"Kamu harus menikah dengan, Calia!"
Suara kakeknya masih terdengar mengalun keras di telinganya.
Devan adalah pria muda berusia dua puluhan, tampan dan berkarisma, namun dikenal dingin dan tak banyak bicara. Ia cucu dari konglomerat Richard Darelano, pemilik imperium bisnis terbesar di Asia.
Malam itu, tanpa aba-aba, sang kakek tiba-tiba memintanya hadir dalam jamuan makan malam keluarga. Bukan undangan biasa, ini perintah.
Pesan itu disampaikan oleh Dio, asisten pribadi Devan, dengan sangat hati-hati.
"Tuan Devan... maaf mengganggu. Kakek Anda meminta Anda hadir malam ini di rumah utama. Beliau bilang... wajib."
Devan menatap Dio tajam, lalu mengangguk pelan. Tak satu kata pun keluar dari mulutnya. Tapi tatapannya cukup membuat Dio menelan ludah.
Rumah megah keluarga Darelano malam itu dipenuhi cahaya lampu kristal dan aroma makanan mahal. Dua keluarga besar berkumpul membicarakan pernikahan Devan.
Devan tak bisa menolak. Kakeknya, Richard Darelano, menuntutnya menikah agar perusahaan bisa diwariskan. Calon mempelai, Calia, adalah anak dari keluarga konglomerat yang kaya raya. Hubungan bisnis akan makin kuat jika mereka bersatu.
"Calia besok tiba di Indonesia. Gaunnya sudah kami siapkan," ujar Affandi, ayah Calia.
"Tak perlu. Aku bisa beli sendiri," sahut Devan dingin.
Kakeknya langsung melotot. Richard, sang konglomerat cerdas itu, memang keras pada cucunya. Dari semua cucu laki-lakinya, Devan lah yang dianggap paling layak mewarisi bisnis keluarga.
"Maafkan Devan, Pak Affandi. Dia memang suka bicara seenaknya," ujar Richard menengahi.
"Tak masalah. Justru itu menandakan wibawa," balas Affandi sambil tersenyum.
Devan, besok jemput Calia di Flower Bridal Salon pukul 10 pagi. Kita langsung ke gedung resepsi," pinta Affandi.
"Baiklah," sahut Devan santai, meski hatinya resah.
Keluarga Affandi akhirnya pamit pulang. Suasana ruang makan kembali sunyi, hanya tersisa suara jam antik yang berdetak pelan di dinding.
Richard Darelano menatap tajam cucunya, Devan, yang masih duduk dengan wajah datar. Tatapan itu bukan sekadar teguran, melainkan perintah yang tak bisa ditolak.
"Devan," ucap Richard dengan nada berat, "kamu harus menikah dengan Calia."
Devan hanya menatap kakeknya sekilas. Tak menjawab.
"Perusahaan kita, Darelano Group, akan segera merger dengan Affandi Corp. Ini langkah besar. Kekaisaran bisnis kita akan meluas hingga ke sektor energi dan pertambangan. Itu semua bisa terjadi kalau kamu menikah dengan Calia."
"Tapi kenapa aku, Kek? Zayn juga belum menikah. Kenapa harus aku yang jadi tumbal penggabungan perusahaan ini?"
"Tumbal?" Richard menyipitkan mata. "Perusahaan ini bukan sekadar bisnis, ini warisan keluarga. Kalau kamu tak bisa mengorbankan sedikit kenyamanan pribadi demi warisan ini, maka aku akan pertimbangkan kembali siapa pewaris Darelano Group selanjutnya."
Devan mengepalkan tangan di bawah meja. Ancaman itu lebih menyakitkan daripada paksaan menikah.
"Affandi Corp punya pengaruh besar di pasar internasional, ini hanya bisa terjadi kalau ikatan keluarganya terjalin. Keluarga mereka tidak akan menerima kalau kamu menikah dengan orang lain."
"Kenapa harus bisnis selalu dicampur dengan pernikahan?" gumam Devan, nyaris tak terdengar.
Richard berdiri. "Kamu cucuku, Devan. Satu-satunya yang pantas memimpin Darelano Group. Tapi kalau kamu menolak... pilihan itu akan berubah."
Tanpa menunggu jawaban, Richard meninggalkan ruangan. Denting sepatunya menggema, seolah menegaskan betapa besar tekanan yang kini menggunung di atas kepala Devan.
Devan ingin membatalkan pernikahan. Dia dan Calia berteman sejak kecil, dan dia tahu betul Calia perfeksionis. Hidupnya akan diatur habis-habisan jika menikah dengannya.
Ia masih gelisah. Terpaku duduk diam di meja makan, menatap gelas anggur yang belum disentuhnya. Pikirannya berkecamuk, antara tanggung jawab sebagai pewaris dan penolakan terhadap pernikahan yang dipaksakan. Langkah kaki terdengar mendekat. Zayn muncul dari balik lorong, menyandarkan tubuh di ambang pintu dengan tangan menyilang.
“Jadi... kamu akan nurut saja?” tanya Zayn dengan senyum miring.
Devan mengangkat alisnya. “Apa maksudmu?”
“Aku dengar semuanya,” Zayn berjalan masuk, menarik kursi lalu duduk berseberangan. “Kakek memaksamu menikah demi merger. Affandi Corp dan Darelano Group, kan?”
Devan mendengus. “Kalau kamu mau, ambil saja Calia. Kakek juga tidak akan keberatan, asalkan merger tetap jalan.”
Zayn tertawa pelan. “Oh, tidak. Aku lebih suka kebebasanku. Tapi... mungkin aku bisa bantu kamu keluar dari masalah ini.”
Devan meliriknya tajam. “Kamu? Mau Bantu aku?”
Zayn menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “Ya. Kalau kamu nggak mau datang ke resepsi, tinggal pastikan Calia tidak sampai ke tempat itu. Aku bisa urus.”
“Dengan imbalan?”
“Tentu.” Zayn menyeringai. “Sebut saja... satu miliar rupiah. Anggap saja sebagai biaya jasa penyelamatan hidup dan kebebasanmu.”
Devan mengepalkan tangan. “Kamu pikir aku sebodoh itu membayar satu miliar untuk hal sepele?”
“Ini bukan hal sepele. Kamu tahu siapa Calia. Kalau dia merasa dipermalukan di depan umum, kakek bisa jatuh sakit. Saham bisa anjlok. Affandi bisa mundur dari merger. Satu miliar... murah untuk semua itu.”
Devan terdiam. Ia tahu Zayn punya koneksi dan cukup licik untuk menjalankan rencana kotor tanpa jejak. Ia juga tahu Calia bisa sangat dramatis jika merasa harga dirinya dirusak.
“Setengahnya sekarang, setengahnya setelah selesai,” tawar Devan dingin.
Zayn menimbang sejenak, lalu mengangguk. “Deal. Aku akan pastikan Calia tidak muncul di resepsi.”
Devan bangkit dari kursinya. “Jangan buat ini jadi kacau, Zayn. Kalau sampai rencana ini gagal, kakek akan mencium bau permainan kita.”
Zayn tersenyum penuh percaya diri. “Tenang saja. Aku tahu persis cara bermain bersih dalam rencana kotor.”
Devan menatapnya tajam sejenak sebelum melangkah pergi, meninggalkan ruang makan yang kini terasa lebih gelap dari sebelumnya. "Oke, Deal!"
Zayn tersenyum lebar. "Oke deal! Sepupu kesayanganku."