Tentang Nama dan Kehidupan Masa Silam
Nama yang Mengundang Rasa Penasaran
Seorang guru bahasa Inggris asal Kanada terkejut ketika melihat papan nama toko di salah satu sudut jalan raya yang menghubungkan Banyuwangi dan Jember. Kendaraan yang dia tumpangi bersama empat orang lain dari Kanada dan Indonesia itu sedang tersendat di perempatan jalan. Wanita bernama Elizabeth yang biasa dipanggil Mbak Lizzy itu seperti tidak percaya dengan nama tempat yang dilihatnya. Kekagetan dia membuat teman serombongan di dalam mobil ikut terheran-heran. Soalnya, menurut mereka suasana di luar kendaraan biasa-biasa saja dan sama sekali tidak ada yang istimewa.
Setelah terdiam sejenak, Mbak Lizzy membuka alasan kenapa dia terkejut. Nama Glenmore yang terpampang di papan nama toko dan tempat lain di sepanjang jalan yang menjadi penyebabnya. Nama Glenmore di Kabupaten Banyuwangi ini sama dengan tempat tinggalnya di Nova Scotia, Kanada. Elizabeth memang warga kota kecil Glenmore di Nova Scatia. Jarak antara Glenmore di Kanada dan Glenmore di Banyuwangi kira-kira 13.000 kilometer. Kalau dibuat perbandingan, jarak ini sama dengan 13 kali jarak antara Banyuwangi-Jakarta. Kalau terbang dengan pesawat dari Surabaya menuju Toronto, Kanada kita membutuhkan waktu sekitar 23 jam.
Pengalaman unik Elizabeth ini kemudian dituangkan dalam tulisan pendek oleh Eddy Roesdiono dengan judul Dari Glenmore ke Glenmore di laman Kompasiana edisi 16 Agustus 2013. Eddy merupakan guru bahasa Inggris yang menemani Mbak Lizzy dan teman-teman dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banyuwangi. Beruntung dia memilih jalur tengah melewati Jember. Kalau saja mereka memilih jalur utara lewat Situbondo, Mbak Lizzy sangat mungkin tidak menemukan pengalaman unik dan menarik ini. Elizabeth mungkin tidak menyangka ada kota kecil di pulau Jawa yang memakai nama Glenmore seperti beberapa kota di Eropa, Amerika, dan Australia.
Nama Glenmore di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur ini memang bukan sekali dua kali membuat penasaran dan selalu menjadi pertanyaan. Pengalaman penulis dengan dive master dari Wales (Inggris Raya) di Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara juga menemukan hal yang sama. Dalam obrolan sehabis menyelam di Pantai Sombu pada akhir 2015, wanita muda dari suatu daerah di pegunungan Cambrian, Wales ini mengatakan nama Glenmore biasanya banyak ditemukan di Skotlandia. Kalau ada daerah bernama Glenmore di Pulau Jawa, tentu saja sangat menarik dan membuat penasaran.
Selain membuat penasaran warga negara asing, nama Glenmore di Banyuwangi sebenarnya juga membuat penasaran warga Indonesia sendiri. Terutama buat mereka pernah berkunjung ke luar negeri dan kebetulan menemukan nama Glenmore untuk suatu daerah, pusat perbelanjaan seperti plaza dan mall, sampai nama hotel. Tapi, di sisi yang lain mereka belum pernah mendengar atau berkunjung ke Glenmore di Banyuwangi. Tidak mengherankan kalau Glenmore disangka hanya salah satu nama kota di Eropa, Amerika, atau Australia semata. Padahal, di salah satu sudut di pulau Jawa, ada daerah bernama Glenmore yang sudah berdiri sejak awal abad ke-20.
Keunikan nama Glenmore dibandingkan nama kecamatan atau kota lain di Jawa dan Indonesia membuat kota kecil ini semakin menarik bagi warga asing, terutama dari Belanda. Sudah sejak lama kecamatan ini menjadi tujuan wisatawan Belanda yang ingin bernostalgia dengan warisan dan peninggalan kakek nenek mereka. Sebagian jejak peninggalan mereka masih dapat dilihat hingga sekarang meskipun sebagian yang lain sudah tidak ditemukan lagi.
Antara Kebanggaan dan Kebimbangan
Mereka yang lahir dan tumbuh besar di Glenmore tentu memiliki kebanggaan tersendiri dengan nama kota kelahirannya ini. Selain menjadi satu-satunya kecamatan di Indonesia yang memakai istilah asing, nama Glenmore ternyata juga digunakan di beberapa negara. Nama ini tidak hanya untuk distrik, kota, atau kecamatan, tapi juga untuk hotel, pusat belanja, kawasan wisata, sampai pusat pelatihan untuk petualangan di alam bebas. Dengan penyebaran nama di beberapa negara ini, tidak mengherankan kalau Glenmore identik dengan istilah di luar negeri, terutama Eropa. Aroma kebarat-baratan ini yang kadang menjadi kebangaan bagi sebagian orang.
Sudah banyak contoh bagaimana nama kecamatan ini membuat senang dan bangga. Misalnya, dalam sebuah wawancara penerimaan karyawan. Ketika calon karyawan menulis Glenmore sebagai tempat kelahiran, biasanya muncul pertanyaan lanjutan seperti, “Waktu kamu lahir, orangtua kamu sedang tugas di luar negeri, ya?” Atau pertanyaan lain seperti ini, “Orangtua kamu diplomat di salah satu negara Eropa, ya?” Bahkan, dalam tradisi mudik tahunan untuk hari raya idul fitri, banyak yang mengira perantauan yang mudik ke Glenmore disangka mau mudik ke luar ngeri. Ya, semua itu karena nama Glenmore yang asing bagi mereka.
Tentu tidak ada yang salah merasa bangga dengan daerah kelahiran ini. Apalagi kota kecil di sisi selatan lereng Gunung Raung ini memiliki kisah menarik tentang persahabatan bangsawan Eropa dan bangsawan Jawa di masa silam. Kota kecil ini juga memiliki jejak penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama dalam peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Daerah ini juga menjadi contoh percampuran etnis dan asimilasi budaya dari berbagai daerah yang berbaur menjadi satu tradisi baru.
Namun, di balik kebanggaan itu sering terselip kebimbangan tentang makna serta asal-usul nama Glenmore itu sendiri. Setiap orang yang lahir dan tumbuh besar di daerah ini, atau mereka yang pernah berkunjung ke sini biasanya bertanya kenapa daerah ini diberi nama Glenmore. Apalagi kecamatan ini tidak memiliki pusat keramaian atau pusat kota seperti kecamatan lain yang dapat menjadi simbol kota. Apakah Desa Sepanjang dengan stasiun kereta api dan pasar sebagai pusat keramaian yang sudah ada sejak tahun 1920-an yang disebut Glenmore? Atau Desa Karangharjo tempat Kantor Pos dan Kantor Telkom berdiri sejak jaman kemerdekaan tahun 1940-an?
Selain dua desa ini tentu masih ada desa lain yang punya rekam jejak masa lalu sebagai bagian dari Glenmore itu sendiri. Di Desa Kritilan misalnya, berdiri Rumah Sakit Bhakti Husada yang memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ada lagi Desa Margomulyo tempat Perkebunan Glenmore berdiri sejak akhir abad ke-19 yang memiliki sejarah panjang dan berperan penting tentang hadirnya nama Glenmore sebagai kecamatan. Atau mungkin juga Desa Bumiharjo, tempat Candi Agung Gumuk Kancil yang memiliki hubungan erat dengan Maha Rsi Markandeya, tokoh spiritual penyebar pertama Hindu di Jawa pada abad ke-7 masehi.
Selain lokasi inti dan ikon Glenmore yang sebenarnya, kebimbangan yang dirasakan tentu saja tentang asal usul nama Glenmore itu sendiri. Banyak yang meyakini nama ini berasal dari bahasa Inggris. Tapi, bahasa Inggris tidak mengenal kosakata ini, Sebagian lagi mengatakan Glenmore berasal dari bahasa Belanda. Lagi-lagi masalahnya sama karena tidak satu pun kosakata dalam bahasa Belanda yang menunjukkan perubahan kata menjadi Glenmore. Semuanya masih serba praduga karena tidak ada bukti yang dapat dijadikan pegangan bagaimana kosakata Glenmore berasal dan siapa yang pertama kali menggunakan sampai menjadi nama kecamatan.