MABUK DOLAR DI KAPAL PESIAR LEAVING ON THE JET PLANE
1/11
Bab 1

LEAVING ON THE JET PLANE

Bandara Soekarno-Hatta sudah mulai menampakkan kesibukannya, ketika pagi itu saya memulai petualangan keliling dunia dari Jakarta menuju Vancouver, Kanada, dengan pesawat Cathay Pacific. Di sana saya bertemu dengan rombongan kru kapal pesiar lainnya. Pagi itu, lampu-lampu merkuri masih menyala di sepanjang jalan, membiaskan semburat warna kuning pada bidang jalan dan bangunan yang tertimpa cahaya lampu. Beberapa pesawat terlihat sedang parkir di landasan. Satu dua bergerak melintas di landas pacu. Ada yang datang, ada yang pergi.

Rombongan kru kapal pesiar tampak berkelompok di satu koridor, menunggu anggota lainnya yang belum datang. Wajah-wajah mereka tampak sumringah. Sebagian besar memakai jaket kulit atau berbalut sweater. Rupanya pikiran dan tubuh mereka sudah berada di luar negri. Hal itu terlihat dari sensasi baju yang mereka kenakan untuk iklim dingin tersebut.

Sebagian besar dari mereka diantar oleh sanak saudara, sekaligus melepas kepergian mereka dengan doa. Saya menengok pada keberadaan saya sendiri di bandara. Rasa-rasanya saya berangkat sendirian, tak ada seorang pun yang mengantar. Sedih juga rasanya, tapi saya maklum pada kondisi ini. Saya yakin doa sanak saudara tidak akan pernah putus walau mereka tidak hadir di sini. Sebelum berangkat saya sempatkan ziarah ke makam bapak yang bersemayam di atas bukit ujung desa, untuk pamitan sekaligus berbekal restu. Juga berpamitan kepada ibu, yang setelah ditinggal bapak pergi sekian tahun lalu, masih saja tabah mengasuh anak-anaknya, mengamati perkembangan kami, memberi suluh jika kami kegelapan. Pada hari terakhir saya tinggalkan kampung halaman, beliau memberi pesan sederhana buat bekal di perantauan, ”Hati-hati di jalan, dan bekerjalah dengan penuh rasa tanggung jawab.” Pesan itu saya simpan dalam hati. Kelak, pesan ibu itu akan menjadi penghibur saat saya bimbang dan goyah hati.

Suasana gembira, reriungan bersama keluarga di bandara, menjadikan suasana hati semakin berat apalagi ketika menyadari bahwa sebentar lagi pesawat akan membawa saya semakin terpisah jauh dengan ibu, saudara, dan kekasih yang saya tinggalkan di Tanah Air. Hari-hari yang bakal saya lalui pasti akan terasa berat dan lambat saja, atau bahkan terasa mati. Tapi tekad telah diikrarkan. Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai. Lagi pula, bukankah saat-saat seperti ini yang selalu saya impikan?

Ketika seluruh anggota rombongan telah tiba, pimpinan rombongan membagi tiket pesawat, sekaligus dengan surat bebas fiskal. Juga dibagikan visa transit buat masuk Vancouver nanti. Terus terang, waktu itu saya betul-betul masih awam dengan segala urusan dan prosedur keberangkatan ke luar negri. Sebagai anggota rombongan, saya ikut saja, mulai dari masuk terminal penumpang, mengurus boarding pass, mengisi formulir embarkasi dan memasang bag tag, hingga membayar airport tax. Saya tidak perlu lagi repot-repot membayar segala urusan di atas, karena semua sudah diatur oleh agen perjalanan, termasuk ongkos pesawat dengan meskapai Cathay Pacific jurusan Jakarta-Vancouver. Sebelum masuk ruang tunggu, boarding pass, paspor, dan surat bebas fiskal diperiksa petugas imigrasi. Setelah semua urusan imigrasi beres, rombongan langsung bergerak menuju ruang tunggu di Terminal 2 yang letaknya lumayan jauh.

Di mulut pintu terminal, terlihat pesawat Cathay Pacific yang bercat putih bersih dengan logo hijau di bagian ekornya. Saatnya dipanggil untuk segera boarding, saya masuk pesawat melalui trunk, istilah yang dipakai dipenerbangan berupa lorong dari bandara menuju pesawat berbentuk seperti belalai gajah. Fungsi trunk adalah untuk melindungi penumpang dari sengatan panas atau hujan. Pagi itu, fungsi trunk sangat terasa untuk menghalau terpaan angin pagi dan tempias gerimis air hujan.

Ini adalah kesempatan pertama yang sangat mendebarkan. Saya belum pernah bepergian dengan pesawat terbang! Sebagai orang yang tumbuh dan besar di desa, pesawat terbang adalah barang yang sangat mewah. Hampir mustahil, orang desa seperti saya bisa terbang dan menikmati teknologi buatan manusia moderen ini. Namun, sebentar lagi kemustahilan itu bakal sirna, karena saya akan segera terbang dengan burung besi yang sudah tampak di depan mata. Tidak tanggungtanggung, penerbangan perdana langsung ke luar negeri.

Saya teringat dengan alunan lagu ”leaving on the jet plane” yang dinyanyikan oleh John Denver. Lagu itu seolah mengiring langkah perjalanan saya menuju Vancouver, untuk segera bergabung dengan kapal pesiar Rotterdam. Saya mendapat tempat duduk nomor D 43, tepat berada di samping sayap. Pemandangan indah di udara jadinya terganggu dan terhalang oleh sayap pesawat. Posisi yang tidak menyenangkan buat pemula seperti saya. Semestinya dengan posisi yang agak bergeser ke depan atau sekalian ke belakang, saya pasti dapat melihat pemandangan luar dengan leluasa.

Dengan sedikit gugup dan jantung berdebar-debar, saya duduk dengan tangan mencengkeram kursi pesawat. Sabuk pengaman saya kencangkan ketika gemuruh mesin pesawat mulai semakin kencang mendorong badan pesawat melesat ke udara. Pesawat lepas landas tepat pukul 09.00 pagi dari bandara Soekarno-Hatta. Sensasi gravitasi mulai bereaksi, seolah seluruh badan ditarik ke bawah ketika pesawat melesat ke atas.

Saat pesawat telah meluncur mulus di udara dengan kecapatan 450 km/ jam, lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan. Saat makan siang tiba. Saatnya menikmati layanan pramugari-pramugari cantik dan cekatan yang dimiliki Cathay Pacific. Dengan gesit dan ramah, mereka mulai menawarkan pilihan menu makan siang di udara. Dari sebelah sisi kanan dan kiri lorong pesawat, para pramugari mendorong kereta berisi makanan dan minuman yang siap disajikan. Saya pesan smoked chicken breast dan noodle, serta white wine sebagai accompaniment-nya. Hmm, aroma anggur yang segar itu segera menyergap hidung dan membangkitkan syaraf untuk selalu terjaga. Saya juga pesan banana in aspic sebagai dessert. Sambil menawarkan makanan dan minuman kepada setiap penumpang, para pramugari tak lepas menebar senyuman tulus. Bibir manis yang berlapis lipstick membentuk garis lengkung indah menawan. Itulah senyum tulus yang berhasil mereka persembahkan bukan hanya karena tuntutan tugas semata. Dalam tataran kompetensi, mereka sudah berada dalam tahapan unconscious competence, alias tingkat kompetensi yang sudah masuk dalam bawah sadar. Merasuk kedalam jiwa, menjadi sebuah perilaku. Rambut mereka disanggul keatas, rapi dan tampak anggun. Dengan balutan baju yang pas di badan - tentu hasil kreasi desainer ternama – mereka tampak cantik sempurna. Aroma parfum wangi menyebar di udara.

Sehabis makan siang, perasaan mulai tenang. Saya sudah mulai bisa adaptasi dengan kondisi jauh dari gravitasi bumi. Saya sempatkan ke toilet, sekaligus buat mencuri pandang lewat jendala untuk melihat ada apa gerangan di bawah sana. Tak tampak pemandangan di bawah pesawat. Hanya biru langit dihiasi awan putih berkelompok di sana-sini, bagai kapas raksasa yang mengapung bebas di udara, membentuk berbagai karakter seperti kepala hewan, wayang, mobil, atau tubuh wanita yang menggoda. Jika selama ini saya hanya bisa melihat awan berarak berkejaran-kejaran di atas sana, kali ini ternyata saya telah menembus gumpalan awan itu.

Seasyik-asyik atau seindah-indah perjalanan, sisa waktu penerbangan tetaplah sebuah kebosanan. Untuk membunuh sepi, saya keluarkan buku harian dan mulailah menulis tentang apa saja yang saya rasakan dan alami saat itu. Buku catatan harian itu sengaja saya beli buat bekal selama petualangan di atas kapal pesiar. Buku kecil bersampul motif batik itu bakal menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Kegiatan menulis catatan harian mungkin agak terasa aneh bagi rombongan kru kapal pesiar. Sebagian besar dari mereka asyik bercanda, berfoto bersama, atau malah ada yang tertidur pulas. Seolah tak peduli dengan keadaan sekitar. Teman baru di samping kanan saya agaknya merasa aneh dengan kegiatan tulis menulis yang saya lakukan. Dengan gaya khas anak muda kota, kacamata bertengger di atas kepala, dan sedikit mencibir, dia bertanya sinis kepada saya, ”Sedang nulis apaan, Ton? Buku harian? Yah, kayak cewek aja, lo.” Saya tak menjawab, hanya sebentar menoleh, tersenyum dan kembali tenggelam dalam keasyikan menulis.

Menjelang tiba di bandara Kai Tak, Hongkong, terdengar pengumuman bahwa sabuk pengaman harus dikencangkan berhubung di atas Hongkong cuaca sedang kurang bersahabat. Benar juga, sesekali pesawat terasa terguncang. Rupanya di luar sedang turun hujan rintikrintik. Meskipun terhalang sayap pesawat yang mencuat ke samping kiri, saya coba intip keluar lewat jendela, barangkali kota Hongkong sudah mulai menampakkan diri meskipun tertutup kabut tipis akibat rintik-rintik hujan itu. Sedikit demi sedikit, kabut tersingkir oleh kian dekatnya pandangan mata dengan sosok Hongkong.

Hongkong, yang terletak di semenanjung Cina adalah kota metropolitan yang berpenduduk etnis Cina tapi lebih dipengaruhi Inggris. Maklum, kota ini merupakan bekas koloni Inggris. Kesan selintas kota Hongkong yang bisa saya tangkap dari bandara Kai Tak adalah kota dengan berderet apartemen jangkung berdesakan dengan pertokoan dan perkantoran, diselingi jalanan kota yang penuh sesak dengan manusia dan lalu lalang kendaraan. Di sinilah masyarakat etnis Cina menemukan kemakmuran dengan segala fasilitas moderen yang tersedia. Sangat kontras dengan kehidupan saudara mereka di Cina daratan yang masih berkutat dengan tradisi dan tekanan partai komunis Cina yang masih kuat berkuasa. Meskipun kini Cina daratan sudah mulai menggeliat, dan bisa jadi bakal menggilas Hongkong yang hanya sepersekian ukuran Cina daratan.

Rupanya ada pergantian pesawat untuk penerbangan lanjutan ke Vancouver. Saya dan rombongan diharuskan pindah ke pesawat Cathay Pacific setingkat lebih canggih dari yang sebelumnya. Jenis double decker atau dua tingkat. Tingkat atas adalah kelas eksekutif, tentu dengan segala layanan paripurna. Saya dan rombongan kru kapal pesiar berada di kelas ekonomi. Pesawat meninggalkan Hongkong ketika malam menjelang. Untuk makan malam di pesawat double decker ini, saya pesan smoked salmon, poached trout ditemani white wine. Hmm, terasa istimewa, terutama smoked salmon dengan bau asapnya yang menggoda itu. Saya menikmati betul hidangan yang telah tersedia. Seumur-umur ya baru kali ini bisa merasakan makanan ala internasional.

Dari layar monitor Cathay Pacific CX 838 terpampang informasi bahwa jarak Hongkong-Kanada adalah 6.378 mil atau 10.265 km. Jarak sejauh itu bakalan ditempuh dalam waktu lebih kurang 12 jam! Wow, lumayan panjang juga perjalanan yang bakal ditempuh. Tapi untungnya, di dalam pesawat tersedia hiburan berbagai pilihan musik yang bisa didengar melalui head phone. Atau bisa juga nonton film box office dari layar monitor. Film yang diputar malam itu lumayan seru, buat penghantar mimpi di udara.

Tak terasa, pesawat sudah berada di atas Vancouver ketika saya membuka mata pada keesokan harinya. Tahu-tahu di luar sudah terang benderang. Rupanya sebentar lagi pesawat bakal mendarat di Vancouver. Di luar sudah menunjukkan pukul 12 siang waktu Kanada. Pramugari membagikan oshiburi dan orange juice segar. Syaraf di kepala kembali terjaga setelah mengusap wajah dengan oshiburi dan meminum orange juice. Saya coba meningkatkan saraf kesadaran dengan memilih channel 11 yang sedang memutar lagu-lagu keras Led Zepplin. Sinar mentari dengan perkasa menerobos jendela pesawat, memancarkan warna kilau keemasan ketika pesawat mendarat dengan selamat di Vancouver pukul 02.20 PM. Siang itu suhu di Vancouver adalah 15 derajad celsius. Terima kasih Tuhan, akhirnya mimpi untuk bisa menginjakkan kaki di luar negri terbayar sudah.