Setelah melewati guncangan ombak setinggi 2 hingga 4 meter, kapal tiba di sebuah negara besar yang pernah menjadi saingan berat Amerika: Rusia! Rusia adalah negara yang memiliki wilayah terbesar di dunia. Sebelumnya wilayah Rusia ini merupakan bagian dari Uni Soviet, yang bubar tahun 1991. Salah satu wilayah yang terkenal di Rusia adalah Siberia, di sinilah kota Vladivostok berada. Di sini pula terbentang rel kereta api panjang Trans Siberia yang membentang dari kota Moskow ke Vladivostok sepanjang 9.289 kilometer! Perlu waktu sekitar enam setangah hari untuk menyelesaikan perjalanan nan panjang di belantara pegunungan salju itu.
Masih berselimut kabut pagi, kota Vladivostok mulai menampakkan aktivitas manusianya. Cahaya lampu kota bersinar temaram, seolah kehilangan daya listrik. Warna kuning kecoklatan membias kusam pada sebagian besar gedung-gedung tua yang mengepung kota. Terlihat antrian panjang manusia di stasiun kereta yang terletak persis di seberang dermaga. Itu rupanya ujung rel kereta api Trans Siberia yang legendaris itu. Jalanan masih belum terlihat padat oleh mobil. Tampak di seberang kanan kapal Rotterdam berderet 3 kapal perang Rusia yang tampak siap tempur jika sewaktu-waktu musuh menyerang. Moncong meriam panjang mendongkak dari atas kapal perang itu.
Pukul sepuluh pagi saatnya turun kapal! Sebelum turun, saya harus menjalani prosedur super ketat dari petugas imigrasi Rusia yang membuka loket di atas kapal. Wajah-wajah mereka terkesan dingin dan angker. Dengan sedikit kemampuan berbahasa Inggris, interogasi berjalan kaku dan menegangkan. Suasana yang terbangun sama persis seperti dalam film-film keluaran Hollywood. Paspor yang selama ini disimpan rapi di kapal pesiar diminta untuk diserahkan kepada petugas imigrasi Rusia. Prosedur ekstra ketat ini tak pernah saya temui di negara lain. Ijin keluar dari kapal pesiar cukup hanya dengan menunjukkan ID card.
Kota Vladivostok, seperti kota-kota lainnya di Rusia, penuh dengan patung-patung pembangkit semangat revolusioner. Di bawah patung seorang pemimpin Rusia yang sedang memegang bendera, saya berfoto bersama teman-teman. Terlihat ada beberapa patung lain di tempat itu. Negara komunis memang membutuhkan jargon-jargon atau simbol-simbol pembangkit semangat proletariat menentang kaum borjuis-kapitalis. Dan itu semua biasanya diwujudkan dalam bentuk patung atau monumen. Semangat itu tidak boleh padam, meskipun sebenarnya semua itu hanyalah ilusi untuk dunia yang tidak adil ini. Lihatlah, betapa banyak negara komunis tidak berhasil mewujudkan impian menyejahterakan rakyatnya dari jurang kemiskinan. Semangat menentang kekuasaaan borjuis-kapitalis pada akhirnya jatuh di tangan segelintir kaum elit proletar yang kemudian menjadi tiran bagi rakyatnya sendiri.
Dengan berjalan kaki menyusuri kota Vladivostok terasa ada nuansa dingin dan kosong. Di sepanjang jalanan kota berderet toko dengan eksterior yang kusam dan tak punya daya tarik sama sekali yang membuat orang datang dan berbelanja di sana. Beda dengan suasana mall, supermarket atau bahkan hypermarket yang banyak bertebaran di belahan negara maju lainnya. Di belahan lain negara maju itu, toko-toko berhias dengan warnawarni neon box, mengundang orang untuk datang. Bagai lampu yang mengundang laron-laron untuk terbang dan hinggap di sana.
Hal yang paling menghkawatirkan jalan-jalan di Rusia adalah takut nyasar, maklum huruf-huruf yang dipakai di Rusia kebalik-balik dan susah dikenali. Tulisan Vladivostok, misalnya tidak terbaca seperti itu. Huruf V menjadi B, huru I menjadi seperti huruf N kebalik, huruf L dan D tak dapat saya temukan padanannya dalam versi komputer keluaran Microsoft. Konon kabarnya, huruf Rusia bisa jadi hancur seperti itu karena sang Kaisar Tsar Nikolas II tak pandai dalam urusan baca tulis. Celakanya, seluruh perkataan Kaisar menjadi hukum yang harus diikuti oleh segenap rakyatnya. Jadilah huruf-huruf hasil karya Sang Kaisar yang kebolak-balik itu menjadi huruf resmi.
Dampak dari semua itu dalam skala ukuran kecil saja dapat dibayangkan: Anda mudah tersesat! Dan kejadian itu pernah menimpa sahabat saya sendiri, Haris Juhaeri. Dasar teman satu ini hobinya keluyuran ke tempat-tempat yang tidak umum didatangi para kru kapal pesiar. Biasanya kru kapal pesiar kalau jalan-jalan ke mall, cafe, atau tempat prostitusi, tapi sahabat satu ini malah keluyuran ke pasar tradisional.
Suatu ketika dia bersama 2 temannya keluyuran ke pasar tradisional di kota St. Petersburg. Berangkatlah mereka bertiga naik taksi ke tempat tujuan. Di pasar tradisional itu mereka menemukan banyak aneka barang yang menarik sisa-sisa kejayaan Rusia tempo doeloe. Sebagian besar didominasi pernik-pernik barang peninggalan militer Rusia, dari seragam hingga jam tangan militer. Asyik keiling pasar tradisional, tak terasa waktu yang tersedia tinggal 15 menit lagi untuk segera kembali ke kapal untuk menunaikan tugas sebagai waiter. Namun ternyata asumsi waktu sisa 15 menit salah total. Taksi yang mereka tumpangi untuk mengantar kembali ke kapal pesiar ternyata nyasar ke pelabuhan ferry bukan pelabuhan di mana kapal pesiar bersandar. Hal itu sematamata terjadi karena mereka bertiga salah membaca papan informasi lokasi tujuan kembali ke kapal pesiar. Lebih parahnya lagi si sopir tidak bisa berbahasa Inggris. Alhasil, setelah muter-muter sampailah mereka kembali ke kapal dan saat itu waktu sudah menunjukkan jam 12.15 alias 15 menit lagi dining room tutup untuk lunch!
Kembali ke kota Vladivostok yang saya kunjungi, saya jadi penasaran melihat-lihat kompleks pertokoan bawah tanah. Dengan penuh rasa penasaran saya turun ke komplek pertokoan bawah tanah itu. Suasana tokotoko di bawah tanah tidak lebih bergairah dengan yang di atas jalanan. Lebih kusam dan pengap, dengan lampu penerangan seadanya. Di sepanjang lorong, berderet penjual pakaian dan keperluan sehari-hari. Ada yang membuka kios darurat di emper toko untuk berjualan lotere, tukang ramal atau penjual koran. Seorang pengamen berambut gondrong tak terurus, berkaos oblong, sudah mulai melantunkan tembang di pagi buta itu.
Tak tahan dengan udara pengap di lorong pertokoan bawah tanah itu, saya memutuskan untuk naik kembali ke atas dan menghirup udara segar pagi hari. Sekembalinya dari bawah, ternyata di atas sudah banyak lalu lalang manusia dengan segala aktivitas harian mereka. Geliat kehidupan yang sebenarnya telah dimulai.
Hal luar biasa yang membuat saya terkesan dengan kota ini adalah rata-rata perempuan yang ada di Vladivsotok ini cantik-cantik. Ukuran kecantikan khas masyarakat Vladivostok adalah lapisan emas yang menempel pada deretan gigi mereka. Saya sempatkan ngobrol barang sepatah dua patah kata dengan mereka. Ada bau kurang sedap yang terkirim lewat udara, keluar dari mulut mereka. Barangkali itu adalah hasil fermentasi alamiah minuman alkohol dan asap tembakau yang terjejal di mulut tadi malam, dan lupa belum gosok gigi. Atau barangkali memang ada kebiasaaan jarang gosok gigi, karena mereka takut emas yang melapisi gigi bakal habis tergerus jika sering-sering gosok gigi.
Cerita soal gigi emas ternyata memang merupakan simbol status sosial penduduk Vladivostok. Saya jadinya ingat film ”Moonraker” yang dibintangi Roger Moore, di mana dalam film itu musuh utama agen rahasia 007 adalah sosok tinggi besar yang bergigi emas, dan musuh besarnya itu memang berasal dari Rusia!
Pulang jalan-jalan menyusuri kota Vladivostok, sebelum naik kapal, saya sempat dicegat beberapa pemuda yang menawarkan beberapa cinderamata khas Rusia. Ketika mereka tahu bahwa saya berasal dari Indonesia, salah seorang pemuda mencoba menarik simpati dengan menceritakan bahwa kakeknya dulu adalah seorang penerbang militer dan ikut membantu membebaskan Indonesia dari Jepang. Trik khas pedagang, yang mencoba membangun empati dengan pembelinya. Ujungujungnya, dia menawarkan cinderamata itu. Saya tertarik dengan beberapa pins dan sabuk kulit yang berkepala kuningan dengan cetakan simbol yang amat dilarang di Indonesia: palu-arit! Ini bisa menjadi cinderamata yang langka dan kontroversial.
Saya amati, para pemuda penjual cinderamata itu tampaknya mewakili kelompok anak muda yang hidup di persimpangan jalan. Mereka hidup dalam kungkungan budaya dan politik kaku dan tertutup tapi sebenarnya mendambakan kebebasan khas anak muda. Mereka begitu bersemangat ketika bertemu dengan saya yang bisa pergi ke Amerika Serikat dan keliling dunia. Mereka juga sangat senang menerima uang pembayaran dalam mata uang dolar Amerika.
Petualangan berikutnya ke negeri Tiongkok!