktu itu masih bekerja di Polres," jawab Sandra

"Oh, sekarang Arkan di mana?" Rinda bertanya, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang lelaki yang kini menjadi suami Lyra.

"Sudah pindah ke Polda, Bu. Tapi masih di satuan reserse kriminal," jawab Sandra dengan nada bangga. "Dia itu polisi yang hebat, Bu. Banyak kasus yang sudah dia selesaikan."

Rinda tersenyum. "Dia bahagia, kan?" tanya Rinda, memastikan.

"Pasti dong, Bu. Bang Arkan itu baik, tampan, rajin sholat, pokoknya sempurna," jawab Sandra dengan mata berbinar. "Lyra beruntung sekali bisa menikah dengannya."

Rinda mengangguk setuju. Ia berharap Lyra benar-benar bahagia dengan pilihannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada perasaan khawatir yang tak bisa ia tepis. Bayangan Revan masih menghantuinya. Ia takut lelaki itu akan kembali mengusik kehidupan Lyra.

"Mereka tinggal di mana?" tanya Rinda.

"Rumah Bang Arkan tidak jauh dari polres, ada komplek perumahan di sana, Bu. Masih belum ramai, tapi cukup aman. Namanya Villa Cendana, mereka tinggal di Blok A. Gampang mencarinya. Tinggal tanya nama Bang Arkan, pasti mereka kenal. Oya, Lyra sangat suka dengan riasan pengantin Ibu di hari pernikahannya. Katanya... ingin bertemu Ibu."

"Bertemu Ibu?" Rinda terlihat gugup. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tercekat.

"Kapan Ibu bisa?" tanya Sandra, menatap Rinda dengan penuh harap.

"Itu..." Sekujur tubuh Rinda gemetar. Tangannya dingin, keringat membasahi telapak tangannya.

Bagaimana bisa ia bertemu Lyra? Apakah Lyra tidak akan shock lagi saat bertemu dengannya seperti delapan tahun yang lalu? Lyra pasti belum lupa dan pasti masih sakit hati dengan pengusirannya waktu itu. Saat dilemparkan Rinda, ibu kandungnya, ke jalanan hanya karena mengira Lyra bermain mata dengan ayah tirinya, Angga. Suami Rinda.

Rinda membayangkan wajah Lyra saat itu. Wajah seorang gadis remaja yang penuh luka dan kebingungan. Ia ingat bagaimana Lyra menangis, memohon agar ia tidak diusir. Namun, Rinda dibutakan oleh amarah dan cemburu. Ia tidak percaya pada penjelasan Lyra. Ia mengira Lyra telah mengkhianatinya.

"Bu, Ibu kenapa? Kok, pucat?" tanya Sandra khawatir, menyentuh bahu Rinda.

Rinda tersentak kaget. Ia berusaha menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. "Ibu tidak apa-apa, Sandra. Hanya sedikit pusing," jawab Rinda berbohong.

"Kalau begitu, Ibu istirahat saja, ya. Jangan terlalu dipaksakan," saran Sandra.

"Tidak, Ibu baik-baik saja. Ibu hanya perlu waktu untuk berpikir," kata Rinda.

"Memikirkan apa, Bu?" tanya Sandra penasaran.

"Tentang... tentang pertemuan dengan Lyra," jawab Rinda

"Oh, itu. Ibu jangan khawatir. Lyra pasti senang sekali bertemu dengan Ibu," kata Sandra.

"Benarkah?" tanya Rinda, matanya berbinar.

"Iya, Bu. Lyra bilang, Ibu adalah wanita yang hebat, sudah membuat ia terlihat sangat cantik di hari istimewanya," jawab Sandra.

Mendengar perkataan Sandra, hati Rinda menghangat. Ia merasa sedikit lega. Mungkin, Lyra sudah memaafkannya. Mungkin, pertemuan mereka tidak akan seburuk yang ia bayangkan.

Namun ia ingat, hari itu dia mengenakan Masker. Lyra tak mungkin bisa mengenalnya. Tapi kali ini.. Mungkinkah Lyra tak akan mengamuk saat melihat wajahnya?

"Tapi, Ibu takut Lyra masih marah pada Ibu," kata Rinda lirih.

"Marah? Kenapa Lyra harus marah pada Ibu?" tanya Sandra bingung.

Rinda terdiam. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan masa lalunya pada Sandra. Ia tidak ingin Sandra tahu tentang kebodohannya, tentang bagaimana ia telah menyakiti Lyra.

"Sudahlah, Sandra. Lupakan saja," kata Rinda, mencoba mengakhiri percakapan.

"Tidak, Bu. Aku ingin tahu. Kenapa Ibu takut Lyra marah pada Ibu?" desak Sandra.

Rinda menghela napas panjang. Ia tahu, ia tidak bisa terus menyembunyikan kebenaran. Ia harus menceritakan semuanya pada Sandra.

"Sandra, ada sesuatu yang harus Ibu ceritakan padamu," kata Rinda, suaranya bergetar.

"Apa itu, Bu?" tanya Sandra, menatap Rinda dengan penuh perhatian.

Rinda mulai bercerita tentang masa lalunya, tentang pernikahannya dengan Angga, tentang Lyra yang tinggal bersamanya, dan tentang kesalahpahaman yang telah menghancurkan hubungan mereka. Ia menceritakan semuanya dengan jujur dan terbuka, tanpa menyembunyikan apapun.

Sandra mendengarkan dengan seksama, sesekali bertanya untuk memastikan ia tidak salah paham. Ia terkejut mendengar cerita Rinda. Ia tidak menyangka, masa lalu Rinda begitu kelam dan menyakitkan.

"Jadi, Ibu adalah ibu kandung Lyra?" tanya Sandra, tidak percaya.

Rinda mengangguk lemah. "Iya, Sandra. Ibu adalah ibu kandung Lyra," jawab Rinda.

"Ya Tuhan..." Sandra menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

"Ibu tahu, Ibu telah melakukan kesalahan besar. Ibu telah menyakiti Lyra. Ibu tidak pantas dimaafkan," kata Rinda, air mata mulai membasahi pipinya.

Sandra memeluk Rinda dengan erat. Ia merasa kasihan pada Rinda. Ia tahu, Rinda telah menyesali perbuatannya.

"Ibu jangan bicara seperti itu. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Yang penting, Ibu sudah menyadari kesalahan Ibu dan ingin memperbaikinya," kata Sandra, mencoba menghibur Rinda.

"Tapi, apakah Lyra mau memaafkan Ibu?" tanya Rinda, ragu.

"Tentu saja, Bu. Lyra itu orang yang baik. Dia pasti mau memaafkan Ibu," jawab Sandra.

"Benarkah?" tanya Rinda, menatap Sandra dengan penuh harap.

"Iya, Bu. Aku yakin, Lyra akan memaafkan Ibu. Tapi, Ibu harus berani menghadapinya. Ibu harus berani meminta maaf padanya," kata Sandra.

Rinda mengangguk setuju. Ia tahu, Sandra benar. Ia harus berani menghadapi Lyra. Ia harus berani meminta maaf padanya.

"Baiklah, Sandra. Ibu akan menemui Lyra. Ibu akan meminta maaf padanya," kata Rinda, dengan tekad yang membara.

"Itu baru Ibu yang aku kenal. Aku akan membantu Ibu. Aku akan mengatur pertemuan Ibu dengan Lyra," kata Sandra, tersenyum lega.

"Terima kasih, Sandra. Ibu sangat berhutang budi padamu," kata Rinda, membalas senyuman Sandra.

"Sama-sama, Bu. Aku senang bisa membantu Ibu," jawab Sandra.

Setelah percakapan yang panjang dan emosional itu, Rinda merasa sedikit lebih tenang. Ia tahu, ia tidak sendirian dalam menghadapi masa lalunya. Ia memiliki Sandra, sahabat Lyra yang setia, yang siap membantunya.

"Sandra, Ibu ingin kamu berjanji satu hal," kata Rinda, menatap Sandra dengan sungguh-sungguh.

"Janji apa, Bu?" tanya Sandra penasaran.

"Jangan beritahu Lyra tentang masa lalu Ibu. Biarkan Ibu sendiri yang menceritakannya padanya," pinta Rinda.

"Baiklah, Bu. Aku janji," jawab Sandra.

Rinda menghela napas lega. Ia percaya pada Sandra. Ia tahu, Sandra akan menepati janjinya.

"Kalau begitu, kapan Ibu ingin bertemu dengan Lyra?" tanya Sandra.

Rinda terdiam sejenak. Ia memikirkan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Lyra. Ia ingin bertemu dengannya saat ia sudah siap secara mental dan emosional.

"Berikan Ibu waktu beberapa hari untuk mempersiapkan diri. Setelah itu, Ibu akan siap bertemu dengan Lyra," kata Rinda.

"Baiklah, Bu. Aku akan menunggu Ibu," jawab Sandra.

Rinda tersenyum. Ia merasa siap menghadapi masa lalunya. Ia siap bertemu dengan Lyra. Ia siap meminta maaf padanya.

Namun, di balik senyumnya, Rinda masih menyimpan rasa khawatir. Ia takut, pertemuan mereka tidak akan berjalan