Drama

Luka yang kembali berdarah

Penulis sanzfy
02 October 2025

Ruangan itu terasa sempit, pengap, dan mencekam. Aroma kebencian dan luka masa lalu menguar memenuhi setiap sudutnya, menyesakkan dada Lyra. Di hadapannya, duduk Rinda, wanita yang seharusnya menjadi ibunya, pelindungnya. Namun, yang Lyra rasakan hanyalah amarah dan kekecewaan yang menggunung. Di samping Rinda, Sandra menggenggam lengan ibunya, seolah menyalurkan kekuatan dan dukungan. Pemandangan itu semakin menyayat hati Lyra.

Kenangan buruk masa lalu berputar bagai film kelam di benaknya. Setiap adegan, setiap kata, setiap tatapan, semuanya terasa begitu menyakitkan. Ia mencoba mengenyahkannya, namun ingatan itu justru semakin kuat mencengkeramnya.

Lyra menatap Rinda dengan tatapan sedingin es. "Pergilah dari hidupku dan jangan pernah kembali!" ucapnya datar. Suaranya dingin dan menusuk, seperti pisau yang menghunus jantung. Tidak ada nada kerinduan, tidak ada setitik pun kelembutan. Hanya ada kebencian yang membara.

Rinda tersentak. "Nak..." panggilnya lirih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia mencoba meraih tangan Lyra, namun dengan kasar Lyra menarik tangannya.

"Jangan sentuh aku!" bentak Lyra, matanya berkilat marah. "Kau tidak pantas memanggilku 'Nak'. Kau bukan mamaku!"

Rinda terisak. "Lyra, Mama tahu Mama salah. Mama minta maaf," katanya dengan suara bergetar. Ia menundukkan kepalanya, merasa malu dan bersalah atas segala perbuatannya di masa lalu.

"Kau kira dengan mengganti namamu semua kesalahanmu di masa lalu bisa hilang?" teriak Lyra, emosinya meledak. "Kau kira aku akan melupakan semua yang kau lakukan padaku? Kau salah besar!"

Sandra mencoba menenangkan Lyra. "Lyra, jangan begitu pada Ibu," tegurnya lembut.

"Diam kau, Sandra! Kau tidak tahu apa-apa!" bentak Lyra. "Kau tidak tahu bagaimana dia menyiksaku, bagaimana dia mengusirku dari rumah, bagaimana dia menghancurkan hidupku!"

"Lyra, Mama tidak bermaksud menyakitimu. Mama hanya..." Rinda mencoba menjelaskan, namun Lyra memotong perkataannya dengan nada tinggi.

"Cukup! Aku tidak mau mendengar alasanmu! Aku membencimu! Aku ingin kau menghilang selamanya dariku!!" jerit Lyra. Airmata kemarahan mengalir dari kedua matanya, membasahi pipinya. Ia terisak-isak, mencoba meredakan rasa sakit yang menghimpit dadanya.

Rinda terdiam, tak mampu berkata apa-apa. Ia merasa hancur melihat Lyra begitu membencinya. Ia tahu, ia telah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Kesalahan yang tidak mungkin bisa ia tebus.

"Lyra, Mama tahu Mama tidak pantas dimaafkan. Tapi Mama mohon, dengarkan Mama sekali saja," kata Rinda dengan suara memelas.

Lyra tidak menjawab. Ia hanya menatap Rinda dengan tatapan kosong, seolah wanita di hadapannya hanyalah orang asing.

"Mama ingin menjelaskan semuanya padamu. Mama ingin kamu tahu yang sebenarnya," kata Rinda, berharap ada secercah harapan di mata Lyra.

"Aku tidak mau tahu! Aku ingin kau pergi dari hidupku!" teriak Lyra lagi. "Sekarang!!"

Sandra menatap Lyra dengan tatapan memohon. "Lyra, beri Ibu kesempatan untuk menjelaskan," pintanya.

"Tidak, Sandra! Aku tidak mau mendengar apapun tentang dia! Aku sudah cukup menderita karena dia!" kata Lyra, menolak mentah-mentah permintaan Sandra.

"Lyra, Mama tahu Mama salah. Tapi Mama sudah menyesalinya. Mama ingin memperbaiki semuanya," kata Rinda, mencoba meraih hati putrinya.

"Memperbaiki? Kau kira semudah itu? Kau kira kau bisa mengembalikan semua yang telah hilang?" tanya Lyra sinis. "Kalau malam itu kau tidak melemparku ke jalan, aku tidak akan bertemu Om Revan! Kalau malam itu kau tidak membela suami bejatmu itu.. Aku tidak akan diperlakukan seperti binatang oleh monster itu!"

Rinda terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia tahu, kata-katanya tak akan mampu menghapus luka yang telah ia torehkan di hati Lyra. Ia tidak bisa mengembalikan masa lalu, namun ia ingin mencoba memperbaiki masa depan. Ia ingin Lyra bahagia, meski ia tahu dirinya tak pantas mendapatkan maaf dari putrinya.

"Lyra, Mama ingin kamu bahagia. Mama ingin kamu tahu bahwa Mama menyayangimu," kata Rinda, air matanya semakin deras mengalir.

"Sayang? Jangan membuatku tertawa! Kalau kau menyayangiku, kau tidak akan melakukan semua itu padaku!" kata Lyra, bibirnya bergetar menahan amarah dan kesedihan.

Rinda tidak menjawab. Ia hanya menatap Lyra dengan tatapan penuh penyesalan, berharap putrinya bisa melihat ketulusan di matanya.

Dengan gerakan kasar, Lyra melepaskan cardigan yang ia kenakan.

"Kau lihat ini??" tanyanya dengan nada getir, menunjuk bekas luka bakar dari besi panas berinisial "R" di dada kanannya. "Kau tau perihnya seperti apa saat besi panas itu ditekankan pada dadaku?? Dan kau lihat ini!"

Lyra berbalik, menunjukkan punggungnya yang penuh bekas luka seperti cambukan. "Kau tahu bagaimana aku harus menahan sakit setiap kali dipukul Om Revan yang sedang marah padaku??"

Rinda dan Sandra terperangah. Mereka tak percaya kalau sepahit itu hidup yang dialami Lyra saat hidup bersama Revan. Mereka membayangkan betapa besar penderitaan yang harus ditanggung Lyra seorang diri.

"Pergilah! Aku tidak mau melihatmu lagi!" usir Lyra, suaranya bergetar menahan tangis.

Rinda berdiri. Ia menatap Lyra dengan tatapan sedih dan putus asa. "Baiklah, Mama pergi. Tapi Mama harap, suatu hari nanti kamu bisa memaafkan Mama," kata Rinda, lalu berbalik dan berjalan keluar ruangan. Sandra mengikuti di belakangnya, menatap Lyra dengan tatapan iba.

Saat Rinda dan Sandra keluar, Lyra langsung terduduk di kursi. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua emosi yang selama ini ia pendam. Ia merasa hancur dan terluka. Kehadiran Rinda kembali membuka luka lama yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.

"Kenapa dia harus kembali? Kenapa dia harus mengusik hidupku lagi?" gumam Lyra dalam hati, air matanya semakin deras mengalir.

Lama ia termenung, larut dalam kesedihan dan amarah. Hingga akhirnya, dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya dan menelpon nomor Arkan, suaminya.

"Hallo.." terdengar suara Arkan di seberang sana.

"Abang.." tangis Lyra pecah, tak mampu lagi menahan beban yang menghimpit dadanya. Ia membutuhkan Arkan, satu-satunya orang yang bisa memberikan ketenangan dan kekuatan di saat-saat sulit seperti ini.

Arkan terdiam mendengar tangis Lyra. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi. "Sayang, kamu kenapa? Ada apa?" tanyanya dengan nada khawatir.

Lyra terisak, ia menutup telpon tanpa mengatakan apapun.


Di luar, Sandra memandang Rinda yang menangis tersedu-sedu. Hatinya ikut perih melihat penderitaan ibunya. Ia selalu berusaha menjadi penengah antara ibu dan kakaknya, namun ia tahu, luka yang dialami Lyra terlalu dalam untuk disembuhkan dengan mudah.

"Sudahlah, Ibu," kata Sandra lembut, berusaha menenangkan Rinda. "Jangan terlalu dipikirkan. Lyra hanya sedang emosi."

Rinda menggelengkan kepalanya, air matanya semakin deras mengalir. "Tidak, San. Aku tahu dia benar. Aku memang pantas mendapatkan semua ini. Aku memang ibu yang buruk," ucapnya lirih, penuh penyesalan.

"Jangan bicara seperti itu, Ibu. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Yang penting adalah Ibu sudah menyesalinya dan berusaha untuk memperbaikinya," kata Sandra, menggenggam erat tangan Rinda.

"Tapi, bagaimana caranya, San? Lyra bahkan tidak mau mendengarkanku. Dia membenciku," kata Rinda, suaranya bergetar.

"Berikan dia waktu, Ibu. Waktu akan menyembuhkan segalanya. Biarkan dia mencerna semua ini. Mungkin suatu saat nanti, dia akan bisa memaafkan Ibu," kata Sandra, mencoba memberikan harapan kepada Rinda.

Rinda menghela napas panjang. "Aku harap begitu, San. Aku sangat berharap begitu," ucapnya lirih.

"Ayo, kita pulang. Ibu butuh istirahat," kata Sandra, menuntun Rinda menuju mobil.

Di dalam mobil, Rinda hanya diam membisu, tatapannya kosong. Pikirannya melayang-layang pada Lyra, pada masa lalu yang kelam, pada semua kesalahan yang telah ia lakukan. Ia merasa bersalah, menyesal, dan tak berdaya. Ia tahu, ia telah merusak hidup putrinya, dan ia tidak tahu bagaimana caranya untuk memperbaikinya.

Sandra menggenggam tangan Rinda, mencoba menyalurkan kekuatan dan dukungan. Ia tahu, Rinda sedang mengalami masa-masa sulit. Ia tahu, Rinda sangat mencintai Lyra, meskipun ia tidak pernah menunjukkannya. Ia berharap, suatu saat nanti, Lyra akan bisa melihat ketulusan hati ibunya dan memaafkannya.