The Soul Script Diksi yang Berhamburan
1/2
Bab 1

Diksi yang Berhamburan

BAB 1: Diksi yang Berhamburan

Aroma kopi Arabika yang pekat beradu dengan bau tanah basah dari sisa hujan sore itu di Jakarta. Di sudut kafe "Litera & Lensa" yang remang, Kiran duduk meringkuk di balik laptopnya. Jari-jemarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang tidak manusiawi, mengejar tenggat waktu dari Pak Bondan, pemilik agensi penulisan bayangan yang tidak pernah mau tahu arti kata 'istirahat'.

Namun, di balik layar yang menampilkan draf artikel membosankan tentang "10 Cara Investasi Kripto untuk Pemula", pikiran Kiran sedang berkelana jauh. Di kepalanya, ia bukan sedang berada di sebuah kafe di Jakarta Selatan. Ia adalah seorang penyair di era Renaisans yang sedang mencoba menyelamatkan sebuah perpustakaan dari kobaran api. Imajinasi liar itu—yang sering kali ia sebut sebagai 'kutukan'—selalu merayap masuk di sela-sela pekerjaannya yang mekanis.

"Kiran, fokus. Algoritma tidak butuh metafora tentang api dan abu," bisiknya pada diri sendiri, memijat pelipisnya yang berdenyut.

Di samping laptopnya, tergeletak sebuah map biru lusuh. Itu bukan milik klien. Itu adalah satu-satunya benda yang membuat Kiran merasa benar-benar hidup: naskah novel pribadinya. Sebuah cerita yang telah ia susun selama tiga tahun terakhir, penuh dengan diksi-diksi indah yang ia kumpulkan dari mimpi-mimpinya. Jika tulisan bayangannya adalah "mesin", maka naskah di dalam map itu adalah "jantungnya".

Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat di atas meja kayu. Nama 'Pak Bondan' berkedip di layar.

"Ya, Pak?" jawab Kiran lesu, menjepit ponsel di antara telinga dan bahu sementara tangannya tetap mengetik.

"Kiran! Artikel kripto itu harus tayang jam tujuh malam ini. Klien bilang bahasanya terlalu kaku. Tambahkan sedikit 'jiwa', tapi jangan sampai melantur. Kamu tahu kan, algoritma Google sekarang lebih suka tulisan yang terasa manusiawi tapi tetap terstruktur?" suara Pak Bondan yang serak memenuhi telinganya.

Manusiawi tapi terstruktur. Kiran mendengus. Itu adalah kontradiksi terbesar dalam hidupnya.

"Baik, Pak. Tiga puluh menit lagi saya kirim," jawabnya singkat sebelum memutus sambungan.

Kiran segera membereskan barang-barangnya. Ia merasa sesak. Kafe yang tadinya terasa tenang kini terasa seperti penjara kaca. Ia butuh udara segar. Dengan terburu-buru, ia memasukkan laptop ke dalam tas, menyambar kabel pengisi daya, dan menyampirkan tas punggungnya. Ia tidak menyadari bahwa saat ia berdiri dengan tergesa, map biru yang diletakkannya di pinggir meja tersenggol oleh siku lengannya, jatuh dalam diam ke atas lantai kayu yang tertutup bayangan kursi.

Ia melangkah keluar, menembus sisa-sisa gerimis, menuju halte TransJakarta terdekat. Pikirannya sudah melompat ke revisi artikel kripto, ke tagihan kos yang menunggak, dan ke karakter penyair Renaisans-nya yang masih terjebak di tengah api.

Tiga puluh menit kemudian, di meja yang sama, seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku duduk dengan tenang. Arka baru saja menyelesaikan rapat daring yang melelahkan. Ia adalah seorang analis data di sebuah perusahaan rintisan teknologi terkemuka. Baginya, dunia adalah kumpulan pola dan logika. Jika sesuatu tidak bisa dijelaskan dengan angka atau struktur, maka sesuatu itu tidak efisien.

Saat hendak menggeser kursinya untuk berdiri, ujung sepatunya menyentuh sesuatu yang terasa seperti plastik dan kertas. Arka membungkuk, memungut sebuah map biru yang tampak sedikit usang di bagian sudutnya.

Ia tidak bermaksud mengintip. Namun, map itu tidak tertutup rapat, dan beberapa lembar kertas di dalamnya menyembul keluar. Matanya yang tajam tanpa sengaja menangkap sebuah kalimat yang ditulis dengan font serif yang elegan:

"Cinta adalah algoritma yang gagal dipetakan oleh logika, sebuah variabel bebas yang mengacaukan seluruh fungsi ketenangan dalam dada."

Arka mengerutkan kening. Ia membacanya sekali lagi, lalu mendengus pelan. "Terlalu dramatis," gumamnya.

Ia membuka map itu sepenuhnya, berniat mencari identitas pemiliknya. Alih-alih menemukan kartu nama atau nomor telepon, ia justru disuguhi oleh tumpukan kertas berisi narasi yang penuh dengan metafora yang menurutnya sangat berlebihan. Ada coretan-coretan tangan di pinggir kertas, memperbaiki kata 'sedih' menjadi 'melankolia yang mengkristal', atau 'marah' menjadi 'amarah yang membakar sumbu-sumbu kewarasan'.

Arka duduk kembali. Entah mengapa, ia merasa perlu membaca beberapa halaman lagi. Sebagai orang yang hidup di dunia algoritma yang kaku, tulisan di depannya ini terasa seperti antitesis dari segala hal yang ia percayai. Tulisan ini berantakan, emosional, dan sama sekali tidak efisien.

"Siapa yang masih menulis seperti ini di tahun 2024?" bisiknya.

Tiba-tiba, seorang gadis muncul di ambang pintu kafe dengan napas terengah-engah. Rambutnya yang sedikit basah karena gerimis tampak berantakan. Matanya menyisir setiap sudut ruangan dengan ekspresi panik yang tidak bisa disembunyikan. Itu adalah Kiran.

Kiran berlari menuju meja tempat ia duduk tadi. Wajahnya memucat saat melihat mejanya sudah ditempati oleh orang lain. Namun, matanya langsung tertuju pada map biru yang kini berada di tangan pria berkemeja hitam itu.

"Itu... itu milik saya!" seru Kiran, suaranya sedikit meninggi karena panik, menarik perhatian beberapa pengunjung kafe.

Arka mendongak, menatap gadis di depannya dengan tenang. Ia menutup map itu perlahan. "Kamu pemilik diksi-diksi yang berhamburan ini?"

Kiran tertegun. Ia segera menyambar map itu dari tangan Arka seolah-olah itu adalah harta karun yang nyaris dicuri. "Terima kasih sudah menemukannya, tapi Anda tidak berhak membacanya."

Arka menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Kiran dengan tatapan analitis yang membuat Kiran merasa seperti sedang dipindai oleh sinar X. "Saya hanya mencari identitas pemiliknya. Tapi sejujurnya, naskah ini... sulit untuk tidak terbaca. Kamu penulis?"

Kiran memeluk map birunya erat-erat ke dada. "Saya... ya, saya penulis."

"Penulis drama radio? Atau novel picisan?" tanya Arka datar, tanpa maksud menghina, meski terdengar sangat merendahkan di telinga Kiran.

Kiran merasakan darahnya mendidih. "Maaf? Apa maksud Anda?"

"Gaya bahasamu," Arka menunjuk map itu dengan dagunya. "Terlalu banyak hiasan. Dalam dunia komunikasi yang efektif, tulisanmu ini seperti labirin tanpa pintu keluar. Kamu menggunakan sepuluh kata untuk menjelaskan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan dua kata. Terlalu dramatis dan tidak efisien."

Kiran merasa seolah-olah jantungnya baru saja dikritik oleh sebuah robot. "Efisiensi? Ini sastra, Tuan... Tuan Siapa-pun-Anda. Tulisan bukan sekadar menyampaikan informasi, tapi menyampaikan rasa. Jika Anda ingin efisiensi, baca saja buku manual mesin cuci!"

Arka sedikit mengangkat alisnya, tampak terhibur dengan reaksi Kiran. "Nama saya Arka. Dan saya bekerja dengan algoritma. Algoritma menyukai kejelasan, bukan metafora tentang 'melankolia yang mengkristal'. Jika tujuanmu menulis adalah agar dibaca orang, maka kamu gagal. Orang akan lelah sebelum mencapai inti ceritamu."

Kiran terdiam sejenak, bibirnya bergetar karena marah sekaligus malu. Kata-kata Arka menghantam titik terlemahnya. Selama ini, ia memang sering dikritik oleh Pak Bondan karena tulisannya terlalu 'berbunga-bunga' untuk standar artikel SEO. Namun, mendengar hal itu dikatakan langsung pada naskah pribadinya—jiwanya—rasanya seribu kali lebih menyakitkan.

"Anda tahu apa tentang tulisan?" tantang Kiran, suaranya bergetar. "Anda mungkin mengerti angka, tapi Anda tidak mengerti manusia. Manusia itu berantakan. Manusia itu penuh diksi yang tidak efisien. Dan itulah yang membuat kita hidup, bukan sekadar berfungsi seperti kode program."

Arka berdiri, mengambil tas laptopnya. Ia lebih tinggi dari yang Kiran kira, dan kehadirannya terasa mendominasi ruang kecil di antara mereka. "Mungkin. Tapi di dunia yang bergerak secepat ini, orang tidak punya waktu untuk membedah 'isi hati' yang dibungkus dalam lima paragraf deskripsi cuaca. Saran saya? Pangkas setengahnya. Fokus pada poinnya."

Arka melangkah melewati Kiran, namun berhenti sejenak di samping bahunya. "Tapi saya akui, imajinasimu tentang penyair Renaisans itu... menarik. Hanya saja, eksekusinya terlalu berantakan."

Tanpa menunggu jawaban, Arka berjalan keluar kafe, menghilang di balik pintu kaca yang berdenting.

Kiran berdiri terpaku di tempatnya. Ia menunduk melihat map birunya. Jemarinya mengusap permukaan plastik yang dingin itu. Kata-kata Arka terngiang-ngiang seperti dengungan lebah yang mengganggu. Terlalu dramatis. Tidak efisien. Berantakan.

Ia duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Arka, merasa lemas. Ia membuka kembali naskahnya. Matanya tertuju pada kalimat yang sempat dibaca Arka tadi.

"Cinta adalah algoritma yang gagal dipetakan oleh logika..."

Dulu, ia merasa kalimat itu sangat cerdas. Sekarang, setelah dikritik oleh pria 'algoritma' itu, kalimat tersebut tiba-tiba terasa... berlebihan. Ia mengambil pulpen dari tasnya, hendak mencoret kalimat itu, namun tangannya berhenti.

"Tidak," gumamnya tegas. "Dia tidak tahu apa-apa."

Namun, di dalam hatinya, sebuah benih keraguan telah tertanam. Benih yang mulai tumbuh dan merambat, membuat Kiran mempertanyakan kembali segala sesuatu yang selama ini ia yakini tentang identitasnya sebagai penulis.

Ia teringat bab sebelumnya—saat ia hampir menyerah karena tekanan Pak Bondan. Saat itu, ia merasa naskah ini adalah pelariannya. Tapi sekarang, pelariannya pun telah diinvasi oleh logika dingin seseorang bernama Arka.

Kiran menghela napas panjang, memasukkan kembali naskahnya ke dalam tas dengan lebih hati-hati kali ini. Ia harus pulang. Ia harus menyelesaikan artikel kripto sialan itu. Namun, saat ia melangkah keluar kafe, matanya menangkap sesuatu di atas meja. Sebuah kartu nama kecil berwarna putih minimalis.

Arka Mahendra Senior Data Analyst & System Architect

Kiran mengambil kartu itu. Di baliknya, terdapat tulisan tangan yang rapi dan tegas, seolah ditulis dengan presisi matematika:

"Halaman 14, paragraf kedua. Gunakan titik, bukan koma yang terus menyambung. Napas pembaca juga butuh istirahat."

Kiran meremas kartu nama itu, tapi anehnya, ia tidak membuangnya. Ia memasukkannya ke dalam saku mantelnya.

Malam itu, Jakarta masih tetap sibuk dengan algoritmanya sendiri—lampu jalan yang berganti warna secara otomatis, aliran kendaraan yang teratur namun padat, dan ribuan orang yang bergerak dalam pola yang bisa diprediksi. Di tengah semua itu, Kiran berjalan dengan diksi-diksinya yang masih berhamburan, namun kini, ada satu nama yang terselip di antara barisan kata-katanya.

Arka. Pria yang menganggap jiwanya terlalu dramatis.

Kiran tidak tahu bahwa pertemuan ini adalah awal dari sebuah kekacauan sistematis dalam hidupnya. Bahwa 'tinta' dan 'algoritma' yang selama ini ia anggap sebagai dua kutub yang mustahil bersatu, akan mulai bergesekan, menciptakan percikan yang akan membakar seluruh zona nyamannya.

Sesampainya di kamar kosnya yang sempit, Kiran membuka laptop. Alih-alih mengerjakan artikel kripto, ia membuka dokumen baru. Jari-jarinya diam sejenak di atas papan ketik. Ia teringat kata-kata Arka tentang 'efisiensi'.

Ia mulai mengetik satu kalimat: Ada seorang pria yang hidup dalam kotak-kotak logika, dan dia tidak tahu bahwa dunia luar sedang terbakar oleh warna yang tidak bisa ia hitung.

Kiran tersenyum tipis. Mungkin Arka benar, tulisannya dramatis. Tapi ia adalah seorang penulis bayangan yang sudah terlalu lama bersembunyi. Jika ia harus keluar ke dunia nyata, ia akan membawa seluruh dramanya bersamanya.

Namun, saat ia hendak melanjutkan, sebuah pesan masuk di akun media sosial anonim miliknya—akun tempat ia sering mengunggah potongan-potongan naskahnya.

Sebuah pesan dari akun tanpa foto profil bernama 'LogicGate01': "Deskripsi tentang perpustakaan yang terbakar itu... kamu salah riset tentang jenis kayu yang digunakan pada rak buku abad ke-16. Kayu oak tidak terbakar sebiru itu."

Mata Kiran membelalak. Ia tahu persis siapa orang di balik akun ini.

"Arka..." desisnya.

Ternyata, pria itu tidak hanya membaca mapnya di kafe. Pria itu telah menemukan 'jejak digital' dari jiwanya yang paling rahasia.

Ketegangan baru mulai merayap di tengkuk Kiran. Ini bukan lagi sekadar naskah yang hilang. Ini adalah sebuah tantangan. Dan bagi seorang Kiran yang imajinasinya tidak mengenal batas, tantangan adalah bahan bakar terbaik untuk menulis bab selanjutnya dalam hidupnya—bab di mana logika dan rasa akan dipaksa untuk berdansa di atas garis tipis antara kebencian dan rasa penasaran.

Kiran menutup laptopnya dengan bunyi klik yang mantap. Besok, ia akan kembali ke kafe itu. Bukan untuk mencari naskah yang hilang, tapi untuk menunjukkan pada Arka Mahendra bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak akan pernah bisa dijelaskan oleh algoritma mana pun, termasuk cara jantungnya berdegup kencang saat ini—karena marah, atau mungkin, karena sesuatu yang lain yang belum ia temukan diksinya.

Jendela kamar kosnya menampilkan pantulan wajahnya yang tampak lebih bersemangat dari biasanya. Di balik algoritma Jakarta yang dingin, tinta Kiran baru saja mulai mengalir dengan lebih berani.

To be continued to Chapter 2: "Logika vs Metafora"

azzar budiyanto

Penulis

Lihat Profil

Rating

Bab Ini

Memuat...

Album

Memuat...