Perawan Mahal Sang Penggoda Nurlela
3/20
Bab 3

Nurlela

Queen masih menangis, padahal pria itu belum menyentuhnya. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya gemetar, selimut tipis ia tarik erat menutupi tubuhnya.

Sedangkan pria itu, ia duduk santai di sofa empuk kamar Queen. Kakinya disilangkan, jemari panjangnya menyalakan rokok, lalu asap putih mengepul memenuhi ruangan. Di tangan satunya, ia membuka layar HP berkali-kali, seakan ada sesuatu yang ditunggunya.

Dalam kepalanya berputar rasa kesal sekaligus penasaran.

"Kenapa wanita bodoh ini melakukan ini? Dari mana dia mendapatkan obat itu?"

Ia melirik Queen. Wajah cantik itu basah oleh air mata, tapi justru membuat pesonanya semakin kuat di mata pria itu.

"Kau," panggil pria itu datar.

Queen mendongak, matanya masih merah karena tangisan. Ia menatap dengan takut, tubuhnya semakin mengerut di balik selimut.

"Siapa namamu?" tanyanya.

"Q-ueen," jawab Queen terbata, suaranya kecil.

Pria itu tersenyum tipis, menyunggingkan bibirnya. "Aku tidak butuh nama samaran, aku butuh nama aslimu."

Queen menelan ludah. Hatinya berdebar. Kenapa dia mau tahu identitasku yang sebenarnya? Tatapan tajam pria itu membuatnya tak bisa berbohong lebih lama.

"Nurlela," lirih Queen.

"Pffft."

Pria itu hampir tertawa, menahan geli. Nama itu begitu kontras dengan wajah cantik dan tubuh indah Queen. Nama kampungan. Tapi, menarik.

"Kau tinggal di mana?"

Queen terdiam, bimbang. "Tuan, apakah saya harus menjawabnya?"

"Ya. Jawab." Suaranya dingin, tak terbantahkan.

"Tak jauh dari sini."

Pria itu bangkit. Tubuh tegapnya bergerak, membuat Queen buru-buru menarik selimut menutupi kepalanya. Jantungnya berdegup kencang, ia yakin pria itu akan kembali mendekat.

Namun pria itu justru berjalan menuju pintu. Ia berhenti sejenak, melirik ke arah Queen yang masih bersembunyi di balik selimut.

"Aku akan pergi. Tapi tunggu saja, kau akan jadi milikku, Nurlela."

Suara pintu tertutup rapat. Queen buru-buru membuka selimut, menghela napas panjang.

"Huh, syukurlah aku aman."

Dengan tangan gemetar ia masuk ke kamar mandi, membasuh tangan kemudian muka yang basah oleh tangisan. Cermin memantulkan wajahnya yang merah dan sembab.

"Ya ampun, keliatan banget abis nangis nggak ya?" gumamnya, berusaha menepuk-nepuk pipinya agar tampak segar.

Ia kembali mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Duh, mana harus ke tempat Mami. Semoga pria itu nggak ngomong aneh-aneh.

Queen keluar, berjalan ke arah ruangan yang bertuliskan dilarang masuk. Ia mendorong pintunya tanpa ragu.

"Mami," panggilnya.

Wanita paruh baya dengan dandanan menor itu duduk santai di sofa, sibuk bermain HP.

Queen menjatuhkan tubuhnya malas ke sofa seberang.

"Queen," suara Mami datar, matanya masih ke layar. "Sepertinya kamu nggak enak badan. Apa karena pria yang tadi?"

Jantung Queen berdegup. Apa dia sudah cerita?

"Eh, itu… Mami," Queen gagap, bingung harus menjawab apa.

Mami akhirnya menatapnya, tersenyum tipis. "Pria itu tadi bilang suka sama layanan kamu."

Queen terkejut, matanya membesar. Hah? Jadi dia bilang begitu? Padahal...

Ia langsung tersenyum kaku. "Hehe, biasalah Mami. Namanya juga Queen." Suaranya penuh pura-pura percaya diri.

Mami tertawa. "Istirahatlah, Queen. Kayak digempur habis-habisan mukamu."

Queen ikut tersenyum tipis. "Baik, Mami. Tapi besok aku istirahat, ya."

Mami hanya mengangguk, apalagi sudah menerima bagiannya cukup banyak malam ini.

Di luar, udara malam menusuk. Queen menaiki motor maticnya, jaket tipis ia kenakan. Jalanan sepi, hanya ditemani deru angin malam.

"Beruntung sekali aku malam ini," gumamnya sambil tersenyum puas. "Seru juga ternyata cari uang dengan cara ini."

Ia tertawa kecil, mengingat kembali dengan nama yang disebut tadi. "Nurlela," suaranya pelan, lalu ia tertawa lagi. "Ahai Nurlela sukanya berlagu, mambo cha cha..." ia bernyanyi sambil menikmati dinginnya malam.

Queen belok ke gang kecil menuju kontrakannya, gang itu kecil hanya cukup untuk motor saja.

Sementara itu, seorang pria di dalam mobil berbicara dingin pada anak buahnya.

"Bawakan aku wanita bernama Nurlela. Dia tinggal di gang ini."

Ia sempat menoleh pada papan nama gang yang sudah miring. "Gang Cukurukuk," suaranya sinis, terdengar aneh baginya.

Mobil itu berlalu. Queen yang tak menyadarinya sudah sampai di kontrakan. Kamar pink kecil itu menjadi tempat ia melepaskan lelah. Ia merebahkan diri, menatap langit-langit sambil memainkan HP.

"Gila, udah jam 2 aja. Kayaknya abang pulangnya besok."

Queen gelisah, pikirannya kembali ke pria misterius tadi. Senyumnya muncul lagi, membayangkan wajahnya yang dingin namun tampan. Tapi, kok serem ya?

Ia miring ke kanan, lalu ke kiri. Tidak bisa tidur. Sampai akhirnya, pukul 4 subuh, sebuah suara teriakan membuatnya kaget.

Queen melompat bangun, berjalan cepat ke ruang tamu, lalu mengintip dari jendela.

Matanya melebar. Beberapa orang memakai baju hitam menarik paksa Mpok Lela, tetangga janda berumur 40 tahun.

"Astaga, apa-apaan itu? Polisi? Atau, siapa mereka?" gumam Queen panik, jantungnya hampir copot.

Ia berlari masuk kamar, tangan gemetar mencoba menelpon abangnya. Nihil. Tak ada jawaban. Ia terduduk di lantai, tubuhnya gemetar ketakutan.

Sementara itu, pria 5M tadi, Tuan Gar, duduk di sofa hitam di sebuah ruangan luas nan mewah, bernuansa gelap. Asap rokok mengepul di sekelilingnya. Ia tidak tidur malam ini demi mendapatkan Queen, alias Nurlela.

Matanya tajam, senyumnya tipis. Ia sudah memerintahkan anak buahnya untuk membawa wanita itu. Malam ini, Queen akan jadi miliknya.

Tok tok tok.

"Tuan Gar," seorang anak buah masuk dengan hormat. "Wanita yang Anda inginkan sudah kami dapatkan. Tapi, maaf, dia pingsan."

Gar tertawa pelan. "Bawa dia masuk. Hati-hati."

Beberapa menit kemudian, anak buahnya masuk sambil menggendong wanita berisi, wajahnya lusuh, jelas bukan Queen.

Gar langsung berdiri. "Apa-apaan ini?!"

"Tuan, ini Nurlela. Seperti yang Tuan mau."

Hening sejenak. Lalu, dengan wajah geram Gar menggebrak meja.

"Sial! Jadi dia menipuku!"

Matanya menyipit penuh amarah.

"Queen," gumamnya lirih, tapi nadanya dingin penuh ancaman.

Kemudian, wanita itu bangun. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, lalu menyeringai marah. “Di mana saya?! Kalian siapa?!” teriaknya panik, membuat Tuan Gar memijit pelipisnya.

“Bawa wanita itu keluar, beri dia uang,” ucap Gar dingin, suaranya rendah tapi penuh tekanan.

“B-baik, Tuan,” Deko segera mendekat dan mengisyaratkan anak buah lain untuk membantu.

Wanita itu masih terlihat ketakutan, namun saat Deko menyerahkan segepok uang merah tebal ke tangannya, teriakan itu berhenti seketika.

“Ini… ini beneran buat saya?” Matanya yang sembab mendadak berbinar.

“Iya. Kami minta maaf sebelumnya,” jawab Deko singkat.

Wanita itu tampak ragu menerima uang itu, tapi pada akhirnya ia menggenggam erat dan mengangguk kecil.

“Kalau boleh tahu, ada nggak nama Nurlela lain di dekat rumahmu?” tanya Deko dengan suara lebih lembut.

Wanita itu mengerutkan kening. “Setahu saya nggak ada. Cuma saya satu-satunya Nurlela di situ.”

Ia sempat teringat seseorang. “Eh, ada Ela sih. Tapi setahu saya namanya cuma Ela. Bukannya Nurlela. Lagian, dia nggak mungkin,” ia menggeleng ragu.

“Baik,” Deko mengangguk. “Terima kasih. Kami akan antar Anda pulang.”

Wanita itu tersenyum kecil, uang itu jelas mengubah mood-nya. Anak buah Tuan Gar kemudian mengantarnya pulang, memastikan ia tidak akan membuat keributan.

Langit mulai berwarna cerah saat Deko kembali ke ruangan Tuan Gar. Pria itu masih duduk di sofa hitamnya, rokok di tangan hampir habis, tapi tatapannya kosong.

“Tuan, apakah Tuan memiliki fotonya?” tanya Deko hati-hati.

“Tidak.” Gar menjawab datar, matanya tetap menatap ke depan. “Tapi dia bekerja di rumah bordir itu. Suruh orang kita awasi tempat itu. Catat semua nama, semua tamu yang keluar masuk.”

Deko mengangguk, tapi kerut di keningnya tampak jelas. “Kalau begitu, biar saya yang ke sana, Tuan.”

“Jangan,” suara Gar sedikit meninggi. “Aku tidak ingin membuatnya takut.”

Deko menatap tuannya dengan tatapan penuh tanya. Jarang sekali ia melihat Tuan Gar sepelan ini ketika menginginkan sesuatu atau seseorang.

Gar menghembuskan asap rokoknya panjang-panjang, lalu berkata lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri.

“Dia berbeda. Dia bukan perempuan yang aku beli seperti biasanya. Cara dia menatapku, cara dia berbohong padaku, semua itu membuatku semakin penasaran.”

Deko hanya diam. Dalam hatinya ia semakin yakin,Tuan Gar sedang jatuh hati. Tapi ini masalah. Wanita itu dari rumah bordir dan Tuan Gar sudah beristri.

“Deko.”

“Ya, Tuan?”

“Aku ingin tahu segalanya tentang dia. Nama aslinya, keluarganya, kenapa dia ada di sana malam itu. Dan kalau ada ada pria di dekatnya, "habisi."

Deko menunduk. “Baik, Tuan.”

Saat Deko pergi, Gar mematikan rokoknya. Bibirnya melengkung, bukan senyum hangat, melainkan senyum berbahaya.

“Kau menipuku, Nurlela. Tapi itu justru membuatku semakin ingin memiliki mu. Kau akan tahu rasanya jadi milik Tuan Gar.”