Taman di belakang ndalem Pesantren Al-Hidayah adalah sebuah oase yang seharusnya menenangkan. Pohon-pohon sawo yang rimbun menaungi bangku kayu panjang, sementara rumpun melati putih menyebarkan aroma harum yang lembut ke udara sore yang mulai mendingin. Suara gemericik air dari pancuran kolam ikan koi yang jernih bersahutan dengan sayup-sayup lantunan bait-bait Alfiyah dari asrama santri di kejauhan. Namun bagi Najwa, keindahan ini terasa seperti panggung sandiwara yang menegangkan.Umi Fatimah sengaja memberikan ruang. Dengan alasan ingin berbincang lebih intim dengan Mama Ratna dan Papa Hendra di ruang dalam, beliau meminta Gus Azam untuk menemani Najwa "melihat-lihat" taman. Kini, di sinilah mereka. Najwa berdiri kaku di dekat rumpun melati, sementara Gus Azam berdiri beberapa langkah di depannya, membelakanginya, menatap lurus ke arah cakrawala yang mulai semburat jingga.Satu menit berlalu. Lima menit. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir pria itu. Gus Azam berdiri seperti patung lilin yang dingin. Tangannya masih memutar butiran tasbih kayu gaharu dengan ritme yang konstan, namun punggungnya yang tegap tampak kaku, seolah-olah keberadaan Najwa di belakangnya adalah sebuah gangguan yang sangat tidak diinginkan.Najwa menarik napas panjang, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa menyakitkan. "Tamannya sangat indah, Gus. Umi bilang, Gus Azam yang merawat tanaman melati ini?"Pertanyaan itu menggantung di udara. Gus Azam tidak menoleh. Ia hanya berhenti memutar tasbihnya sejenak, lalu melanjutkannya kembali. Tidak ada jawaban verbal. Keheningan itu terasa seperti tamparan halus bagi Najwa yang terbiasa dihargai dalam setiap pembicaraannya di kantor."Saya tahu..." Najwa mencoba lagi, suaranya lebih rendah namun tetap tenang. "Kedatangan saya mungkin mengusik ketenangan Gus. Saya juga tahu bahwa pernikahan ini bukan sesuatu yang Gus impikan. Tapi, saya datang ke sini dengan niat baik, karena saya menghormati Umi."Kali ini, Gus Azam bergerak. Ia memutar tubuhnya perlahan. Untuk pertama kalinya, Najwa bisa menatap wajah pria itu dari jarak yang sangat dekat. Gus Azam memiliki garis wajah yang tegas, rahang yang kuat, dan mata yang sangat jernih namun sayangnya, mata itu kosong. Tidak ada binar kehidupan di sana, hanya ada lapisan es yang tebal.Gus Azam menatap Najwa. Pandangannya menyapu rambut Najwa yang terurai, turun ke pakaiannya yang modern, lalu kembali ke matanya. Ia seolah sedang melakukan inspeksi terhadap sesuatu yang tidak ia sukai. Bibirnya bergerak sedikit, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun kemudian ia mengatupkannya kembali rapat-rapat. Ia hanya menghela napas panjang sebuah helaan napas yang terdengar seperti rasa lelah yang amat sangat lalu kembali membuang muka.Najwa merasa sesak. Begitu mahalkah sebuah kata darimu, Gus? batinnya menjerit. Ia yang biasa memenangkan negosiasi dengan klien-klien kelas kakap, kini merasa benar-benar tak berdaya menghadapi seorang pria yang menggunakan diam sebagai senjatanya."Gus Azam," panggil Najwa lagi, kali ini dengan nada yang sedikit menuntut perhatian. "Umi bilang Gus Azam adalah ahli dakwah. Suara Gus sangat merdu saat bershalawat. Mengapa untuk sekadar menjawab sapaan sesama manusia, Gus seolah-olah kehilangan lidah?"Kalimat itu berani, dan Najwa tahu itu. Gus Azam tersentak kecil. Ia menoleh kembali, kali ini ada kilatan emosi yang melintas di matanya mungkin sedikit kekaguman atas keberanian Najwa, atau mungkin rasa tersinggung. Namun tetap saja, bibir itu membisu. Pria itu hanya menunjuk ke arah masjid dengan dagunya, seolah mengatakan bahwa suaranya hanya milik Tuhan dan jamaahnya, bukan untuk wanita asing di hadapannya.Kebisuan yang mencekik itu terputus saat Ning Syifa muncul dari balik pintu belakang, memanggil mereka untuk kembali ke ruang tamu utama. Pertemuan empat mata itu berakhir tanpa satu pun kalimat balasan dari Gus Azam. Najwa berjalan kembali ke dalam dengan hati yang bimbang, sementara Gus Azam melangkah mendahuluinya dengan langkah-langkah lebar yang seolah ingin segera menjauh.Di dalam ruang tamu, Abi Ahmad telah duduk bersama Papa Hendra dan Kak Arvin. Suasana tampak sangat formal. Begitu Najwa masuk dan duduk di samping Mamanya, Abi Ahmad langsung menatapnya dengan senyum kebapakan yang sangat tulus."Bagaimana, Nak Najwa? Sudah sempat berbincang dengan Azam?" tanya Abi Ahmad. Beliau melirik ke arah putranya yang kini duduk bersila di pojok ruangan dengan kepala menunduk.Najwa melirik Gus Azam, lalu kembali menatap Abi. "Gus Azam adalah pendengar yang sangat baik, Abi," jawab Najwa diplomatis, sebuah sindiran halus yang hanya dimengerti oleh dirinya dan Azam.Abi Ahmad tertawa kecil, beliau tampaknya memahami apa yang terjadi. "Azam memang sedang belajar tentang hakikat diam, Najwa. Tapi diamnya bukan berarti dia tidak memperhatikan."Abi Ahmad kemudian berdehem, mengubah suasana menjadi sangat sakral. Beliau menatap Papa Hendra dengan penuh kesungguhan. "Hendra, setelah melihat Najwa secara langsung dan mendengar penjelasannya tadi, hatiku semakin mantap. Jika Najwa bersedia, aku sendiri yang akan memimpin rombongan keluarga kami untuk datang ke kediamanmu di Jakarta minggu depan. Aku ingin mengkhitbah Najwa secara resmi untuk putraku, Azam."Kak Arvin langsung menegang di kursinya. Ia menatap Gus Azam yang masih membisu, lalu menatap adiknya. "Abi, mohon maaf... bukankah ini terlalu cepat? Kami ingin Najwa bahagia, dan pernikahan membutuhkan komunikasi dua arah."Abi Ahmad mengangguk bijak. "Benar, Arvin. Pernikahan adalah ibadah terlama. Karena itu, keputusan ini ada di tangan Najwa sepenuhnya. Aku tidak akan bertanya pada Azam, karena sebagai putra, dia harus patuh pada amanah Abi-nya. Tapi Najwa... dia adalah tamu, dia adalah wanita yang memiliki hak untuk memilih jalannya."Semua mata kini tertuju pada Najwa. Papa Hendra menatap dengan penuh harap, Mama Ratna memegang tangan Najwa dengan erat, dan Kak Arvin menatap dengan sorot mata yang seolah berteriak agar adiknya menolak.Di pojok ruangan, Najwa melihat Gus Azam mengangkat kepalanya sedikit. Rahangnya mengeras. Tampak jelas ada raut kekesalan di wajah Gus Azam. Ia merasa tidak adil; mengapa hanya Najwa yang ditanya? Mengapa pendapatnya seolah tidak dianggap oleh ayahnya sendiri? Ia merasa seperti objek yang sedang dijodohkan paksa, dan itu membuatnya semakin memusuhi sosok Najwa di dalam hatinya.Najwa menarik napas dalam. Ia ingat shalat istikharah-nya semalam. Ia ingat pesan Umi. Dan yang paling penting, ia melihat luka yang sangat dalam di balik kekesalan Gus Azam. Sesuatu di dalam dirinya membisikkan bahwa pria ini tidak butuh ditolak, dia butuh diselamatkan."Bismillah..." Najwa memulai, suaranya jernih memenuhi ruangan. "Jika Abi dan Umi merasa saya mampu mengemban amanah ini, dan jika Papa serta Mama memberikan restunya... maka saya menerima keinginan Abi. Saya bersedia dikhitbah oleh Gus Azam."Ruangan itu seketika dipenuhi oleh ucapan "Alhamdulillah" dari Umi Fatimah dan Papa Hendra. Mama Ratna menitikkan air mata haru. Namun, di sudut ruangan, Gus Azam tiba-tiba berdiri. Ia tidak mengucapkan satu kata pun, tapi cara dia melangkah keluar ruangan tanpa pamit menunjukkan betapa besar gejolak emosi di dalam dirinya. Ia kesal, ia marah, dan ia merasa terhimpit oleh keputusan ayahnya yang sangat mendadak."Maafkan Azam," ucap Abi Ahmad dengan tenang, seolah sudah menduga reaksi putranya. "Dia hanya butuh waktu untuk memahami bahwa takdir seringkali datang tanpa permisi."Najwa menatap pintu tempat Gus Azam menghilang. Ia tahu, dengan mengatakan "iya", ia baru saja menyetujui untuk masuk ke dalam penjara sunyi. Ia tahu perjalanan ke Jakarta minggu depan bukan lagi sekadar kunjungan balasan, melainkan awal dari hidupnya yang akan terikat pada bibir yang membisu itu.Taman di belakang ndalem Pesantren Al-Hidayah adalah sebuah oase yang seharusnya menenangkan. Pohon-pohon sawo yang rimbun menaungi bangku kayu panjang, sementara rumpun melati putih menyebarkan aroma harum yang lembut ke udara sore yang mulai mendingin. Suara gemericik air dari pancuran kolam ikan koi yang jernih bersahutan dengan sayup-sayup lantunan bait-bait Alfiyah dari asrama santri di kejauhan. Namun bagi Najwa, keindahan ini terasa seperti panggung sandiwara yang menegangkan.Umi Fatimah sengaja memberikan ruang. Dengan alasan ingin berbincang lebih intim dengan Mama Ratna dan Papa Hendra di ruang dalam, beliau meminta Gus Azam untuk menemani Najwa "melihat-lihat" taman. Kini, di sinilah mereka. Najwa berdiri kaku di dekat rumpun melati, sementara Gus Azam berdiri beberapa langkah di depannya, membelakanginya, menatap lurus ke arah cakrawala yang mulai semburat jingga.Satu menit berlalu. Lima menit. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir pria itu. Gus Azam berdiri seperti patung lilin yang dingin. Tangannya masih memutar butiran tasbih kayu gaharu dengan ritme yang konstan, namun punggungnya yang tegap tampak kaku, seolah-olah keberadaan Najwa di belakangnya adalah sebuah gangguan yang sangat tidak diinginkan.Najwa menarik napas panjang, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa menyakitkan. "Tamannya sangat indah, Gus. Umi bilang, Gus Azam yang merawat tanaman melati ini?"Pertanyaan itu menggantung di udara. Gus Azam tidak menoleh. Ia hanya berhenti memutar tasbihnya sejenak, lalu melanjutkannya kembali. Tidak ada jawaban verbal. Keheningan itu terasa seperti tamparan halus bagi Najwa yang terbiasa dihargai dalam setiap pembicaraannya di kantor."Saya tahu..." Najwa mencoba lagi, suaranya lebih rendah namun tetap tenang. "Kedatangan saya mungkin mengusik ketenangan Gus. Saya juga tahu bahwa pernikahan ini bukan sesuatu yang Gus impikan. Tapi, saya datang ke sini dengan niat baik, karena saya menghormati Umi."Kali ini, Gus Azam bergerak. Ia memutar tubuhnya perlahan. Untuk pertama kalinya, Najwa bisa menatap wajah pria itu dari jarak yang sangat dekat. Gus Azam memiliki garis wajah yang tegas, rahang yang kuat, dan mata yang sangat jernih namun sayangnya, mata itu kosong. Tidak ada binar kehidupan di sana, hanya ada lapisan es yang tebal.Gus Azam menatap Najwa. Pandangannya menyapu rambut Najwa yang terurai, turun ke pakaiannya yang modern, lalu kembali ke matanya. Ia seolah sedang melakukan inspeksi terhadap sesuatu yang tidak ia sukai. Bibirnya bergerak sedikit, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun kemudian ia mengatupkannya kembali rapat-rapat. Ia hanya menghela napas panjang sebuah helaan napas yang terdengar seperti rasa lelah yang amat sangat lalu kembali membuang muka.Najwa merasa sesak. Begitu mahalkah sebuah kata darimu, Gus? batinnya menjerit. Ia yang biasa memenangkan negosiasi dengan klien-klien kelas kakap, kini merasa benar-benar tak berdaya menghadapi seorang pria yang menggunakan diam sebagai senjatanya."Gus Azam," panggil Najwa lagi, kali ini dengan nada yang sedikit menuntut perhatian. "Umi bilang Gus Azam adalah ahli dakwah. Suara Gus sangat merdu saat bershalawat. Mengapa untuk sekadar menjawab sapaan sesama manusia, Gus seolah-olah kehilangan lidah?"Kalimat itu berani, dan Najwa tahu itu. Gus Azam tersentak kecil. Ia menoleh kembali, kali ini ada kilatan emosi yang melintas di matanya mungkin sedikit kekaguman atas keberanian Najwa, atau mungkin rasa tersinggung. Namun tetap saja, bibir itu membisu. Pria itu hanya menunjuk ke arah masjid dengan dagunya, seolah mengatakan bahwa suaranya hanya milik Tuhan dan jamaahnya, bukan untuk wanita asing di hadapannya.Kebisuan yang mencekik itu terputus saat Ning Syifa muncul dari balik pintu belakang, memanggil mereka untuk kembali ke ruang tamu utama. Pertemuan empat mata itu berakhir tanpa satu pun kalimat balasan dari Gus Azam. Najwa berjalan kembali ke dalam dengan hati yang bimbang, sementara Gus Azam melangkah mendahuluinya dengan langkah-langkah lebar yang seolah ingin segera menjauh.Di dalam ruang tamu, Abi Ahmad telah duduk bersama Papa Hendra dan Kak Arvin. Suasana tampak sangat formal. Begitu Najwa masuk dan duduk di samping Mamanya, Abi Ahmad langsung menatapnya dengan senyum kebapakan yang sangat tulus."Bagaimana, Nak Najwa? Sudah sempat berbincang dengan Azam?" tanya Abi Ahmad. Beliau melirik ke arah putranya yang kini duduk bersila di pojok ruangan dengan kepala menunduk.Najwa melirik Gus Azam, lalu kembali menatap Abi. "Gus Azam adalah pendengar yang sangat baik, Abi," jawab Najwa diplomatis, sebuah sindiran halus yang hanya dimengerti oleh dirinya dan Azam.Abi Ahmad tertawa kecil, beliau tampaknya memahami apa yang terjadi. "Azam memang sedang belajar tentang hakikat diam, Najwa. Tapi diamnya bukan berarti dia tidak memperhatikan."Abi Ahmad kemudian berdehem, mengubah suasana menjadi sangat sakral. Beliau menatap Papa Hendra dengan penuh kesungguhan. "Hendra, setelah melihat Najwa secara langsung dan mendengar penjelasannya tadi, hatiku semakin mantap. Jika Najwa bersedia, aku sendiri yang akan memimpin rombongan keluarga kami untuk datang ke kediamanmu di Jakarta minggu depan. Aku ingin mengkhitbah Najwa secara resmi untuk putraku, Azam."Kak Arvin langsung menegang di kursinya. Ia menatap Gus Azam yang masih membisu, lalu menatap adiknya. "Abi, mohon maaf... bukankah ini terlalu cepat? Kami ingin Najwa bahagia, dan pernikahan membutuhkan komunikasi dua arah."Abi Ahmad mengangguk bijak. "Benar, Arvin. Pernikahan adalah ibadah terlama. Karena itu, keputusan ini ada di tangan Najwa sepenuhnya. Aku tidak akan bertanya pada Azam, karena sebagai putra, dia harus patuh pada amanah Abi-nya. Tapi Najwa... dia adalah tamu, dia adalah wanita yang memiliki hak untuk memilih jalannya."Semua mata kini tertuju pada Najwa. Papa Hendra menatap dengan penuh harap, Mama Ratna memegang tangan Najwa dengan erat, dan Kak Arvin menatap dengan sorot mata yang seolah berteriak agar adiknya menolak.Di pojok ruangan, Najwa melihat Gus Azam mengangkat kepalanya sedikit. Rahangnya mengeras. Tampak jelas ada raut kekesalan di wajah Gus Azam. Ia merasa tidak adil; mengapa hanya Najwa yang ditanya? Mengapa pendapatnya seolah tidak dianggap oleh ayahnya sendiri? Ia merasa seperti objek yang sedang dijodohkan paksa, dan itu membuatnya semakin memusuhi sosok Najwa di dalam hatinya.Najwa menarik napas dalam. Ia ingat shalat istikharah-nya semalam. Ia ingat pesan Umi. Dan yang paling penting, ia melihat luka yang sangat dalam di balik kekesalan Gus Azam. Sesuatu di dalam dirinya membisikkan bahwa pria ini tidak butuh ditolak, dia butuh diselamatkan."Bismillah..." Najwa memulai, suaranya jernih memenuhi ruangan. "Jika Abi dan Umi merasa saya mampu mengemban amanah ini, dan jika Papa serta Mama memberikan restunya... maka saya menerima keinginan Abi. Saya bersedia dikhitbah oleh Gus Azam."Ruangan itu seketika dipenuhi oleh ucapan "Alhamdulillah" dari Umi Fatimah dan Papa Hendra. Mama Ratna menitikkan air mata haru. Namun, di sudut ruangan, Gus Azam tiba-tiba berdiri. Ia tidak mengucapkan satu kata pun, tapi cara dia melangkah keluar ruangan tanpa pamit menunjukkan betapa besar gejolak emosi di dalam dirinya. Ia kesal, ia marah, dan ia merasa terhimpit oleh keputusan ayahnya yang sangat mendadak."Maafkan Azam," ucap Abi Ahmad dengan tenang, seolah sudah menduga reaksi putranya. "Dia hanya butuh waktu untuk memahami bahwa takdir seringkali datang tanpa permisi."Najwa menatap pintu tempat Gus Azam menghilang. Ia tahu, dengan mengatakan "iya", ia baru saja menyetujui untuk masuk ke dalam penjara sunyi. Ia tahu perjalanan ke Jakarta minggu depan bukan lagi sekadar kunjungan balasan, melainkan awal dari hidupnya yang akan terikat pada bibir yang membismembisumembismembisuuu itu.Taman di belakang ndalem Pesantren Al-Hidayah adalah sebuah oase yang seharusnya menenangkan. Pohon-pohon sawo yang rimbun menaungi bangku kayu panjang, sementara rumpun melati putih menyebarkan aroma harum yang lembut ke udara sore yang mulai mendingin. Suara gemericik air dari pancuran kolam ikan koi yang jernih bersahutan dengan sayup-sayup lantunan bait-bait Alfiyah dari asrama santri di kejauhan. Namun bagi Najwa, keindahan ini terasa seperti panggung sandiwara yang menegangkan.
Umi Fatimah sengaja memberikan ruang. Dengan alasan ingin berbincang lebih intim dengan Mama Ratna dan Papa Hendra di ruang dalam, beliau meminta Gus Azam untuk menemani Najwa "melihat-lihat" taman. Kini, di sinilah mereka. Najwa berdiri kaku di dekat rumpun melati, sementara Gus Azam berdiri beberapa langkah di depannya, membelakanginya, menatap lurus ke arah cakrawala yang mulai semburat jingga.
Satu menit berlalu. Lima menit. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir pria itu. Gus Azam berdiri seperti patung lilin yang dingin. Tangannya masih memutar butiran tasbih kayu gaharu dengan ritme yang konstan, namun punggungnya yang tegap tampak kaku, seolah-olah keberadaan Najwa di belakangnya adalah sebuah gangguan yang sangat tidak diinginkan.
Najwa menarik napas panjang, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa menyakitkan. "Tamannya sangat indah, Gus. Umi bilang, Gus Azam yang merawat tanaman melati ini?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Gus Azam tidak menoleh. Ia hanya berhenti memutar tasbihnya sejenak, lalu melanjutkannya kembali. Tidak ada jawaban verbal. Keheningan itu terasa seperti tamparan halus bagi Najwa yang terbiasa dihargai dalam setiap pembicaraannya di kantor.
"Saya tahu..." Najwa mencoba lagi, suaranya lebih rendah namun tetap tenang. "Kedatangan saya mungkin mengusik ketenangan Gus. Saya juga tahu bahwa pernikahan ini bukan sesuatu yang Gus impikan. Tapi, saya datang ke sini dengan niat baik, karena saya menghormati Umi."
Kali ini, Gus Azam bergerak. Ia memutar tubuhnya perlahan. Untuk pertama kalinya, Najwa bisa menatap wajah pria itu dari jarak yang sangat dekat. Gus Azam memiliki garis wajah yang tegas, rahang yang kuat, dan mata yang sangat jernih namun sayangnya, mata itu kosong. Tidak ada binar kehidupan di sana, hanya ada lapisan es yang tebal.
Gus Azam menatap Najwa. Pandangannya menyapu rambut Najwa yang terurai, turun ke pakaiannya yang modern, lalu kembali ke matanya. Ia seolah sedang melakukan inspeksi terhadap sesuatu yang tidak ia sukai. Bibirnya bergerak sedikit, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun kemudian ia mengatupkannya kembali rapat-rapat. Ia hanya menghela napas panjang sebuah helaan napas yang terdengar seperti rasa lelah yang amat sangat lalu kembali membuang muka.
Najwa merasa sesak. Begitu mahalkah sebuah kata darimu, Gus? batinnya menjerit. Ia yang biasa memenangkan negosiasi dengan klien-klien kelas kakap, kini merasa benar-benar tak berdaya menghadapi seorang pria yang menggunakan diam sebagai senjatanya.
"Gus Azam," panggil Najwa lagi, kali ini dengan nada yang sedikit menuntut perhatian. "Umi bilang Gus Azam adalah ahli dakwah. Suara Gus sangat merdu saat bershalawat. Mengapa untuk sekadar menjawab sapaan sesama manusia, Gus seolah-olah kehilangan lidah?"
Kalimat itu berani, dan Najwa tahu itu. Gus Azam tersentak kecil. Ia menoleh kembali, kali ini ada kilatan emosi yang melintas di matanya mungkin sedikit kekaguman atas keberanian Najwa, atau mungkin rasa tersinggung. Namun tetap saja, bibir itu membisu. Pria itu hanya menunjuk ke arah masjid dengan dagunya, seolah mengatakan bahwa suaranya hanya milik Tuhan dan jamaahnya, bukan untuk wanita asing di hadapannya.
Kebisuan yang mencekik itu terputus saat Ning Syifa muncul dari balik pintu belakang, memanggil mereka untuk kembali ke ruang tamu utama. Pertemuan empat mata itu berakhir tanpa satu pun kalimat balasan dari Gus Azam. Najwa berjalan kembali ke dalam dengan hati yang bimbang, sementara Gus Azam melangkah mendahuluinya dengan langkah-langkah lebar yang seolah ingin segera menjauh.
Di dalam ruang tamu, Abi Ahmad telah duduk bersama Papa Hendra dan Kak Arvin. Suasana tampak sangat formal. Begitu Najwa masuk dan duduk di samping Mamanya, Abi Ahmad langsung menatapnya dengan senyum kebapakan yang sangat tulus.
"Bagaimana, Nak Najwa? Sudah sempat berbincang dengan Azam?" tanya Abi Ahmad. Beliau melirik ke arah putranya yang kini duduk bersila di pojok ruangan dengan kepala menunduk.
Najwa melirik Gus Azam, lalu kembali menatap Abi. "Gus Azam adalah pendengar yang sangat baik, Abi," jawab Najwa diplomatis, sebuah sindiran halus yang hanya dimengerti oleh dirinya dan Azam.
Abi Ahmad tertawa kecil, beliau tampaknya memahami apa yang terjadi. "Azam memang sedang belajar tentang hakikat diam, Najwa. Tapi diamnya bukan berarti dia tidak memperhatikan."
Abi Ahmad kemudian berdehem, mengubah suasana menjadi sangat sakral. Beliau menatap Papa Hendra dengan penuh kesungguhan. "Hendra, setelah melihat Najwa secara langsung dan mendengar penjelasannya tadi, hatiku semakin mantap. Jika Najwa bersedia, aku sendiri yang akan memimpin rombongan keluarga kami untuk datang ke kediamanmu di Jakarta minggu depan. Aku ingin mengkhitbah Najwa secara resmi untuk putraku, Azam."
Kak Arvin langsung menegang di kursinya. Ia menatap Gus Azam yang masih membisu, lalu menatap adiknya. "Abi, mohon maaf... bukankah ini terlalu cepat? Kami ingin Najwa bahagia, dan pernikahan membutuhkan komunikasi dua arah."
Abi Ahmad mengangguk bijak. "Benar, Arvin. Pernikahan adalah ibadah terlama. Karena itu, keputusan ini ada di tangan Najwa sepenuhnya. Aku tidak akan bertanya pada Azam, karena sebagai putra, dia harus patuh pada amanah Abi-nya. Tapi Najwa... dia adalah tamu, dia adalah wanita yang memiliki hak untuk memilih jalannya."
Semua mata kini tertuju pada Najwa. Papa Hendra menatap dengan penuh harap, Mama Ratna memegang tangan Najwa dengan erat, dan Kak Arvin menatap dengan sorot mata yang seolah berteriak agar adiknya menolak.
Di pojok ruangan, Najwa melihat Gus Azam mengangkat kepalanya sedikit. Rahangnya mengeras. Tampak jelas ada raut kekesalan di wajah Gus Azam. Ia merasa tidak adil; mengapa hanya Najwa yang ditanya? Mengapa pendapatnya seolah tidak dianggap oleh ayahnya sendiri? Ia merasa seperti objek yang sedang dijodohkan paksa, dan itu membuatnya semakin memusuhi sosok Najwa di dalam hatinya.
Najwa menarik napas dalam. Ia ingat shalat istikharah-nya semalam. Ia ingat pesan Umi. Dan yang paling penting, ia melihat luka yang sangat dalam di balik kekesalan Gus Azam. Sesuatu di dalam dirinya membisikkan bahwa pria ini tidak butuh ditolak, dia butuh diselamatkan.
"Bismillah..." Najwa memulai, suaranya jernih memenuhi ruangan. "Jika Abi dan Umi merasa saya mampu mengemban amanah ini, dan jika Papa serta Mama memberikan restunya... maka saya menerima keinginan Abi. Saya bersedia dikhitbah oleh Gus Azam."
Ruangan itu seketika dipenuhi oleh ucapan "Alhamdulillah" dari Umi Fatimah dan Papa Hendra. Mama Ratna menitikkan air mata haru. Namun, di sudut ruangan, Gus Azam tiba-tiba berdiri. Ia tidak mengucapkan satu kata pun, tapi cara dia melangkah keluar ruangan tanpa pamit menunjukkan betapa besar gejolak emosi di dalam dirinya. Ia kesal, ia marah, dan ia merasa terhimpit oleh keputusan ayahnya yang sangat mendadak.
"Maafkan Azam," ucap Abi Ahmad dengan tenang, seolah sudah menduga reaksi putranya. "Dia hanya butuh waktu untuk memahami bahwa takdir seringkali datang tanpa permisi."
Najwa menatap pintu tempat Gus Azam menghilang. Ia tahu, dengan mengatakan "iya", ia baru saja menyetujui untuk masuk ke dalam penjara sunyi. Ia tahu perjalanan ke Jakarta minggu depan bukan lagi sekadar kunjungan balasan, melainkan awal dari hidupnya yang akan terikat pada bibir yang membisu itu.