Menikah dengan Pria yang Membenciku Menikah dengan Pria yang Membenciku
1/1
Bab 1

Menikah dengan Pria yang Membenciku

“Pa… aku mohon, bantu aku menikah dengannya.”

Kalimat itu keluar dari bibirku sebelum ku sempat menarik kembali keberanian yang sudah terlanjur ku kumpulkan sejak pagi. Suaraku tidak setegas yang kuinginkan. Ada getar yang tak bisa kusembunyikan, meski aku sudah berulang kali berlatih di depan cermin.

Ayahku berhenti menandatangani berkas di atas meja kerjanya. Pena di tangannya terhenti di udara. Ia tidak langsung menatapku, seolah berharap kata-kataku barusan hanyalah salah dengar. Ruangan itu mendadak terasa terlalu sunyi.

“Nafisa…” Ayahku akhirnya mengangkat wajahnya. “Apa yang kamu katakan barusan?”

Aku menelan ludah. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, berusaha menahan diri agar tidak gemetar terlalu jelas.

“Aku ingin Papa menjodohkanku dengan Rama,” ucapku pelan, tapi kali ini lebih jelas.

Alis ayah sedikit berkerut, seperti seseorang yang sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak ia duga akan terjadi.

“Kamu sadar apa yang kamu minta?” tanyanya tenang, tapi berat.

“Aku sadar, Pa.”

Mama yang sejak tadi duduk di sofa sudut ruangan bangkit perlahan. Ia mendekat, berdiri di sampingku, tangannya menyentuh bahuku dengan lembut.

“Sayang,” ujar Mama hati-hati, “Rama itu karyawan Papa. Dia bukan…”

“Aku tahu, Ma,” potongku pelan. “Aku tahu dia bukan dari keluarga kita. Aku tahu latar belakangnya sederhana. Tapi itu tidak pernah jadi masalah buatku.”

“Nafisa, kamu ini anak Papa satu-satunya. Kamu dibesarkan dengan segala kecukupan. Kamu tidak pernah kekurangan apapun,” kata ayah berusaha mengingatkanku.

“Justru karena itu, Pa. Aku ingin memilih dengan hatiku, bukan dengan materi.”

Mendengar jawabanku, ayah terdiam. Tatapannya berpindah dari ku ke Mama, lalu kembali padaku. Aku tahu raut wajah itu, raut seorang ayah yang sedang terjebak antara logika dan rasa sayang.

“Nafisa,” ucapnya lagi, kali ini lebih pelan, “kamu benar-benar yakin?”

Pertanyaan itu membuat dadaku menghangat, sekaligus nyeri. Aku memejamkan mata sesaat. Bayangan itu kembali muncul, jelas seperti kemarin sore. Beberapa tahun lalu, di basement kantor Papa. Saat itu aku terburu-buru. Hak sepatuku tergelincir di lantai licin. Aku hampir jatuh, jantungku sudah melonjak ke tenggorokan, sampai sebuah tangan menarik lenganku dengan cepat.

“Hati-hati,” katanya waktu itu.

Suaranya tidak keras, tidak panik. Tenang. Stabil. Aku masih ingat bagaimana Rama memastikan aku berdiri dengan baik sebelum melepaskan pegangannya. Ia bahkan menjaga jarak, sopan, seolah takut membuatku tidak nyaman.

“Tidak apa-apa?” tanyanya.

Hanya itu. Tapi entah kenapa, sejak hari itu, setiap kali melihatnya berjalan di koridor kantor, setiap kali mendengar namanya disebut dalam rapat, ada sesuatu yang bergetar pelan di dadaku.

Perasaan itu tumbuh diam-diam. Tidak berisik. Tidak dramatis. Tapi menetap.

“Aku yakin, Pa,” kataku akhirnya penuh percaya diri.

“Cinta saja tidak cukup untuk pernikahan.”

“Aku tidak meminta pernikahan yang sempurna,” balasku. “Aku hanya ingin kesempatan.”

Ruangan kembali sunyi. Aku bisa mendengar detak jam dinding, terlalu keras di telingaku. Ayah bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar. Ia berdiri membelakangi kami, menatap halaman rumah yang hijau dan terawat, semua yang selama ini ia bangun demi keluarganya.

“Kamu tahu,” katanya tanpa menoleh, “Papa bisa mencarikan pria lain untukmu. Anak kolega Papa. Pria yang mencintaimu, menghormatimu.”

Aku berdiri, melangkah mendekatinya beberapa langkah. “Aku tidak ingin pria lain, Pa.”

“Rama hanya karyawan biasa,” ucap ayah tegas. “Hidupmu tidak akan mudah jika menikah dengannya.”

“Aku tidak butuh hidup yang mudah,” jawabku. “Aku hanya ingin hidup dengan orang yang aku cintai.”

Mendengar jawabanku, ayahku menghela napas, napas seorang ayah yang sedang melepaskan sesuatu.

“Baik,” katanya akhirnya.

Dadaku berdebar keras.

“Papa akan menemui Rama,” lanjutnya. “Papa akan bicara dengannya.”

Aku hampir tidak percaya pada pendengaranku.

“Tapi ingat,” Papa menambahkan, suaranya kembali tegas, “Papa tidak akan memaksanya. Keputusan ada di tangannya.”

Aku mengangguk cepat, air mata menggenang tanpa sempat kutahan.

“Itu sudah cukup, Pa,” bisikku. “Terima kasih.”

“Papa melakukan ini bukan karena Papa yakin. Tapi karena Papa mencintaimu.”

Mama memelukku. Aku membenamkan wajahku di bahunya, mencoba menenangkan detak jantungku yang terlalu cepat.

Aku tidak tahu bagaimana jawaban Rama nanti. Aku tidak tahu apakah harapanku akan runtuh hari ini. Yang aku tahu, cintaku telah membawaku sejauh ini, ke titik di mana aku rela mempertaruhkan segalanya, bahkan harga diriku sendiri.


Dua hari setelah percakapan itu, hidupku seperti berjalan di atas awan.

Setiap dering ponsel membuatku refleks menoleh. Setiap langkah kaki di koridor rumah membuat jantungku berdegup lebih cepat, berharap itu ayahku yang datang membawa kabar. Tapi dua hari itu berjalan lambat, seolah waktu sengaja mengujiku, seberapa kuat aku menggenggam harapan.

Aku tidak bertanya. Tidak sekali pun. Aku takut, jika aku bertanya, jawabannya akan menjadi nyata. Dan aku belum siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Dua hari kemudian, sore itu aku sedang duduk di ruang tengah, berpura-pura membaca majalah yang sama sejak lima belas menit lalu. Huruf-hurufnya tidak benar-benar masuk ke kepalaku. Pikiranku terlalu penuh dengan satu nama. Rama.

Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah pintu. Aku menegakkan punggung tanpa sadar. Jantungku berdetak begitu kencang. Ayah masuk sambil menenteng tas kerjanya. Wajahnya datar, terlalu datar untuk kuterjemahkan.

“Nafisa,” panggilnya.

Aku berdiri terlalu cepat. Majalah di tanganku jatuh ke lantai, tapi aku tidak peduli.

“Iya, Pa?” suaraku sedikit tercekat.

Sebelum bicara, ayahku menatapku beberapa detik. Detik yang terasa lebih panjang dari dua hari penantian itu sendiri. Lalu, dengan suara yang tenang, ia berkata, “Rama setuju.”

“Setuju… Pa?” ulangku seperti orang bodoh.

“Dia bersedia menikah denganmu.”

Dunia seakan berhenti berputar. Aku berdiri di tempatku, tapi rasanya seperti melayang. Suara ayahku terdengar jauh, seperti datang dari ujung lorong yang panjang. ‘Rama… setuju menikah denganku.’ gumamku lirih, sambil memegang dadaku yang mendadak sesak, tapi bukan karena sakit.

Napasku tertahan oleh perasaan yang terlalu penuh, lega, bahagia, tidak percaya, semuanya bercampur tanpa bisa kubedakan mana yang lebih dominan.

“Pa…” bibirku bergetar. “Papa serius?”

“Papa sudah bicara dengannya kemarin. Dia minta waktu semalam untuk berpikir. Tadi pagi dia memberi jawabannya.”

Kakiku terasa lemas. Aku duduk kembali di sofa, menekan dada dengan telapak tangan, berusaha menenangkan jantungku yang seperti ingin meloncat keluar.

“Kamu baik-baik saja?” tanya ayahku khawatir.

Aku mengangguk cepat. Lalu tertawa kecil, tawa yang terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.

“Pa…” suaraku serak. “Dia mau…”

Ayah tersenyum tipis. Senyum seorang ayah yang ikut bahagia, tapi masih menyimpan cemas.

Disaat yang bersamaan, tiba-tiba terdengar suara Mama memanggil namaku.

“Nafisa?”

Aku menoleh refleks. Mama muncul dari arah lorong. Wajahnya tampak heran melihatku yang duduk dengan mata berkaca-kaca, sementara Ayah berdiri di dekatku dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Ada apa ini?” tanya Mama pelan, matanya berpindah dari wajah Ayah ke wajahku. “Kalian kenapa?”

Tanpa pikir panjang, aku langsung berdiri. Semua perasaan yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah begitu saja. Aku melangkah cepat mendekatinya dan langsung memeluknya erat, membenamkan wajahku di bahunya seperti anak kecil.

“Ma…” suaraku pecah. “Ma… Rama setuju.”

“Setuju?” ulang Mama lirih. “Setuju apa, Sayang?”

“Setuju menikah denganku, Ma,” ucapku terbata, air mataku akhirnya jatuh. “Papa sudah bicara dengannya… dia setuju.”

Aku bisa merasakan napas Mama yang tertahan. Pelukannya mengerat, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tangannya mengusap punggungku berulang kali, gerakan lembut yang sejak kecil selalu berhasil menenangkanku.

“Ya Allah…” bisiknya. “Alhamdulillah…”

Aku menarik sedikit tubuhku untuk menatap wajahnya. Mata Mama berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, tapi ada senyum hangat yang tak bisa ia sembunyikan.

“Kamu bahagia?” tanyanya pelan, seolah takut jawabanku akan rapuh.

“Bahagia, Ma. Aku sangat bahagia.” “Kalau begitu, Mama ikut bahagia.” Mama menghela napas panjang, lalu tersenyum sambil mengusap pipiku.

Saat itu aku tidak tahu, bahwa kata “setuju” dari Rama bukanlah awal kebahagiaanku, melainkan awal dari kehilangan terbesarku.

Sri Rezeki Pulungan

Penulis

Lihat Profil

Rating

Bab Ini

Memuat...

Album

Memuat...