Lyra masih terisak, tubuhnya bergetar hebat di antara tumpukan bantal yang kini menjadi saksi bisu kesedihannya. Dadanya terasa sesak, dihimpit oleh rasa sakit yang begitu familiar, rasa sakit yang selalu berhasil diusirnya jauh-jauh, namun kini kembali menyeruak, menghancurkan pertahanannya. Ia merasa hancur, terluka, dan yang paling menyakitkan, marah. Marah pada keadaan, marah pada Rinda, dan mungkin, sedikit marah pada dirinya sendiri. Mengapa wanita itu harus kembali? Mengapa setelah bertahun-tahun menghilang, ia tiba-tiba muncul kembali, membawa serta luka lama yang belum sepenuhnya mengering?
"Kenapa? Kenapa kau harus kembali?" gumam Lyra lirih, suaranya tercekat oleh air mata yang terus mengalir deras. Ia memeluk bantal itu semakin erat, seolah mencari perlindungan dari badai emosi yang mengamuk di dalam dirinya. Bayangan Rinda, ibunya, sosok yang seharusnya menjadi pelindung dan pemberi kasih sayang, justru menjadi sumber luka yang tak kunjung sembuh.
Dengan tangan gemetar, Lyra meraih ponselnya di atas nakas. Jari-jarinya dengan cepat mencari nama Arkan di daftar kontak. Ia sangat membutuhkan suaminya saat ini. Ia membutuhkan pelukannya, kata-kata tenangnya, kehadirannya yang selalu mampu menenangkan jiwanya. Ia menekan tombol panggil, namun hanya nada sambung panjang yang terdengar. Ia mencoba lagi, dan lagi, namun hasilnya tetap sama. Arkan tidak menjawab panggilannya.
Rasa panik mulai menjalar di dalam dirinya. Ia tahu Arkan sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor, namun ia tidak bisa menahan rasa cemas yang semakin menggerogoti hatinya. Ia membutuhkan Arkan saat ini, lebih dari apapun.
"Abang, angkat teleponnya..." bisik Lyra lirih, air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya. Ia merasa begitu rapuh dan tak berdaya.l
Dengan putus asa, ia mencoba mengirimkan pesan singkat kepada Arkan. "Abang. Cepat pulang..." tulisnya dengan tangan gemetar. Ia berharap pesannya akan segera sampai dan Arkan akan segera pulang untuk menenangkannya
Setelah mengirimkan pesan, Lyra kembali memeluk bantalnya erat-erat. Ia mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Namun, bayangan Rinda dan luka masa lalu terus menghantuinya. Ia merasa takut, cemas, dan tak berdaya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya berharap Arkan akan segera pulang dan memeluknya erat-erat, seperti yang selalu dilakukannya.
Tiba-tiba, suara pintu kamar yang terbuka membuat Lyra tersentak kaget. Ia langsung mendongak, matanya memerah dan sembab. Di ambang pintu, berdiri Arkan dengan wajah khawatir.
"Sayang..." panggil Arkan lembut, lalu bergegas menghampiri Lyra dan memeluknya erat-erat.
Lyra langsung membalas pelukan Arkan dengan erat. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan suaminya, meluapkan semua emosi yang selama ini ia pendam. Ia merasa begitu lega dan aman berada di dekat Arkan.
"Ada apa?" bisik Arkan lembut, mengelus rambut Lyra dengan sayang. Ia bisa merasakan betapa bergetarnya tubuh Lyra di dalam pelukannya.
Lyra tidak menjawab. Ia hanya terus menangis di pelukan Arkan, meluapkan semua emosi yang selama ini ia pendam. Ia merasa seperti anak kecil yang ketakutan dan membutuhkan perlindungan dari orang tuanya.
Setelah beberapa saat, tangis Lyra mulai mereda. Arkan melepaskan pelukannya dan menatap Lyra dengan tatapan khawatir. Ia mengusap air mata di pipi Lyra dengan lembut.
"Apa yang terjadi, Sayang?" tanya Arkan lembut, suaranya penuh dengan perhatian.
Lyra menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Mama... Mama datang," ucapnya lirih, suaranya masih bergetar.
"Mama??" Arkan terkejut, namun ia berusaha menyembunyikannya. Ia tahu betapa sensitifnya topik ini bagi Lyra. Ia tahu betapa besar luka yang ditorehkan oleh ibu Lyra di masa lalu.
"Perempuan itu.. Kenapa tidak pernah hilang dalam hidupku?" isak Lyra, kembali menangis. Ia merasa begitu lelah dengan semua ini. Ia ingin melupakan masa lalunya, namun masa lalu itu selalu berhasil mengejarnya.
Arkan kembali memeluk Lyra, membiarkannya meluapkan kesedihannya. Ia tahu, Lyra membutuhkan waktu untuk memproses semua ini. Ia tidak ingin memaksanya untuk berbicara jika ia belum siap.
"Dia ingin apa?" tanya Arkan setelah beberapa saat, suaranya hati-hati. Ia tahu pertanyaan ini mungkin akan menyakitkan bagi Lyra, namun ia perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Dia... dia bilang dia ingin minta maaf. Dia bilang dia ingin menjelaskan semuanya," jawab Lyra, suaranya bergetar. Ia tidak tahu apakah ia sanggup mendengar penjelasan dari ibunya. Ia tidak tahu apakah ia sanggup memaafkan semua yang telah ibunya lakukan.
Arkan terdiam. Ia bisa merasakan betapa besar konflik yang berkecamuk di dalam diri Lyra. Ia tahu betapa sulitnya bagi Lyra untuk menghadapi ibunya setelah semua yang terjadi.
"Apa yang kamu inginkan, Sayang?" tanya Arkan lembut. "Apakah kamu ingin bertemu dengannya? Apakah kamu ingin mendengar penjelasannya?" Ia memberikan Lyra pilihan, karena ia tahu keputusan ada di tangan Lyra. Ia akan mendukung apapun keputusan yang Lyra ambil.
Lyra menggelengkan kepalanya dengan keras. "Tidak! Aku tidak mau bertemu dengannya! Aku tidak mau mendengar apapun darinya! Dia sudah cukup menyakitiku!" teriaknya, emosinya kembali meluap. Ia tidak ingin melihat wajah ibunya lagi. Ia tidak ingin mendengar alasan apapun dari ibunya. Ia hanya ingin melupakan semua ini dan melanjutkan hidupnya dengan tenang.
Arkan memeluk Lyra semakin erat. "Ya sudah," bisiknya lembut. "Kamu tidak perlu melakukan apapun yang tidak kamu inginkan." Ia akan melindungi Lyra dari siapapun yang ingin menyakitinya, termasuk ibunya sendiri.
Lyra membalas pelukan Arkan dengan erat. Ia merasa lega karena Arkan memahami perasaannya. Ia merasa aman dan nyaman berada di dekat suaminya.
"Aku takut, Bang," bisik Lyra lirih. "Aku takut dia akan kembali menyakitiku." Ia takut ibunya akan kembali mengganggu hidupnya. Ia takut ibunya akan kembali menghancurkan hatinya.
"Abang tidak akan membiarkannya, Sayang," kata Arkan tegas. Ia akan selalu berada di sisi Lyra, melindunginya dari segala bahaya. Ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Lyra, termasuk ibunya sendiri.
Lyra memejamkan matanya, menikmati pelukan Arkan. Ia tahu, ia bisa mempercayai Arkan. Ia tahu, Arkan akan selalu menjaganya.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Bang," kata Lyra setelah beberapa saat, suaranya masih bergetar. Ia merasa begitu bingung dan tak berdaya. Ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi situasi ini.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun sekarang, Sayang," kata Arkan lembut. "Tenangkan dirimu, istirahatlah. Kita akan memikirkannya bersama." Ia akan membantu Lyra mencari jalan keluar dari masalah ini. Ia akan selalu ada untuk Lyra, apapun yang terjadi.
Lyra mengangguk pelan. Ia merasa lelah, baik secara fisik maupun emosional. Ia ingin melupakan semua ini, meskipun hanya untuk sementara waktu.
"Aku mau tidur, Bang," bisik Lyra lirih.
"Sudah Sholat Isya?" tanya Arkan lembut. Ia ingin memastikan Lyra tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang Muslimah.
"Belum.." jawab Lyra lirih. Ia merasa bersalah karena melupakan sholat di tengah kesedihannya.
"Sholat dulu ya? Biar tenang." Arkan mencium kening Lyra dengan lembut. Ia tahu, sholat akan memberikan ketenangan bagi Lyra.
"Abang?" panggil Lyra.
"Abang sudah, di kantor." jawab Arkan sambil tersenyum. Ia selalu berusaha untuk menenangkan Lyra.
"Aku ambil wudhu.." ucap Lyra sambil bangkit dari tempat tidur. Ia merasa sedikit lebih tenang setelah berbicara dengan Arkan. Ia tahu, ia tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini. Ia memiliki Arkan yang selalu siap mendukung dan melindunginya.
Arkan tersenyum dan mengangguk. "Abang tunggu di sini ya," ucapnya lembut. Ia akan menemani Lyra sampai ia selesai sholat.
Lyra berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah selesai berwudhu, Lyra kembali ke kamar dan mengenakan mukena. Ia berdiri di atas sajadah dan mulai melaksanakan sholat Isya dengan khusyuk.
Lyra membuka mukenanya setelah selesai sholat dan melipatnya dengan rapi. Ia kemudian menghampiri Arkan yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
"Sudah, Bang," ucap Lyra sambil tersenyum tipis.
Arkan tersenyum dan mengulurkan tangannya. Lyra menerima uluran tangan Arkan dan duduk di sampingnya.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Arkan lembut.
Lyra mengangguk pelan. "Sedikit," jawabnya lirih.
Arkan memeluk Lyra dengan erat. "Istirahat ya," bisiknya lembut.
Lyra membalas pelukan Arkan dengan erat. Ia merasa begitu bersyukur memiliki Arkan di sisinya. Ia tahu, ia bisa menghadapi apapun selama ada Arkan di sampingnya.
Arkan merebahkan Lyra di tempat tidur dan menyelimutinya dengan lembut.
"Tidurlah," bisik Arkan lembut. "Abang akan menjagamu."
Lyra memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur. Ia merasa begitu lelah dan mengantuk. Ia berharap, saat ia bangun nanti, semua masalah ini akan hilang. Sayup sayup ia medengar lantunan ayat suci Al quran yang dibaca oleh Arkan yang duduk di sampingnya. Dipeluknya lengan Arkan.
"Terimakasih, sayang.." bisik Lyra.