Ziva & Four Prince Bab 4
4/5
Bab 4

Bab 4

BAB 4 : Tawaran Reynald

Detak jantung Ziva sedikit lebih cepat dari biasanya, otaknya masih menerka-nerka untuk apa dia dipanggil ke ruangan Pak Reynald.

“Begini, saya dengar dari sumber terpercaya, katanya kamu sangat ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah, apa itu benar?” tanya Reynald untu memastikan berita yang ia dengar adalah sebuah fakta.

“I-iya, benar sekali, Pak. Apa ada yang aneh dengan impian saya itu?”

“Tidak, tidak ada yang aneh, Ziva. Kamu ini gadis yang kuat dan pandai. Jadi, saya ingin menawarkan sesuatu buat kamu.”

“A-apa itu, Pak?”

“Apa kamu bersedia menerimanya jika saya memberikan kesempatan untuk kamu bisa kuliah? Kamu bisa kuliah sambil bekerja, jika kamu mau.”

Mata Ziva membulat lebar, seperti mimpi ada orang baik yang memberikan pilihan padanya. Ziva masih tertegun, bibirnya terasa kaku saat ingin menjawab. Rasa-rasanya ini tidak mungkin, pikirannya bercampur aduk tentang kebenaran dan mimpi.

“Ziva, kamu kenapa?”

“I-ini serius? Bapak mau bantu saya kuliah? Benar?”

Reynald tersenyum menunjukkan ketampanannya yang membuat Ziva sedikit menyadarinya. Ziva yang malu karena tatapan mata Reynald memilih untuk menunduk.

“Bagaimana?” Reynald berusaha memastikan jawaban Ziva.

“Uhm … saya ragu, karena jika ibu tiri tahu … bisa habis saya dibuatnya,” gumam Ziza lirih.

Reynald tidak begitu mendengar ucapan Ziva dan menyuruh gadis itu mengulang perkataannya.

“Ziva, kamu bisa mengulang ucapanmu. Aku tidak begitu jelas mendengarnya.”

“Ah, maaf. Bukan apa-apa. Pak. Saya senang dengan tawaran Bapak, tetapi … boleh saya memikirkan ini dalam beberapa menit?”

“Baiklah, kamu bisa kembali bekerja sambil memikirkan tawaran yang saya beri.”

Ziva tersenyum dan merasa bahagia, dia kembali bekerja dengan pikiran antara menerima atau menolak?

Saat bekerja, Ziva tidak terlalu fokus dengan pekerjaannya. Tawaran itu begitu besar, tetapi dalam pikirannya sedang bergelut tentang tanggapan ibu tiri dan adik tirinya. Bagaimana jika keduanya tahu dan membuat Ziva tidak bisa mengambil kesempatan itu?

Beruntung Ziva memiliki seorang sahabat yang bisa memberikan pandangan padanya. Ziva mendapatkan banyak sekali pertimbangan, bahkan dia bisa saja menyembunyikan semua itu dari dua orang yang selalu membuat hidupnya menderita.

Ziva sudah memantapkan hatinya untuk memberikan jawaban pada Reynald. Dia menuju ruangan Manager IT dan menyampaikan jawaban yang diputuskannya.

Tok ... tok ... tok ....

Ziva masuk ke dalam ruangan Reynald setelah mendengar perintah masuk dari dalam ruangan Reynald.

“Permisi, Pak. Maaf saya mau menyampaikan jawaban saya atas tawaran Bapak.” Ucap Ziva sedikit gugup sambil memilin ujung baju seragamnya.

“Iya, Ziva. Saya memang menunggu jawaban dari kamu, lalu apa jawaban kamu?”

“Emm ... sepertinya saya menerima tawaran Bapak, untuk membantu saya agar bisa mengecap bangku pendidikan yang lebih tinggi.” Jawab Ziva dengan berusaha meyakinkan dirinya, jika ini adalah pilihan yang tepat.

Reynald tersenyum senang mendengar keputusan Ziva, jawaban Ziva sesuai dengan yang ia harapkan.

“Baiklah, saya akan mengurus semuanya. Saya akan segera memberikan kabar baik untukmu. Persiapkan dirimu untuk kembali belajar. Jangan sampai kamu putus di tengah jalan, saya ingin impianmu tercapai tanpa kamu memikirkan biaya itu.” Jelas Reynald.

“Ba-baik, Pak. Sekali lagi, terima kasih. Tapi … ada yang mengganjal di hati saya. Sebenarnya … apa yang membuat Anda memberikan kesempatan ini? Kita bahkan baru saja saling mengenal, dan Anda sebagai atasan sementara saya hanyalah seorang pegawai kebersihan.” Ziva sedikit memberanikan diri mengungkapan keganjalan hatinya.

Jujur saja, Ziva merasa sedikit aneh. Setahu dirinya, karyawan yang berkompeten dan gigih bukan hanya dirinya. Tetapi, kenapa hanya dia yang ditawari Pak Reynald kesempatan emas seperti ini.

“Saya melihat kesungguhan dalam dirimu. Itu tidak dimiliki semua orang, Ziva. Saya yakin, kamu akan membuat saya bangga dan jangan kamu sia-siakan kesempatan ini.”

“Maaf lagi, Pak. Bukankah di perusahaan ini banyak juga karyawan yang bekerja dengan sungguh-sungguh?” Ziva masih saja kembali bertanya, namun hal itu malah membuat Reynald tersenyum dan menyukai dengan pertanyaan Ziva.

“Jangan bilang maaf terus, Ziva! Kamu lagi mendapatkan tawaran baik bukan lagi sedang dihakimi.”seru Reynald yang gemas dengan tingkah Ziva.

“Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih, dan terima kasih atas tawarannya.”

Ziva kembali bekerja dengan perasaan riang, tidak pernah rasanya perasaan itu singgah selama ini. Terutama semenjak kehadiran ibu tiri dan adik tirinya. Hidup Ziva seakan dalam uji coba untuk masuk neraka.


Pulang dari pekerjaannya, Ziva melanjutkan kegiatan dengan mengajar Karate. Di sana, kegiatan itu berjalan dengan baik. Ziva cukup lega setelah seharian bekerja dan melatih karate, akhirnya bisa segera kembali ke rumah.

Di tengah perjalanannya, Ziva tampak melihat sebuah mobil di kerumuni dua orang dengan senjata tajam. Melihat hal itu ia mengamati dari jauh, melihat apa yang akan dilakukan mereka dengan mobil yang terlihat masih bertahan dengan tidak membuka pintu.

“Dasar begal, pasti mereka mau melukai pengendara di dalam mobil itu. Malam ini, aku yakin mereka akan menyumpah serapah karena bertemu denganku.” Gumam Ziva sambil menatap ke arah para begal.

Dengan santai Ziva berjalan mendekat, melihat dengan seksama dan mendengar ancaman-ancaman yang dikatakan para begal. Baru saja Ziva ingin mendekat, pemilik mobil itu keluar dengan mengangkat kedua tangannya. Satu orang begal memukul tepat di wajah pengendara yang terlihat seperti orang kaya.

“Hei! Hentikan!” teriak Ziva yang kini berlari mendekat.

Semua orang di sana menatap heran pada Ziva. Apa yang bisa dilakukan gadis dengan tubuh kecil itu? Pikir mereka.

Seorang begal tertawa geli melihat Ziva, langkahnya kini mendekati gadis itu dan mencoba bertanya dengan nada menggoda.

“Adik Manis, mau apa? Kamu sudah bosan ya di rumah? Malam-malam gini kok ada di luar?”

“Jangan bercanda Paman. Sebaiknya lepaskan orang itu, lagi pula perbuatanmu ini bisa terkena pidana.”

Ziva tidak menghiraukan ucapan pria itu dan berjalan maju untuk memastikan keadaan pria yang menjadi tawanan.

“Mas, kamu baik-baik saja?” tanya Ziva yang tidak tahu identitas tawanan itu.

Baru saja Ziva ingin melangkah lebih dekat, seorang pria menyentuh lengannya dan membuat Ziva tertahan. Ziva hanya berdecak kesal, lalu dengan satu genggaman tangannya, tiba-tiba saja tubuh pria itu sudah dibanting ke tanah.

“Uhuk! Uhuk!”

Dua orang di sisi lain mobil terkejut dengan kekuatan yang baru saja dipamerkan Ziva. Seorang teman dari pria yang kini terkapar berjalan maju dan membalas Ziva.

“Hiyaaa ….”

Pria itu mengarahkan senjata tajamnya, tetapi Ziva bergerak dengan cepat lalu menangkisnya. Ziva kemudian menarik tangan pria itu dan membuatnya berada di atas tubuh temannya. Tidak menyerah, keduanya ini menyerang bersamaan, hal itu bahkan tidak membuat Ziva gentar.

Ziva memasang kuda-kudanya, memposisikan tubuh agar mudah untuk menangkis serangan dan balik melawan. Benar saja, satu per satu dari begal itu babak belur terkena pukulan yang dilancarkan Ziva. Tidak lama setelah itu, mobil polisi datang dan membawa kedua penjahat tersebut.

Ziva memastikan keadaan pria yang menjadi korban beberapa saat lalu. Saat sadar, Ziva pun terkejut ternyata orang itu ....

Chioo

Penulis

Lihat Profil

Rating

Bab Ini

Memuat...

Album

Memuat...