Dia datang di saat yang tepat—tepat ketika aku sudah berhenti percaya pada cinta. Namun ternyata ia bukan datang untuk menetap, hanya singgah sebentar. Kehadirannya mengajarkan satu hal: bahwa luka bisa terasa jauh lebih dalam ketika kita sempat percaya, ketika harapan sempat tumbuh.
Dan kemudian ada yang lain. Ia datang bukan untuk mengobati luka, melainkan untuk menunjukkan jalan. Mengajarkanku bahwa kita tidak perlu takut berubah, tidak perlu takut melangkah keluar dari versi diri yang lama. Sebab bisa jadi, justru di jalan itulah kita akhirnya menemukan siapa diri kita sebenarnya.
Manusia itu unik—sekejap ia bisa menjadi seseorang yang sama sekali berbeda dari hari sebelumnya. Seperti bunglon yang mengubah warna kulitnya, bukan semata untuk bersembunyi, tetapi untuk berkomunikasi: menarik pasangan, menunjukkan dominasi, atau sekadar memberi sinyal bahwa ia ada. Mungkin kita pun begitu—berubah bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk memberi tanda kepada dunia, atau kepada diri kita sendiri, bahwa kita masih hidup.
Seperti halnya keindahan sepasang kekasih yang saling merengkuh di hadapanku di Taman Maruyama, mereka tampak seperti potret momen yang tak akan pernah sama lagi. Di bawah pohon sakura yang sedang mekar, cara mereka tertawa pelan dan saling menggenggam tangan terasa rapuh sekaligus indah—seolah dunia hanya ada untuk mereka berdua. Dan mungkin, malam ini atau esok, aku juga sedang menjadi versi diriku yang baru, yang berani menggenggam apa yang kuinginkan, meski hanya sebentar.
Aku menatap mereka lebih lama dari yang seharusnya, seperti ingin menyimpan pemandangan itu dalam ingatan. Karena aku tahu, begitu mereka melepaskan pelukan dan melangkah pergi, momen ini akan lenyap, tak akan pernah terulang dengan cara yang persis sama. Sama seperti hidup—kita tak pernah benar-benar bisa kembali ke titik yang sama, meski sesungguhnya kita sering merindukannya.
Udara Kyoto sore itu terasa hangat, peralihan musim dingin ke semerbak musim semi. Kelopak-kelopak sakura berguguran pelan, melayang seperti salju merah muda yang jatuh di atas bahu mereka. Setiap helai bunga seolah menitipkan pesan: momen ini hanya milik sekarang, dan sekali ia lewat, tak akan pernah bisa diputar kembali.
Angin yang bertiup dari arah Kuil Yasaka membuat daun-daun berdesir pelan, menambah suasana hening yang anehnya terasa sakral, meski aku berada di tengah taman yang ramai. Seolah kota ini sedang mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan, dan aku hanya bisa memilih: merayakan yang ada, atau meratapi yang hilang.
Entah mengapa, pemandangan itu membuatku membayangkan bagaimana rasanya bercumbu di bawah hujan bunga seperti itu—indah, manis, dan penuh kehidupan. Pasangan itu tampak berusia dua puluhan; mungkin tebakanku salah, tetapi bahasa tubuh mereka terlalu lugas untuk disebut cinta muda yang malu-malu.
Suara burung gagak terdengar jauh, berpadu dengan gemericik air kolam, membuatku semakin sadar betapa kontrasnya ketenangan di sekitarku dengan badai yang berputar dalam kepalaku. Di tempat seindah ini, seharusnya hatiku ikut mekar seperti bunga sakura, namun yang kurasakan hanyalah jarak—jarak yang tak kasatmata namun kian melebar di antara aku dan dia. Ah, alangkah indahnya dunia jika setiap orang bisa mencintai sekaligus dicintai, bukan hanya dalam kata, tetapi juga dalam tindakan. Sentuhan itu pasti menghangatkan—bagaikan api kecil di perapian yang menyalakan hidup. Api yang kini terasa padam di rumahku.
Kenangan itu perlahan memudar ketika langkahku menjauh dari pasangan yang masih larut dalam dunia mereka sendiri. Sayup-sayup masih ku dengar suara burung gagak, seolah sedang menyanyikan lagu kesendirian. Aku menengadah, memandangi langit Kyoto yang berwarna pastel, dan berandai, “apakah aku bisa merasakan hangatnya cinta itu lagi—atau semua sudah terlambat?”
Mungkin karena itulah pikiranku melayang pada satu-satunya orang yang pernah memberiku rasa aman. Ingatan itu datang seperti potongan film lama yang berdebu, membawa aku kembali ke masa ketika krisis ’98 yang mengguncang Jakarta. Saat itu aku baru berusia lima tahun—terlalu kecil untuk benar-benar memahami arti kehilangan, tapi cukup besar untuk merasakannya. Yang paling kuingat hanyalah wajah panik orang tuaku malam itu, langkah mereka yang tergesa, dan bau asap yang menyelinap dari kejauhan. Dalam ingatanku, suara teriakan bercampur dengan bunyi pintu dan laci dibuka. Hingga akhirnya, kami terpaksa mengungsi di rumahnya—rumah yang pintunya dibuka lebar, seolah-olah seluruh kehangatan dunia disimpan di sana.
Dua hari sebelum rumah dan toko kami dibakar, malam itu terasa aneh—sunyi, terlalu sunyi. Mungkin inilah yang dimaksud orang-orang sebagai ketenangan sebelum badai. Aku sedang merapikan mainanku ketika terdengar ketukan keras di pintu. Bukan ketukan biasa, melainkan gedoran tergesa-gesa yang membuat jantungku meloncat.
Orang tua sahabatku berdiri di ambang pintu, wajah mereka tegang. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan dengan ayah dan ibuku, tapi aku bisa melihat bagaimana ekspresi kedua orang tuaku berubah dalam sekejap: mata ibu membesar, bibir ayah mengeras, seolah seluruh dunia runtuh di hadapan mereka.
Tanpa banyak bicara, mereka mulai bergerak cepat. Ibu meraih koper tua, mengisi dengan pakaian seadanya, ayah mengambil dokumen penting dari laci meja. Suasana rumah mendadak kacau—bunyi laci dibuka, lemari digedor, langkah kaki berkejaran di lantai. Aku berdiri memeluk boneka kesayanganku, berusaha menahan air mata, sementara di luar, malam semakin pekat.
Beberapa menit kemudian, kami meninggalkan rumah—meninggalkan mainan yang belum selesai kurapikan, meninggalkan kehangatan rumah yang tak pernah kembali dalam wujud yang sama. Otakku yang masih kanak-kanak belum mampu memahami sepenuhnya apa yang terjadi. Bagiku, malam itu hanya terasa seperti mimpi buruk yang panjang: orang dewasa berlari-lari, suara koper diseret, wajah mereka tegang, dan aku hanya bisa mengikuti, menggenggam boneka kesayanganku erat-erat.
Sepanjang perjalanan, orang tua sahabatku hanya berulang-ulang berkata, “tenang saja ya, semua akan baik-baik saja.” Suara mereka lirih tapi mantap, seakan mencoba meredam gemuruh dunia di luar mobil. Aku duduk diam di pangkuan ibu, mendengar detak jantungnya yang berpacu cepat, bahkan bisa kurasakan getaran halus dari dada ibu setiap kali ia menarik napas panjang.
Di luar, malam Jakarta tampak ganjil. Samar-samar terdengar teriakan orang banyak, seperti gelombang yang datang dari berbagai penjuru. Ada yang berteriak “Hidup reformasi!”, ada pula suara kasar yang menyerang etnis tertentu, membuat laju mobil dipercepat seolah ingin secepat mungkin menembus kegelapan itu.
Lampu-lampu jalan berkelip seperti mata-mata yang mengawasi, suara kaca pecah sesekali terdengar dari kejauhan, bercampur dengan bau asap yang menyusup melalui celah jendela. Bau itu membuatku meringkuk lebih erat di pelukan ibu.
Sesekali mobil harus memperlambat laju karena ada barikade darurat—tumpukan kayu, ban terbakar, dan bayangan orang-orang yang berdiri di tepi jalan dengan wajah yang tak bisa kulihat jelas. Suasana seperti itu membuat waktu terasa melar, seolah kami sedang menembus lorong panjang yang tak berujung. Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku, seperti mantra penenang yang kupegang erat. “Semua akan baik-baik saja.” Aku mengulangnya dalam hati, mencoba percaya, sampai akhirnya mobil berhenti di depan rumah mereka.
“Samara! Kamu nggak apa-apa, kan? Aku khawatir banget lihat berita di daerah kamu.” Arka menarik napas lega, lalu tersenyum menenangkanku. “Kamu tinggal di sini dulu aja, ya. Kita bisa main tiap hari, kamu nggak perlu takut apa-apa. Anggap ini rumah kamu sendiri. Pokoknya, kamu aman di sini.” Keluarga Arka menyambut kami dengan hangat. Pintu rumah dibuka lebar, aroma masakan sederhana menyeruak, dan mereka mempersilakan kami masuk, duduk, serta beristirahat. Rasanya seperti menemukan pulau kecil yang tenang di tengah lautan badai.
Selama berhari-hari kami tinggal di sana, aku hanya bisa memandangi layar televisi hitam-putih di ruang tamu. Siaran berita menayangkan Jakarta yang kacau: massa berlarian di jalan, asap mengepul dari gedung-gedung yang terbakar, toko-toko dijarah, dan kaca-kaca pecah berserakan. Reporter melaporkan kerusuhan besar di daerah Glodok, Klender, dan sekitarnya—daerah yang tak jauh dari rumah dan toko kami. Rasanya dadaku sesak setiap kali kamera menyorot puing-puing yang terbakar, bertanya-tanya apakah salah satunya adalah milik kami.
Mamah memelukku erat, seolah ingin menyembunyikanku dari dunia. Bisikannya lirih, suaranya bergetar. Ia bilang rumah kami habis tak bersisa, toko keluarga dijarah, lalu dibakar sampai hanya menyisakan arang. Matanya sembab, tetapi ia memaksakan senyum tipis—senyum yang lebih terasa seperti air mata yang tertahan. Aku hanya terdiam. Usia sekecil itu membuatku tak sepenuhnya mengerti kata-kata mamah. Yang kurasakan hanya dada yang sesak dan jantung yang berdetak lebih cepat. Seolah tubuhku sudah tahu lebih dulu bahwa sesuatu yang penting telah hilang, bahkan sebelum pikiranku bisa memahaminya.
Tak lama kemudian, telepon rumah Arka berdering—suara yang biasanya terdengar biasa saja, kini memecah udara seperti alarm bahaya. Orang tua sahabatku memanggil mamah, dan mamah bergegas mengangkatnya. Dalam sekejap, nada suaranya berubah—tegang, tergesa, seolah-olah seseorang baru saja menariknya dari mimpi dan menyeretnya kembali ke kenyataan yang menakutkan. “Apa? Meilin sudah di Amerika?” Mamah terdengar setengah berbisik, setengah berseru. Aku hanya bisa menangkap potongan kalimat yang terdengar seperti peringatan: hati-hati, jangan keluar sendirian, mereka tahu kamu di sana.
Aku memeluk lututku lebih erat. Dari raut wajah mamah yang tiba-tiba pucat dan cara ia menggigit bibirnya, aku tahu kabar itu tidak baik. Seolah rasa takut menyeberangi samudra, merambat lewat kabel telepon, dan ikut duduk di ruang tamu bersama kami.
Mamah berusaha tetap tenang, bibirnya tersenyum tipis saat menoleh padaku, tapi aku bisa melihat tangannya sedikit gemetar saat menutup gagang telepon. Itu pertama kalinya aku merasa dunia di luar sana bisa menembus dinding rumah, membawa ketakutan masuk bersama kami. Ayah duduk di sudut ruangan, menatap kosong ke arah lantai. Tangannya mengepal di atas lutut, urat di pelipisnya terlihat tegang. Televisi di ruang tamu terus menyiarkan berita: gambar-gambar gedung yang terbakar, kaca toko pecah, mobil-mobil hangus di pinggir jalan. Suara reporter bergetar ketika menjelaskan situasi, sesekali suaranya hampir tenggelam oleh latar sirene yang meraung dan teriakan massa yang tak henti-henti. Aku mendekat, berdiri di samping ayah, tapi ia hanya mengusap kepalaku sekilas tanpa menoleh. Diamnya ayah lebih menakutkan daripada teriakannya. Malam itu, suasana rumah terasa berat—hanya terdengar suara TV dan sesekali isak tertahan Mamah. Aku hanya memandang layar, terlalu kecil untuk memahami seluruh peristiwa, tapi cukup besar untuk merasa takut. Setiap kali gambar berpindah menampilkan kerumunan massa berlarian, aku otomatis menggenggam tangan ayah lebih kuat.
Di pojok ruangan, Arka berdiri memperhatikan. Wajahnya serius, terlalu serius untuk anak berusia sepuluh tahun. Lalu ia mendekat, menarik tanganku, dan membawaku menjauh dari layar TV. “Ayo main di halaman. Nggak apa-apa kok,” bisiknya. Di luar, udara malam dingin, tapi genggaman tangannya hangat. Untuk sesaat, dunia yang kacau itu terasa sedikit lebih jauh.
“Eh, tau nggak? Ada banyak banget bintang di langit,” katanya bersemangat. “Tapi yang paling aku suka itu namanya bintang Sirius. Aku baca di buku IPA, katanya Sirius itu bintang yang paling deket sama Bumi. Tapi lucu deh… walaupun dibilang paling deket, jaraknya tuh bisa ribuan tahun cahaya. Bayangin, ribuan tahun!” Ia tertawa kecil, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan. “Kalau aku lagi sedih, aku suka lihat langit malam terus nyari Sirius. Rasanya kayak ditemenin, kayak ada yang bilang kalau semuanya bakal baik-baik aja.” Ia menoleh padaku sebentar, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, seolah berbagi rahasia. “Kalau kamu lagi sedih atau takut, coba deh cari bintang itu juga. Percaya deh, kalau malam sudah datang dan kamu lihat Sirius, rasanya waktu jadi lebih cepat lewat. Nggak terasa, tiba-tiba pagi sudah datang.”
Aku yang baru berusia lima tahun tidak sepenuhnya mengerti maksudnya. Aku hanya mengangguk, seolah ucapan itu terlalu besar untuk kupahami. Tapi entah kenapa, kata-kata itu menempel kuat di kepalaku. Ingatan itu begitu tajam, seakan menjadi mantra kecil yang kubawa sampai dewasa—pengingat bahwa bahkan sesuatu yang jauh pun bisa membuatmu merasa ditemani.
Lucunya, memori itu selalu datang beriringan dengan kenangan kelam saat krisis ’98 melanda. Aku masih ingat bagaimana ayah sempat terpuruk—tatapannya kosong, wajahnya muram selama berhari-hari. Rumah kami hangus, toko keluarga dijarah, dunia kecilku runtuh dalam semalam.
Di tengah semua itu, keluarga Arka selalu ada. Orang tuanya membantu menampung kami, memastikan kami punya tempat aman untuk tidur. Dan Arka, dengan caranya yang sederhana, sering menghiburku—entah dengan menunjuk bintang di langit, atau hanya duduk di sampingku tanpa banyak bicara. Kami terpaut lima tahun; saat itu ia baru berusia sepuluh tahun, duduk di kelas lima SD. Secara usia dan cara berpikir, ia sudah lebih matang dibandingkan aku yang masih balita. Untuk anak seusianya, ia cukup dewasa—setidaknya cukup untuk tahu bahwa aku membutuhkan seseorang untuk membuatku merasa aman.
Seiring aku tumbuh dewasa, aku semakin paham mengapa Arka begitu hangat dan protektif. Ia adalah anak bungsu yang dibesarkan di keluarga penuh kasih, di mana makan malam selalu jadi ajang bercerita dan tertawa. Mungkin itulah yang membuatnya tumbuh menjadi anak yang peka dan sabar.
Kakaknya, Aura, hanya terpaut tiga tahun darinya. Mereka berdua seperti sahabat sekaligus rival kecil—sering berebut remote TV, kadang saling jahil, tetapi tak pernah benar-benar bertengkar lama. Pertengkaran kecil mereka biasanya berakhir dengan tawa, atau dengan Aura yang pura-pura merajuk hanya untuk membuat Arka membujuknya kembali.
Aura-lah yang pertama kali mengajarkan Arka cara membaca peta bintang. Ia duduk di halaman dengan buku astronomi lusuh, menunjuk satu per satu rasi bintang dengan penuh kesabaran. Arka mengingat setiap cerita, lalu dengan bangga membagikannya padaku malam itu di teras, seakan ingin menunjukkan bahwa ia pun bisa melindungi dan menghiburku.
Melihat mereka berdua membuatku merasa seakan ikut menjadi bagian dari lingkaran kecil keluarga itu. Aura kadang ikut duduk di tangga teras bersama kami, ikut menunjuk langit, sementara Arka bercerita panjang lebar. Malam-malam itu adalah titik pertama di mana aku merasa dunia tidak selalu kejam—bahwa ada rumah lain yang bisa menampungku, setidaknya sementara.
Dan tepat ketika kenangan itu mengalun lembut di kepalaku, ponselku bergetar. Layar menyala, menampilkan sebuah pesan. Seolah realita menepuk bahuku, mengingatkanku bahwa aku berada ribuan kilometer dari rumah. Kenangan masa kecil itu menguap pelan, seperti kabut yang tersapu angin sore Kyoto. "Jangan lupa, tanggal 30 kita bertemu psikolog. Kita ketemu di rumah sakit. Enjoy your trip."
Seketika, lorong waktu itu menutup, dan aku kembali berdiri di realitas yang ada di hadapanku. Taman Maruyama di dekat Kuil Yasaka dipenuhi cahaya lentera dan tawa pengunjung yang sedang menikmati musim sakura. Namun, pikiranku masih tertahan di tempat yang jauh—di Jakarta, di masa lalu yang belum sepenuhnya kutinggalkan. Bagaimana mungkin aku berada di Kyoto, ribuan kilometer dari rumah, tapi dadaku masih sesak oleh luka yang sama?
Aku datang ke sini untuk berlibur, untuk mencari udara segar, bukan untuk membuka kenangan yang belum sembuh. Tapi mungkin hidup memang begitu—tidak pernah memberi jeda. Manusia selalu membawa masa lalunya ke mana pun pergi, seolah beban itu menempel di kulit. Kita mengira sedang berlari menjauh, padahal yang kita lakukan hanyalah menyeret semua kenangan itu ke tempat baru.
Langit boleh berbeda, suara malam boleh berganti—di sini hanya ada gemerisik dedaunan, suara shamisen dari kejauhan, dan riuh tawa pengunjung yang duduk di bawah pohon sakura—tapi hati tetap memanggul luka yang sama. Keindahan Kyoto hanya menenangkan sesaat, seperti obat bius yang perlahan menghilang efeknya.
Ketika aku melangkah mendekati Kuil Yasaka, suara langkahku beradu dengan kerikil yang basah oleh embun. Lentera-lentera kuil yang menyala lembut seperti mata-mata yang mengawasi, membuatku merasa seolah sedang berjalan di antara masa lalu dan masa kini sekaligus.
Aku berhenti sejenak di pelataran, menatap pohon sakura yang menjuntai di tengah taman Maruyama. Kelopaknya berguguran pelan, beberapa jatuh di bahuku, seolah menjadi tanda bahwa aku pernah ada di sini, pada saat ini. Rasanya seperti semesta sedang mengajakku diam, menarik napas panjang, sebelum melangkah lagi.
Perlahan aku berjalan meninggalkan taman. Udara Kyoto yang lembap menggigit kulitku, tapi entah kenapa terasa menenangkan. Lampu bus di kejauhan mulai mendekat, dan aku tahu sudah waktunya kembali bergerak—meski hatiku masih tertinggal di pelataran kuil, bersama bayangan masa lalu yang belum sepenuhnya usai.
Aku menumpangi bus, bergegas menuju penginapanku yang terletak di Shimogyo Ward. Langit Kyoto mulai temaram, cahaya oranye perlahan berganti biru malam, membuat bayangan pepohonan di pinggir jalan terlihat seperti potongan siluet. Aroma dingin khas pergantian musim menembus celah jendela bus, membuatku menarik coat lebih rapat.
Di dalam bus, lampu kabin menyala lembut, menciptakan bayangan samar di wajah penumpang lain. Seorang nenek duduk di bangku depan sambil memegang tas belanja kecil; dua remaja berseragam sekolah bercakap pelan, tertawa sebentar lalu hening kembali. Suara mesin bus berpadu dengan denting halus dari bel setiap kali bus berhenti. Jendela memantulkan wajahku sendiri—mata lelah, pipi sedikit memerah, bibir seperti terkatup terlalu rapat. Rasanya aku sedang melihat orang asing. Sunyi. Hening. Seolah hanya tubuhku yang ikut bergerak bersama bus ini, sementara pikiranku masih tertinggal di Taman Maruyama.
Lampu lalu lintas berganti hijau, dan bus kembali melaju, melewati toko-toko kecil yang mulai menutup pintu. Dari jendela, aku melihat lentera kuil Yasaka yang tadi kulalui, kini berpendar redup, seperti mata yang mengawasi. Ada rasa getir yang tak bisa kujelaskan—antara lega telah meninggalkan sesuatu, dan takut karena sesuatu itu mungkin akan tetap mengikutiku sampai ke penginapan. Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Ada dorongan aneh untuk bicara dengan seseorang—siapa saja—asal bisa membuatku merasa masih hidup. Tanpa sadar, jemariku bergerak otomatis. Aku menyalakan ponsel, layar menyala, menerangi wajahku di kaca jendela bus.
Kuklik ikon aplikasi kencan itu. Jempolku berhenti di layar, ragu sejenak, sebelum akhirnya menekan tombol masuk. Seketika, profil demi profil mulai bermunculan.
Bus berhenti di lampu merah, dan untuk sesaat dunia terasa hening. Di layar, satu profil berhenti di hadapanku—nama yang asing, tapi senyumnya membuat dadaku berdebar. Kutahan napas. Jemariku melayang di atas layar. Malam itu, di antara lampu jalan Kyoto yang temaram, aku menekan tombol itu.
Dan mungkin—baru kali ini—hidupku benar-benar mulai bergerak.